
Lubang tempat di mana Fang Yin dan Ketua Sekte itu terperosok membawa mereka ke kedalaman bumi yang sangat gelap.
Mereka terus jatuh ke bawah hingga mereka merasakan hawa yang sangat panas dan melihat magma yang berkobar.
Beruntung keduanya tidak jatuh di kolam magma yang meletup-letup. Namun mereka masih saja berada dalam bahaya.
"Aarghh! Yin'er, ke kanan!" Ketua Sekte memberi ana-aba pada Fang Yin untuk melompat ke kanan untuk menghindari lubang yang bisa membuat mereka jatuh ke dalam magma.
"Aarrgh!" pekik Fang Yin saat kulitnya bergesekan dengan dinding batu yang membuatnya terkelupas.
Ketua Sekte pun mengalami hal yang sama membuat mereka merasakan rasa perih yang teramat sangat.
"Sepertinya kita harus melompat ke kiri. Kita tidak tahu ke mana lorong ini berhenti!" seru Fang Yin ketika mendapati tempat yang bisa mereka gunakan untuk mendarat.
"Kamu benar, mari kita melompat ke sana!" seru Ketua Sekte.
"Pada hitungan ke-tiga kita melompat. Satu ... dua ... ti ... ga ...!" Ketua Sekte memberi aba-aba dan mereka pun mendarat dengan keadaan penuh luka.
Mereka tidak bisa bersantai di tempat itu. Hawa panas dari magma yang ada di sisi bawah mereka membuat tenggorokan mereka terasa kering dan tubuh seperti terbakar.
"Kita harus mencari jalan keluar dari sini, Yin'er!" ucap Ketua Sekte dengan wajah yang meringis menahan luka-luka di tubuhnya.
"Mari kita susuri dinding ini, mungkin akan ada jalan keluar yang bisa kita dapatkan."
__ADS_1
Ketua Sekte setuju dengan usulan Fang Yin. Mereka berjalan miring melewati jalanan sempit yang menempel di dinding dengan berpegangan kuat-kuat sambil melihat ke dinding.
"Hati-hati, Yin'er!" pekik Ketua Sekte ketika melihat kaki Fang Yin hampir terpeleset karena menginjak batu yang licin.
"Huhh! Sungguh sangat mendebarkan." Fang Yin mencoba tetap tenang meskipun jantungnya berdegup sangat kencang ketika dia hampir terjatuh.
Setelah berjalan sekian lama mereka akhirnya berada di jalan yang sedikit lapang dan berada agak jauh dari kolam magma.
Mereka terus berjalan hingga suasana menjadi semakin gelap karena mulai jauh dari nyala magma yang semula menerangi langkah mereka.
Fang Yin yang berada di depan mengeluarkan api di tangannya untuk menerangi jalan di depannya.
"Sepertinya kita sudah mendekati jalan keluar. Udara yang ada di sini tidak sepanas sebelumnya, walaupun aku belum merasakan adanya udara yang berhembus." Ketua Sekte menganalisa keadaan.
Mereka terus berjalan hingga jalan yang mereka lalui semakin luas sehingga mereka tidak perlu lagi menempel di dinding.
"Kita memang sudah tidak merasa panas, tetapi sekarang terasa dingin dan lembab!" seru Fang Yin.
"Kamu benar, dinding ini terasa dingin dan sedikit lembab kemungkinan ada sumber air di balik dinding ini," ucap Ketua Sekte yang membuat Fang Yin menelan ludahnya.
"Aku sangat haus, Kakak!" Fang Yin merasa semakin haus saat mendengar kata 'air'.
"Semoga kita segera menemukan air! Ayo!" Ketua Sekte kembali mengajak Fang Yin untuk kembali melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Mereka menyusuri lorong yang sangat gelap. Semakin jauh mereka melangkah rasanya semakin lembab. Bahkan jalan yang mereka lalui pun terasa licin.
"Hati-hati, Yin'er!" jalanan ini sangat licin.
Baru saja Ketua Sekte mengingatkannya, Fang Yin sudah terlanjur kehilangan keseimbangan dan jatuh tergelincir.
Jalan yang mereka lalui berada di dalam bidang miring dan membuat tubuh Fang Yin kembali meluncur.
"Aaaaaa!" teriak Fang Yin.
"Yin'er! Yin'er!" pekik Ketua Sekte mencoba mengejar Fang Yin sambil menjaga keseimbangannya.
"Aku jatuh, Kakak! Hati-hati!" teriak Fang Yin yang terdengar menggema di ruangan gelap itu.
Byurrr!
Terdengar sesuatu tercebur ke dalam air.
"Yin'er! Yin'er!" teriak Ketua Sekte yang tidak lagi mendengar suara Fang Yin.
Dengan langkah yang cepat Ketua Sekte tidak mempedulikan lagi jalanan licin yang dia lalui bisa saja menjatuhkannya.
****
__ADS_1
Bersambung ....