
Tuan Xi menyusul Fang Yin melayang di udara dan berdiri di depannya dengan jarak yang sangat dekat.
"Xiao Yin! Dengarkan aku! Aku tidak ingin bertarung denganmu. Aku ingin kamu menunjukkan jika kamu telah menguasai Jurus Merendahkan Bayangan bukan karena aku tidak mempercayaimu. Sejujurnya aku merasa sangat bingung. Di satu sisi kamu adalah putriku dan di sisi lain Tetua Song adalah sahabatku. Aku mohon mengertilah!" Tuan Xi mulai menurunkan egonya dan berkata lembut pada Fang Yin.
Sorot mata Fang Yin masih diliputi aura dendam. Namun emosinya perlahan mulai surut. Gejolak energi roh naga yang ada di tubuhnya pun tidak bertambah.
"Aku memang mengangkatmu dari seorang budak, tapi ketahuilah aku tidak pernah menganggapmu rendah. Jadi kumohon, tetaplah menjadi keluargaku di masa mendatang." Tidak di sangka Tuan Xi rela memohon pada Fang Yin tanpa mempedulikan harga dirinya lagi di depan orang-orang yang saat ini berada di sana.
Fang Yin terdiam memikirkan kata demi kata yang diucapkan oleh Tuan Xi. Wajah Tuan Xi yang terlihat sangat bimbang membuat Fang Yin merasa iba padanya. Mungkin pertarungan ini seharusnya memang tidak terjadi karena mereka tidak memiliki latar belakang dendam ataupun permusuhan.
"Tuan Xi! Sebelum aku menunjukkan jurus ini padamu, bolehkah aku bertanya padamu?" Setelah sekian lama terdiam akhirnya Fang Yin pun membuka suaranya.
"Katakanlah! Aku akan menjawab semampuku." Tuan Xi mempersilakan Fang Yin untuk mengajukan pertanyaan.
"Apakah Tuan Xi sebagai seorang ayah percaya pada putrinya ini jika dia tidak meracuni teman-temannya. Dan apakah dia juga percaya jika putrinya ini lulus dengan cara terhormat setelah menguasai Jurus Merendahkan Bayangan dan bertarung antara hidup dan mati di dalam Hutan Kenestapaan seorang diri untuk mendapatkan binatang roh?"
Pertanyaan Fang Yin membuat Tuan Xi tertegun. Melihat mata Fang Yin yang berkaca-kaca saat mengajukan pertanyaan itu membuatnya tersadar betapa menderitanya dia selama ini. Tuan Xi berharap jawabannya kali ini tidak salah.
__ADS_1
"Aku percaya padamu!" jawabnya mantap meskipun masih ada sedikit keraguan di hatinya mengingat semua ucapan Tetua Song yang terlihat meyakinkan.
Fang Yin mengulas senyum di balik cadarnya. Dia sedikit mengurangi sifat keras kepalanya dan menuruti permintaan sang ayah. Matanya melirik ke sebuah pohon yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
"Terimakasih atas kepercayaan Ayah padaku. Pohon itu yang akan menjadi saksi keganasan jurusku!" Fang Yin menujuk pohon yang sejak tadi diliriknya.
Tuan Xi mengangguk.
Hati Tuan Xi menghangat setelah mendengar Fang Yin kembali memanggilnya ayah.
Karena ini bukan sebuah pertarungan, maka Fang Yin ingin menunjukkan Jurus Merendahkan Bayangan sesuai tahapan yang diajarkan di Akademi Tujuh Bintang.
Malam yang gelap membuat tubuh Fang Yin benar-benar tidak terlihat ketika berada di puncak jurus. Dalam waktu kurang dari satu menit, pohon yang ditunjuk oleh Fang Yin telah berubah menjadi potongan-potongan kecil. Tidak ada yang menyadari kapan Fang Yin memotong-motong pohon itu karena gerakannya yang cepat membuatnya tidak terlihat.
Tuan Xi pun tidak menyadari kehadiran Fang Yin yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Apa ayah puas sekarang?" tanya Fang Yin dengan pedang yang masih terhunus di depan dadanya.
__ADS_1
"Aku bangga padamu, Putriku! Maafkan ayah tadi emosi padamu. Lalu apa alasan tua bangka itu memfitnahmu?" tanya Tuan Xi.
Hatinya merasa lega setelah tahu Fang Yin terbukti tidak bersalah.
Merasa tidak tahu apa alasannya, Fang Yin hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawabnya.
"Dia beberapa kali mengirimkan pembunuh bayaran untuk mengejarku. Beruntung nasib baik masih berpihak padaku."
Pernyataan Fang Yin membuat Tuan Xi membelalakkan matanya.
"Kurang ajar! Hampir saja aku menjadi orang yang termakan mulut busuk tua bangka itu! Aku pasti akan membuat perhitungan denannya!" Tuan Xi mengepalkan kedua tangannya.
Fang Yin mengangkat pedangnya yang berkilau lalu kembali menyimpannya.
"Dari mana kamu mendapatkan pedang itu, Xiao Yin? Sepertinya aku tidak merasa asing?" Tuan Xi menanyakan sesuatu yang dia tahan sejak tadi.
****
__ADS_1
Bersambung ...