Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 379. Salah Paham


__ADS_3

Sikap diam mereka tidak berlangsung lama. Entah siapa yang memulai lebih dulu, tiba-tiba ketiganya tertawa. Bagi orang lain mungkin ini membingungkan tetapi tidak untuk mereka.


Tiga pangeran ini memiliki jarak usia yang tidak jauh beda dan bisa dikatakan mereka adalah sebaya. Mereka seringkali melakukan hal yang konyol dan tidak jarang membuat sesuatu yang serius menjadi lebih santai. Persaudaraan terus terjaga meskipun masing-masing memiliki idealisme dan sifat yang tidak sama.


Tawa ketiga bersaudara ini membuktikan jika mereka adalah keluarga yang harmonis dan bahagia. Kebahagiaan atau kesedihan salah satu dari merek menjadi milik ketiganya. Kedekatan ini terjadi secara alamiah tanpa ada tekanan atau paksaan dari orang tua dan orang terdekat mereka.


"Kalian sudah seperti mata-mata yang sedang mengintimidasi lawan saja. Nanti kalian juga akan tahu seperti apa rasanya jatuh cinta dan memiliki pasangan hidup yang kalian pilih." Jian Heng mencoba menghibur kedua kakaknya yang sebenarnya sedang cemburu padanya.


Xi Hao Xiang mengerucutkan bibirnya dengan wajah yang cemberut. Tangannya mengetuk-ketuk meja dengan malasnya.


"Kamu seperti tidak tahu saja ayah seperti apa. Mana mungkin dia membiarkan kami memilih pasangan sesuai keinginan kami. Dia dan ibu pasti mencarikan kami jodoh yang setara menurutnya," ucap Xi Hao Xiang mengungkapkan kegelisahan hatinya.


"Benar sekali. Kamu lebih beruntung karena wanita pilihanmu adalah orang yang tepat dan ayah menyukainya. Untung saja Yin'er tidak mudah tergoda, jika tidak kami pasti berlomba-lomba untuk menarik perhatiannya. Sudah pasti aku yang menang dan mendapatkannya." Xi Changyi terang-terangan mengatakan jika dia dan Xi Hao Xiang juga menyukainya Fang Yin.


"Sungguh ironis. Pada akhirnya pemenangnya selalu saja aku karena memang aku yang paling tampan," ucap Jian Heng tidak mau kalah.


"Siapa bilang? Kamu yang paling hitam di antara kami. Panas matahari selalu membakar kulitmu setiap hari karena kamu senang hidup di alam bebas." Xi Hao Xiang pun tidak terima jika adik ketiganya merasa paling tampan.


"Justru ini yang sangat menarik. Aku terlihat lebih jantan." Jian Heng berbicara sambil terkekeh.


"Dasar anak yang menyebalkan! Kamu selalu saja membuat kami kalah dalam segala hal. Mungkin setelah ini kami akan menerima nasib saat ayah mencarikan jodoh. Aku yakin setelah kembali ke istana dia pasti akan melakukannya dengan alasan nanti kami akan terlalu tua untuk menikah." Xi Changyi menyangga kepalanya dengan siku bertumpu di atas meja.


Xi Hao Xiang dan Jian Heng secara serentak menirukan gerakan Xi Changyi. Ketiganya kini menopang dagu dengan mimik wajah yang sama persis dan berlangsung beberapa detik lamanya.


"Untuk masalah ini aku tidak bisa membantu kalian. Begitu banyak yang harus aku kerjakan setelah ini. Sistem pemerintahan sebelumnya begitu kacau sehingga butuh waktu untuk membenahinya secara menyeluruh." Jian Heng mengungkapkan hal yang lebih penting dari perjodohan kedua kakaknya.


"Sudahlah! Aku juga tidak ingin terlalu memikirkan masalah ini. Semoga saja wanita yang akan dinikahkan dengan kami tidak rewel dan merepotkan. Jika sampai itu terjadi, sungguh aku tidak akan segan untuk menaruh racun dalam minumannya," ucap Xi Changyi yang membuat Jian Heng dan Xi Hao Xiang tertawa.


