Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 324. Pengakuan Selir Ning


__ADS_3

Selir Shi terkejut dengan kehadiran Selir Ning di Gunung Perak. Menurutnya ini adalah hal yang sangat berani setelah apa yang dilakukannya pada dirinya. Tidak heran jika dia melihat ayahnya begitu marah dan hampir menghajarnya.


Yu Ruo yang berdiri di samping Selir Shi juga merasa tidak habis pikir dengan kedatangan Selir Ning. Kakinya maju selangkah tetapi Selir Shi memegang tangannya dengan cepat.


Sorot kemarahan di mata Yu Ruo membuat Selir Shi perlu untuk menenangkannya. Tindakannya ini bukan tanpa alasan. Kedatangan Selir Ning bisa menjadi hal yang menguntungkan untuk mereka.


"Ibu, jangan gegabah! Mungkin saja kita bisa memanfaatkan situasi ini," bisik Selir Shi saat Yu Ruo menatapnya tak mengerti.


Tatapan kemarahan Yu Ruo mulai meredup. Dia membenarkan ucapan Selir Shi.


"Apa rencanamu?" tanya Yu Ruo.


Selir Shi mendekatkan bibirnya ke telinga Yu Ruo lalu membisikkan rencana yang ingin dilakukannya.


Yu Ruo mengangguk dan membiarkan putrinya itu melakukan apa yang dia katakan.


Semua orang mengalihkan pandangannya pada Selir Shi ketika melihatnya berjalan mendekati Selir Ning yang sedang bersitegang dengan ayahnya.


Wajahnya terlihat dingin dengan ekspresi yang sulit ditebak. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukannya karena Selir Shi tidak mengucapkan apapun.


"Selir Ketiga!" pekik Selir Ning.


Dengan wajahnya yang masih menyimpan ketakutan, Selir Ning menyongsong Selir Shi dan mengabaikan ancaman Shi Jun Hui.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Selir Shi bernada datar.


Sikapnya terlihat acuh tak acuh kepada madu yang telah memberinya banyak penderitaan itu. Sebagai manusia biasa dia tidak mungkin bisa bersikap manis kepada orang yang telah menghancurkan hidupnya.


Selir Ning menjatuhkan dirinya di hadapannya Selir Shi. Semua orang tidak menyangka jika dirinya akan melakukan hal itu. Dari raut wajahnya terlihat bahwa dia berlutut dengan tulus.


"Selir Ketiga! Aku tahu kesalahan yang kubuat sangat besar. Aku telah membuatmu menderita karena perasaan iri yang menghilangkan akal sehatku. Mungkin sudah sangat terlambat bagiku untuk meminta maaf, tetapi aku tidak ingin mati dalam penyesalan. Meskipun kamu tidak bisa memberiku maaf, setidaknya aku merasa lega karena bisa melihatmu telah bangkit dari keterpurukan."


Sreeettt!

__ADS_1


Sebuah pisau besi kecil terbang ke arah Selir Ning dan menancap di lengan kirinya. Darah segar mengalir dari luka itu. Sambil meringis kesakitan dia mencabutnya dan menahannya dengan telapak tangan kanannya.


Selir Shi menoleh ke belakang dan melihat putrinya muncul bersama Jian Heng.


Fang Yin berdiri di samping ibunya dan menatap Selir Ning penuh dengan kebencian. Jika tidak menghargai ibunya yang masih mencoba berdamai dengan masa lalunya, mungkin dia telah menghabisi Selir Ning tanpa ampun.


Selir Ning menatap Fang Yin yang memegang pisau yang sama dengan pisau yang melukainya dan memainkannya. Wajahnya yang tertutup membuat Selir Ning tidak bisa mengenali siapa wanita berpakaian serba hitam tersebut.


"Apakah itu sakit?" tanya Fang Yin pada Selir Ning.


Pertanyaan itu terdengar sangat konyol karena sudah pasti jawabannya. Namun, tujuannya memberikan pertanyaan itu bukan untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya.


Selir Ning mengangguk masih dengan tatapan penasarannya.


"Luka itu tidak seberapa dibandingkan dengan penderitaan ibuku. Hingga saat ini dia dianggap sebagai penghianat dan seorang wanita yang tidak setia!" Fang Yin berbicara dengan suara lantang.


Jantung Selir Ning seakan berhenti berdetak saat dia mendengar wanita di hadapannya ini memanggil Selir Shi dengan sebutan ibu. Sebelumnya dia meragukan berita yang menyatakan jika Putri Gu Fang Yin masih hidup. Kini dia bisa melihatnya berdiri di hadapannya.


