
Selir Shi membuka pintu kamar Fang Yin dan terkejut ketika melihat seorang pelayan berdiri tepat di hadapannya. Pelayan itu tentu juga tidak tahu jika akan ada seseorang yang membuka pintu karena tidak mendengar suara langkah kaki.
Pelayan segera mundur dengan membungkuk memberi hormat. Di belakangnya terlihat seseorang yang tidak asing bagi Selir Shi, Xiao Chang.
Tadi pagi dia memang meminta pelayan untuk mengantarkan Xiao Chang ke istana Fang Yin. Namun, kedatangan mereka tidak diketahui karena pelayan tidak mengeluarkan suara.
"Kalian mengejutkanku saja. Lain kali bicaralah, jangan diam saja! Tidak perlu takut untuk memberitahukan kedatangan kalian."
"Baik, Yang Mulia."
Xiao Chang dan pelayan berjalan mengikuti Selir Shi masuk ke kamar Fang Yin. Melihat pelayan itu ikut masuk, Selir Shi menghela nafas untuk menghirup hawa kesabaran. Sungguh pelayan baru memang belum mengerti apa-apa tentang pekerjaan.
"Kamu tetap di sini." Selir Shi menunjuk Xiao Chang lalu menunjuk pelayan dan berkata lagi, "Kamu boleh pergi."
Meskipun sangat kesal, Selir Shi mencoba untuk berbicara lembut pada mereka. Butuh kesabaran tiada batas untuk mengajari pelayan baru dan pengawal baru karena Fang Yin sengaja memilih orang yang belum berpengalaman. Orang baru cenderung lebih setia dan tidak memiliki kecenderungan untuk berkhianat.
Fang Yin tersenyum melihat tingkah ibunya yang penyabar. Lalu sesaat kemudian dia menatap pria yang berdiri di hadapannya dan memperlihatkannya dengan seksama. Rasanya memang tidak asing dengan wajahnya.
Jarak mereka cukup jauh sehingga Fang Yin merasa belum melihatnya dengan jelas. Dia beranjak lalu berjalan mendekatinya. Semakin dekat, dia bisa melihat wajah Xiao Chang mirip dengan Gu Tian Feng.
"Apakah kamu tidak berasal dari daerah sini?" tanya Fang Yin memulai percakapan dengan berdiri.
Xiao Chang menyatukan tangannya untuk memberi hormat dan memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Xiao Chang. Benar, Yang Mulia, saya berasal dari Kota Qiong ibukota negara bagian dengan nama yang sama."
Fang Yin mengangguk.
"Aku dengar kamu sedang mencari pekerjaan di sini, apakah itu benar?" Fang Yin kembali meminta kepastian.
"Benar, Yang Mulia."
Fang Yin tidak ingin membuat keputusan dengan cepat. Siapa Xiao Chang masih menjadi misteri. Hanya Gu Tian Feng yang bisa menjawab teka teki ini mengingat Ketua Lama dan Ketua Sekte telah kembali ke Gunung Telaga Emas.
"Duduklah! Aku akan memikirkan pekerjaan apa yang pantas untukmu."
Itu hanya alasan Fang Yin saja, yang sebenarnya adalah dia ingin menunggu Gu Tian Feng untuk melihat kejelasan status keturunan Xiao Chang. Tidak mungkin dia akan mempekerjakan saudara satu klannya sebagai pelayan atau pengawal.
Selir Shi duduk di samping Fang Yin menghadap ke arah Xiao Chang. Mereka terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Keadaan ini berlangsung hingga beberapa saat sampai pengawal yang berjaga di depan ruangan memberitahukan kedatangan Gu Tian Feng.
Fang Yin dan Selir Shi menyambut kedatangannya dan memintanya untuk duduk. Gu Tian Feng duduk di samping Xiao Chang.
Sebelum Fang Yin mengatakan apapun, Gu Tian Feng sudah memiliki firasat. Meskipun matanya buta, mata hatinya sangatlah tajam. Sejak kedatangannya dia terus memperhatikan Xiao Chang seperti menemukan sesuatu yang menarik.
"Yin'er, apakah kamu mengenal anak muda ini?" tanya Gu Tian Feng memutar tubuhnya menatap Fang Yin.
