Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 339. Kedatangan Kaisar Jing


__ADS_3

Jian Heng bergerak cepat dan pergi menyelamatkan anak-anak dan para lanjut usia lalu mengumpulkan mereka di sebuah tempat dan melindunginya dengan armor pelindung miliknya.


Setelah merasa keadaan mereka aman, Jian Heng kembali bergerak dan menjemput mereka satu persatu. Patriak Shi dan para tetua juga melakukan hal yang sama, berharap tidak ada korban nyawa dalam peristiwa ini.


Fang Yin terbang ke udara dan melihat titik-titik pusaran angin tornado dari ketinggian. Dia kemudian mengeluarkan Jurus Napas Naga yang dipadukan dengan teknik teleportasi.


Untuk menghindari efek yang semakin meluas, Fang Yin bergerak dengan cepat untuk menyerap pusaran angin yang tak terhitung jumlahnya itu. Pusaran angin yang berada di pemukiman penduduk yang dia utamakan karena ukuran pusaran yang paling kecil saja mengandung daya rusak yang begitu kuat.


Keadaan di lokasi perumahan sudah mulai terkendali. Fang Yin bergerak menuju ke tempat di mana kemunculan pusaran angin tersebar. Perlahan tapi pasti amukan angin tornado mulai bisa dikondisikan.


Seiring dengan itu, awan hitam yang menyelimuti Gunung Perak bergerak menjauh lalu menghilang. Merasa sudah beres, Fang Yin pun turun untuk bergabung bersama penduduk yang lain.


Jian Heng datang menghampirinya dengan segera ketika melihatnya sedang mengobrol bersama para penduduk yang berpapasan dengannya.


"Yin'er! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jian Heng sambil mengamati tubuh Fang Yin dari atas hingga ke ujung kaki.


"Aku baik-baik saja karena tidak bertarung melawan siapapun. Hanya saja ... Aku merasa sangat lelah dan mengantuk." Fang Yin menutup mulutnya yang terbuka saat sedang menguap.


Jian Heng duduk berjongkok di hadapan Fang Yin. Tak ayal apa yang dilakukannya itu menarik perhatian orang-orang yang berada di sekelilingnya.


"Naiklah ke punggungku, Yin'er!" perintah Jian Heng.


Fang Yin terlihat malu. Kepalanya berputar dan menoleh ke sana kemari dan mendapati orang-orang menatapnya sambil tersenyum.


"Tidak perlu, Kak Heng. Semua orang akan berpikir jika aku menindasmu jika aku melakukannya. Saat ini saja mereka sudah berpikir jika aku memerintahmu untuk berjongkok di depanku," ucap Fang Yin sambil meringis malu.


"Peduli apa dengan mereka. Cepat naik atau aku akan mengangkatmu dengan cara yang lain," ancam Jian Heng.


"Jadi kamu memaksa?" Fang Yin menghembuskan nafas kasar.


"Iya. Aku hitung sampai tiga. Satu ...."


Fang Yin tahu jika Jian Heng tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Dia benar-benar akan membuatnya malu di depan semua orang jika dia tidak menuruti kata-katanya.


Dengan perasaan kesal Fang Yin pun menurut dan naik ke punggung Jian Heng sebelum dia kembali mengucapkan hitungan kedua dan ketiga.


"Bagus, anak baik," ucap Jian Heng sambil tersenyum menang.


Selama berada dalam gendongan Jian Heng, Fang Yin menyembunyikan wajahnya di balik lengan bajunya. Sebenarnya dia mendengar bisik-bisik orang yang menggunjingkannya tetapi dia mengabaikannya.


Matanya benar-benar tidak bisa terbuka lagi karena rasa kantuk yang tak tertahankan. Fang Yin tertidur di atas punggung Jian Heng hingga keduanya sampai di kediaman keluarga Fang Yin.


Saat melihat kedatangan Fang Yin yang tertidur di punggung Jian Heng, Selir Shi dan Selir Ning terlihat panik. Mereka berpikir terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya. Namun kekhawatiran mereka terbantahkan dengan isyarat dari Jian Heng yang menggelengkan kepalanya.


Mereka pun terdiam dan membantu membukakan pintu kamar untuk Fang Yin. Selir Shi membantu menyelimutinya lalu pergi meninggalkannya sendirian.


