Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 316. Perpisahan


__ADS_3

Jian Heng memapah Fang Yin ke sebuah tempat yang rindang. Mereka duduk di atas sebuah batu. Qing Yushang, Guan Xing dan Tetua Jung sibuk melayani penduduk bukit Giok Hitam yang mengajukan beberapa pertanyaan. Namun, itu tidak berlangsung lama saat keduanya meminta diri untuk beristirahat.


Kelima pilar pembuka formasi telah kehilangan banyak tenaga. Mereka butuh untuk memulihkan sebelum pulang ke desa.


Fang Yin mengeluarkan Giok Hitam dari dalam cincin penyimpanannya. Dia ingin membagi energi di dalamnya pada Jian Heng dan yang lainnya. Kekuatan tak terbatas yang dimiliki oleh giok itu, tidak akan berkurang meskipun seluruh penduduk bukit Giok Hitam menyerapnya hari itu.


Mereka berlima mengambil posisi duduk sempurna untuk berkultivasi. Para penduduk desa yang menginginkan kekuatan pun mengikutinya untuk berkultivasi.


Sebagian besar penduduk desa kembali ke villanya dan hanya segelintir orang saja yang tersisa di sana. Acong mendekati Jian Heng dan mengikuti apa yang dilakukan oleh ayah angkatnya itu. Mereka terlihat sangat fokus setelah suasana hening.


Tubuh mereka diselimuti oleh aura energi yang besar. Gelombang misterius menekan ke segala arah hingga membuat tubuh mereka tampak bercahaya. Wajah mereka terlihat sangat tenang dan larut dalam alam bawah sadar mereka masing-masing.


Keadaan itu tidak berlangsung lama. Saat energi itu terus bertambah, mereka mulai merasakan ketidaknyamanan di dalam tubuhnya. Penerobosan yang terjadi memaksa mereka untuk memurnikan energi itu dan menyimpannya ke dalam dantian.


Aura berwarna merah menyelimuti tubuh Acong. Tubuhnya mengalami perubahan. Di usianya yang belum genap tiga tahun, dia telah mencapai ranah bumi bintang atas. Tidak menutup kemungkinan kemampuan lainnya bisa melebihi tingkatan yang dimilikinya saat ini.


Sebagian orang sudah menyelesaikan kultivasinya. Mereka telah mencapai batas maksimum energi yang bisa mereka serap. Kapasitas dantian setiap orang berbeda sehingga mereka tidak berbarengan untuk menyelesaikannya.


Ada sekitar dua puluh orang yang tinggal di sana. dan hanya tinggal Fang Yin dan keempat orang yang sebelumnya membuat formasi saja yang belum menyelesaikan kultivasinya.


Setelah menunggu beberapa lama, Tetua Jung selesai lebih awal, lalu Qin Yushang menyusul. Sesaat kemudian Guan Xing dan Jian Heng juga telah selesai dan yang terakhir adalah Fang Yin.


"Apakah aku membuat kalian menunggu?" tanya Fang Yin setelah tersadar dan menatap orang-orang yang berada di sekelilingnya.


"Tidak juga. Kami baru saja menyelesaikannya," jawab Jian Heng mewakili yang lainnya.


Setelah memastikan tidak ada lagi yang berkultivasi, Fang Yin menyimpan kembali Giok Hitam miliknya. Wajahnya tidak lagi pucat dan tubuhnya juga terlihat lebih segar.


Tanpa terasa mereka melewatkan waktu cukup lama. Matahari telah condong ke barat dan sebentar lagi akan pulang ke peraduannya. Rombongan kecil itu berjalan menuruni bukit untuk kembali ke desa.


Suasana yang meriah menyambut kedatangan mereka. Jalanan menuju ke villa Qin Yushang dihias dengan lampion indah dan ornamen warna warni. Suasana redup di senja itu kini menjadi terang benderang.


"Tempat ini begitu indah. Sebenarnya sejak kedatanganku pun sudah indah, hanya saja keindahan itu sedang tertutup oleh kegelapan," ujar Fang Yin sambil menatap ke sekeliling dengan tatapan penuh kekaguman.


Semua orang yang berada di sekelilingnya mengangguk setuju dengan ucapannya.


Acong menggamit lengan Jian Heng dan menariknya ke sana kemari untuk menunjukkan sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia terlihat begitu gembira. Baru setelah menemukan teman sebaya dengan postur tubuhnya yang sekarang, Acong baru melepaskan Jian Heng.