"Aku baru saja bertemu dengannya hari ini. Dia berasal dari Kota Qiong di Negara Bagian Qiong. Aku merasa jika dia memiliki wajah yang mirip dengan paman tetapi aku tidak berani berspekulasi tanpa bukti," jelas Fang Yin.
Gu Tian Feng kembali menatap Xiao Chang. Rasa penasarannya membuatnya ingin membaca garis keturunan Xiao Chang melalui hawa tubuh dan bau darahnya.
"Paman, apakah paman tidak mengenali hawa tubuhnya seperti saat pertama kali kita bertemu dulu?" Fang Yin mendesak Tian Feng untuk segera menyelidiki tentang garis keturunan Xiao Chang.
Sifat Fang Yin memang tidak memiliki kesabaran. Dia ingin semuanya berjalan sesuai keinginannya selama itu tidak mengganggu orang lain.
"Tunggu sebentar, Yin'er. Meskipun aku merasakannya, aku tetap harus meminta ijin padanya. Tidak semua orang bersedia dibuka masa lalunya seperti yang terjadi padamu dulu. Kamu menolak waktu aku akan menyentuh bahumu, bukan?"
Jawaban Tian Feng membuat Fang Yin meringis. Awal pertemuan mereka memang diwarnai dengan hal konyol yang sulit untuk dilupakan.
"Paman masih mengingatnya rupanya. Waktu sudah berlalu sangat lama, paman masih terus mengenangnya."
"Mana mungkin aku lupa pada keponakanku yang pemberani dan sedikit bodoh ini."
Ucapan Tian Feng membuat Fang Yin melotot. Mulutnya bersiap untuk membalas ucapan pamannya tetapi Tian Feng kembali bicara.
"Tapi itu dulu. Sudahlah aku ingin bertanya pada anak muda ini. Siapa namamu?" Tian Feng tidak ingin berdebat dengan Fang Yin yang tidak akan ada habisnya.
Wajah Xiao Chang sedikit panik tetapi dia berusaha untuk tenang. Dia tidak menyangka jika keadaannya akan seperti ini. Semua yang terjadi jauh di luar bayangannya.
"Nama saya Xiao Chang, Tuan. Saya seorang yatim piatu. Selama ini saya tinggal bersama kakek dari ibu," jelas Xiao Chang.
Sebenarnya Tian Feng tidak perlu penjelasan dari Xiao Chang karena dia akan tahu hal yang lebih lengkap dari itu saat dia menyentuh bahunya dan menatap kedalaman jiwanya.
"Bolehkah aku melihat lebih dalam hawa tubuh dan darah keturunanmu?" tanya Tian Feng meminta ijin.
"Silakan, Tuan. Selama itu tidak membuatku mati, aku tidak akan merasa keberatan."
Jawaban polos Xiao Chang membuat Tian Feng dan Fang Yin tertawa. Pemuda itu rupanya memiliki sifat humoris.
"Tidak akan. Kecuali kamu memiliki masalah dengan jantungmu. Apa kamu sudah siap?" tanya Tian Feng lagi.
"Siap, Tuan."
'Setelah ini aku akan tahu asal usul ayahku yang sebenarnya. Nama yang tertulis di kain dan liontin yang kupakai tidak cukup kuat untuk menjadi bukti jika aku merupakan keturunan Klan Gu. Apapun hasilnya, ini adalah sebuah kebenaran yang harus aku terima.' Xiao Chang bersiap untuk menerima sebuah kenyataan.
Tian Feng menyentuh bahu Xiao Chang lalu mulai merasakan hawa tubuhnya. Kekuatan Tian Feng membawa Xiao Chang pergi memasuki alam bawah sadarnya. Di sana dia seperti melihat suatu peristiwa yang buruk di mana sebuah rombongan sedang berhadapan dengan kawanan bandit.
"Aku di mana ini? Tidak ... tidak ... ini seperti sebuah mimpi. Aku tidak mengenal semua orang-orang ini. Mereka terlihat sangat asing."
__ADS_1
Xiao Chang melihat bandit kejam itu membantai seluruh rombongan dengan brutal. Mereka merampas harta benda yang dimiliki lalu pergi begitu saja.
Seorang anak buta beringsut mundur meninggalkan tempat itu dan berhasil selamat. Anak itu adalah Tian Feng yang saat itu masih sangat lemah dan cengeng.
