Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 404. Ancaman


__ADS_3

Fang Yin dan Jian Heng memilih tempat mendarat tepat di puncak Pegunungan Merah. Pegunungan ini tergolong memiliki ketinggian yang sedang. Namun demikian, pada puncaknya terlihat dikelilingi oleh awan-awan.


Pemandangan yang indah ini tentu akan membuat siapapun terlena tapi mereka harus mempertimbangkan bahaya yang ada di sana. Orang yang akan datang harus berpikir seribu kali mengingat tidak ada yang tahu tentang kehidupan tersembunyi di Pegunungan Merah. Konon pernah tersiar rumor di mana seseorang pergi mendaki untuk mencari tanaman obat dan tidak pernah kembali lagi.


Jian Heng masih terpesona dengan keindahan alam Pegunungan Merah. Dia tertegun hingga beberapa saat dan berdiri terpaku menatap ke kejauhan. Semuanya terlihat begitu alami tanpa sentuhan tangan manusia.


"Jangan terlena dengan keindahan! Kita masih baru di sini dan hari masih terlalu pagi. Semoga saja tidak akan ada bahaya yang mengelilingi kita lagi." Fang Yin memberi peringatan kepada Jian Heng.


Jian Heng mengangguk. Apa yang dikatakan oleh Fang Yin memang benar. Tempat ini terlihat tenang tetapi sejatinya masih menyimpan misteri.


"Aku akan berhati-hati. Bisakah kita beristirahat sebentar, Yin'er? Setelah itu mari kita pergi berkeliling untuk memeriksa sekitar." tanya Jian Heng.


"Tentu saja."


Fang Yin melompat ke sebuah batu besar lalu duduk di atasnya. Dari tempatnya berada saat ini dia bisa melihat ke tempat di sekelilingnya karena dia berada lebih tinggi. Lebatnya hutan membuat jarak pandang mereka terbatas. Mereka tidak bisa melihat ke kedalaman.


Meskipun tidak datar sempurna tetapi permukaan batu itu bisa menjadi tempat beristirahat sementara sebelum menemukan tempat yang lebih layak untuk mereka tinggali. Jian Heng menyandarkan kepalanya dipangkuan Fang Yin dan berusaha untuk memejamkan matanya. Hampir semalaman mereka tidak beristirahat.


'Hmm ... Kamu pikir aku juga tidak mengantuk?' Fang Yin mengeluarkan sebuah kain dan memindahkan kepala Jian Heng ke atasnya.


Jian Heng tidak terbangun sedikitpun karena Fang Yin memindahkannya dengan sangat hati-hati. Keduanya pun terlelap dalam posisi saling berhadapan. Pepohonan di sekeliling mereka menghalangi cahaya terik matahari dan membuat mereka tidak terganggu dalam tidurnya.


Mereka tidak menanamkan mantra pelindung dan berpikir jika tempat itu sangat aman. Tidak ada hawa kehidupan ataupun aura energi yang terasa di sekitarnya ketika mereka tiba. Keduanya tidak menyadari bahaya yang mengelilingi mereka.


Di Pegunungan Merah dihuni oleh binatang roh tingkat tinggi yang dikendalikan oleh seorang iblis yang tinggal di dunia bawah. Selama ribuan tahun binatang itu hidup di sana untuk menunggu kehadiran bayi dalam ramalan. Bayi istimewa itu akan membangkitkan Iblis Benua Merah yang ingin menguasai dunia manusia dan dunia atas.


Dengan mengorbankan bayi itu maka dia akan menjadi makhluk terkuat di tiga alam. Sebelumnya Iblis Benua Merah telah mencuri setengah inti energi permata langit. Kekuatan bayi istimewa akan menyempurnakannya dan menjadikannya sangat kuat.


Walaupun sangat samar, hawa kehidupan yang dikeluarkan oleh tubuh Fang Yin dan Jian Heng terendus juga oleh binatang roh yang tinggal di kedalaman hutan di lembah Pegunungan Merah. Binatang roh Pegunungan Merah menggeliat lalu bangun dari pertapaannya. Dia meliukkan tubuhnya lalu berdiri dengan tegap.


