
Fang Yin dan Selir Tang duduk di taman hingga larut malam. Mereka berbicara dari hati ke hati sebagai sesama wanita. Keduanya merupakan orang yang paling disayangi oleh Jian Heng.
"Ibu, malam sudah larut. Aku akan mengantarkanmu ke kamar." Fang Yin takut jika calon ibu mertuanya kelelahan setelah perjalanan.
"Aku belum mengantuk, Yin'er. Kalau kamu lelah, sebaiknya kamu beristirahat lebih dulu. Aku ... aku ingin menikmati pemandangan taman ini di malam hari."
Sebenarnya tujuan utama Selir Tang berada di sana bukan untuk sekedar menikmati pemandangan. Dia merasa khawatir pada Jian Heng yang hingga saat ini belum kembali. Seharusnya dia telah sampai di sini sebelum dirinya.
"Aku akan menemani ibu sampai kita sama-sama mengantuk." Fang Yin tersenyum.
Beberapa orang pelayan datang membawakan makanan dan minuman untuk mereka. Minuman hangat yang disajikan oleh pelayan merupakan minuman hasil racikannya. Aroma herbal yang kental membuat Selir Tang merasa penasaran.
"Apakah ini adalah minuman herbal?" tebak Selir Tang. Meskipun dia tidak tahu komposisinya tetapi dia percaya jika minuman ini memiliki khasiat.
"Benar, Ibu aku meraciknya sendiri. Minuman ini sangat baik untuk kesehatan tubuh dan aman diminum oleh siapa saja."
Selir Tang mengangguk. Dia menyukai minuman herbal yang disajikan. Beberapa kali dia menyeruputnya hingga tandas.
Keduanya mengobrol hingga lupa waktu. Tidak terasa malam telah mendekati pertengahannya. Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi beristirahat.
Selir Tang tidak ingin di antar oleh Fang Yin dan memilih untuk pergi ke kamarnya bersama para pelayan. Kamar keduanya terletak di arah yang berlawanan. Dia tahu Fang Yin pun sangat mengantuk setelah menemaninya hingga larut.
Fang Yin berjalan sendiri menuju ke kamarnya. Istana sudah sangat sepi mengingat hari telah larut malam. Para pelayan telah pergi beristirahat di tempatnya masing-masing. Hanya penjaga istana dan beberapa orang prajurit yang berpatroli saja yang masih terjaga.
Kaki Fang Yin melangkah dengan malas dengan tubuh yang sempoyongan. Keseimbangannya sedikit terganggu saat dia sedang mengantuk berat. Beberapa kali dia menguap dan menutupnya dengan telapak tangannya.
Saat dia menguap lagi seseorang menubruk tubuhnya dari belakang lalu memeluknya dengan erat. Sejenak Fang Yin terkejut. Kepalanya dipenuhi kata-kata yang siap dirangkai untuk meluapkan kemarahannya.
Rongga dadanya telah penuh dengan udara dengan mulut yang bersiap untuk memaki. Mulutnya telah terbuka tetapi sesaat sebelum kata-katanya keluar, seseorang yang memeluknya berbisik.
"Yin'er! Aku tahu kamu akan memaki-makiku. Kamu pasti sangat khawatir dan merasa takut kehilanganku hingga kamu tidak tidur hingga selarut ini. Kita impas, Aku juga merasakan ini beberapa hari yang lalu."
Fang Yin memutar tubuhnya dengan cepat dan menatap Jian Heng dengan sangat marah. Detak jantungnya masih belum bisa dikondisikan hingga beberapa saat.
"Dasar pria tidak punya etika. Kamu lupa aku siapa?" Fang Yin menghembuskan nafas kasar dan memukul dada Jian Heng dengan pelan.
Jian Heng tidak menjawab dan langsung menggendong tubuh Fang Yin dengan gemas. Mereka akan menghabiskan banyak waktu untuk sekedar berdebat. Suara berisik mereka akan mengganggu orang-orang yang sedang beristirahat.