Di ruang depan,


Keluarga besar Fang Yin masih mengobrol bersama Da Xia dan Huang Ran. Hari ini latihan pasukan ditiadakan. Mereka memutuskan untuk beristirahat, sementara penduduk yang lain pergi membetulkan rumah mereka yang mengalami kerusakan akibat pusaran angin.


***


Kondisi Huang Ran telah pulih setelah seminggu berlalu dari kejadian malam itu. Mulai hari ini dia akan berlatih untuk mengasah kemampuannya.


Efek dari esensi giok hitam telah dirasakannya. Dirinya merasa lebih baik meskipun tidak mendapatkan kekuatan dan pengaruh dari segel Han Shao.


Huang Ran berlatih bersama Jian Heng dan Shi Han Wu di atas sebuah bukit. Shi Jun Hui dan Fang Yin bergabung bersama pasukan dari suku es untuk berlatih. Sedangkan Selir Ning, Selir Shi dan Yu Ruo memilih berada di belakang layar untuk menyiapkan konsumsi dan melakukan pekerjaan rumah.


Di tengah latihan, Guan Xing yang baru kembali dari misi datang dan bergabung bersama Fang Yin dan yang lainnya. Tugasnya untuk menyampaikan pesan kepada pasukan terpilih telah selesai. Di hari yang telah ditetapkan, mereka seap untuk bergabung bersama pasukan lain di tempat yang ditentukan.


"Agenda penyerangan kita semakin dekat, Yin'er. Semoga pasukan kita membawa kemenangan," ucap Guan Xing penuh keyakinan.


"Terimakasih atas bantuannya, Kakek Lesung pipi. Aku akan mengambil beberapa orang dari suku es untuk masuk dalam pemerintahan jika aku berkuasa. Status Gunung Perak tidak akan berubah tetapi wilayah ini akan menjadi bagian dari Benua Timur. Setelah kemenangan, tugasku akan lebih berat dari sekedar merebut kekuasaan," ungkap Fang Yin dengan ekspresi wajah yang serius.


"Kamu benar. Aku rasa Pangeran Ketiga lebih berpengalaman dalam ketatanegaraan. Sebaiknya kamu melibatkannya di masa mendatang." Guan Xing memberikan usulan.


"Itu sudah pasti, Kek. Setelah menikah aku akan mengalihkan kekuasaan atas dirinya. Masalahnya, pernikahan tidak mungkin dilaksanakan secepat mungkin setelah peperangan terjadi." Fang Yin merasa sedikit pusing jika mengingatnya.


Guan Xing tahu apa yang ada dipikiran Fang Yin saat ini. Dia memaklumi hal itu. Setangguh apapun seseorang, dia tetap membutuhkan orang lain untuk melakukan pekerjaannya.


"Sudahlah! Jangan kamu pikirkan ini sekarang. Kita bisa memikirkannya setelah perang berakhir. Aku yakin akan banyak orang yang membantumu untuk mengendalikan semuanya," ucap Guan Xing.


Fang Yin mengangguk.


Mereka lalu kembali turun untuk membantu proses latihan. Fang Yin dan Guan Xing mengajarkan teknik sederhana yang sangat berguna dalam sebuah pertarungan masal.


Bagi mereka kewaspadaan adalah kunci kemenangan dalam sebuah pertarungan yang melibatkan banyak pasukan.


Di tempat lain, Jian Heng terlihat sedang melamun saat beristirahat dalam latihannya. Huang Ran datang mendekatinya lalu duduk di sampingnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Tuan Heng?" tanya Huang Ran.


"Ah, ti-tidak ada," jawab Jian Heng gelagapan karena sebelumnya dia sedang melamun.


"Kupikir kamu sedang memikirkan Putri Gu," tebak Huang Ran.


Mata Jian Heng melebar sempurna lalu berkata, "Bagaimana kamu bisa tahu?"


Huang Ran tertawa. Tawanya yang nyaring terdengar hingga ke tempat di mana Da Xia berlatih dan membuatnya menghentikan latihannya.


Jian Heng terlihat salah tingkah. Wajahnya memerah saat seseorang mengetahui isi hatinya.


"Aku pernah muda. Meskipun aku belum menikah bukan berarti aku tidak pernah jatuh cinta," jelas Huang Ran.