Sifat Xi Changyi memang sedikit ekstrim ketimbang kedua saudaranya. Dia selalu menunjukkan dengan terang apakah dia menyukai atau tidak menyukai sesuatu. Baginya bersikap apa adanya akan membuatnya lebih mudah untuk dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya.


Mereka terus berbasa-basi hingga hari menjelang malam. Jika Jian Heng tidak meminta ijin untuk pergi mandi, mungkin mereka lupa jika adiknya itu telah menikah. Kebersamaan adalah momen yang langka sehingga mereka tidak ingin menyia-nyiakannya begitu saja.


Fang Yin sangat mengenal Jian Heng dan kedua kakaknya setelah mandi dia memilih untuk kembali ke istananya untuk beristirahat. Pakaian berat dan prosesi upacara yang cukup lama membuatnya merasa lelah. Setelah mandi dia tertidur dengan pulasnya.


Pelayan yang menemaninya pun tidak berani untuk mengganggunya. Mereka mengurungkan niat untuk merias wajahnya. Pakaian yang dikenakan oleh Fang Yin pun bisa dikatakan jauh dari kata bagus.


Sebelum masuk ke istananya, Fang Yin telah berpesan kepada pengawal yang menjaga pintu masuk untuk tidak membiarkan siapapun masuk.


Di tempat lain, Jian Heng terlihat gelisah. Dia berpikir jika Fang Yin marah padanya karena belum juga kembali ke kamar baru mereka. Entah berapa kali Jian Heng berjalan mondar-mandir di dalam kamar.


'Yin'er pasti marah padaku. Huh, sepertinya aku akan tidur sendirian malam ini." Lelah berjalan, Jian Heng duduk di tepi tempat tidur sambil melamun.


Keadaan di luar ruangan sudah gelap, menandakan malam telah turun. Dengan jentikan jari Jian Heng menyalakan seluruh lampu dan membuat kamar yang ditempatinya menjadi terang benderang. Kamar itu terlihat lebih indah daripada jika dilihat di siang hari.


Jian Heng membayangkan jika Fang Yin berada bersamanya saat ini. Dia pasti akan sangat senang melihatnya. Namun sayang, dia hanya sendirian menikmati malam pertamanya.


Di tengah lamunannya, pengawal yang berjaga mengabarkan kedatangan seseorang. Jian Heng kurang begitu jelas mendengar siapa yang datang. Dengan cepat dia beranjak untuk melihat siapa yang datang.


Dalam hati dia berharap jika orang yang datang adalah Fang Yin. Namun, dia harus merasa kecewa setelah membuka pintu dan mendapati beberapa orang pelayan mengantarkan makan malam. Jian Heng berjalan dengan gontai menuju ke depan meja dan menatap makanan di hadapannya dengan malas.


Tanpa Fang Yin dia tidak berselera untuk makan. Tidak peduli seberapa lezat makanan yang tersaji, dia tidak ingin menyentuhnya.

__ADS_1


Saat pelayan terakhir meletakkan minuman di atas meja, Jian Heng mulai terpikirkan untuk menanyakan keberadaan Fang Yin.


"Tunggu! Apakah kamu tahu di mana Yin'er berada?" tanya Jian Heng.


Pelayan itu menahan diri untuk tidak tersenyum. Bagaimana bisa sepasang pengantin baru bisa terpisah. Seharusnya mereka selalu bersama.


"Ampun, Yang Mulia. Terakhir saya lihat, Nona Yin berjalan ke kamarnya sore tadi." Pelayan itu menjawab sesuai yang dia tahu.


Jian Heng mengangguk.


"Kamu boleh pergi."


Pelayan undur diri meninggalkan Jian Heng yang masih termangu.


'Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apa aku tunggu saja Yin'er datang? Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya?' Jian Heng bermonolog dalam hati memikirkan apa yang harus dilakukannya.


Semakin dipikirkan Jian Heng malah merasa semakin pusing. Tidak peduli semarah apa Fang Yin padanya, dia memilih untuk menyusulnya. Dia berjalan menuju ke istana Fang Yin yang berada tidak jauh dari istana baru mereka.


Dalam waktu singkat dia telah sampai di depan istana Fang Yin. Dua orang pengawal yang berjaga memberi hormat padanya tetapi tidak memberinya jalan.


