Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 398. Menahan Diri


__ADS_3

Selir Tang memulai ceritanya dengan diawali helaan napas yang panjang. Segala sesuatu yang berhubungan dengan calon cucunya juga merupakan urusannya. Setelah ini, dia harus ikut menjaganya agar bisa terlahir dengan selamat.


"Dari ciri-ciri fisik yang aku lihat darimu, saat ini kamu sedang dalam persiapan menjadi seorang ibu. Mungkin kamu tidak menyadarinya dan sulit untuk percaya karena calon anakmu tidak berkembang di rahimmu. Sebagai seorang Dewi Naga kamu terhindar dari takdir itu tetapi kamu tetap akan memiliki keturunan."


Penjelasan Selir Tang membuat Fang Yin ternganga tidak percaya. Dia teringat akan mimpinya beberapa waktu lalu di mana dia melihat kekuatan jiwanya dan Jian Heng terkumpul di sebuah tempat asing. Yang Hui telah menjelaskan tentang hal itu meskipun tidak terlalu banyak.


"Apakah anakku akan lahir dalam waktu yang sama seperti bayi-bayi kebanyakan?" tanya Fang Yin.


Dengan cepat Selir Tang menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Tidak ada yang tahu berapa lama dia akan berkembang menjadi bayi. Pertumbuhan calon anakmu tergantung pada kekuatan yang bisa diserapnya dari tubuhmu dan dari alam sekitarnya. Dia bisa lahir lebih cepat atau lebih lama dari kehamilan pada umumnya. Namun, ada beberapa hal hal yang harus kamu ingat. Sebisa mungkin jangan sampai ada yang tahu tentang berita ini. Banyak pemburu kekuatan yang akan mencoba untuk merebut bayimu kelak. Kita harus benar-benar menjaganya dan datang tepat waktu untuk mengambilnya." Tersirat kekhawatiran di wajah Selir Tang.


"Apakah mungkin kepala pelayan merupakan salah satu dari pemburu kekuatan itu? Sebelum ini aku juga menemukan racun jenis baru yang sangat aneh. Hanya aku dan Kak Heng yang mengetahuinya. Kami sepakat untuk merahasiakan tentang racun itu sampai penyusup dan orang-orang yang terlibat di dalamnya tertangkap." Fang Yin menceritakan kejadian yang dialaminya baru-baru ini.


"Bisa jadi. Kita tidak boleh lengah sedikit mengingat bahaya tidak terlihat yang ada di sekitar kita. Apapun yang akan kamu lakukan setelah ini, jangan sampai membuat orang lain tahu jika kamu akan memiliki anak di luar rahimmu. Jika sampai hal ini terjadi kita tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang setiap harinya," jelas Selir Tang.


"Aku mengerti, Ibu. Sudah cukup lama kita mengisolasi ruangan ini. Keluarga besarku pasti akan berpikir yang tidak-tidak. Semoga ibu tidak merasa keberatan jika kita harus sedikit bersandiwara seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka akan memaklumiku jika mengatakan, Kak Heng sedang sakit." Ada permohonan dalam ucapan Fang Yin.


Selir Tang mengangguk.


"Kita akan memainkan peran kita masing-masing tapi sebelum itu aku akan membantumu membereskan ruangan ini. Kamu sudah terlalu banyak mengeluarkan kekuatanmu. Biar aku saja yang melakukannya."


Semua benda-benda yang semula berserakan kini bergerak dengan cepat dengan sihir yang dikeluarkan oleh Selir Tang. Benda-benda itu kembali ke tempatnya masing-masing dalam waktu yang sangat singkat. Setelah dirasa semuanya beres, dia kembali menghadap ke arah Fang Yin yang sedang duduk disampingnya.


Tiba giliran Fang Yin untuk membuka batas pelindung yang dipasang mengelilingi ruangannya. Tangannya mendorong ke depan dan menarik energi pembatas itu dengan cepat. Dalam sekejap pembatas itu telah menghilang dan dunia nyata pun terbuka.

__ADS_1


Suara orang bercakap-cakap di luar kamar kini terdengar jelas. Selir Shi yang sedang menangis pun terdengar oleh Fang Yin. Tidak tahan dengan itu semua, dia segera membuka pintu kamarnya dengan tenaga dalam.


Selir Shi dan keluarga besar Fang Yin yang ada di luar ruangannya terkejut ketika pintu tiba-tiba terbuka. Namun, mereka merasa senang dan langsung berlari menghampiri Fang Yin dan Selir Tang. Mereka masih belum menyadari jika Jian Heng juga ada di sana dan berbaring di belakang Fang Yin.


