
Setelah beberapa saat, napas Jian Heng mulai teratur. Dia telah berhasil mengendalikan emosinya dan suasana hatinya sudah lebih baik.
Gulungan pemberian Fang Yin terlihat tak berbentuk lagi. Untung saja tidak robek atau rusak. Tulisan yang ada di dalamnya pun masih terbaca dengan jelas.
Pesan singkat itu mampu membuat hatinya kembali dingin. Fang Yin tidak bermaksud untuk mengabaikannya dan berjanji akan menemuinya suatu hari nanti.
Meskipun tidak dijelaskan seperti apa perasaannya saat ini, tetapi Jian Heng sangat mengerti apa yang dirasakan oleh murid sekaligus kekasihnya itu. Dengan rasa malu, akhirnya dia bangkit. Dia merasa telah menjadi pria bodoh yang termakan oleh pemikirannya sendiri.
"Xiao Jin tidak mungkin menghianatiku, bodohnya aku berpikir yang tidak-tidak tentangnya." Jian Heng memaksakan diri untuk tersenyum bahagia di tengah kegetiran hatinya.
Pura-pura bahagia juga butuh tenaga, Jian Heng meminta pelayannya untuk membawakan makanan untuknya. Beberapa hari ini dia tidak makan dengan baik saat menjalankan misi.
Jian Heng tidak merasa curiga pada ayahnya yang telah bersekongkol dengan Fang Yin untuk membuatnya keluar dari istana sebelum dia pergi. Sebelum pergi Kaisar Xi juga memberikan token khusus pada Fang Yin sebagai tanda kebangsawanan di Kekaisaran Benua Tengah.
Fang Yin menolak semua hadiah Kaisar Xi bukan tanpa tujuan. Token ini lebih berharga dari semua hadiah yang berupa harta benda. Suatu saat ketika dia akan melakukan penyerangan ke Kekaisaran Benua Timur, dia bisa meminta bantuan dengan kepemilikan token ini.
Selain memperkuat dirinya sendiri, Fang Yin juga mencari sekutu untuk memperbanyak pasukan. Dari ingatannya sebelumnya, Kaisar Ning memiliki hubungan kerjasama yang kuat dengan raja-raja kecil dan kultivator tingkat menengah ke atas.
Tanpa sebuah pasukan, bisa dipastikan usahanya akan sia-sia. Sekuat apapun dirinya tidak akan mampu mengalahkan ribuan pasukan di bawah kendali Kaisar Ning.
Setelah kepergian Fang Yin, Jian Heng berjanji untuk menunggunya. Dia tidak akan kembali lagi ke Sekte Sembilan Bintang dan memilih untuk membantu ayah dan saudara-saudaranya menjalankan pemerintahan yang adil.
"Aku akan menunggumu di sini, Xiao Yin. Aku berjanji." Jian Heng kembali bersemangat. Sebagai seorang pria tentunya dia akan merasa sangat malu jika terlihat lemah hanya karena ditinggalkan oleh kekasihnya.
Jing Jihua dan keluarganya tidak lagi tinggal di lokasi yang sama dengan istana Kekaisaran. Kaisar Xi memindahkan istana perdana menteri di luar istana Kekaisaran. Semua ini dilakukan demi kenyamanan Jian Heng dan terbukti cara ini mampu membuatnya betah tinggal di istananya.
Sebagai seorang ayah, Kaisar Xi mengabaikan keegoisannya demi kebaikan putra-putranya. Meskipun sama-sama keras kepala dan memiliki idealisme tersendiri, mereka tetap saling menghormati. Sejak mengenal Fang Yin dan sering berdiskusi dengannya, pikiran Kaisar Xi lebih modern dan terbuka.
Di tempat lain, Fang Yin sedang dalam perjalanan menuju ke wilayah Benua Timur. Di tengah perjalanannya dia merubah penampilannya menyerupai seorang pria. Semuanya dia lakukan untuk berjaga-jaga jika ada orang mengenalnya.
Cukup lama dia tinggal di Kekaisaran Benua Tengah. Banyak dari pemimpin daerah dan raja-raja kecil yang tidak sengaja bertemu dengannya selama tinggal di sana. Fang Yin tidak ingin mereka mengetahui bahwa dia adalah orang yang sama.