Wujudnya mirip seperti banteng tetapi memiliki bulu yang lebat berwarna hitam mengkilat. Tanduknya yang panjang dengan ujung yang runcing dan menghadap ke depan. Matanya berwarna merah darah dengan kelopak mata yang sangat lebar.


Selain mirip dengan banteng, binatang roh juga mirip dengan singa yang bertaring dan berkuku tajam. Dalam sekali terkam dia akan melumpuhkan mangsanya dan membuatnya sulit terlepas dari jeratannya. Tidak hanya sampai di situ saja, kekuatan spiritual binatang roh ini juga sangat dahsyat karena mendapat dukungan dari Iblis Benua Merah.


"Siapa yang berani datang ke wilayah Jaliura? Sungguh dia mencari mati."


Binatang roh penunggu Pegunungan Merah memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Jaliura.


Suara dengusannya tidak terlalu keras tetapi udara yang dihembuskannya dari lubang hidungnya mampu menerbangkan benda-benda yang ada di sekelilingnya. Dua kaki depannya menghentak ke tanah dan seketika tubuhnya melesat ke udara. Jaliura bergerak cepat meninggalkan lembah menuju ke tempat di mana hawa kehidupan berada.


Semula dia berpikir jika manusia yang datang akan muncul dari kaki gunung tetapi apa yang dipikirkannya itu ternyata salah. Tidak ada manusia yang datang dari arah pedesaan. Kecerdasan Jaliura tidak sebanding dengan kekuatannya sehingga dia tidak bisa menebak keberadaan hawa kehidupan yang terendus olehnya.


Untuk menemukan Fang Yin dan Jian Heng dia perlu berputar-putar ke sana kemari menyusuri setiap jengkal Pegunungan Merah. Saat tengah hari dia baru mencapai separuh wilayah. Entah berapa lama lagi dia akan menemukan keberadaan pemilik hawa kehidupan yang dicarinya.


"Sial! Bersembunyi di mana manusia yang kukejar? Aku pasti akan segera menemukannya dan aku jadikan makan siang. Bagaimana aku bisa menjadi lengah hingga tidak menemukan jejak energi sedikitpun."


Jaliura merasa frustasi saat dia tidak juga segera menemukan buruannya. Ekornya bergerak ke kanan dan ke kiri sehingga menimbulkan api yang membakar apapun yang disentuhnya. Aroma wangi menyeruak ke udara karena rata-rata pohon di Pegunungan Merah memiliki aroma yang khas.


Dalam waktu yang singkat, aroma tumbuhan yang terbakar menyebar ke seluruh penjuru arah. Aroma ini juga menghampiri Fang Yin dan Jian Heng yang masih tertidur pulas. Keduanya menggeliat dan terbangun karena ternyata hari juga sudah hampir sore.


"Bau apa ini? Ini seperti aroma buhur. Wangi sekali. Apakah kamu menciumnya juga?" tanya Jian Heng ketika keduanya sudah benar-benar terbangun.


"Aku juga menciumnya dengan jelas. Mana mungkin ada orang yang membakar buhur di tempat yang sepi seperti ini. Kak Heng ada-ada saja." Fang Yin merasa aneh dan seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jian Heng terapi tiba-tiba dia terdiam dan menatap suaminya itu dengan wajah yang tegang.


Hawa kehadiran Jaliura mulai dirasakannya. Perlahan tapi pasti binatang roh itu berjalan mendekatinya. Meskipun belum terlihat tanda-tanda kehadirannya tetapi Fang Yin bisa merasakan kekuatan yang begitu besar dari tubuhnya.


Sikap Jian Heng tidak jauh beda dengan sikapnya. Mendadak dia pun bersikap waspada dan membalas tatapan Fang Yin dengan anggukan. Meskipun sudah jelas-jelas ada kekuatan besar yang mendekat, keduanya tidak lantas membuat pergerakan yang menunjukkan keberadaannya. Sebelum pemilik kekuatan itu menemukan keduanya, mereka sudah harus mengetahui siapakah makhluk itu.


