
Penghulu dan orang-orang yang terlibat dalam upacara pernikahan Fang Yin dan Jian Heng bersiap untuk menyambut kedatangan Fang Yin. Mereka juga meminta Jian Heng untuk berdiri dan menunggu mempelai wanita di pintu masuk.
Pernikahan Fang Yin dan Jian Heng berlangsung dengan khidmat meskipun diawali dengan huru-hara kecil. Kedua keluarga merasa lega terlebih lagi keluarga besar Fang Yin yang merasa tidak enak karena mempelai wanita memajukan acara sesuai keinginannya.
Setelah sah sebagai pasangan, keduanya menjamu para tamu dengan berbagai hidangan istimewa. Para pengawal dan seluruh penghuni istana juga mendapatkan jamuan secara merata. Ada team khusus yang bertugas mengantarkan jamuan untuk mereka.
"Putri Gu memang selalu memperhatikan orang kecil. Kita sangat diperhatikan meskipun hanya seorang pengawal rendahan," ucap salah seorang pengawal kepada rekannya.
Mereka sedang menikmati hidangan pernikahan yang dikirim dan bergantian satu sama lain untuk berjaga. Meskipun orang luar sangat sedikit yang tahu tentang pernikahan Fang Yin, mereka tetap harus waspada dengan segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Kebaikan yang ditanamkan oleh Fang Yin membuat mereka secara naluriah ingin membalasnya dengan hal yang sama.
"Kamu benar. Semua yang kita terima sepadan dengan rasa lelah yang kita rasakan. Semoga saja negeri ini semakin berjaya," balasnya.
Pengawal yang membuka percakapan mengangguk saja karena mulutnya dipenuhi oleh makanan.
"Aku dengar setelah pernikahan ini, pemerintahan akan dipegang oleh Pangeran Ketiga," ucap pengawal lain.
"Tidak perlu khawatir, Pangeran Ketiga tidak jauh beda dengan Putri Gu. Dia memiliki kebijaksanaan yang tinggi dan terlihat lebih sabar. Mereka berdua pasti saling bekerja sama untuk memerintah negeri ini."
"Itu benar. Semoga kesejahteraan kita akan semakin meningkat dengan kepemimpinan baru yang dipegang oleh Putri Gu dan Pangeran Ketiga."
"Kita harus bekerja sebaik mungkin untuk mendukung Putri Gu dan Pangeran Ketiga."
Para pengawal terus saja berbicara untuk mengungkapkan kegembiraannya atas pergantian kepemimpinan yang telah berlangsung. Mereka juga turut bahagia menikmati hidangan pesta yang sangat istimewa.
Di dalam istana, para pembesar membaur bersama keluarga besar istana. Mereka saling bertukar cerita dan pengalaman yang mereka lewati beberapa minggu terakhir.
Di sudut ruangan terlihat seseorang sedang menangis. Dia adalah Selir Ning.
Air matanya tumpah ketika melihat Fang Yin dan Jian Heng duduk di singgasana. Selir Ning menangis bukan karena dia merasa bersedih atas pernikahan putri sambungnya tetapi karena hatinya sedang diliputi oleh penyesalan yang mendalam.
Selir Shi secara tidak sengaja melihatnya ketika sedang berjalan menyapa para tamu. Setelah selesai dengan urusannya dia pergi menghampiri Selir Ning yang masih terpaku di tempatnya.
Kehadiran Selir Shi membuat Selir Ning terkejut. Dia tidak menyangka jika Selir Shi akan menemukannya dan meninggalkan ruangan perhelatan. Tangannya menghapus air matanya dengan terburu-buru tetapi tentu saja masih meninggalkan bekas sembab.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Kakak? Hari ini adalah hari pernikahan putri kita, tidak seharusnya kamu bersedih," ucap Selir Shi.
Bukannya menjawab, Selir Ning malah beranjak dari duduknya lalu bangkit untuk memeluk Selir Shi. Air matanya kembali tumpah, bahkan lebih deras dari sebelumnya.
Selir Shi terlihat bingung dan berusaha menenangkan Selir Ning dengan usapan lembut di bahunya.
"Selir Ketiga, maafkan aku. Aku telah menghancurkan semua kebahagiaanmu. Harusnya hari ini Yang Mulia menyaksikan putrinya menikah. Begitu juga dengan permaisuri dan keluarga besar kita. Aku sangat berdosa." Selir Ning berbicara dengan terbata-bata disela isaknya.