Fang Yin tidak menolak perlakuan Jian Heng dan tidak juga melawan. Kebetulan jarak antara tempat pertemuan mereka hingga ke kamar masih cukup jauh. Dia tidak perlu berjalan kaki sambil menahan rasa kantuk yang begitu berat.
Di kejauhan Mo Bing melihat keromantisan mereka. Dia sedan melintasi jalan yang searah saat seorang pengawal mengantarnya ke kamar yang disediakan untuknya.
'Pantas saja Pangeran Ketiga sangat mencintainya, Putri Gu ternyata sangat cantik. Suatu saat aku juga ingin memiliki seorang istri yang cantik. Ah, bicara apa aku ini. Pekerjaan saja aku belum memilikinya.' Mo Bing berbicara pada dirinya sendiri.
Selama dalam perjalanannya, Jian Heng tidak mengajak Fang Yin untuk mengobrol sama sekali dan membuatnya semakin mengantuk. Sebelum dia sampai di kamarnya, Fang Yin telah terlelap. Sebenarnya Jian Heng tahu tetapi dia sengaja membiarkannya.
'Aku tahu kamu tidak tidur hingga selarut ini karena kamu sedang menungguku. Dari sikap marahmu aku bisa merasakan jika kamu sangat mencemaskanku. Yin'er, aku lebih mencemaskanmu saat mendengar kamu menghilang. Kamu berhutang padaku untuk penjelasan ini dan aku akan menagihnya besok.' Jian Heng bermonolog dalam hati.
Penjaga yang berdiri di depan kamar Fang Yin membantunya membukakan pintu untuk mereka. Mereka merasa tidak enak berdiri terlalu lama di depan pintu dan berjaga di tempat yang sedikit menjauh saat keduanya sedang bersama.
"Yin'er!" panggil Jian Heng lembut ketika mereka telah sampai di kamar Fang Yin.
Jian Heng tersenyum melihat wajah Fang Yin yang sangat konyol ketika sedang tertidur. Meskipun bukan pertama kalinya tetapi dia sangat senang saat melihatnya seperti itu.
"Kamu terlihat sangat lucu ketika tertidur seperti ini. Pantas saja kamu selalu memasang mantra pelindung di sekelilingmu saat kamu terlelap. Kamu tidak akan terbangun meskipun seekor harimau mengaum di telingamu." Jian Heng terus berbicara sambil membetulkan selimut dan posisi tidur Fang Yin agar lebih nyaman.
Setelah dirasa cukup nyaman, Jian Heng segera memasang mantra pelindung di sekeliling Fang Yin untuk berjaga-jaga dari bahaya yang mungkin saja datang mengancam. Setelah mendengar berita Fang Yin yang menghilang secara tiba-tiba, dia memilih mengurungnya seperti itu saat dia tidak ada di sampingnya agar Fang Yin aman.
Kamar yang disediakan untuk Jian Heng berada di seberang kamar milik Fang Yin. Sebelum Jian Heng datang, mereka telah sepakat untuk menentukan kamar itu. Jian Heng lupa siapa yang memiliki ide ini terlebih dahulu.
Tinggal di alam bebas selama beberapa hari membuat Jian Heng terbiasa terjaga hingga larut malam. Mo Bing dan para pengawalnya sangat menikmati perjalanan mereka hingga mereka lebih banyak beristirahat ketimbang melakukan perjalanan.
Jian Heng meraih bantalnya dan membiarkan kepalanya tidur tanpa alas. Dia memeluk bantalnya dengan erat sambil membayangkan wajah cantik Fang Yin.
"Yin'er. Semakin lama kamu terlihat semakin cantik saja. Aku tidak sabar ingin segera menikah denganmu. Besok aku akan mendesak keluarga kita untuk segera menikahkan kita berdua." Jian Heng tersenyum sambil memejamkan matanya yang mulai mengantuk.
Tidak butuh waktu yang lama, Jian Heng pun terlelap dalam tidurnya. Kasur yang empuk dan suasana nyaman di istana membuatnya begitu mudah mengantuk.
***
Di pagi hari,
Beberapa orang dayang datang ke kamar Fang Yin untuk membangunkannya. Semenjak tinggal di istana sebagai pemimpin, Fang Yin lebih sering datang terlambat di pertemuan istana daripada menunggu anggota pertemuan yang lain.