__ADS_1
Fang Yin tidak menggunakan teknik khusus untuk mempersingkat waktu perjalanannya. Tubuhnya terasa kaku karena lama tidak berlatih fisik, dia memilih untuk melemaskan otot-ototnya dengan berjalan cepat.
Tidak ada yang curiga dan berpikir dia adalah seorang wanita. Selain penampilan dan wajahnya yang tertutup, Fang Yin juga merubah suaranya seperti yang dia lakukan sebelumnya.
Saat senja hampir turun, Fang Yin baru sampai di pinggir kota. Selain untuk melemaskan tubuhnya, hatinya juga merasa berat untuk meninggalkan ibu kota Kekaisaran Benua Tengah.
'Aku tidak ingin menginap di penginapan. Aku sangat merindukan alam bebas. Malam ini aku ingin tidur di tempat terbuka.' Fang Yin melihat ke bukit yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berada. Kali ini dia memilih untuk melompat dengan teknik meringankan tubuhnya.
Langkahnya terhenti di atas sebuah bukit dengan sedikit pepohonan. Dia memilih sebuah pohon yang paling besar dan melompat ke dahan yang paling tinggi. Dahan itu cukup lebar dan mampu menopang tubuhnya dengan kuat.
'Oh, iya, aku mendapatkan hadiah dari Selir Tang. Aku ingin membukanya sekarang.' Fang Yin mengeluarkan sebuah kotak kayu berukuran kecil.
Tebakan Fang Yin salah. Hadiah itu bukan benda-benda yang dia pikirkan melainkan sebuah cermin. Jika dilihat sekilas, cermin itu terlihat biasa, tetapi jika diperhatikan dengan baik, modelnya mirip seperti sebuah sayap.
Fang Yin mengambil cermin itu dengan tangan kanannya. Seketika tubuhnya masuk ke alam bawah sadarnya. Di sekelilingnya muncul cahaya huruf-huruf yang perlahan tersusun mengelilinginya. Dia menunggu huruf-huruf itu tersusun menjadi sebuah kalimat.
'Apa maksud Selir Tang memberikan hadiah ini untukku? Apakah dia mengetahui siapa diriku sebenarnya?' Fang Yin mengingat kata-kata Selir Tang yang mengatakan jika binatang roh juga memiliki hati.
Fang Yin memang membunuh binatang roh naga yang kini menyatu dengan tubuhnya. Dia juga membunuh beberapa binatang roh lain untuk melindungi dirinya. Selama perjalanannya, dia belum menemukan seekor binatang roh yang bersikap lembut padanya.
__ADS_1
Di dalam dunia kultivasi siapa yang kuat maka dialah yang menang. Lalu mengapa Selir Tang seolah memintanya untuk tidak membunuh binatang roh, pikirnya.
Susunan huruf bercahaya kuning keemasan mulai sempurna. Adapun yang lebih awal muncul sudah bisa dibaca. Fang Yin membaca kalimat yang tertulis di sana.
Setiap kali mulutnya bergerak membaca kalimat itu, keanehan terjadi pada huruf yang selesai dibaca. Mereka bergerak mendekati Fang Yin dan masuk ke dalam tubuhnya.
Esensi energi dari huruf-huruf itu mengalir lembut pada jalur meridian Fang Yin. Tidak ada penolakan dari tubuhnya seolah mantra sihir itu memang ditakdirkan untuk menyatu dengan dirinya. Dia terus membaca hingga seluruh huruf-huruf itu selesai dia baca.
"Aku tidak tahu apa yang aku baca tetapi aku merasakan aura yang berbeda dari dalam tubuhku. Ini bukanlah Qi tetapi energi lain yang bisa melekat padanya." Fang Yin mengamati kedua tangannya dan terlihat bercahaya.
Fang Yin kembali ke alam sadarnya dan mendapati dirinya sedang memegang cermin kecil. Dia menyimpannya lalu kembali masuk ke alam bawah sadarnya untuk berkultivasi.
Dalam kultivasinya kali ini dia merasakan energi yang baru saja tersimpan menyatu dengan roh naga.
'Naga Jelek! Naga Jelek! Bisakah kamu menjelaskan padaku tentang semua ini?' teriak Fang Yin memanggil roh naga dengan tidak sabar.
\*\*\*\*
Bersambung ....
__ADS_1