Semua yang telah terjadi tidak bisa terulang lagi. Dalam pergeseran waktu, masa lalu hanyalah secuil kenangan yang lambat laun akan dilupakan oleh para pelakonnya. Setiap kejadian memiliki makna, tidak peduli itu menyenangkan ataupun menyedihkan.
__ADS_1
"Semua sudah terjadi. Penyesalan hanya akan membuatmu tersiksa. Kami sudah memaafkanmu begitu juga dengan Yin'er. Lupakanlah, mari kita hidup dengan damai dan mendukung putri kita untuk membuat perubahan di negeri ini." Selir Shi mengusap air mata di pipi Selir Ning.
"Pantas saja Yang Mulia sangat menyayangimu. Kamu sangat baik dan tulus meskipun aku seringkali menyakitimu di masa lalu. Terimakasih." Selir Ning tersenyum di tengah air matanya yang berderai.
"Tersenyumlah jangan menangis lagi." Selir Shi mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu memberikannya pada Selir Ning.
Meskipun terlihat lusuh tetapi sapu tangan itu memiliki struktur yang lembut dan mampu menyerap air. Selir Shi menambahkan beberapa herbal yang membuatnya berbau sangat wangi.
Selir Ning mengangguk dan menerima sapu tangan Selir Shi. Wajahnya terasa sejuk ketika tersentuh oleh sapu tangan. Herbal yang tersimpan di dalamnya meninggalkan sensasi kesegaran.
"Selir Ketiga, wajahku terasa begitu segar setelah menggunakan sapu tangan ini. Kamu memang memiliki bakat yang luar biasa dalam meracik bahan herbal. Bolehkah aku memiliki sapu tangan ini?" Selir Ning begitu tertarik dengan sapu tangan milik Selir Shi.
"Ambillah. Aku masih memiliki beberapa sapu tangan yang sama," jawab Selir Shi sambil tersenyum.
"Terimakasih."
Selir Shi mengangguk.
"Ayo, kita ke dalam. Orang-orang pasti akan mencari kita jika terlalu lama berada di sini." Selir Shi meraih bahu Selir Ning lalu membawanya berjalan.
Keduanya terlihat seperti sepasang kakak beradik yang saling mendukung satu sama lain. Tidak ada lagi penghalang bagi mereka untuk saling berbagi. Kebencian dan rasa iri di hati Selir Ning telah runtuh oleh kebaikan hati dan ketulusan Selir Shi.
Semua orang tercengang dengan kehadiran mereka berdua karena mereka tidak melihat keduanya keluar sebelumnya. Namun, mereka tidak ingin tahu tentang hal ini.
Kebersamaan Fang Yin dan Jian Heng memang bukan untuk yang pertama kali. Mereka biasa melewati hari bersama. Namun, dengan status mereka yang baru membuat keduanya terlihat canggung.
Fang Yin dan Jian Heng duduk bersebelahan di tepi tempat tidur. Mereka tidak saling berdekatan. Ada ruang kosong yang memisahkan keduanya.
Jian Heng menatap ke arah Fang Yin tetapi ketika Fang Yin membalas tatapannya dia malah berpaling ke arah lain. Pipinya terlihat merah karena menahan rasa malu.
"Kak Heng," panggil Fang Yin.
"Iya, Yin'er. Apakah kamu lelah?" tanya Jian Heng dengan gugup.
Fang Yin tertawa kecil melihat keringat Jian Heng mengembun di pelipisnya. Seorang yang gagah berani sepertimu ternyata bisa juga merasa gugup. Pemandangan ini terlihat sangat lucu bagi Fang Yin.
"Apakah ada sesuatu yang janggal di wajahku? Atau ada sisa makanan yang tertinggal?" Jian Heng mengusap wajahnya sembarang dan bersiap untuk pergi mencari cermin.
"Mau ke mana, Kakak? Di sini saja." Fang Yin menepuk tempat kosong di sampingnya.
Jian Heng mengurungkan niatnya untuk pergi dan memilih kembali duduk di samping Fang Yin. Kali ini dia duduk lebih dekat dengan Fang Yin.