"Aku ingin menemui Yin'er. Biarkan aku masuk."


Pengawal itu terlihat bingung. Sebelumnya Fang Yin berpesan untuk tidak mengijinkan siapapun masuk. Namun, mereka juga tidak berani untuk tidak mematuhi perintah Jian Heng.


"Pasti dia meminta kalian untuk tidak membiarkan siapapun masuk. Tenang saja, aku yang akan bertanggungjawab untuk ini jika dia marah." Jian Heng menghargai kesetiaan para pengawal itu tetapi dia sangat ingin menemui Fang Yin.


"Baik, Yang Mulia. Nasib kami bergantung pada Anda."


Pengawal akhirnya memberi jalan untuk Jian Heng.


Suasana di kamar Fang Yin tampak sepi. Tidak terdengar suara seseorang sedang beraktifitas. Tangan Jian Heng mendorong pintu dengan pelan.


Dua orang pelayan yang sedang duduk di samping Fang Yin terkejut saat melihat kedatangannya. Mereka segera memberi hormat dan menyingkir ke tepi.


Fang Yin masih tertidur dengan pulas dan tidak menyadari kedatangan Jian Heng. Sedikitpun dia tidak terganggu meskipun Jian Heng dengan sengaja menghentakkan sepatunya di lantai. Suara yang dihasilkan terdengar cukup keras tetapi tidak berarti apa-apa untuk Fang Yin.


'Hmm ... Kamu tidur atau pingsan, Yin'er? Tapi syukurlah jika hanya tertidur. Itu artinya kamu tidak datang ke istana kita bukan karena marah.' Jian Heng duduk di samping Fang Yin sambil memandangi wajahnya yang terlihat tenang.


Tangan Jian Heng terulur ke depan dan perlahan menyentuh pipinya. Tidak ada maksud untuk membangunkannya tetapi Fang Yin menggeliat karenanya.


Menyadari ada sesuatu yang menempel di pipinya, Fang Yin segera mengerakkan tangannya dengan cepat dan mencengkeram tangan Jian Heng dengan kuat.


"Auh! Sakit, Yin'er!" pekik Jian Heng. Dia tidak menyangka jika Fang Yin akan sewaspada itu.


Fang Yin membuka matanya lebar-lebar dan menatap Jian Heng dengan perasaan bersalah. Dia segera melepaskan tangannya lalu duduk dengan benar. Rambutnya tergerai lepas tanpa ikatan dengan wajah polos tanpa riasan.


Sadar akan keadaannya yang masih awut-awutan, Fang Yin terlihat salah tingkah. Seharusnya dia berpakaian indah dan berdandan cantik di hadapan suaminya. Ternyata dia belum bisa menyesuaikan diri dengan status barunya.


"Kak Heng, maafkan aku. Tidak seharusnya aku berpenampilan seperti ini. Kamu pasti sangat kecewa." Fang Yin menggigit bibirnya menyesali apa yang terjadi.


Jian Heng tersenyum melihat tingkah Fang Yin. Sejujurnya dia lebih menyukai Fang Yin tampil apa adanya tanpa riasan apapun di depannya.

__ADS_1


"Aku suka kamu apa adanya. Kamu bisa tampil sempurna di depan semua orang tetapi bagiku kamu lebih menarik jika tidak memakai apa-apa. Eh, maksudku tampil apa adanya." Jian Heng meralat ucapannya takut Fang Yin merasa salah paham dan menganggapnya terlalu vulgar.


Fang Yin tersipu mendengar pujian Jian Heng. Rasanya tubuhnya seperti akan terbang ke langit tanpa mengeluarkan Qi. Kulit wajahnya yang putih bersemu merah.


"Para pelayan sudah mengantarkan makan malam ke kamar kita. Apakah kamu ingin aku meminta pelayan untuk memindahkannya kemari?" tanya Jian Heng. Dia tidak ingin memaksa Fang Yin untuk tidur di kamar mereka dan memberinya kebebasan untuk memilih tempat yang nyaman untuknya.


"Tidak, tidak! Kita kembali saja ke kamar. Kita sudah menikah dan istana ini terlalu sempit." Fang Yin beranjak dari duduknya.