Nyonya Qin datang bersama Qin Yu Zhu dan para gadis. Mereka menaburkan bunga sebagai penyambutan. Hari ini benar-benar menjadi hari yang istimewa untuk mereka semua.


"Nona Yin, hari ini adalah hari yang bersejarah bagi kami. Kami akan memperingatinya setiap tahunya dengan mengadakan festival dan perayaan." Qin Yushang menyampaikan keinginannya pada Fang Yin.


"Kelihatannya itu ide yang bagus. Dengan perayaan semacam ini, tidak menutup kemungkinan para pendatang akan tertarik untuk datang dan menyumbangkan pendapatan bagi penduduk desa ini." Fang Yin mendukung usulan Qin Yushang.


Pemimpin masyarakat bukit Giok Hitam itu terlihat senang. Mulai besok mereka akan berbenah untuk menghadapi kehidupan baru mereka.


"Akan lebih menarik lagi jika ditambahkan nilai seni dan menyajikan makanan khas penduduk desa ini," imbuh Jian Heng.


Mereka berlima terus berdiskusi hingga mereka tiba di kediaman Qin Yushang. Obrolan seru mereka membuat perjalanan begitu singkat meskipun mereka hanya melangkah dengan sangat pelan.


Penduduk desa bersendau-gurau dan menikmati kebersamaan mereka. Mereka memasak bersama dan menyajikannya di halaman villa Qin Yushang. Di sana mereka bertukar masakan dan mengambil makanan yang mereka sukai.


Para gadis menunggu meja-meja dan membantu para penduduk yang ingin mengambil makanannya. Makanan untuk Qin Yushang dan rombongannya disediakan pada sebuah meja yang terpisah. Masyarakat mengistimewakan mereka berlima dan menyajikannya secara khusus.

__ADS_1


Qin Yu Zhu dan Xin Nian berdiri paling depan untuk menyambut rombongan Qin Yushang. Sikap ramah mereka membuat Fang Yin merasa jengah. Lagi-lagi hanya Jian Heng yang mereka perhatikan.


Fang Yin mengambil makanannya sendiri lalu pergi menjauh. Dia berjalan mendekati sekumpulan wanita yang juga sedang makan di halaman. Tanpa ragu-ragu Fang Yin duduk dan bergabung bersama mereka.


"Kami merasa sangat terhormat Nona Yin bersedia berkumpul bersama kami," ucap salah satu di antara mereka dengan wajah yang gembira.


Fang Yin tersenyum. Hatinya yang sedikit kesal membuatnya tidak bisa beramah tamah. Dalam hal ini, dia bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaannya dan menunjukkan hal yang berbeda.


Para wanita itu merasa senang meskipun Fang Yin tidak banyak berbasa-basi. Senyumnya saja sudah menjadi hal yang paling mengagumkan bagi mereka. Di kejauhan, Jian Heng menatapnya dengan perasaan yang gamang.


'Apakah Yin'er sedang marah padaku? Memangnya apa kesalahan yang aku perbuat?' Jian Heng bertanya-tanya dalam hati sambil terus menatap Fang Yin.


Acong yang baru saja tiba, diam-diam mengamati kedua orang tua angkatnya. Perasaannya mengatakan jika ada sesuatu yang tidak benar yang terjadi di antara mereka berdua. Tidak biasanya mereka duduk berjauhan dan saling acuh satu sama lain.


Kening Acong berkerut. Dia tampak berpikir bagaimana cara untuk menyatukan keduanya. Tanpa pikir panjang, dia segera datang dan menghampiri Jian Heng yang sedang makan.


"Ayah Angkat! Di mana kakak cantik?" tanya Acong pura-pura tidak tahu.


Di belakang Jian Heng berdiri beberapa orang gadis. Muncul kecurigaan di hati Acong bahwa mereka lah yang menyebabkan Fang Yin enggan berada di sana.


"Yin'er sedang berada di sana, lihatlah!" Jian Heng menunjuk ke arah di mana fang Yin berada.


"Sayang sekali padahal aku sangat ingin disuapi olehnya malam ini," ucap Acong pura-pura bersedih.


"Pegang ini, aku akan memanggilnya." Jian Heng meminta Acong untuk membawakan makanannya lalu bergegas pergi menghampiri Fang Yin.


Selain demi anak angkatnya, Jian Heng juga merasa memiliki alasan untuk mendekati Fang Yin.