Jian Heng memegang tangan Fang Yin dengan erat lalu membawanya menyelinap ke sebuah pohon yang paling besar. Dia lalu membawanya melompat ke atas dahan yang paling bawah lalu melompat lagi ke dahan yang lebih tinggi. Dari tempatnya saat ini mereka bisa melihat keadaan di sekitarnya tetapi obyek sulit untuk menemukan keberadaan mereka karena terhalang oleh rimbunnya dedaunan.


"Energi itu semakin dekat. Sangat besar tapi pemiliknya bukan manusia," gumam Fang Yin lirih tetapi masih terdengar oleh Jian Heng.


Jian Heng mengangguk.


Perasaan aneh mulai menyelimuti tubuh Fang Yin. Dia tidak merasa sedang menggunakan kekuatannya tetapi dengan sendirinya auranya sebagai Dewi Naga keluar. Cahaya kekuningan mulai menyelimuti tubuhnya dengan wujud yang berbeda dari sebelumnya.


Hal ini tentu juga mengejutkan Jian Heng mengingat saat ini mereka tengah bersembunyi untuk mengintai. Jika terus berlangsung maka kekuatan yang mendekati mereka akan segera tahu tentang keberadaan keduanya.


"Yang Hui! Apakah kamu yang melakukannya? Saat ini aku belum memerlukan perubahan ini," ucap Fang Yin dengan suara sedikit kesal.


"Bukan, Yang Mulia. Saya tidak berani memulai sesuatu sebelum mendapatkan perintah dari Anda."


Jawaban Yang Hui membuat Fang Yin terhenyak. Jika bukan dia yang melakukannya lalu bagaimana kekuatan Dewi Naga bisa keluar dengan sendirinya. Hatinya terus bertanya-tanya dengan jawaban yang tidak dapat dia temukan.

__ADS_1


"Yin'er, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jian Heng yang ikut merasa penasaran dengan perubahan dirinya.


Fang Yin hanya mampu menggeleng karena dia sendiri tidak mengerti.


Di tengah kebingungan mereka terdengar suara lenguhan panjang dari tempat yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Suara nyaring itu membuat bulu roma mereka merinding. Kabut asap berjalan merah darah perlahan merayap dan menyebar ke segala arah.


Suasana membingungkan ini terus berkembang hingga alam sekitar mereka menjadi sangat gelap.


"Kabut apa ini? Kita seperti terendam dalam kolam darah." Jian Heng mengeluarkan armor pelindung untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang mungkin saja menimpanya.


"Tidak ada gunanya lagi kita bersembunyi di sini. Makhluk itu bisa merasakan dengan jelas aura energi kita keluarkan." Fang Yin mulai bersiap lalu melompat ke tempat terbuka untuk menunggu makhluk asing yang belum tiba di sana.


Hanya kehadiran makhluk misterius semakin terasa dan terus mengikis jarak di antara mereka. Meskipun begitu kemunculannya masih sangat mengejutkan bagi Fang Yin dan Jian Heng. Wujudnya yang menyeramkan membuat mereka merasa ngeri terlebih lagi dibarengi dengan kekuatan yang sangat besar.


"Hati-hati, Yin'er! Sepertinya makhluk ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia terlihat seperti binatang roh ribuan tahun yang tidak memiliki belas kasihan."


Jian Heng mulai memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menyerang.


Fang Yin mengangguk dan mulai ikut bersiap.


Keduanya belum berani mengambil tindakan apa-apa sebelum mengetahui karakteristik lawan di depannya. Ini kali pertama mereka menemukan binatang roh yang memiliki aura energi yang begitu kuat sebelum dia melakukan serangan. Energinya muncul begitu saja dan menyelimuti tubuhnya yang besar.


"Aku pikir kalian adalah sekumpulan sampah. Ternyata kalian adalah orang yang telah lama aku tunggu. Hampir separuh hidupku aku habiskan di sini untuk menunggu kedatangan kalian." Jaliura terlihat sumringah saat mengetahui jika hawa manusia yang dirasakannya ternyata milik Dewi Naga.