Da Xia mengintip dari tempat yang tersembunyi dan mencoba menguping pembicaraan mereka. Dia merasa penasaran apa yang dibicarakan oleh kedua pria beda usia itu.


Jian Heng menatap Huang Ran dalam. Dia melihat pria berpenampilan sederhana itu sedang menghela nafas. Sepertinya dia sedang mencoba untuk mengendalikan perasaannya.


"Apakah kamu tidak ingin menikah? Atau mungkin seseorang yang kamu cintai telah menikah dengan pria lain?" tanya Jian Heng.


Huang Ran menggeleng.


"Aku tidak berani menyatakan cinta pada wanita yang kucintai," jujur Huang Ran.


"Apa?" pekik Jian Heng dengan lantang.


Huang Rang meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Teriakan Jian Heng bisa saja didengar oleh Da Xia. Dia tidak ingin hal itu terjadi dan meminta Jian Heng untuk memelankan suaranya.


Sebelum kembali berbicara, Huang Ran terlihat melirik ke sana kemari untuk memastikan Da Xia tidak ada di sekitar mereka. Merasa keadaan aman, Huang Ran kembali terlihat tenang.


"Jangan bilang wanita yang kamu cintai itu adalah Kak Da Xia," tebak Jian Heng.


Huang Ran terlihat gugup. Sikap diamnya membuat Jian Heng merasa yakin jika jawabannya benar.

__ADS_1


"Maaf jika aku salah menebak. Aku tidak bermaksud apa-apa." Jian Heng memancing kejujuran Huang Ran.


Untuk sejenak suasana menjadi hening lalu Huang Ran menoleh ke arah Jian Heng dan menatapnya dalam. Dari sorot matanya tersimpan beban perasaan yang mendalam. Perasaan takut kehilangan dan rasa cemas yang berlebihan membuat Huang Ran sangat berhati-hati dalam memperlakukan Da Xia.


"Memang benar wanita itu adalah Da Xia. Jangan katakan pada siapapun karena aku hanya jujur padamu saja."


Sebuah garis lengkung menghias wajah Jian Heng yang menggambarkan perasaan hatinya. Muncul ide di kepalanya untuk memberitahukan masalah ini pada Fang Yin agar membatu mereka untuk bersatu.


"Kamu dengar tidak?" tanya Huang Ran.


"I-iya dengar. Maaf aku sedang melamun," elak Jian Heng.


"Ya, sudah. Lanjutkan lamunanmu itu." Huang Ran menatap jauh ke hamparan bebatuan di kaki bukit di mana mereka berlatih sekarang.


Dari balik tempat yang tersembunyi, Da Xia memegangi dadanya yang berdebar. Secara tidak langsung dia telah mendengar pernyataan cinta dari Huang Ran. Sejak lama dirinya dihantui rasa penasaran dan kini terjawab sudah.


Selama ini dia berpikir jika perasaan itu hanya dimilikinya dan bertepuk sebelah tangan. Dia merasa sangat bahagia saat mendengar kejujuran Huan Ren. Namun, dia tidak ingin terlalu larut dalam kesenangan karena tidak tahu sampai kapan Huan Ran akan memendam perasaannya.


'Aku tidak tahu sampai kapan kita terus membohongi diri dan berlindung dalam ikatan persahabatan, Huang Ran. Tapi aku merasa tenang karena aku sudah tahu perasaanmu yang sebenarnya.' Da Xia tersenyum lalu berjalan menghampiri Huan Ran dan Jian Heng.


"Apakah kalian sudah selesai berlatih?" tanya Da Xia.


Nada suaranya yang biasa terdengar begitu mengejutkan bagi Huang Ran dan Jian Heng. Wajah mereka terlihat pucat dan berpikir jika Da Xia mendengar obrolan keduanya hari ini.


"Se-sejak kapan kamu berdiri di sana, Da Xia?" tanya Huang Ran gugup.


Da Xia mengerutkan dahinya lalu menatap Huang Ran dengan tatapan heran. Dalam hati dia menertawakan sikapnya yang terlihat ketakutan seperti seorang pencuri yang ketahuan.


"Aku baru saja datang. Ayo kita pulang!" ajak Da Xia.


"Syukurlah. Eh, maksudku ayo! Kita pulang sekarang." Huang Ran tersenyum dipaksakan.


