
Fang Yin menarik napas panjang lalu mengeluarkannya dari mulutnya. Setelah hatinya merasa lebih baik dia bergerak mendekati Guan Xing.
"Bangunlah!" seru Fang Yin sambil menyodorkan pil pemulih untuk Guan Xing.
Guan Xing berusaha untuk bangun tetapi tubuhnya sulit untuk digerakkan. Tulangnya seakan remuk akibat pertarungan sehingga membuatnya sulit untuk bergerak. Kedua tangannya tidak mampu menjadi tumpuan untuk bangun meskipun tidak patah.
Melihat Guan Xing begitu kesulitan, Fang Yin pun tidak tega. Sesaat dia menghembuskan napas kasar lalu membungkuk untuk membantunya duduk.
Guan Xing terus menatap Fang Yin dan merasa terharu atas pertolongannya. Dia memiliki kesempatan yang besar untuk membunuhnya, tetapi tidak dia lakukan. Justru dia malah menolongnya.
Fang Yin menyodorkan sebuah pil di depan mulut Guan Xing. Pria itu terlihat berpikir, apakah pil itu benar-benar obat atau racun yang mematikan. Namun, dia segera membuka mulutnya untuk memakannya. Dia tidak peduli jika pil itu adalah racun, toh dia telah kalah dan merasa kehilangan harga dirinya di depan suki es dan suki gletser.
"Kenapa kamu tidak membunuhku saja? Kamu tidak takut jika setelah ini aku akan menyerangmu." Guan Xing menatap Fang Yin tajam.
"Lakukan sana! Kekuatanku masih mampu untuk membalas seranganmu." Fang Yin memberi pijatan ringan pada tangan kanan Guan Xing.
"Tahan sakitnya sebentar. Aku akan membetulkan sendimu." Fang Yin memberi aba-aba.
Guan Xing menatapnya nanar. Dia tidak yakin jika Fang Yin memiliki kemampuan untuk itu. Lagi-lagi dia harus pasrah karena tidak bisa melakukan apa-apa.
Fang Yin memijat bagian bahu Guan Xing lalu menariknya dengan keras. Guan Xing berteriak keras karena merasakan sakit yang luar biasa. Tetapi setelah itu dia tidak merasakan apapun.
"Kamu masih belum bisa banyak bergerak karena kedua lenganmu patah," jelas Fang Yin.
Guan Xing mencoba menggerakkan bahunya dan tidak terasa sakit lagi. Namun, saat memutar pergelangan tangannya, ada rasa nyeri yang amat menyiksa pada lengannya. Dia meringis memperlihatkan gigi-giginya karena menahan sakit.
"Kamu bisa meminta tabib untuk mengobati patah tulangmu setelah ini atau selamanya tulangmu akan retak." Setelah mengatakan hal itu, Fang Yin duduk di belakang punggung Jian Heng dan membantunya untuk memulihkan tenaganya.
Guan Xing masih terlihat sedang berpikir hingga Shi Jun Hui dan Shi Han Wu datang menghampirinya. Meskipun mereka tidak memperlihatkan aura permusuhan, tetapi Guan Xing terlihat tegang.
Usia Guan Xing beberapa tahun lebih muda dari keduanya. Sejak kecil mereka terbiasa memanggilnya 'Xing'er'. Ketiga pria ini sama-sama mengidolakan Yu Ruo, putri angkat dari Patriak terdahulu. Yu Ruo adalah keturunan ras phoenix api yang diselamatkan oleh suku es. Inilah yang menjadi alasan mereka berhubungan baik phoenix api dan es.
Yu Ruo menyusul keduanya dan berdiri di samping Shi Jun Hui. Keempat anggota suku es satu generasi itu saling berpandangan dalam keheningan. Semuanya larut dengan pikiran mereka masing-masing, hingga Shi Jun Hui duduk di hadapan Guan Xing dan berbicara kepadanya.
__ADS_1
"Xing'er! Apakah kamu sudah puas? Apakah setelah ini kamu masih ingin membuat kekacauan lagi?" tanya Shi Jun Hui sambil menatapnya tajam.
Seluruh anggota suku es dan suku gletser berjalan mendekat. Mereka mengelilingi Guan Xing dan yang lainnya. Pertarungan sudah terhenti, mereka ingin tahu tentang kelanjutannya setelah ini.
"Aku mengakui aku kalah. Terserah jika kalian ingin membunuhku atau menghukumku. Saat ini aku dan seluruh anggota suku gletser adalah tawanan kalian." Guan Xing berbicara pasrah.
Patriak Shi yang terlihat marah datang mendekat dengan cepat dan hampir menendang Guan Xing, tetapi Shi Jun Hui mencegahnya. Mulutnya yang telah siap dengan kata-kata makian untuk Guan Xing pun tidak jadi dikeluarkan.
"Aku sudah mengenalmu sejak dulu sebelum kamu pergi dari Gunung Perak. Sebelumnya kita baik-baik saja. Mengapa kamu tiba-tiba menjadi seperti ini? Apakah kamu terserang penyakit gila?" tanya Shi Jun Hui sambil menatap Guan Xing tajam.