Setelah kepergian Jian Heng, Acong segera beraksi. Sebelum Jian Heng kembali dia harus sudah berhasil untuk mengusir gadis-gadis itu. Waktunya tidak banyak karena Fang Yin hanya berada dalam jarak kurang dari seratus langkah dari tempatnya.


Para gadis itu masih betah berdiri di belakangnya. Acong memejamkan matanya sejenak untuk berkonsentrasi. Dia mengumpulkan aura iblis dari dalam tubuhnya dan membuatnya keluar untuk menakut-nakuti para gadis itu.


Di kejauhan terlihat Jian Heng sudah selesai berbicara pada Fang Yin dan bersiap untuk datang padanya. Acong segera bergerak. Dia memutar tubuhnya menghadap ke arah para gadis dan menatap tajam ke arah mereka.


Matanya yang berwarna merah menyala dengan aura api dalam tatapannya membuat para gadis itu bergidik. Walaupun Acong tidak mungkin berbuat jahat kepada mereka, tetapi mereka merasa takut dengan aura menakutkan itu.


Para gadis itu perlahan mundur lalu menjauh dari sana. Mereka pergi ke tempat yang aman dan mengabaikan tatapan heran Qin Yushang dan yang lainnya. Ketika para pria menatap Acong, dia sudah menarik aura menakutkan itu dari matanya dan bersikap biasa.


"Heh! Anak manja, ada apa kamu mencariku? Memangnya tanganmu kenapa sampai makan saja minta aku yang suapin?" omel Fang Yin.


"Kakak cantik, kamu galak sekali. Apakah tadi kakak habis makan buaya?" Acong berbicara dengan polosnya.


Fang Yin tertawa meskipun candaan Acong tidak lucu. Tidak ingin berdebat lagi, dia pun segera mengambilkan makanan untuk Acong. Dengan hal kecil ini dia berharap bisa menyenangkan hati Acong.


Mereka bertiga terlihat sangat bahagia. Jian Heng dan Fang Yin bergantian menyuapi Acong dan untuk mereka sendiri. Malam ini akan menjadi malam terakhir untuk kebersamaan mereka. Setelah ini, apa yang mereka lewatkan malam ini hanya akan menjadi kenangan.


Fang Yin, Jian Heng dan Guan Xing melewatkan kebersamaan bersama para penduduk bukit Giok Hitam hingga melewati tengah malam.


Banyak sekali penduduk desa yang sedang mabuk tergeletak tidur di halaman villa Qin Yushang. Untuk menghormati mereka, Fang Yin dan Jian Heng juga meminum sedikit arak. Namun, keduanya tidak mabuk karena mampu menetralisir efek dari zat-zat yang terkandung didalamnya.


Jian Heng menggendong Acong yang tertidur di pangkuannya. Sementara Fang Yin mengikutinya di belakang.


Acong sebenarnya dalam keadaan setengah sadar. Tubuhnya bisa merasakan ketika Jian Heng mengangkatnya. Bahkan dia memicingkan matanya untuk mengintip ketika Jian Heng baru mulai mengangkatnya.

__ADS_1


Ketiganya sampai di depan kamar. Jian Heng menghentikan langkahnya dan memandangi wajah Fang Yin. Senyumnya merekah di tengah suasana malam yang temaram.


"Yin'er, aku berharap kamu mabuk dan menciumku seperti waktu itu," bisik Jian Heng.


Fang Yin memelototkan matanya dan melayangkan tinjunya ke arah bahu Jian Heng. Namun, dia tidak mengenakannya melainkan hanya menyentuh udara kosong.


"Sepertinya kamu yang sedang mabuk sekarang," balas Fang Yin.


"Tentu saja. Aku sedang dimabuk cinta." Jian Heng tersenyum geli melihat wajah Fang Yin yang merajuk.


Dengan cepat Jian Heng membawa Acong masuk ke kamarnya sebelum Fang Yin benar-benar mengamuk.


Aura alam di tempat itu terasa berbeda setelah tidak ada pembatas antara wilayah bukit Giok Hitam dan dunia luar. Esensi energi yang melingkupinya menjadi lebih kompleks dan mengandung banyak unsur yang baru.


Mengenai udara dan situasi alam belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Keadaannya akan mengalami perubahan setelah para penduduknya membaur dan banyak pendatang yang memicu perubahan itu.


Untuk beberapa saat Fang Yin tertegun di dalam kamarnya. Kedua tangannya dijadikan alas untuk bantal tidurnya. Pandangan matanya menatap ke arah langit-langit kamar sambil memikirkan apa yang akan dilakukannya esok.