Terlihat Jian Heng menoleh ke arah lain menyembunyikan wajahnya yang menahan tawa.


Mereka bertiga menuruni bukit untuk pulang dengan berjalan santai. Bukit tempat mereka berlatih hari ini berbatasan langsung dengan kabut pelindung.


Da Xia menghentikan langkahnya diikuti oleh Huang Ran dan Jian Heng.


"Ada apa, Da Xia?" tanya Huang Ran.


Da Xia mengangkat tangannya dan melihat ke arah jalan yang mengarah keluar Gunung Perak.


"Aku akan memeriksanya, kalian tunggu di sini," ucap Da Xia bergerak cepat menuju ke luar wilayah Gunung Perak.


Huang Ran dan Jian Heng saling berpandangan lalu pergi menyusul Da Xia. Mereka tidak ingin tinggal diam dan membiarkan seorang wanita bekerja seorang diri.


Ada seorang pria duduk di atas kuda. Dia terlihat sedang mondar-mandir mencari jalan masuk menuju ke Gunung Perak. Tidak sembarang orang bisa melewati mantra kabut pelindung.


Da Xia melihat pria itu dari tempat yang tersembunyi. Huang Ran dan Jian Heng menyusulnya berdiri di belakang.


"Kak Da Xia, aku mengenal orang itu," bisik Jian Heng.


Da Xia menatapnya lalu memberinya isyarat untuk pergi keluar.


Jian Heng melangkah melewati perbatasan dan berjalan menuju ke tempat pria itu berada.


Melihat kemunculan Jian Heng, pria itu lalu melompat turun dari atas kudanya. Dia merasa mengenal Jian Heng tetapi tidak yakin dengan penampilannya yang terlihat berbeda.


"Pangeran Xi Jian Heng memberi hormat pada Kaisar Jing." Jian Heng memberi hormat pada Kaisar Jing.


"Penghormatan yang sama untuk Pangeran Ketiga." Kaisar Jing membalas penghormatan Jian Heng.


Keduanya kemudian bersikap biasa lalu berjalan mendekat. Mereka berdiri berhadapan dalam jarak yang cukup dekat.


Ekspresi wajah Jian Heng menyiratkan rasa penasaran. Tidak mungkin Kaisar Jing datang tanpa tujuan ke tempat terpencil ini.


"Maaf, Yang Mulia. Apakah Anda tersesat atau memang sengaja datang ke tempat ini?" tanya Jian Heng dengan kalimat yang dibuat sehalus mungkin.


Kaisar Jing terlihat sudah siap dengan jawabannya. Sebelum bertemu dengan Jian Heng, dia telah bertanya pada penduduk desa yang berada tidak jauh dari Gunung Perak. Mereka mengatakan jika penduduk Gunung Perak tertutup dari dunia luar untuk menghindari pembantaian.


Kabar ini terdengar menyedihkan bagi Kaisar Jing. Baginya suku es sangat berjaya bagi negerinya di masa lalu. Meskipun telah berlalu selama ribuan tahun, tetapi seluruh keturunannya tetaplah harus dihormati dan dijunjung tinggi.


"Aku sengaja datang ke tempat ini. Kabar buruk mengenai pembantaian suku es membuatku prihatin." Kaisar Jing mengatakan salah satu alasannya.


"Bukan karena mencari, Yin'er?" tanya Jian Heng.


Pertanyaan menohok Jian Heng membuat Kaisar Jing tertampar. Dia memang ke tempat ini untuk mencari keberadaan Xiao Yin yang diduga kuat sebagai identitas lain dari Putri Gu Fang Yin.


Wajahnya menjadi pias. Untuk beberapa saat Kaisar Jing mencoba untuk menyembunyikan perasaannya. Dia tahu Jian Heng memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Fang Yin, wanita yang sampai saat ini selalu mengusik hatinya.


"Apakah dia ada di sini juga?" tanya Kaisar Jing berpura-pura tidak tahu.


"Yin'er telah mengirim seseorang untuk pergi ke negaramu. Dia meminta bantuanmu untuk sebuah agenda besar yang melibatkan banyak pihak," jelas Jian Heng.


Beberapa minggu ini Kaisar Jing berada di luar istana untuk pergi berpetualang, tidak di sangka jika Fang Yin mengirim orang untuk mencarinya.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Kaisar Jing. Untuk kali ini dia tidak berbohong atau berpura-pura.