Tangan salah seorang dayang menyentuh pintu kamar Fang Yin. Seketika itu juga tubuhnya terdorong ke belakang dan membuatnya terhempas hingga beberapa depa dari pintu kamar. Apa yang dialaminya terlihat tidak nyata tetapi benar-benar terjadi.
Tidak puas dengan melihat saja, pelayan yang lain bersiap untuk membuka pintu kamar Fang Yin. Tangannya menepuk-nepuk lalu dia mengambil ancang-ancang dengan meletakkan kakinya.
Penjaga kamar Fang Yin ikut melihat ke arah pelayan tersebut. Jika pelayan sebelumnya terpental jauh, dia ingin melihat pelayan ini berhasil untuk membuka pintu Fang Yin.
"Satu, dua, ti ... ga ...." seru pelayan yang ingin mencoba mendorong pintu. Di setiap hitungan dia mengayunkan tubuh maju dan mundur.
Di saat pelayan itu menabrakkan tubuhnya ke pintu, segel mantra yang menyelimutinya telah terlepas. Gerakannya yang kuat membuatnya jatuh dengan keras di lantai dengan posisi tengkurap.
Pelayan meringis menahan sakit dengan posisi wajahnya mencium kaki Fang Yin. Bukan dia saja yang terkejut dengan kejadian ini, semuanya orang juga terkejut termasuk Fang Yin.
"Aduh! Yang Mulia. Mengapa Yang Mulia tidak mengatakan jika ingin membuka pintu ini sekarang." Pelayan itu berusaha untuk bangkit tetapi masih kesusahan.
"Hahaha! Siapa yang menyuruhmu mendorong pintu ini kuat-kuat. Aku baru saja terbangun kalian sudah begitu berisik di luar." Fang Yin berjalan masuk kembali ke dalam kamarnya.
Pelayan yang terjatuh mulai bangkit dan mencoba melakukan perenggangan saat telah berdiri. Rasa sakit di tubuhnya masih terasa tetapi dia begitu malu untuk mengakuinya. Dia mengabaikannya dan kembali bekerja.
"Aku merasa heran ketika melihat temanku terpental saat hendak membuka pintu ini. Aku pikir ada kekuatan yang melapisi pintu ini. Jadi, aku mengeluarkan seluruh tenagaku untuk membukanya dan mendorong pintu ini kuat-kuat."
"Haihh! Kalian memang yang terbaik. Sudahlah, aku ingin mandi sekarang." Fang Yin harus segera bersiap.
Banyak yang belum tahu perihal kedatangan Jian Heng semalam. Hanya beberapa orang pengawal yang masih terjaga yang mengetahuinya. Begitu juga dengan pengawal yang berjaga di istana Fang Yin.
Jian Heng bangun pagi-pagi sekali untuk segera membuka segel mantra yang dia keluarkan untuk melindungi Fang Yin. Namun, pintu kamar Fang Yin sudah terbuka saat dia datang.
"Dasar gadis nakal." Jian Heng tersenyum dan menggeleng. Dia kemudian masuk ke kamar Fang Yin untuk memastikan jika kekasihnya itu baik-baik saja.
Untuk mengejutkan Fang Yin, Jian Heng bekerja sama dengan penjaga yang berdiri di depan pintu ruangan Fang Yin. Dia memberinya isyarat agar tidak bersuara atau pun melaporkan kedatangannya. Para pengawal pun mengangguk tanpa berani menentang keinginannya.
Langkah Jian Heng terhenti di depan pintu dan melihat Fang Yin sedang disisir rambutnya oleh pelayannya. Wajahnya yang cantik terlihat lebih segar dengan aroma wangi tubuhnya setelah mandi. Fang Yin terlihat sedang bersendau-gurau bersama para pelayannya.