'Aku tidak tahu akan memulai perjalananku dari mana. Mungkin aku bisa membicarakannya bersama ibu dan keluargaku. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan setelah ini adalah membawa suku gletser yang tinggal di Daratan Utara untuk kembali ke Gunung Perak.'


Setelah merasa tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, Fang Yin pun terlelap. Malam yang tinggal sepenggal saja, berlalu dengan begitu cepat. Waktu perpisahan dengan penduduk bukit Giok Hitam pun semakin dekat.


Setelah menyampaikan ucapan perpisahan, Fang Yin, Jian Heng dan Guan Xing pun bersiap untuk pergi meninggalkan desa. Qin Yushang dan pasukan khusus mengantar mereka hingga ke perbatasan wilayah.


Dimensi keputusasaan telah menghilang menyisakan penjara-penjara dan tulang belulang manusia yang mati akibat melanggar peraturan mereka. Mereka adalah orang-orang yang terhisap ke dalam dimensi itu dan menolak untuk bergabung menjadi ras manusia hijau.


Sebagian jasad mereka menghilang bagi yang diambil sebagai tumbal oleh Qin Gongni. Selain itu, mereka mati dalam keputusasaan di dalam dimensi ini.


Sebelumnya dimensi itu adalah ruang gelap tak bertepi yang membuat makhluk di dalamnya kehilangan harapan untuk hidup lagi. Kini semua menjadi terang dan menampakkan segala yang ada di sana.


Qin Yushang dan seluruh pasukannya merasa ngeri melihat semuanya. Saat ini mereka telah memiliki perasaan sebagai manusia. Pengaruh buruk dari racun sihir di masa lalu, membuat mereka memiliki sifat iblis yang tidak berbelas kasihan.


"Apa yang sudah kami lakukan di masa lalu? Hanya karena mereka memakai pakaian berwarna hijau saja, kami menyiksa mereka hingga seperti ini. Entah sudah berapa orang yang mati konyol karena peraturan aneh itu." Qin Yushang berjongkok dan mengamati tulang-tulang yang terikat pada pancang-pancang besi.


Fang Yin berjalan mendekati Qin Yushang. Penyesalan pria itu akan membuatnya menjadi lemah. Di dalam dunia kultivasi yang kejam dia harus memiliki sifat yang keras untuk bertahan.


"Kamu tidak harus menjadi lemah karena pernah membunuh seseorang tanpa ampun. Segala yang kita buat sudah menjadi jalan terbaik pada masanya. Sekarang kamu hanya butuh memilah dan memilih sejumlah nyawa yang pantas kamu habisi dalam pikiran yang sadar." Fang Yin menepuk bahu Qin Yushang.


Semua orang yang berada di sana setuju dengan ucapan Fang Yin. Sesuatu yang lebih buruk dari ini pun banyak terjadi dan setiap akibat buruk juga memiliki sebab. Mereka kini akan mengutamakan kebaikan tanpa melupakan keadilan untuk sebuah keputusan.


Nyawa setiap manusia memiliki harga dan setiap perbuatan akan menentukan nasibnya.


Obrolan singkat mereka kembali membuka mata mereka untuk melihat jauh luasnya pengetahuan. Tidak salah jika kitab kuno menyebutkan jika Fang Yin adalah orang yang ditakdirkan untuk membawa perubahan.


"Yin'er. Ambil ini!" Jian Heng memberikan selembar kain berwarna hitam


Tanpa mengatakan banyak hal, Fang Yin sangat mengerti apa yang diinginkan oleh kekasihnya. Dia pun segera memasang kain itu untuk menutupi sebagian wajahnya.


Jian Heng tersenyum. Jika waktunya tiba, dia tidak akan pernah lagi meminta Fang Yin untuk menutupi wajahnya lagi.


Para penduduk bukit Giok Hitam merasa bersyukur karena mereka bisa melihat wajah Fang Yin selama dia tinggal di sana.


Tidak ada yang menyukai perpisahan, meskipun perpisahan bukan akhir dari segalanya. Segala bentuk kesedihan tidak akan merubah keadaan. Fang Yin, Jian Heng dan Guan Xing, berjalan meninggalkan perbatasan. Mereka melambaikan tangannya lalu menghilang di balik sebuah bukit. Bukit itu merupakan tempat di mana mereka berhenti sebelum terhisap ke dalam ruang dimensi.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2