Di sekeliling Jaliura telah diberi mantra oleh Iblis Benua Merah yang akan bekerja jika dia berhadapan dengan Dewi Naga. Mantra ini dia dapatkan dari kitab ramalan kuno yang memperkirakan kelahiran keturunan Dewi Naga. Setelah mendengar kemunculannya, Iblis Benua Merah segera menanamkan segel ini di sekitar tubuh Jaliura.


Fang Yin dan Jian Heng saling berpandangan. Mereka merasa bingung dengan binatang roh yang terlihat sok akrab kepada mereka. Seingat mereka, ketiganya belum pernah bertemu dengan binatang roh yang kini berdiri di hadapan mereka.


"Menunggu kami? Kita tidak pernah saling mengenal dan percayalah jika tipuanmu tidak akan berhasil." Jian Heng tidak terkecoh dengan kata manis Jaliura.


"Hahaha! Anak pintar, jangan mempersulit hidupku! Takdir sudah menuliskan cerita tentang kedatangan kalian. Suka ataupun tidak, kalian berdua tetap harus berurusan denganku. Sebaiknya kalian tidak banyak bertingkah dan kita bekerja sama dengan baik." Jaliura maju ke hadapan Jian Heng hingga keduanya berada di dalam jarak yang cukup dekat.


"Bekerja sama? Kami tidak membutuhkan kerja sama. Tempat ini bukan milikmu dan siapa pun bisa singgah di sini. Setiap takdir yang tertulis tidak harus kami patuhi karena semua belum tentu benar. Bisa jadi itu hanya angan kosongmu saja. Kami tidak ingin terlibat dalam hal mustahil yang sengaja kamu ciptakan." Jian Heng mencoba memancing perkataan Jaliura lebih jauh lagi untuk mendapatkan informasi.


Untuk sementara, Fang Yin tidak ingin terlibat dengan pembicaraan mereka sebelum terungkap secara jelas apa yang dimaksud oleh Jaliura. Sebagai pengamat dia akan lebih jeli dalam menarik sebuah kesimpulan ketimbang ikut mengambil panggung.


Jaliura tidak terlihat marah melainkan malah menunjukkan kesombongannya. Iblis Benua Merah sengaja tidak menceritakan kekuatan Dewi Naga kepadanya agar dia mau menjalankan tugas ini dan menjadi bonekanya. Tidak heran jika dia berpikir bisa menghadapi Jian Heng dan Fang Yin dengan mudah dan bersikap sangat sombong pada mereka.


'Kurang ajar! Jadi, binatang bodoh ini sudah tahu jika aku akan datang ke sini. Tapi kurasa sangat tidak masuk akal jika dia mengetahuinya dari kitab kuno saja.' Fang Yin merasa geram.


Emosi Fang Yin langsung tersulut saat sadar jika calon anaknya ternyata telah menjadi incaran iblis sebelum dia benar-benar hadir di dunia. Kalimat yang dilontarkan oleh Jaliura membuatnya merasa sakit hati dan ingin menghabisinya saat ini juga. Sifat iblis dalam dirinya membuatnya menjadi kejam dan memaksanya mengeluarkan aura yang sangat menakutkan.


Slash! Sebuah energi melesat secara horizontal ketika Fang Yin menghentakkan kedua tangannya dengan gerakan yang sangat ringan.


Tubuh Jaliura terhuyung saat energi itu menghantamnya. Efek tekanan yang ditimbulkannya juga sangat kuat sehingga membuatnya harus mengatur keseimbangan tubuhnya agar bisa tetap berdiri. Dia tidak menyangka jika Dewi Naga yang berdiri di hadapannya tidak bisa dipandang remeh.


"Sial! Kamu berani untuk melawanku, Ha?!" Jaliura tidak tinggal diam.


Dia bukan orang yang penuh perhitungan sehingga akan menyerang siapapun tanpa perhitungan. Kakinya menghentak dan muncullah bola api yang menyala di sekeliling tubuhnya. Satu persatu bola itu dilempar dengan kendalinya.


Hawa panas menyelimuti sekitar dan kabut merah darah semakin tebal. Serangan demi serangan berhasil dihindari oleh Fang Yin dan menimbulkan ledakan yang dahsyat di tempat yang terkena olehnya. Kegagalan serangan yang dilakukan membuat Jaliura semakin emosi. Dia menambah intensitasnya dan menyerang Fang Yin secara membabi buta.