Pandangan Xiao Chang beralih pada seorang pelayan yang menggendong seorang bayi. Melihat bandit itu berjalan ke arahnya, dia menyembunyikan sang bayi di balik pohon besar. Beruntung bayi itu sedang tertidur dan tidak menangis sehingga para bandit itu tidak membunuhnya juga.
Pelayan yang menggendongnya tidak bermaksud untuk meninggalkannya. Dia memang berlari tetapi dia akan kembali menjemputnya setelah keadaan aman. Namun, nasib berkata lain, sang pelayan tertangkap oleh bandit dan dihabisi oleh mereka saat itu juga.
Bayi malang itu sendirian di hutan. Saat merasa kehausan bayi itu menangis dengan kencang dan membuat kakek Xiao Chang yang sedang mencari kayu bakar di sekitar tempat itu menemukannya. Dia membawa bayi itu pulang.
Di rumahnya dia juga memiliki seorang bayi yang mungkin hanya memiliki selisih umur beberapa bulan saja lebih muda dari bayi yang ditemukannya. Istri Lin Juan meninggal saat melahirkan Lin Hua putrinya. Saat dia pergi, dia menitipkan bayinya pada ibunya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.
"Bayi siapa yang kamu bawa, Juan'er?" tanya ibunya.
"Aku tidak tahu, Ibu. Aku menemukannya di hutan. Melihatnya sangat haus aku merasa kasihan. Biarlah dia menjadi anak angkatku, Ibu. Aku akan bekerja lebih keras lagi untuk membesarkan mereka."
"Bayi yang tampan. Kamu benar. Selama ibu masih hidup, ibu akan membantumu untuk membesarkannya. Apakah bayi ini sudah memiliki nama?" tanya ibu Lin Juan.
Lin Juan menggeleng. Dia sengaja menyembunyikan barang-barang pribadi milik bayi itu. Dia tidak ingin memanfaatkannya tetapi untuk diberikan pada bayi itu setelah dia dewasa nanti.
Bayi itu diberi nama Xiao An mengingat di dalam kain berbordir tertulis nama Gu Tian An. Semakin hari pertumbuhan Xiao An semakin pesat. Xiao An dan Lin Hua masuk ke dalam akademi bersama-sama.
Mereka memiliki prestasi yang luar biasa di ajang bela diri. Di usianya yang masih sangat muda Xiao An dan Lin Hua sudah menjadi lulusan terbaik.
Xiao An jatuh cinta pada Lin Hua, begitu juga sebaliknya. Namun, mereka tidak berani untuk menjalin hubungan satu sama lain mengingat keduanya adalah saudara. Lin Juan akhirnya mengatakan kepada keduanya bahwa mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
Kabar itu membuat Xiao An merasa sedih sekaligus senang. Sedih karena dia tidak tahu darimana asal usulnya dan senang karena dia bisa menikah dengan Lin Hua setelah ini.
Dengan hati-hati Xiao An berbicara kepada Lin Juan untuk mencari keberadaan orang tuanya. Dia hanya ingin tahu saja tanpa ada maksud lain.
Lin Juan pun mengijinkan Xiao An pergi. Berbekal liontin giok dan kain bertuliskan sebuah nama itu dia pergi berpetualang untuk mencari keluarganya. Petunjuk itu membawanya ke Kekaisaran Benua Timur yang saat itu masih dipimpin oleh Kaisar Gu, ayah Fang Yin.
Xiao An tidak lantas mengungkapkan jati dirinya yang merupakan keturunan Klan Gu. Dia mengabdikan dirinya menjadi seorang prajurit sambil mencari informasi tentang keluarganya.
Selama lima tahun dia tinggal di istana sebagai prajurit pilihan. Di tahun kelima dia baru menemukan fakta menyedihkan tentang keluarganya yang telah meninggal dalam rombongan akibat perampokan Bandit Topeng Besi.
Setelah mengetahui tidak memiliki keluarga lagi di sana, Xiao An memilih kembali ke Kota Qiong. Hingga kematiannya tidak ada yang tahu jika dirinya adalah saudara sepupu Gu Tian Feng yang bernama Gu Tian An. Xiao An kemudian menikah dengan Lin Hua dan memiliki Xiao Chang.
