Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 110. Teriakan Fang Yin


__ADS_3

Jian Heng tersentak ketika mendengar suara Fang Yin dan melihatnya mendekat dan duduk di sebelahnya.


Beberapa kali Jian Heng mengerjap-ngerjapkan matanya dan berpikir bayangan Fang Yin akan menghilang.


Dia merasa sedang berhalusinasi sekarang dan tidak ingin tertipu dengan bayangan semu yang seolah nyata.


"Tetua Yu! Apakah kepergianku dua hari ini sudah membuatmu lupa akan siapa diriku? Sepertinya tadi aku mendengar kamu memanggil namaku."


Ucapan Fang Yin membuat Jian Heng tersadar bahwa orang yang berada di hadapannya itu benar-benar Fang Yin.


Deg


Jantung Jian Heng berdetak sangat cepat saat ketahuan sedang memikirkan dirinya.


"Eh, si-siapa bilang aku menyebut nama kamu? Kamu salah dengar, mungkin," jawab Jian Heng sambil berpaling ke arah lain untuk menyembunyikan pipinya yang memerah.


Fang Yin pura-pura percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jian Heng. Dia merasa senang setidaknya Jian Heng sudah mau berbicara padanya.


"Hmm. Ya, sudah kalau begitu. Aku pergi saja." Fang Yin beranjak dari sana dan melompat turun.


Tubuhnya terasa sangat lelah setelah melakukan perjalanan tanpa istirahat sebelumnya.


"Kamu kembali begitu cepat, bukankah Hutan Bintang Selatan cukup jauh dari sini?" Jian Heng menyusul Fang Yin turun.

__ADS_1


"Aku tidak pergi ke sana, tetapi aku sudah mendapatkannya dari tempat yang berbeda." Fang Yin terus berjalan.


"Baguslah kalau begitu," ucap Jian Heng membukakan pintu untuk Fang Yin.


Fang Yin berdiri terpaku melihat isi di dalam villa Jian Heng. Selama dia pergi rupanya Jian Heng telah merubah tatanannya menjadi lebih rapi.


"Wah, ternyata bukan cuma villa yang rusak saja yang diperbaiki tetapi villa ini juga," puji Fang Yin melihat dekorasi yang terlihat sangat indah itu.


"Aku yang mengerjakannya sendiri. Beristirahatlah! Kamu pasti sangat lelah."


Jian Heng berjalan ke kamarnya sendiri untuk beristirahat karena malam sudah mendekati pertengahan.


Di kamar Fang Yin.


Luka-luka yang dialami oleh Fang Yin belum mengering.


"Aku tidak mungkin mengobatinya dengan mengoleskan salep ke seluruh luka ini. Mau habis berapa banyak kalau aku mengobatinya dengan salep."


Fang Yin berpikir untuk berkultivasi untuk menyerap energi dan mengalokasikan energi itu untuk menyembuhkan luka-lukanya.


"Semoga pil ini manjur." Fang Yin mengambil sebutir pil pemberian kakek Zhu sebelum berkultivasi.


Setelah menelan pil itu Fang Yin menyempurnakan posisi duduknya dan mulai berkonsentrasi.

__ADS_1


Pakaiannya yang terbuka di bagian atas membuat simbol naga di tubuhnya terlihat sangat jelas.


Simbol itu menyala sangat terang saat energi dari alam mulai berkumpul menyelimuti tubuhnya.


Semakin lama simbol itu terlihat semakin jelas meskipun Fang Yin tidak menyentuh air.


Hal yang luar biasa kembali terjadi. Energi alam yang terkumpul itu terserap ke dalam simbol naga dan terserap dengan cepat ke dalamnya.


Fang Yin mengontrol energi itu agar tidak masuk ke dalam dantiannya.


Keringat bercucuran mengalir di tubuhnya karena dia harus menahan energi itu berputar-putar di seluruh jaringan meridiannya.


Rasa panas yang begitu luar biasa membuatnya harus mengeratkan rahangnya menahan energi Cahaya Emas menyelimuti seluruh permukaan kulitnya.


"Aaaaaaa!" pekik Fang Yin ketika proses penyembuhan luka itu mencapai puncaknya.


Fang Yin berteriak beberapa kali selama proses berlangsung.


Di luar kamar Fang Yin, Jian Heng berdiri untuk memastikan jika suara teriakan itu berasal dari sana.


"Xiao Yin! Apa yang terjadi? Xiao Yin, Kamu dengar aku?!" pekik Jian Heng.


Meskipun sangat mengkhawatirkan Fang Yin tetapi Jian Heng tidak berani untuk memasuki kamar seorang wanita.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2