"Baiklah, kita pergi sekarang." Jian Heng menyusulnya berdiri.


Keduanya berjalan menuju istana baru mereka. Tidak ada yang berani berkomentar meskipun penampilan Fang Yin sangat berantakan. Pengawal dan pelayan yang tidak sengaja berpapasan memilih menunduk dan pura-pura tidak melihat keduanya.


Beruntung untuk pergi ke istana baru mereka tidak perlu melewati istana keluarga besar keduanya. Bisa-bisa Selir Shi akan syok saat melihat penampilan putrinya.


Meskipun tidak ada yang berani berbicara tetapi Fang Yin sangat peka. Dia merasa jika semua orang menatapnya aneh. Untuk menghindarinya dia memilih untuk melangkah lebih cepat menuju ke tempat tinggal barunya.


Sebagai orang terdekat Fang Yin, Jian Heng sangat hafal dengan sifat kekasihnya. Tampak jelas sekali jika Fang Yin kurang percaya diri saat ini. Telapak tangannya terbuka dan muncullah sebuah mantel cantik dari dalam cincin penyimpanannya.


"Pakai ini!" Jian Heng memberikan mantel itu untuk Fang Yin.


Tanpa banyak bicara Fang Yin pun segera mengenakannya. Mantel itu membuatnya terlihat lebih anggun. Setidaknya bisa menutupi bajunya yang kurang menarik.


"Kamu memang selalu mengertiku, Kak Heng." Fang Yin tersenyum senang.


Mereka kembali berjalan. Kali ini Fang Yin merasa lebih percaya diri ketika bertemu dengan pelayan atau penjaga istana.


Sesampainya di istana barunya, Fang Yin melepaskan mantel yang dikenakannya dan meletakkannya secara sembarang di salah satu sudut ruangan. Jian Heng tidak ingin ambil pusing dengan semua tingkah Fang Yin yang sulit untuk diatur. Dia memilih untuk duduk di depan meja dan menunggu Fang Yin untuk menikmati makan malam bersamanya.


Tidak berapa lama kemudian Fang Yin pun menyusulnya duduk. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat hingga Fang Yin tersadar jika dia harus mengambilkan makanan untuk Jian Heng terlebih dahulu sebelum mengambil untuknya sendiri.


"Maaf, aku lupa." Fang Yin memberikan semangkuk nasi dan lauk untuk Jian Heng.


"Terimakasih." Jian Heng mengambil mangkuk kosong dan gantian mengambil makanan untuk Fang Yin.


"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini, Kak Heng. Kamu tidak memiliki kewajiban untuk mengambilkan makanan untukku." Fang Yin merasa tidak enak pada Jian Heng.


"Kita akan selalu sama-sama. Aku ingin memanjakanmu sebagai wanita paling istimewa dalam hidupku."


Ucapan Jian Heng membuat Fang Yin tersipu. Mereka menikmati makan malam dengan lahap. Jian Heng selalu menambahkan beberapa lauk dan sayur ke dalam mangkuk Fang Yin.


"Cukup, Kak Heng. Aku sudah makan terlalu banyak." Fang Yin menarik mangkuknya saat Jian Heng akan menambahkan makanan lagi.


"Kamu harus makan yang banyak karena ...." Jian Heng menggantungkan ucapannya.


Sebagai seorang wanita dewasa tentu Fang Yin tahu apa yang dimaksud oleh Jian Heng. Bukan sebuah hal yang tabu bagi pasangan suami istri untuk melakukan hubungan yang lebih jauh. Meskipun begitu, Fang Yin masih saja gugup dan tersendak saat makan.


Jian Heng buru-buru mengambilkan minum untuknya. Keduanya memilih untuk mengakhiri makan malamnya dan berbincang-bincang hingga mengantuk.


Tidak ada yang mengganggu keduanya lagi menghabiskan malam. Jian Heng bahkan meminta penjaga istananya untuk menjauh dari kamar mereka.


Bagi Fang Yin Jian Heng adalah Zidane versi Kuno. Di kehidupan sebelumnya Agata Moen tidak berhasil mendapatkan cinta sejatinya. Namun, di kehidupan keduanya dia bertemu dengan orang yang memiliki banyak kemiripan dengan pria idamannya.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2