Meskipun tidak ada yang tahu bahwa dia adalah keluarga Gu, dia diam-diam membantu Kaisar Gu saat pemberontakan akan dilakukan oleh Kaisar Ning. Sebenarnya dia sudah tahu lebih awal mengenai rencana itu tetapi tidak memiliki keberanian untuk melawan.
Xiao An yang terkenal dengan sebutan Pendekar Pedang Timur mendapat undangan dari Raja Qiong untuk bergabung dengannya melakukan kudeta. Xiao An menolak. Penolakan ini berujung penyerangan oleh beberapa kultivator kuat dan membuat dirinya dan istrinya terbunuh.
Cerita Xiao An berakhir sampai di sini.
Bayangan tentang masa lalu Xiao Chang berhenti. Namun, ingatan ini sudah menunjukkan sesuatu yang jelas di mana dia adalah putra dari sepupu orang yang saat ini berada di sampingnya.
Air mata Xiao Chang terjatuh tanpa permisi. Bagi seorang pria ini terlihat sangat memalukan. Sebenarnya dia sudah berusaha untuk menahannya tetapi air mata itu lebih kuat daripada badai.
"Xiao Chang. Kamu adalah putra Tian An!" pekik Tian Feng yang langsung memeluk Xiao Chang.
Mereka larut dalam keharuan. Mulut mereka tidak mengeluarkan kata-kata tetapi hati mereka mengungkapkan kesedihan yang mendalam.
"Kita masih bertiga sebagai Klan Gu," ucap Fang Yin.
Mendengar ucapan Fang Yin, Tian Feng dan Xiao Chang melepaskan pelukannya. Mereka berusaha untuk mengendalikan dirinya dan bersikap lebih tenang.
"Yin'er, kita masih memiliki satu orang keluarga lagi dari Klan Gu." Tian Feng merasa senang.
"Xiao Chang, apa yang terjadi padamu hingga kamu terpisah dengan keluargamu?" tanya Fang Yin, hanya Xiao Chang dan Tian Feng yang mengetahui kisah sebenarnya tentang kehidupan Xiao Chang dan Gu Tian An.
Tian Feng menceritakan gambaran yang terlintas di alam bawah sadar Xiao Chang ketika dia membaca hawa tubuhnya. Kehidupan sulit dan menyedihkan yang dialami keduanya tidak jauh beda. Xiao An yatim piatu sejak bayi dan Xiao Chang yatim piatu sejak anak-anak.
Air mata Fang Yin jatuh berderai mendengar kisah hidup mereka. Dirinya masih sedikit beruntung karena masih memiliki seorang ibu meskipun sebelumnya dia mengalami penderitaan yang tidak jauh beda dari mereka.
Kehidupan yang sulit mengajarkan kepada mereka bagaimana berjuang untuk menjadi kuat. Segala kemewahan dan kekuasaan yang didapatkan saat ini tidak akan membuat mereka menjadi sombong dan lupa diri. Mereka bisa merasakan kehidupan dari sebelum menjadi apapun hingga menjadi seseorang yang memiliki segalanya.
"Xiao Chang, aku ingin kamu memperkuat kekuasaan yang akan kubentuk sebentar lagi. Sudah saatnya Klan Gu bangkit dari keterpurukannya setelah sekian lama kita berada di titik terendah dan hampir terhapus."
"Saya siap menerima perintah, Yang Mulia. Tetapi saya masih memiliki seorang kakek yang tinggal di Kota Qiong."
"Bawa saja ke kota ini," ucap Fang Yin.
Xiao Chang menggeleng. Kakek tidak akan mau. Rasa cintanya pada nenek dan orang tuaku membuatnya tidak ingin meninggalkan tempat tinggalnya.
Jawaban ini membuat Fang Yin berpikir. Bukannya dia tidak ingin menahan Xiao Chang untuk tinggal tetapi adab dan kebiasaannya tentu akan membuatnya kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Kekuasaan Negara Bagian Qiong masih kosong, dia ingin Xiao Chang yang memegangnya.
"Xiao Chang, aku akan memasukkanmu ke akademi pemerintahan. Saat ini Negara Bagian Qiong masih kosong. Aku ingin kamu memimpin dan menjadi raja di sana. Dengan begitu kamu masih bisa bekerja dan merawat kakekmu juga."