Jian Heng menoleh ke berbagai arah. Meskipun tidak terlihat seorangpun di sana tetapi dia merasa tidak aman membicarakan agenda rahasia yang akan dilakukan untuk menyerang Kaisar Ning.


Dia membawa Kaisar Jing memasuki wilayah Gunung Perak dan memperkenalkan Huang Ran dan Da Xia yang menunggunya di tempat yang tersembunyi.


Mereka berempat pergi ke wilayah pedesaan di Gunung Perak dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanannya, Jian Heng menceritakan semua tentang Fang Yin kepada Kaisar Jing. Mulai dari kisah awal perjalanannya hingga apa yang telah dicapai hari ini.


'Sudah kuduga. Aku merasa jika Nona Yin adalah seorang yang luar biasa. Sejak awal aku memiliki firasat jika latar belakangnya memang seorang putri bangsawan.' Kaisar Jing bermonolog dalam hati di tengah obrolannya bersama Jian Heng.


Perasaan cintanya yang besar kepada Fang Yin membuat Kaisar Jing ingin memberikan dukungan yang dia inginkannya. Persaingan tetaplah persaingan. Tidak peduli dirinya kalah tampan dan kalah muda dengan Jian Heng, dia akan terus berjuang mendapatkan cintanya.


Dipastikan setelah ini akan ada persaingan tidak terlihat di antara keduanya. Di satu sisi Jian Heng merasa senang atas dukungan Kaisar Jing, di sisi lain dia tidak menyukai sikap Kaisar Jing yang sejak lama tertarik pada kekasihnya itu.


Da Xia dan Huang Ran menangkap ekspresi cemburu di wajah Jian Heng. Mereka merasakan aroma kisah cinta yang rumit di antara mereka bertiga.


Beberapa waktu lalu, Kaisar Jing secara terang-terangan telah menyatakan keinginannya untuk mempersunting Fang Yin sebagai selirnya. Perasaannya yang mendalam tidak mudah dihilangkan. Selama belum ada pernikahan yang mengikat Fang Yin maka dirinya akan terus mencari kesempatan untuk mendapatkannya.


Mereka berempat akhirnya sampai di desa tempat tinggal suku es. Desa yang cukup luas dengan rumah-rumah sederhana milik penduduknya. Kaisar Jing yang terbiasa hidup dalam kemewahan sedikit ragu untuk tinggal di sana.


Selama ini dia terbiasa dilayani tanpa bersusah payah. Dalam perjalanannya menuju ke tempat ini pun dia mencari penginapan yang berkelas. Ketika dia menemukan makanan yang disukai, dia membelinya dalam jumlah banyak dan membawanya sebagai perbekalan.


Keadaan rumah keluarga Fang Yin terlihat sepi. Hanya Yu Ruo saja yang berada di rumah. Selir Shi dan Selir Ning baru saja pergi menyusul Fang Yin.


Kaisar Jing memperkenalkan dirinya kepada Yu Ruo dan mengobrol untuk berbasa-basi.


"Di mana Han Wu?" tanya Yu Ruo saat tidak melihat Shi Han Wu.

__ADS_1


"Dia berlatih di tempat yang berbeda, Nek," jawab Jian Heng.


"Baiklah! Kalian berdiskusi saja, aku akan pergi ke tempat latihan untuk memberitahukan kedatangan Kaisar Jing," pamit Yu Ruo.


"Tidak perlu, Nek. Aku bukan tamu istimewa. Kita tunggu saja sampai mereka kembali." Kaisar Jing tidak ingin merepotkan Yu Ruo.


Yu Ruo tetap pada keinginannya. Setelah menyajikan minuman untuk mereka, dia pergi menyelinap dari belakang pondok kemudian pergi ke tempat berlatih. Tidak ada yang menyadari kepergiannya karena Kaisar Jing dan lainnya sedang berbincang-bincang.


Di tempat latihan,


Fang Yin dan yang lainnya sedang berlatih pada latihan sesi terakhir. Setelah ini mereka akan berhenti dan melanjutkannya di hari lain.


Yu Ruo berjalan mendekati Shi Jun Hui dan membisikan berita kedatangan Kaisar Jing kepadanya. Shi Jun Hui terkejut mendengarnya. Meskipun suku es memiliki hubungan yang baik dengan Kekaisaran Benua Utara, tetapi kedatangan pemimpinnya tetap saja mengejutkan bagi mereka.


