
Fang Yin terbangun di pagi itu dengan tubuh yang terasa lebih segar. Semalam dia tidur dengan nyenyak setelah seharian merasa lelah.
Seorang pelayan penginapan mempersiapkan air mandi untuk Fang Yin dan meminta Fang Yin untuk mengikutinya.
Rupanya pemandian itu bersifat umum. Ada beberapa tamu wanita yang mandi di sebuah kolam dan ada pula yang mandi di bak mandi yang disediakan. Di sebelah pemandian wanita adalah pemandian untuk pria yang hanya dibatasi oleh pagar pendek saja.
Fang Yin mandi tanpa melepaskan cadarnya dan memilih untuk mandi di bak mandi daripada bergabung bersama yang lainnya.
Saat di tengah-tengah mandinya, Fang Yin merasa heran dengan orang-orang yang menatapnya. Dia pikir mereka melihatnya begitu karena wajahnya yang tertutup cadar.
Semakin lama semakin banyak orang yang menatapnya aneh. Fang Yin menyegerakan mandinya agar bisa cepat-cepat pergi dari sana.
"Bibi, bisakah kamu membantuku?" tanya Fang Yin pada seorang pelayan penginapan.
Wanita setengah baya itu berjalan mendekati Fang Yin dengan tubuh gemetar dan kepala yang terus tertunduk seakan tidak berani menatap ke arah Fang Yin.
'Mereka kenapa, sih? Mengapa semua orang terlihat sangat aneh? Aku harus mencari tahu tentang hal ini,' gumam Fang Yin dalam hati.
"Tolong bantu aku merapikan pakaianku!" Fang Yin meminta pelayan itu untuk mengikutinya ke ruang yang disediakan untuk berganti pakaian.
Lagi-lagi pelayan itu berjalan dengan ketakutan dan tubuh yang semakin gemetar.
__ADS_1
"Apakah aku terlihat menakutkan?" tanya Fang Yin ketika mereka berada di dalam ruang berdua saja.
"Ampun! Jangan sakiti aku Dewi!" pelayan itu memberanikan diri berbicara pada Fang Yin.
"Dewi? Hei! Kamu tidak perlu takut padaku, aku juga manusia sepertimu." Fang Yin mencoba menenangkan pelayan itu.
Pelayan itu masih terlihat ketakutan dan tidak berani melakukan apapun padahal Fang Yin sudah merasa kedinginan dengan baju dalamnya yang basah.
"Bolehkah aku bertanya padamu?" tanya Fang Yin menatap serius kepada wanita itu.
Dia hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Fang Yin.
"Apa yang membuat kamu dan orang-orang melihatku dengan tatapan yang sangat aneh? Aku benar-benar tidak mengerti dan tidak tahu apa-apa tentang hal ini." Fang Yin mulai mengeringkan tubuhnya seorang diri karena pelayan itu tidak kunjung membantunya.
Fang Yin menghentikan kegiatannya dan menatap pelayan itu dengan perasaan heran.
"Sebuah tanda? Kenapa aku tidak melihatnya? Di mana tanda itu?" tanya Fang Yin penasaran.
Melihat pelayan itu masih ketakutan Fang Yin merasa bingung dengan apa yang di maksud dengan Dewi Naga.
"Jangan terlalu banyak berpikir! Aku memang terlihat aneh dengan menutup wajahku seperti ini, tapi percayalah, aku tidak suka makan orang. Makananku sama seperti yang kalian makan," ucap Fang Yin setengah bercanda.
__ADS_1
Fang Yin telah menyelesaikan keperluannya tanpa bantuan pelayan itu. Namun dia tetap memberinya beberapa keping koin perak.
"Tidak perlu, Dewi!" Pelayan itu menolak pemberian Fang Yin.
"Terima saja! Panggil aku Xiao Yin! Aku manusia sepertimu juga, Bibi." Fang Yin meninggalkan tempat itu tanpa tahu banyak tentang simbol yang dimaksud oleh pelayan itu.
'Masa bodoh dengan simbol itu! Mereka terlalu berlebihan menanggapi sebuah mitos!' Fang Yin melenggang dari tempat itu tanpa mempedulikan tatapan aneh mereka.
Di luar pemandian seseorang telah menunggunya dengan wajah yang berseri-seri.
"Lama sekali kamu mandi. Dasar wanita!" seru Jian Heng.
Fang Yin tidak menanggapi ocehan Jian Heng karena sedang tidak ingin berdebat.
"Tidak biasanya kamu diam seperti ini. Apa yang kamu pikirkan? Sepertinya aku harus berpikir ulang untuk membawamu pergi mempelajari Kitab Sembilan Naga kalau kamu terus mengacuhkanku seperti ini." Jian Heng memancing Fang Yin dengan mengatakan apa yang sangat diinginkan olehnya.
Benar saja, Fang Yin langsung menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Jian Heng.
"Aku merasa sangat kesal pada orang-orang di dalam pemandian wanita. Mereka mengira jika aku adalah seorang Dewi Naga hanya karena melihat sebuah tanda di tubuhku," jelas Fang Yin mengungkapkan kekesalannya.
Jian Heng terperanjat mendengar ucapan Fang Yin.
__ADS_1
****
Bersambung ....