'Aku sangat bahagia hari ini. Rasanya tidak sabar lagi untuk menjadi orang yang bisa berada di sampingnya setiap waktu. Apakah Yin'er juga merasakan hal yang sama? Kulihat dia terlihat tenang dan biasa saja saat aku mendekatinya. Semoga saja setelah menikah dirinya bisa lebih lembut dan memperhatikanku.' Jian Heng melamun sambil menatap Fang Yin.
Dia tidak menyadari jika seorang pelayan berdiri menunggu jalan di belakangnya. Pelayan itu membawa nampan berisi sarapan untuk Fang Yin. Setelah menunggu beberapa saat dan Jian Heng tidak juga bergerak, pelayan itu akhirnya berdehem untuk membuatnya menyadari ada orang di belakangnya.
Deheman pelayan membuat Jian Heng tersadar dari lamunannya dan berbalik untuk pergi ke kamar. Dia ingin pergi untuk menemui keluarganya dan mengatakan keinginannya. Namun, Fang Yin terlanjur tahu jika Jian Heng berdiri di sana.
__ADS_1
"Kak Heng!" panggil Fang Yin.
Tatanan rambutnya belum selesai sehingga dia tidak bisa beranjak begitu saja. Bergerak sedikit saja maka semuanya akan rusak. Susah payah pelayan mendandaninya begitu juga dengan Fang Yin yang mulai bosan. Selama ini dia tidak pernah peduli dengan yang namanya penampilan dan segala yang berbau-bau kecantikan.
Setelah Fang Yin mengetahuinya, Jian Heng tidak bisa pergi dari sana. Dia memilih menunggui di sana sebelum pergi ke aula istana. Mereka akan pergi bersama-sama setelah semuanya beres.
Jian Heng duduk di depan meja yang menghadap ke arah Fang Yin. Pelayan yang semula berdiri di belakangnya meletakkan makanan untuk Fang Yin di meja itu. Jian Heng terlihat menelan ludahnya beberapa kali karena perutnya begitu lapar. Semalam dia tidak sempat makan malam.
"Ambilkan makanan yang sama juga untuknya!" perintah Fang Yin. Dia bisa membaca bahasa tubuh Jian Heng yang tampaknya sangat lapar dan menginginkan hidangan yang tersaji di hadapannya.
"Yin'er, apakah kamu masih lama? Aku heran melihatmu lebih suka berdandan saat ini. Mungkin karena kamu memiliki banyak sekali waktu luang sekarang." Jian Heng memonyongkan bibirnya ketika dirinya merasa kesal.
Hampir semua pria memang tidak menyukai keribetan seperti yang terjadi saat ini. Penampilan sederhana Fang Yin lebih menarik baginya daripada melihatnya berdandan secara berlebihan. Wajahnya berubah menjadi seperti seorang yang asing.
"Bersabarlah, Kak Heng. Setelah hari ini aku tidak akan berbenah terlalu lama," ucap Fang Yin.
"Benar. Kamu justru terlihat aneh dan mirip seperti seorang penyihir jika kamu berdandan seperti ini."
Bukannya memuji, Jian Heng malah mencela dandanan Fang Yin. Menurutnya penampilannya memang berlebihan dan kurang menarik.
Ucapan Jian Heng membuat Fang Yin mengamati wajahnya di cermin. Sebenarnya penataan rambut yang dilakukan oleh pelayannya sangat bagus tetapi memang sedikit berlebihan. Dia terlihat seperti orang lain dengan karakter yang berbeda pula.
"Semuanya sudah terlanjur, Kak Heng. Waktu akan habis jika aku membuka tatanan ini dan mengulanginya." Fang Yin tidak menyanggah penilaian Jian Heng yang menyatakan jika dirinya terlihat aneh.
"Baiklah! Aku sangat lapar, Yin'er. Tidak enak makanan yang terlaku dingin." Jian Heng mengambilkan makanan untuk Fang Yin setelah pelayan mengambilkan untuknya juga.
"Jangan terlalu banyak, Kak Heng! Aku tidak biasa makan sebanyak itu." Fang Yin merasa jika Jian Heng mengambilkan makanan yang terlalu banyak untuknya.