Shi Jun Hui berjalan mendekati Patriak Shi dan para tetua lain. Kedatangan Kaisar Jing menjadi topik pembicaraan di tengah mereka. Bagi penduduk Gunung Perak, kedatangan seorang kaisar di tempat terpencil seperti ini merupakan hal yang istimewa.


Mereka sepakat untuk membuat perayaan untuk menyambut kedatangannya. Untuk tempat tinggalnya, Patriak Shi akan menyediakan tempat tinggal khusus di villa penyambutan tamu.


Segala keperluan Kaisar Jing akan diurus secara bergantian oleh penduduk desa. Semuanya mereka persiapkan dengan baik hingga hal-hal yang paling kecil.


Latihan hari ini yang seharusnya masih berlangsung hingga beberapa saat lagi terpaksa harus dihentikan.


Fang Yin yang tengah asyik berlatih bersama satu team yang dipimpinnya, merasa heran dengan pembubaran yang tiba-tiba dilakukan oleh Patriak Shi. Keringat membasahi tubuhnya. Dia menyekanya dengan ujung lengan bajunya.


'Ada apa ini? Kulihat nenek begitu serius mengobrol bersama kakek. Aku merasa ada yang aneh dengan kejadian hari ini.' Fang Yin berjalan mendekati Yu Ruo dan Shi Jun Hui.


Patriak Shi dan para tetua sudah pergi meninggalkan tempat latihan. Di sana hanya tinggal Fang Yin, Yu Ruo, dan Shi Jun Hui bersama beberapa pasukan yang sedang beristirahat.


"Sejak kapan nenek datang?" tanya Fang Yin, melompat ke hadapan kakek dan neneknya.


"Baru saja, Yin'er. Apakah kamu sudah selesai?" tanya Yu Ruo.


Pertanyaan yang konyol. Sebenarnya dia sendiri yang membubarkan pasukan dengan berita yang dia bawa tetapi dia malah bertanya seolah tidak tahu apa-apa. Yu Ruo tertawa kecil saat menyadarinya.


"Sudah. Sepertinya nenek sengaja datang untuk sebuah masalah yang serius." Fang Yin menatap Shi Jun Hui dan Yu Ruo bergantian


"Tidak ada, Yin'er. Nenek cuma bilang pada kakekmu jika kita kedatangan tamu istimewa. Patriak Shi dan para tetua sedang mempersiapkan perayaan kecil untuk penyambutan Kaisar Jing," jelas Yu Ruo.


"Kaisar Jing?" Fang Yin membulatkan matanya tak percaya.


"Kaisar Jing datang ke rumah kita?" tanya Fang Yin memastikan jika dia tidak salah mendengar.


"Iya, benar. Apakah kamu mengenalnya?" tanya Yu Ruo merasa aneh dengan sikap Fang Yin.


Fang Yin mengangguk lalu berbalik.


"Aku pergi dulu, Nek, Kakek!" seru Fang Yin sambil lalu.


Dia pergi menggunakan teknik teleportasi untuk pulang. Dalam sekejap tubuhnya telah menghilang dari pandangan dan muncul bayangannya dalam lompatan-lompatan kecil yang sekilas terlihat di kejauhan.


"Kenapa dengan cucumu itu? Sepertinya ada yang tidak beres. Kita juga harus pulang sekarang," ucap Shi Jun Hui.


"Hmm." Yu Ruo mengangguk.


***


Fang Yin tiba di kediaman keluarganya dan mendengar perbincangan beberapa orang dari dalam rumahnya.


"Nona Yin!" seru Kaisar Jing melihat kedatangan Fang Yin yang tengah berdiri di depan pintu.


"Apa kabar, Yang Mulia?" Fang Yin memberi hormat pada Kaisar Jing.


"Kabar yang sangat baik. Sudah lama kita tidak bertemu." Kaisar Jing memberi tatapan penuh makna untuk Fang Yin.


Tersirat kerinduan yang mendalam dibalik tatapannya. Kaisar Jing merasakan tubuhnya seperti mengambang di udara. Udara yang masuk ke paru-parunya begitu penuh dan membuat tubuhnya terasa ringan.


