
Semua orang percaya jika Fang Yin adalah seorang pria. Akan tetapi dia harus tetap hati-hati dalam menjaga rahasia tentang dirinya.
Malam ini, Fang Yin benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang. Di dalam tendanya dia melakukan kultivasi untuk mengisi waktunya.
Esensi energi di tempat itu cukup besar. Tidak butuh bagi Fang Yin menyelesaikan kultivasinya.
'Aku merasakan sebuah energi yang besar di sebuah tempat yang tidak jauh dari sini. Tapi bagaimana caranya aku bisa keluar dari kamp ini. Penjagaan di sini lumayan ketat. Jika sampai ada yang melihatku keluar, mereka pasti mengira aku adalah seorang mata-mata musuh.'
Fang Yin berjalan mondar-mandir di dalam tendanya.
Sebuah bayangan tertangkap di ujung penglihatannya. Seseorang datang menuju ke tendanya, mungkin dari luar dia melihat bayangan Fang Yin yang sedang mondar-mandir di dalam tendanya.
"Selamat malam, Tuan! Apakah Anda belum tidur?" tanya prajurit dari luar tendanya. Dia adalah prajurit yang sama yang bersamanya ke sana tadi siang.
Fang Yin membuka tendanya tanpa menjawabnya.
"Masuklah! Jangan bicara terlalu keras nanti bisa mengganggu istirahat yang lainnya," ucap Fang Yin setengah berbisik.
"Oh, iya, maaf, Tuan. Mengapa tuan belum tidur?" tanya prajurit itu dengan suaranya yang pelan.
Fang Yin berpikir inilah kesempatan baik untuknya. Dia memikirkan alasan yang tepat untuk bisa keluar dari sana malam itu. Alasan masuk akal yang tidak menimbulkan kecurigaan semua orang.
"Aku ingin buang air. Apakah aku bisa keluar sekarang?" tanya Fang Yin mengeluarkan ekspresi meyakinkan.
"Astaga, Tuan. Kenapa Anda tidak bilang dari tadi. Di belakang kamp ini ada sungai. Tuan bisa pergi ke sana. Apakah tuan ingin saya antar?"
Prajurit itu tidak merasa curiga sedikitpun pada Fang Yin.
"Tidak! Tidak perlu! Aku tidak akan bisa mengeluarkan harta karunku jika ada seseorang yang menemaniku. Begini saja, tolong antarkan aku sampa ke pintu keluar saja. Aku takut prajurit yang berjaga tidak akan mengenaliku dan mengira aku seorang penyusup."
"Anda benar. Mari saya antar!" Prajurit itu menggerakan tangannya untuk mempersilakan Fang Yin berjalan di depan.
Fang Yin merasa lega. Akhirnya dia bisa keluar dari kamp dengan rasa aman tanpa harus pergi dengan sembunyi-sembunyi.
Prajurit yang mengantarkannya berbicara pada penjaga dan mengatakan jika Fang Yin adalah tamu khusus Panglima Jing. Untuknya, prajurit itu memintakan ijin buang air ke sungai.
Setelah diberi jalan, Fang Yin mengucapkan terimakasih lalu pergi dari sana.
__ADS_1
"Dia sangat sopan." ucap penjaga pintu keluar masih dalam posisi membalas hormat meskipun Fang Yin telah menghilang dalam kegelapan.
"Dia memang seorang yang baik budi," jawab prajurit yang mengantarkan Fang Yin.
Di tempat lain.
Fang Yin mencari-cari di mana asal energi yang besar itu. Dia merasakan dengan kepekaan spiritual yang dia miliki.
Langkah kakinya membawanya ke sebuah tempat yang berada sedikit menjauh dari kamp.
Energi itu terasa semakin besar ketika dia sudah mencapai tepi sungai. Dengan teknik meringankan tubuh, Fang Yin berjalan di atas sungai untuk menemukan benda berenergi yang memancing rasa penasarannya.
Sungai itu cukup lebar, tetapi derasnya alirannya yang beriak menandakan jika sungai itu tidak terlalu dalam.
Di hadapan Fang Yin ada sebuah batu besar. Tangan Fang Yin mengulur ke depan dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Perlahan dia mengalirkan energinya ke sana dan batu itu seketika menjadi hancur.
Air disekelilingnya mampu meredam suara ledakan batu itu sehingga tidak ada siapapun yang mendengarnya.