"Yin'er! KakakTang! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Selir Shi sambil menatap putri dan besannya secara bergantian.


Selir Tang berdiri dan membawa Selir Shi duduk di tepi ranjang yang kosong. Fang Yin juga mendekati ibunya dan memeluknya erat untuk beberapa saat. Setelah ibunya merasa tenang, dia mengusap sisa-sisa air matanya.


"Kak Heng sakit. Aku dan ibu mertua baru saja mengobatinya. Ibu tidak perlu bersedih, Kak Heng sudah baik-baik saja sekarang." Fang Yin tidak ingin ibunya merasa khawatir.


Selir Shi mengangguk.


Satu persatu keluarga Fang Yin berjalan mendekat. Mereka ingin melihat keadaan Jian Heng, begitu juga dengan Tian Feng. Kepekaannya yang tinggi membuatnya bisa merasakan apa yang sebenarnya pada Jian Heng.


Dengan matanya yang terpejam, Tian Feng menoleh pada Fang Yin untuk melihat ekspresinya. Sedikitpun Fang Yin tidak bisa menyembunyikan rahasia apapun darinya.


"Tentu saja. Kita akan bicara lagi nanti." Seperti paham dengan isyarat dari Fang Yin, dia tidak akan membahas mengenai kondisi Jian Heng saat ini.


"Maaf jika kami mengacaukan makan malam kalian," ucap Fang Yin kemudian. "Ibu, tolong bawa ibu mertua dan yang lainnya ke ruang perjamuan. Aku akan menjaga Kak Heng di sini," lanjutnya.


Selir Shi mengangguk lalu berkata, "Aku akan meminta pelayan untuk mengantarkan makan malam kalian."


Sorot kekhawatiran masih terlihat jelas di wajah Selir Tang tetapi dia tidak ingin mempersulit keadaan Fang Yin. Jika dia menolak untuk pergi maka orang-orang akan mencurigainya. Untuk saat ini mereka belum boleh tahu dengan kehamilan Fang Yin dan kematian kepala pelayan.


'Sebelum dalang dibalik kerusuhan ini tertangkap, aku tidak boleh terlihat mencurigakan. Aku harus mencari kesempatan untuk membicarakan banyak hal dengan Yin'er.' Selir Tang bermonolog dalam hati.

__ADS_1


Fang Yin bernapas lega saat keluarganya tidak bertanya macam-macam perihal penyakitnya. Bisa jadi saat ini mereka hanya menahan diri untuk tidak banyak bertanya karena sudah banyak yang menunggu di ruang perjamuan. Keesokan harinya dia harus bersiap-siap untuk menghadapi mereka.


Wajah Jian Heng masih terlihat pucat tetapi napasnya sangat teratur. Keadaan ini bisa diartikan jika saat ini dia berangsur-angsur telah membaik. Mungkin sebentar lagi dia akan tersadar.


Tubuh Fang Yin juga merasa letih. Dia lalu merebahkan tubuhnya di samping Jian Heng. Rasa kantuk mulai merayap tetapi dia harus menahannya karena harus menunggu pelayan yang akan datang mengantarkan makanan untuknya.


"Hoam! Lama sekali mereka," gumam Fang Yin sambil terus memandang ke arah pintu.


Tangan kanan Jian Heng bergerak dan menyentuh bahunya. Fang Yin merasa terkejut karena posisinya saat ini sedang memunggunginya. Dia lalu segera berbalik dan menghadap ke arahnya.


"Kamu sedang menunggu siapa?" tanya Jian Heng dengan suara yang masih lemah.


"Kamu sudah bangun?" Fang Yin malah balik bertanya.


Jian Heng mengangguk sambil tersenyum. Ingatannya terasa samar. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebelum dirinya berada di atas tempat tidur.


"Jangan terlalu banyak berpikir! Kita akan membicarakan lain waktu." Seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Jian Heng, Fang Yin memintanya untuk tenang.


Tangannya menyentuh pipi Jian Heng dan mengusapnya dengan lembut.


Keduanya saling berpandangan hingga suara ketukan pintu dari luar menyadarkan keduanya.


Fang Yin bangkit untuk duduk dan mempersilakan pelayan untuk masuk.


'Aku ingin tahu, setelah kematian kepala pelayan, apakah masih ada racun yang dimasukkan ke dalam minumanku.' Fang Yin terlihat tidak sabar untuk segera mengetahuinya.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2