Xiao Chang menunduk sedih. Dia teringat beberapa hari yang lalu dia pergi meninggalkan rumah tanpa berpamitan pada kakeknya. Kakeknya tidak tahu jika dia pergi ke istana ini untuk mencari tahu tentang keluarganya.
"Aku bersalah pada kakekku. Dia tidak tahu ke mana aku pergi karena aku pergi diam-diam dari rumah ke sini."
Fang Yin menggeleng. Dia menyadari kenakalannya di masa lalu. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk dari Klan Gu yang selalu merasa benar dan suka seenaknya.
"Tidak perlu takut. Aku juga sering melakukan kesalahan. Kakekmu hanya memiliki kamu, dia pasti memaafkanmu. Setelah ini, kamu bisa pulang dan mengatakan tentang siapa dirimu. Setidaknya butuh dua tahu kamu harus belajar tentang tata negara dan pemerintahan di akademi. Kakekmu pasti tidak akan keberatan."
Penjelasan Fang Yin membuatnya merasa senang. Sekarang dirinya merasa memiliki seorang kakak yang selalu membimbingnya.
__ADS_1
Xiao Chang merasa sangat berterimakasih. Keesokan paginya Fang Yin meminta beberapa orang pengawal untuk mengantarnya pulang ke Kota Qiong. Untuk hari ini, dia bebas berkeliling bersama para pengawal untuk melihat setiap sudut istana.
Di dalam ruangan Fang Yin kini tinggal dirinya, ibu dan pamannya. Mereka menikmati minuman hangat dan beberapa kue yang disediakan oleh pelayan.
Sejak tadi ibunya tampak canggung setiap kali bertemu pandang dengan Tian Feng. Sikap yang menurut Fang Yin berbeda dengan kebiasaannya selama ini. Biasanya ibunya sangat ramah pada pamannya itu.
"Aku seperti sedang duduk di tengah-tengah arca," kesal Fang Yin sambil menatap ibu dan pamannya bergantian.
"Ah, maaf, Yin'er. Ibu sedang tidak memiliki hal untuk dibicarakan. Jadi ... ibu diam saja jika tidak diminta bicara."
Suara nafas kasar Fang Yin terdengar seperti dengusan. Ingin rasanya dia meluapkan semuanya pada ibunya tetapi itu mustahil. Tidak mungkin dia marah-marah pada wanita berhati lembut yang selalu menyayanginya dengan tulus.
Jian Heng datang memasuki ruangan dan memberi hormat pada ibu dan paman Fang Yin sebelum mengambil tempat duduknya. Dia merasa ada yang aneh dengan wajah masam kekasihnya.
"Sepertinya aku datang di momen yang tidak tepat. Hatiku terasa ngilu saat melihat wajah masammu itu, Yin'er," sindir Jian Heng yang tidak menyukai sikap Fang Yin.
Fang Yin baru menyadari jika orang lain bisa melihat perubahan sikapnya. Dia segera memperbaiki ekspresinya dengan memasang senyum. Namun, senyum yang dipaksakan itu malah membuatnya terlihat semakin aneh.
"Kamu tidak salah memakan sesuatu, bukan?" tanya Jian Heng.
Tidak ingin Jian Heng semakin merasa salah paham, Fang Yin mendekatkan mulutnya dan berbisik, "Aku heran dengan sikap ibu dan paman Tian Feng. Apakah mereka sedang marah atau apa. Sejak tadi mereka diam."
Jian Heng membulatkan matanya dan menggerakkan kepalanya memutar untuk melihat ke arah Selir Shi tetapi Fang Yin menarik kepalanya agar tetap menghadap ke arahnya. Mata Fang Yin berkedip memberi isyarat agar dia pura-pura tidak tahu.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Tian Feng.
"Tidak ada." Fang Yin mendorong tubuh Jian Heng agar menjauh.
"Aku akan segera menikahkan kalian. Tidak ada lagi yang perlu ditunggu," imbuh Selir Shi.
"Jie'er, jangan begitu. Setelah keadaan benar-benar tertata pasti mereka menikah juga. Kita sebagai orang tua tinggal mendukung saja."
Panggilan Tian Feng kepada ibunya terdengar sangat aneh. Baru pertama kalinya Jian Heng dan Fang Yin mendengarnya memanggil begitu. Keduanya juga jarang terlihat mengobrol di depan mereka.