Sebuah benda bersinar bersinar menyilaukan muncul di sana. Benda itu adalah sebuah pedang yang ujungnya masih tertancap di batu yang tersisa.
Pedang itu memiliki ukiran naga berwarna kuning keemasan. Aura energinya berwarna pelangi seperti aura binatang roh naga yang kini menyatu di tubuh Fang Yin.
Sesaat kemudian tubuh Fang Yin seperti tertarik ke dalam alam bawah sadarnya. Dia berada di sebuah tempat yang dipenuhi dengan batu prasasti dengan berbagai tulisan huruf bercahaya.
Rupanya itu adalah teknik pedang yang tersimpan di dalam pedang yang dia dapatkan.
Di batu prasasti yang paling besar tertulis nama pedang itu.
"Pedang Yin Yang."
Tidak ingin membuang-buang waktunya, Fang Yin mendatangi prasasti itu satu persatu dan menyerap apa yang tertulis di sana ke dalam inti pikirannya.
Saat penyerapan berlangsung, berbagai gerakan teknik pedang Yin Yang menari-nari di dalam kepala Fang Yin. Resep pil rahasia dari Ketua Lama membuatnya terasa begitu mudah.
Seluruh teknik pedang yang tertulis di dalam batu prasasti semuanya sudah dia serap ke dalam inti pikirannya.
Sebelum kembali ke alam nyata, Fang Yin ingin mencoba teknik pedang yang baru saja dia miliki.
__ADS_1
Rupanya teknik itu sangat mirip dengan jurus dan teknik pedang yang ada di dalam Kitab Sembilan Naga yang telah dia pelajari.
Hal itu memudahkannya untuk memainkan jurus itu dengan sempurna.
Tangannya bergerak seiring dengan kakinya. Berputar, meliuk dan menghindar membuat Fang Yin terlihat seperti sedang menari. Cahaya energi yang keluar dari dalam pedang itu membuat gerakan Fang Yin terlihat sangat indah.
Dalam gerakan tertentu mengharuskan Fang Yin mengalirkan Qi-nya. Energi yang meluncur dari dalam pedang Fang Yin menimbulkan sebuah ledakan di sekitarnya.
Merasa puas dengan latihan singkatnya, Fang Yin menyimpan pedang itu lalu berkonsentrasi untuk kembali ke alam nyata.
Byurrr!
Tubuh Fang Yin tercebur ke dalam sungai dan menjadi basah.
"Sial! Aku lupa jika sebelumnya aku berada di tengah sungai," umpat Fang Yin sambil mengelap wajahnya yang basah.
Terlanjur basah kuyup, dia pun mandi sekalian. Lagipula seharian ini dia juga belum mandi.
Udara dingin di tengah malam membuatnya cepat-cepat menyelesaikan mandinya. Selain itu, cahaya terang dari simbol naga di punggungnya bisa saja menarik perhatian orang ataupun binatang yang melihatnya.
Benar saja, di kejauhan terlihat seseorang datang membawa sebuah lentera. Mungkin dia adalah prajurit dari kamp yang sama dengannya yang ingin membuang hajat.
Tidak ingin ketahuan, Fang Yin segera keluar dari dalam sungai dan bersembunyi di balik sebuah batu besar.
Dengan kekuatannya Fang Yin membuat bajunya menjadi kering dalam sekejap lalu mengenakannya dengan benar. Setelah di rasa penampilannya sudah cukup rapi, dia lalu keluar dari sana dan berjalan tanpa suara meninggalkan orang yang berada di sungai itu.
'Semoga aku bisa tidur nyenyak setelah ini.' Fang Yin berjalan sambil terus menguap.
Penjaga pintu keluar masuk kamp masih mengenalinya dan menyuruhnya untuk segera masuk. Fang Yin mengucapkan terimakasih lalu pergi ke tenda miliknya.
Kamp prajurit terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang masih terjaga karena sedang bertugas.
Berada di tengah-tengah sekumpulan laki-laki membuat Fang Yin harus waspada. Sebelum dia terlelap, dia membuat mantra pelindung mengelilingi tendanya.
"Dengan begini aku bisa tidur dengan tenang tanpa ada gangguan sekarang." Fang Yin menepuk tangannya yang tidak kotor lalu membaringkan tubuhnya di tikar yang tergelar di dalam tendanya.
****
__ADS_1
Bersambung ...