Di balik kebahagiaannya ada seseorang yang merasa cemburu. Wajahnya terlihat kesal melihat perubahan sikap Kaisar Jing yang terpesona menatap Fang Yin. Meskipun dia tidak pernah melihat wajah Fang Yin, tetapi Kaisar Jing menunjukkan ketertarikannya.


Saat melihat Kaisar Jing akan beranjak dari duduknya, Jian Heng bergerak untuk mendahuluinya. Dia berjalan cepat menghampiri Fang Yin.


"Apakah kamu lelah, Yin'er?" tanya Jian Heng mencoba untuk mencari perhatian. Dia tidak suka Fang Yin dan Kaisar Jing berinteraksi terlalu lama.


"Lumayan. Aku ingin minum." Fang Yin berjalan menghampiri meja.


"Biar aku ambilkan." Jian Heng menuangkan minuman untuk Fang Yin.


Huang Ran tersenyum melihat tingkah polah Jian Heng. Dia tahu apa yang dirasakannya saat ini. Pasti akan sangat sulit jika mereka tinggal dalam satu rumah.


"Udara di ruangan ini terasa begitu panas," sindir Huang Ran sambil melihat ke langit-langit rumah Shi Jun Hui.


Jian Heng meliriknya dengan tatapan maut saat menyadari Huang Ran sedang menyindir dirinya.


Huang Ran tersenyum kepada Jian Heng seolah mengejeknya.


"Apakah kamu juga merasa kepanasan, Tuan Heng?" tanyanya berpura-pura tidak mengerti peringatan dalam tatapan Jian Heng.


"Udara hari ini memang panas. Bukan begitu, Yang Mulia?" Jian Heng mencoba beramah-tamah pada tamunya.


"Ah, i-iya benar." Kaisar Jing tidak mengerti ada apa yang terjadi di antara Jian Heng dan Huang Ran. Dia tidak menyadari jika penyebab kecanggungan ini adalah dirinya.


Da Xia merasa keberatan Huang Ran akan menimbulkan ketidakpercayaan bagi Jian Heng dan Fang Yin. Urusan percintaan adah urusan yang paling rumit di dunia. Tidak ada teknik atau rumus khusus yang bisa memecahkan masalah percintaan.


Dirinya berpikir untuk membawa Huang Ran pergi dari sana dan tidak mencampuri urusan cinta segitiga di antara mereka.


Saat ketegangan mulai terasa, Da Xia segera berdiri dan bersiap untuk pergi. Namun, suara ribut di luar rumah Shi Jun Hui lebih menarik perhatiannya. Kesempatan ini datang sehingga dia tidak butuh alasan untuk pergi dari tiga sejoli yang sedang terjebak dalam cinta segitiga.


Di halaman rumah Shi Jun Hui telah berkumpul penduduk Gunung Perak yang berkumpul untuk melihat Kaisar Jing secara langsung. Kabar kedatangan Kaisar Jing di rumah Shi Jun Hui begitu cepat tersebar dan menarik perhatian.


Da Xia dan Huang Ran pergi untuk membuka pintu diikuti oleh Fang Yin, Jian Heng dan Kaisar Jing. Mereka merasa heran mengapa tiba-tiba penduduk Gunung Perak berkunjung ke rumah Shi Jun Hui beramai-ramai.


Sebagai tuan rumah Fang Yin berdiri di paling depan. Matanya menatap serius ke arah penduduk yang sedang ribut bergunjing.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Fang Yin.


Semua orang terdiam. Meskipun Fang Yin sangat baik tetapi mereka merasa segan dengan ketegasannya. Tidak ada yang berani mengusiknya meskipun dia bersikap ramah pada mereka.


Belum sempat mereka menjawab pertanyaan Fang Yin, Patriak Shi dan para tetua datang menyibak kerumunan. Mereka berjalan tergesa menghampiri Fang Yin.


Patriak Shi menyatukan kedua tangannya di hadapan Fang Yin.


"Permisi, Nona Yin. Aku dengar Yang Mulia Kaisar Jing berkunjung ke rumah Anda." Patriak Shi mengutarakan maksud kedatangannya. Dia sangat hafal dengan sifat Fang Yin yang tidak suka pada orang yang berbelit-belit.


"Aku di sini, Patriak Shi!" Kaisar Jing maju ke depan memberi salam dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2