Guan Xing menunduk. Dia terlihat berpikir. Tergambar penyesalan yang begitu mendalam di wajahnya. Ambisinya yang semula meledak-ledak kini menguap entah kemana. Kebaikan hati Fang Yin menyadarkannya bahwa semua yang ada di sini adalah keluarnya.
"Kamu terlalu lembut pada baji**an ini, Jun Hui. Dia telah mengakibatkan pertumpahan darah di sini. Kita sudah kehilangan banyak nyawa karena keegoisannya. Dia pantas mati, Jun Hui." Patriak Shi meluapkan emosinya.
Guan Xing tidak menjawab. Semua yang telah dilakukannya memang sudah keterlaluan. Banyak anggota kedua suku yang menjadi korban kejahatannya.
Ketegangan ini membuat Fang Yin merasa perlu untuk ikut bicara. Suasana akan kembali panas jika tidak segera di atasi. Dia menghentikan aliran Qi-nya untuk Jian Heng lalu beranjak dari duduknya dan berdiri di tengah-tengah kedua pihak.
"Biar aku yang bicara padanya."
Patriak Shi mengangguk patuh.
Terselip rasa bangga di hati Shi Jun Hui dan Yu Ruo melihat aura menakutkan di mata Fang Yin. Begitu juga dengan Shi Han Wu yang sejak tadi hanya terdiam. Setelah kepergiannya dari Gunung Perak dalam waktu yang lama, dia merasa jika dirinya sebagai pihak luar.
Fang Yin beralih menatap Guan Xing yang masih tertunduk.
"Angkat kepalamu, Kakek Lesung pipi!" seru Fang Yin.
Suaranya seperti mengandung sihir yang membuat siapapun yang mendengarnya akan patuh. Guan Xing mengikuti perintah Fang Yin untuk mengangkat wajahnya. Penyesalan yang besar tergambar jelas di sana.
"Apakah kakek menyesal telah membuat kekacauan besar ini?" tanyanya lantang agar semua orang mendengarnya.
Guan Xing mengangguk.
__ADS_1
Fang Yin memberinya banyak pertanyaan setelah itu untuk mewakili keingintahuan semua orang yang ada di sana. Tidak ada yang berani menyelanya setelah mereka tahu siapa Fang Yin sebenarnya. Meskipun usianya masih terbilang muda, tetapi dia memiliki kebijaksanaan seperti layaknya orang dewasa.
Kedua belah pihak berdiskusi untuk menyelesaikan masalah mereka dengan jalan perdamaian. Dalam hal ini Fang Yin bertindak sebagai penengah yang memediasi keduanya untuk mendapatkan titik temu.
Setelah berembuk sepanjang malam, akhirnya keputusan final pun diambil. Suku gletser dihapuskan dan kembali menjadi suku es. Tidak ada celah perbedaan lagi di antara mereka berdua sebagai pemilik garis keturunan yang sama. Jika sebelumnya Klan Shi dianggap paling arogan dan sok berkuasa, kini mereka bersedia membaur bersama seluruh klan yang menjadi keturunan suku es.
Sinar matahari mulai muncul, tetapi mereka masih tetap berada di sana. Kini terlihat jelas semua kerusakan yang ditimbulkan akibat pertempuran mereka semalam.
Patriak Shi mengeluarkan Mutiara Salju dan mengubah keadaan yang semula bersalju menjadi normal kembali. Seluruh anggota Klan Shi dan klan-klan yang semula bernaung di bawah kekuasaan suku gletser saling menyapa. Meskipun mereka terpisah sekian lama, tetapi mereka tetap saling mengenal.
Wilayah Gunung Perak sangatlah luas. Setelah ini mereka akan saling bergotong royong untuk membuka lahan dan membuat pemukiman baru. Anggota klan gletser yang masih tersisa di wilayah Daratan Utara akan dipindahkan setelah tersedia tempat tinggal untuk mereka.
Fang Yin berdiri sambil melihat ke sekelilingnya. Hatinya merasa damai melihat kerukunan yang tercipta setelah pertengkaran besar. Hampir saja suku es menjadi hancur akibat perang saudara.
Jian Heng berjalan menghampiri Fang Yin. Dia sudah terlihat lebih baik meskipun masih butuh pemulihan. Mungkin tiga sampai sepuluh hari ke depan dia belum bisa bertarung dan menggunakan kekuatannya.
"Kak Heng!" Fang Yin memegang lengan Jian Heng dan membawanya menepi.
Melihat perhatian dari Fang Yin, Jian Heng tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia berjalan pelan seakan dirinya merasakan sakit.
"Aku akan mengobatimu," ucap Fang Yin khawatir.
"Tidak-tidak, aku sudah baik-baik saja."
Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke pondok penampungan dan beristirahat. Selir Shi terlihat sedang mengobati Yu Ruo. Luka bakar yang diberikan Fang Yin perlu segera ditangani. Sedangkan Shi Han Wu dan Shi Jun Hui pergi membantu para pria membereskan kekacauan di luar pondok.
Fang Yin dan Jian Heng berjalan menghampiri mereka dan membuat keduanya terkejut melihat kedatangan keduanya.
Yu Ruo menatap Fang Yin dengan cara yang berbeda. Seperti ada sesuatu yang tertahan di hatinya. Ada sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun yang akan dia sampaikan kepada cucu semata wayangnya.
****
Bersambung ....
__ADS_1