Tangan Fang Yin mencubit Jian Heng dengan keras dan membuatnya berteriak. Lagi-lagi keduanya menjadi pusat perhatian Selir Shi dan Tian Feng.
"Apakah aku melewatkan sesuatu tentang kalian?" tanya Fang Yin menatap Selir Shi dan Tian Feng.
Selir Shi menunduk malu sedangkan Tian Feng mendadak gugup. Selama tinggal di Gunung Perak keduanya menjadi akrab, terlebih Tian Feng memiliki pengalaman yang lebih dari Selir Shi. Mereka sering bertukar pikiran.
"Ayolah, Paman!" seru Fang Yin kembali mendesak Tian Feng untuk jujur.
Kalimat pendek itu cukup dimengerti oleh Tian Feng. Cepat atau lambat mereka akan tahu, mungkin sudah saatnya dia mengungkapkan keinginannya untuk mempersunting janda sepupunya itu.
"Aku harap kamu tidak merasa salah paham, Yin'er. Semua ini mengalir begitu saja. Aku tidak menyangka jika di usiaku yang sudah setua ini memiliki perasaan pada seorang wanita," jujur Tian Feng.
Pernyataan Tian Feng membuat Fang Yin ternganga. Hingga beberapa saat dia tidak sadar akan dirinya sampai Jian Heng menepuk bahunya lembut.
"A ... aku tidak ... tidak keberatan jika kalian bersama. Em, maksudku menikah." Fang Yin berbicara dengan gugup.
"Jangan seperti itu, Yin'er. Ibu sangat malu." Selir Shi merasa tidak enak pada Jian Heng.
Berita ini terlalu mengejutkan bagi Fang Yin dan Jian Heng. Semua hal bisa saja terjadi. Kebersamaan yang mereka jalani selama ini menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka. Tidak ada yang perlu disalahkan karena ini bukanlah hal yang buruk.
Mereka terdiam untuk beberapa saat dan membuat ruangan itu diliputi keheningan. Fang Yin tidak akan menghentikan hubungan mereka jika keduanya memang ingin menjalaninya dengan sungguh-sungguh.
"Paman, Ibu, berita ini memang membuatku terkejut tapi percayalah bahwa aku menyambut semuanya dengan gembira. Permintaanku cuma satu, jangan membuat sebuah hubungan sebagai hal yang main-main. Aku tidak menyukai itu."
"Tidak akan, Yin'er. Ibumu adalah cinta pertama dan terakhirku."
'Astaga, Paman Tian Feng so sweet sekali. Mereka yang jatuh cinta kenapa aku yang tersipu, ya. Jadi, yang harus menikah aku dan Kak Heng dulu atau ibu dan paman dulu,' gumam Fang Yin dalam hati.
"Yin'er, sadarlah! Kamu baik-baik saja, bukan?" Jian Heng kembali menepuk bahu Fang Yin dengan lembut.
"Kak Heng, ah, iya. Aku baik-baik saja." Fang Yin beringsut membetulkan posisi duduknya.
Selir Shi masih terlihat canggung.
"Yin'er, bagaimana menurutmu jika aku melamar ibumu pada keluarganya. Aku ingin menikahinya secara sederhana saja." Tian Feng meminta pendapat Fang Yin.
"Aku selalu mendukung apa yang terbaik untuk kalian. Jangan khawatir, aku akan membantu paman untuk berbicara pada kakek dan nenek. Aku juga akan meminta Kakek Wu untuk membantu paman," jelas Fang Yin.
"Sebenarnya aku sangat malu. Kuharap tidak ada yang menertawakanku nantinya." Tian Feng menunduk sedih mengingat dia akan menikah di usianya yang cukup tua meskipun wajahnya tidak terlihat tua.
"Jangan khawatir, Paman. Menikah bukanlah sesuatu yang buruk. Aku mendukung kalian berdua. Kembalikan kejayaan Klan Gu dengan memberiku banyak saudara."
Ucapan Fang Yin kembali membuat Selir Shi dan Tian Feng tersipu.
Di luar kamar Fang Yin berdiri Kaisar Xi dan Selir Tang yang tidak sengaja mendengar perbincangan mereka. Keduanya saling berpandangan dan tidak tahu harus berkata apa.
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Semoga berkenan mampir, terima kasih.
__ADS_1