"Hebat juga kamu. Aku jadi ingin tahu seberapa kuat kamu akan bertahan di tengah hawa dingin. Kuharap bulu tebalmu itu bisa berfungsi dengan baik." Fang Yin bersiap untuk membalas serangan Jaliura.


Pusaran angin dingin muncul di atas kepalanya dan terus berkembang membesar. Semakin lama jangkauannya menjadi semakin luas dan menutupi seluruh puncak Pegunungan Merah. Salju yang turun seharusnya berwarna putih susu tetapi dengan adanya kabut merah darah dari Jaliura membuatnya berwarna merah darah. Namun, seiring dengan itu, kabut merah darah kian terkikis dan lambat laun menghilang secara perlahan.


Jaliura yang tidak menyukai hawa dingin terlihat menggigil. Dia tidak tahu sampai kapan bisa bertahan untuk melawan kekuatan ini. Setiap kali dia mencoba untuk mengeluarkan api maka bola api yang terbentuk langsung membeku.


"Kekuatan apa yang kamu keluarkan ini? Bagaimana bisa salju turun di musim kering. Atau jangan-jangan kamu memainkan sebuah ilusi mata untuk menipuku dan membuatku menyerah." Jaliura merasa sangat gusar.


Dengan napas yang terlihat memburu, Jaliura berpikir untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya dan mengalahkan Fang Yin sesegera mungkin. Hawa dingin yang terus meluas akan membuatnya tidak bisa bertahan lama. Sebagai makhluk yang berasal dari dunia bawah dia lebih menyukai situasi yang cenderung panas.


'Lubang magma yang biasa aku gunakan untuk menambah energi berada jauh di kaki gunung. Sebelum kekuatanku habis aku harus mengalahkan dua kutu busuk ini. Aku tidak akan memiliki muka di hadapan Iblis Benua Merah jika aku gagal dalam misi ini.' Jaliura tidak ingin penantiannya yang cukup lama menjadi sia-sia.


Dalam perjanjiannya Jaliura akan mendapatkan bagian wilayah di alam bawah dan menjadi raja kecil di sana. Dia akan memerintah di bawah naungan Iblis Benua Merah. Iming-iming inilah yang membuatnya tergiur dan bertahan hingga ribuan tahun menunggu kehadiran Dewi Naga di Pegunungan Merah.


Tubuh Jaliura berputar dan keluarlah aura yang lebih besar dari dalam tubuhnya. Salju yang berada di sekitarnya meleleh dan mengalirkan air berwarna merah. Kabut merah darah muncul menyelimutinya dan terus tumbuh meskipun hujan salju masih terus turun.


"Bagus jika kamu masih bisa bangkit. Aku tidak akan merasa berdosa jika membuatmu tidak bisa melihat matahari lagi setelah hari ini." Fang Yin mengeluarkan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.


Badai disertai aliran listrik muncul bersama derasnya salju. Jian Heng pun ikut menambahkan energinya ke dalam serangan yanng dilakukan oleh Fang Yin. Menghadapi seorang Fang Yin saja sudah membuat Jaliura kewalahan kini harus ditambah dengan kekuatan Jian Heng.


Dasyatnya badai petir dan salju tidak membuat Jaliura bergeming. Bayangan kemenangan dan tahta yang hampir dia dapatkan membuatnya bersemangat. Segala rasa takut ditepiskannya demi waktu yang telah dihabiskannya begitu lama.

__ADS_1


Jaliura melesat cepat menembus badai salju dan petir. Dengan kekuatan penuh dia bersiap untuk menghantam Fang Yin dan Jian Heng dengan energinya.


Fang Yin dan Jian Heng berpencar untuk menghindari serangan Jaliura. Kini Jaliura hanya bisa mengejar salah satu di antara mereka. Keadaan ini bisa menguntungkan bagi mereka karena bisa mengecoh lawan dan membuatnya bingung untuk menentukan serangan.