Kedua tangan Jian Heng bertolak pada tempat tidur di kedua sisi tubuhnya. Masih dengan sikapnya yang malu-malu, Jian Heng memaksakan diri untuk bersikap biasa.
__ADS_1
Fang Yin meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Jian Heng. Perlakuan ini membuatnya salah tingkah dan berdebar.
"Tanganmu dingin sekali, Kak Heng."
"Benarkah? Mungkin perasaanmu saja, Yin'er. Aku tidak sedang kedinginan," elak Jian Heng.
Fang Yin mengabaikan ucapan Jian Heng dan memilih untuk menyandarkan kepalanya di pundak pria yang telah resmi menjadi suaminya itu. Tangannya menggenggam erat tangan Jian Heng. Rasa hangat mulai menjalar di tubuh keduanya menggambarkan betapa bahagianya mereka hari ini.
Bibir keduanya tertutup rapat tetapi mereka saling tahu apa yang diinginkan dari diri mereka masing-masing. Hati kian berdesir ketika jarak mulai terkikis dan habis tak bersekat. Tanpa aba-aba semuanya terjadi begitu indah ketika wajah mereka saling menyentuh.
Semakin lama mereka semakin berani untuk menuntut satu sama lain. Ada sedikit rasa canggung di antara keduanya tetapi mereka sama-sama tidak bisa menahan diri.
"Yin'er! Bolehkah aku ...," bisikan Jian Heng terhenti ketika pengawal yang berjaga di depan kamar mengabarkan kedatangan kedua kakaknya.
Fang Yin tersenyum geli ketika melihat kekecewaan di wajah Jian Heng. Hari masih terlalu sore, memang belum saatnya untuk memulai aktifitas mereka sebagai pengantin baru.
"Jangan khawatir, kita masih punya banyak waktu. Lagi pula ini masih sore. Aku ingin pergi mandi, kamu saja yang menemui kakak." Fang Yin merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
"Baiklah! Aku akan membukakan pintu untuk kakak sekaligus mengantarmu ke depan pintu." Tidak ada pilihan lain bagi Jian Heng dan memaksanya untuk pasrah pada keadaan.
Keduanya berjalan beriringan ke depan pintu dan mendapati Xi Hao Xiang dan Xi Changyi telah berdiri di depan pintu ketika Jian Heng membukanya. Berbeda dengan Fang Yin yang terlihat malu-malu ketika berhadapan dengan kedua kakak iparnya, Jian Heng lebih percaya diri. Dia bahkan sengaja tidak membetulkan baju dan rambutnya yang berantakan.
"Mari silakan masuk, Kakak. Aku akan pergi ke pemandian sekarang. Maaf tidak bisa menemani kalian untuk berbincang-bincang," pamit Fang Yin dengan sopan.
"Ah, iya, silakan mandi. Hari semakin sore dan sebentar lagi suasana menjadi gelap." Xi Hao Xiang mempersilakan Fang Yin pergi.
"Baiklah," jawab Fang Yin sambil membungkukkan badannya sebentar untuk memberikan hormatnya sebelum berlalu.
Xi Hao Xiang dan Xi Changyi berjalan memasuki ruangan Jian Heng. Mendahului Jian Heng yang masih termenung.
"Heng'er! Kamu terlihat sangat berantakan. Apa jangan-jangan kamu sudah memulai pertempuran?" tanya Xi Changyi sambil memandangi Jian Heng dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Xi Hao Xiang juga ikut-ikutan melihat ke arah Jian Heng dengan pandangan yang sama. Dia bahkan berjalan memutari tubuh Jian Heng dan mencari-cari sesuatu yang janggal dari adiknya.
"Kalian ada-ada saja. Memangnya kenapa kalau aku bermesraan dengan Yin'er? Tidak ada yang melarangnya karena kami sudah menikah." Jian Heng terlihat kesal dengan sikap kedua kakaknya.
"Iya, juga, ya. Kog aku jadi ingin tahu." Xi Hao Xiang mengetuk bibirnya dengan ujung telunjuk tangan kanannya.
Jian Heng kembali berjalan lalu menjatuhkan tubuhnya di samping sebuah meja. Xi Hao Xiang dan Xi Changyi menyusulnya. Tiga bersaudara itu terdiam dan saling melempar pandangan satu sama lain.
****
Bersambung ....
__ADS_1