"Sepertinya kamu masih belum percaya jika aku masih hidup. Atau jangan-jangan pamanmu yang serakah itu tidak memberitahukan perihal tentangku. Atau malah kamu salah satu orang yang dikirim olehnya untuk menangkapku?" Fang Yin berbicara dengan sangat santai tetapi penuh penekanan.


Selir Ning masih belum bisa menguasai dirinya. Bayangan kematian melintas di benaknya. Dia terlihat pasrah menerima kemungkinan terburuk yang akan diterimanya.


Matanya terpejam ketika melihat tangan Fang Yin terangkat ke atas. Dia berpikir jika anak tirinya itu akan melemparkan pisau padanya lagi. Tetapi dugaannya salah, Fang Yin mengangkat tangannya hanya untuk membuka penutup wajahnya.


"Aku siap menerima hukuman apapun darimu, Yin'er," ucap Selir Ning kembali membuka matanya setelah tidak terjadi apa-apa.


"Tentu saja. Kuharap kamu tidak menyesal dengan kata-katamu. Aku sedang memikirkan hukuman yang pantas untukmu." Fang Yin mengeluarkan aura energinya, seketika tubuh Selir Ning terdorong ke belakang dan terpelanting di tanah.


Selir Ning memegangi dadanya yang terasa sakit. Darah segar mengalir di sudut bibirnya.


Efek dari aura energi Fang Yin tidak hanya berpengaruh pada Selir Ning saja tetapi juga orang-orang di sekitarnya termasuk ibunya. Mereka menahan tekanan yang begitu kuat dan merasakan tubuhnya seperti terhimpit oleh batu yang sangat besar.


"Yin'er, hentikan ini!" seru Selir Shi lirih.

__ADS_1


Fang Yin tidak mendengarkannya, dia memilih membagi energinya untuk orang-orang di sekelilingnya kecuali Selir Ning. Setelah mendapatkan energi darinya, semua orang terlihat lebih tenang.


"Jangan terlalu keras, Yin'er. Kita masih membutuhkannya untuk melawan Kaisar Ning," bisik Selir Shi pada putrinya itu.


Fang Yin mengangguk lalu berkata, "Aku hanya ingin bermain-main saja dengannya, Ibu. Paling tidak aku harus membuatnya hampir mati."


Selir Shi tidak menjawab ucapan Fang Yin. Semua orang akan melihat kebenaran setelah ini. Hingga saat ini masih saja ada yang menggunjingnya dan meragukan cerita sebenarnya yang telah dia sampaikan.


Penduduk Gunung Perak berkumpul mengelilingi mereka. Orang-orang yang baru datang bertanya kepada penduduk yang lebih dulu tiba mengenai masalah yang terjadi. Sebagian lain yang merupakan penduduk suku gletser, melepas rasa rindunya bersama keluarga mereka yang baru datang.


Mereka tidak berani menimbulkan kegaduhan dan tetap tertib untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Fang Yin.


Selir Ning mencoba berdiri dengan tegak. Akhirnya dia mengeluarkan auranya untuk mengurangi tekanan energi dari tubuh Fang Yin.


"Yin'er, dengarkan aku. Aku tidak datang membawa permusuhan. Aku menyesal atas perbuatan yang aku lakukan di masa lalu. Selama sepuluh terakhir ini aku juga mengalami penderitaan seperti yang kalian rasakan. Percayalah." Selir Ning berharap Fang Yin tidak membunuhnya.


"Oh, ya? Tinggal di istana dengan segala kemewahannya kamu anggap sebagai penderitaan. Ahh, aku tahu, kamu merasa kurang puas karena tidak bisa membunuh ibuku juga, bukan?" Fang Yin mendengus penuh ejekan.


Selir Ning menggeleng. Dia merasakan tubuhnya seperti sulit digerakkan saat Fang Yin menjentikkan jarinya dan mengeluarkan energi untuk menekan beberapa titik akupunkturnya.


"Ka-mu sa-lah, Yin'er. Aku tidak tinggal di is-ta-na sesaat setelah huru-hara itu terjadi." Untuk berbicara pun Selir Ning begitu kesulitan.


Fang Yin menghampirinya dan berdiri di dalam jarak yang begitu dekat dengannya.


Wajah Selir Ning terlihat menahan sesuatu. Aura energi Fang Yin membuatnya mengalami siksaan yang begitu berat untuknya.


"Aku bersumpah. Aku tidak tinggal lagi di istana setelah kematian Kaisar Gu. Aku tidak menyangka pamanku akan setega itu dan melakukan tindakan di luar kesepakatan kami," jelas Selir Ning.


'Sepertinya ibu benar. Wanita ini bisa dimanfaatkan untuk menghadapi Kaisar Ning. Tapi tetap saja kami harus berhati-hati dan terus mengawasi ular betina ini ke depannya," gumam Fang Yin dalam hati.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2