Kekuatan Jaliura nyatanya berada jauh di luar perkiraan Fang Yin dan Jian Heng. Kecepatannya meningkat tajam hingga berkali-kali lipat dari sebelumnya. Dalam sekali hentakan dua kaki bagian belakangnya, dia bisa mencapai keduanya secara bergantian.


Untuk kali ini Fang Yin tidak menghindar dan bersiap menerima serangan Jaliura. Pertemuan dari energi keduanya menimbulkan sebuah ledakan yang sangat dasyat. Suara dentuman keras itu membuat keadaan di sekitar mereka bergetar.


Dari jarak yang sangat jauh pun bisa terlihat semburan kabut merah darah dan salju yang membumbung ke langit. Hal ini terus berulang sebanyak serangan yang mereka lepaskan. Sepintas orang pasti akan mengira jika ini merupakan sebuah bencana alam.


"Kita sudah cukup untuk bermain-main. Aku tidak ingin membuang tenagaku lagi. Bersiaplah untuk mati kerbau jelek!" seru Fang Yin.


Ejekan Fang Yin membuat Jaliura semakin marah. Dia tidak terima disebut sebagai kerbau meskipun penampilannya sedikit mirip dengannya. Keluar sebuah nyala api dalam dengusannya yang frontal.


"Berani sekali kamu memanggilku kerbau! Jaliura adalah banteng penguasa alam bawah. Tidak sepantasnya kamu mengatakan ini dan kamulah yang seharusnya mati di tanganku. Hiyah!" Jaliura kembali mengumpulkan energi yang besar dalam serangannya.


Sorot mata Fang Yin berubah menjadi kejam. Tangan kanannya terbuka dan mendorong ke depan ke arah Jaliura. Gerakan sederhana yang dilakukannya adalah Jurus Napas Naga yang dipadukan dengan teknik penghancur roh.


Tubuh Jaliura akan terblokir secara permanen setelah energi yang dikeluarkannya terserap habis olehnya.


Sikap santai dari Fang Yin membuat Jaliura merasa yakin jika kali ini energi pamungkasnya akan membunuh lawannya dalam sekali serangan.


"Bersiaplah menerima kematianmu, Wanita Sombong!" Jaliura tersenyum penuh kemenangan saat melihat Jian Heng juga berdiri di belakangnya.


Dengan sekali serangan dia bisa melunpuhkan dua orang sekaligus, pikirnya. Sayangnya hal ini hanyalah angan semata yang jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Tidak ada benturan energi ataupun ledakan yang terjadi.


Awalnya Jaliura merasa bingung dengan apa yang dialaminya saat ini tetapi lambat laun dia tersadar jika energinya lenyap begitu saja saat menyentuh telapak tangan Fang Yin. Tidak tampak pusaran hisap padanya. Energinya hilang begitu saja dan membuatnya kebingungan hingga tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi.


"Apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan?" Suara Jaliura terdengar parau.


Mulutnya masih terlihat bergerak-gerak tetapi ada suara yang terdengar karena otot-otot di sekujur tubuhnya melemah dengan cepat. Dalam waktu yang singkat hal yang selanjutnya terjadi sangat mengerikan. Seluruh daging dan penyusun tubuh Jaliura menyusut dan mengering hingga kristal roh berwarna merah menyala keluar dan mengambang di udara.


"Ini pasti menjadi barang yang sangat berharga di masa depan." Fang Yin mengulurkan tangannya untuk meraih kristal roh Jaliura.


Hampir saja dia mendapatkannya tetapi seseorang tiba-tiba datang dan merebutnya. Di depan kedua matanya dia menelan kristal roh itu dan menyerap seluruh esensi energi yang terkandung di dalamnya. Perilaku ini hanya cukup mencengangkan tetapi tidak membuat Fang Yin terlalu heran.


"Apakah kita saling mengenal sebelumnya? Aku tidak merasakan hawa kehadiranmu tetapi kamu tiba-tiba muncul dan mengacaukan segalanya." Fang Yin terlihat santai tetapi tidak menurunkan kewaspadaannya.


Wanita berpakaian serba merah itu tersenyum. Bukan, lebih tepatnya dia menyeringai. Gigi-giginya terlihat sangat runcing dengan lidah yang sedikit lebih panjang dari lidah manusia pada umumnya. Selain itu, aura kehidupan sangat tipis dan sulit untuk dideteksi.


"Namaku Shiang Shiang, pemilik binatang roh yang baru saja kamu habisi."


Fang Yin terhenyak. Rasanya begitu sulit untuk menelan air liur yang susah payah dikumpulkannya. Tenggorokannya yang terasa kering memaksanya berusaha lebih keras untuk melakukannya.


Berbeda dengan Fang Yin, Jian Heng terlihat lebih siap. Dia tidak gentar meskipun wanita di hadapannya tidaklah mudah. Dalam sebuah pertarungan akan jauh dari kemenangan jika melibatkan emosi dan perasaan.


'Aku berharap kamu akan bisa mengendalikan dirimu meskipun kamu tahu jika wanita ini berniat untuk mencuri anak kita, Yin'er.' Jian Heng bermonolog dalam hati dan berharap Fang Yin tetap menjaga akal sehatnya apa pun yang akan terjadi ke depannya.


"Aku dengar kamu bukan berasal dari dunia ini dan memiliki tujuan yang tidak baik pada kami. Jangan pernah berharap rencanamu akan berhasil karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Fang Yin menatap tajam penuh amarah dan dendam ke arah Shiang Shiang.


Shiang Shiang terkejut mendengar ucapan Fang Yin tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Dia segera bisa menguasai dirinya dan mampu mengatasi keadaan. Sepertinya dia tahu betul bagaimana cara untuk menghadapi Dewi Naga dan memancingnya untuk masuk ke dalam perangkapnya.


"Jadi, kamu percaya pada ucapan binatang bodoh itu? Seharusnya kamu tidak perlu mendengarkannya. Mendekatlah! Aku akan mengatakan apa yang sebenarnya padamu." Shiang Shiang berbicara dengan lembut tetapi sangat membahayakan.


Fang Yin tampak diam berpikir.


'Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh iblis ini. Kurasa tidak akan membahayakan jika aku melangkah mendekatinya.' Fang Yin bersiap untuk mengikuti keinginan Shiang Shiang.


Baru mengangkat sebelah kakinya, Jian Heng menangkap tangannya dan membuatnya menghentikan langkahnya.


"Jangan gegabah, Yin'er! Aku merasa jika dia ingin menjebakmu. Binatang roh memang terkenal kejam tetapi dia tidak pandai berbohong. Untuk mencapai tujuannya, iblis ini pasti memiliki banyak tipu muslihat." Jian Heng mengingatkan Fang Yin sebelum terlambat menyadari kesalahannya.


Raut wajah Shiang Shiang mendadak berubah. Dia tidak senang melihat Jian Heng yang begitu cerdas dan cepat tanggap dengan perubahan di sekitarnya. Sangat sulit untuk mencari celah ketika lawannya memiliki ketajaman pikiran yang tinggi sepertinya.


"Baiklah. Aku tidak akan sungkan lagi pada kalian karena kalian sudah tahu tentang tujuanku. Suka atau tidak memang sudah menjadi hukum alam jika iblis akan lebih berkuasa atas manusia. Patuhlah maka aku akan mengampuni hidup kalian!" Shiang Shiang terlihat jumawa.


"Hemh!" Fang Yin mendengus. "Akhirnya sifat aslimu keluar juga. Kamu pikir derajat manusia lebih rendah daripada derajatmu? Jawabannya adalah tidak. Selamanya kamu tidak akan pernah berkuasa atas kami dan memerintah dengan sesuka hati. Jalanmu tidak akan mulus kawan, terlebih lagi kamu telah menyinggung kami. Keturunan kami sangat berharga sehingga kami akan menjaganya dengan seluruh hidup kami."


Api hitam melonjak keluar dari tubuh Fang Yin dengan sendirinya seiring dengan kemarahannya. Apa yang ditakutkan oleh Jian Heng akhirnya terjadi juga di mana Fang Yin akan kesulitan untuk mengendalikan akal sehatnya. Saat amarah dan dendam menguasai dirinya maka akan sulit bagi Fang Yin untuk berpikir dengan jernih.


****


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2