Jian Heng tidak langsung menjawab dan hanya tersenyum geli. Rasanya sangat puas mengerjai Fang Yin. Sebenarnya bukan sekedar mengerjai dan memiliki sebuah tujuan mengapa dia melakukan ini.
"Kamu terlalu kurus, Yin'er. Jangan sampai kamu tumbang saat kita menikah nanti," ucap Jian Heng setengah berbisik.
Meskipun tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua tetapi dia sangat malu mengatakannya. Ungkapannya mengarah pada keinginan yang tidak biasa bagi seorang pria dewasa.
Pipi Fang Yin memerah. Dia tahu maksud dari kata-kata Jian Heng. Dia membayangkan sesuatu yang dewasa ketika Jian Heng mengatakan hal ini.
"Kak Heng, jangan membuatku merasa sangat malu." Fang Yin memakan makanannya sambil menunduk.
Jian Heng hanya tersenyum. Dia mengunyah makanannya sambil terus memperhatikan Fang Yin yang menunduk dan meliriknya beberapa kali. Hubungan yang mereka jalin begitu lama nyatanya masih membuat Fang Yin tersipu malu saat dia menatapnya tajam.
Selir Shi dan Selir Tang datang ke kamar Fang Yin untuk mengunjunginya. Mereka membawakannya buah segar yang telah dipotong-potong. Setelah ini mereka ingin berangkat ke aula bersama-sama.
Sebagai seorang ibu, Selir Shi sangat ingin melihat putrinya tampil dengan sempurna saat berada di depan umum. Meskipun dia tahu Fang Yin sudah dewasa dan bisa memutuskan untuk tampil seperti apa tetapi dia tetap ingin memberikan pendapatnya.
"Yin'er sangat tidak bisa menjaga penampilannya. Aku harap besan tidak terkejut jika melihatnya tampil apa adanya. Maklum, dia lebih lama hidup di luar istana ketimbang di dalam istana." Selir Shi berbicara kepada Selir Tang.
Tanpa berbicara seperti itu pun selir Tang tentunya sudah tahu semua tentang Fang Yin. Dahulu dia juga pernah tinggal di istana Benua Tengah dalam waktu yang cukup lama. Sedikit banyak dia mengerti kebiasaan sederhana dan tidak banyak bergaya yang dimiliki oleh Fang Yin.
"Saya telah mengenalnya begitu dekat, Besan. Cukup lama kami tinggal bersama di istana Kekaisaran Benua Tengah. Aku sangat menyukainya tanpa mempedulikan penampilannya. Sungguh Yin'er adalah pribadi yang sangat menarik dan dicintai oleh semua orang."
"Terimakasih," ucap Selir Shi merasa senang atas pujian dari Selir Tang untuk Fang Yin.
Mereka menghentikan obrolannya karena telah memasuki halaman istana Fang Yin. Selir Shi merasa heran melihat pintu kamar Fang Yin yang terbuka. Tidak biasanya dia membiarkan pintu ruangan pribadinya terbuka.
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya disimpan untuk dirinya sendiri. Mungkin Fang Yin memiliki alasan untuk ini atau mungkin dia sedang menerima tamu yang datang menemuinya. Namun, Selir Shi kembali berpikir tentang siapakah tamu yang berani mengganggunya sepagi ini.
Selir Shi dan Selir Tang saling berpandangan ketika mendengar sayup-sayup suara Fang Yin sedang bercanda dengan seorang pria. Mereka tidak yakin dengan pendengaran mereka dan berjalan dengan cepat untuk melihat apa yang dilakukan oleh Fang Yin.
Selir Tang langsung menyelonong masuk ke dalam kamar Fang Yin. Ingin rasanya dia marah dan menjewer telinga putranya yang sangat nakal. Sejak kecil dia begitu senang mempermainkan orang-orang yang ada disekitarnya.
"Heng'er! Lagi-lagi kamu membuat ibu khawatir. Sejak kapan kamu sampai di sini? Bisa-bisanya kamu, ya!" Selir Tang berkacak pinggang sambil terus mengomel pada Jian Heng.
Keberadaan ibunya di sana mengejutkan bagi Jian Heng. Dia hanya bisa meringis tak habis pikir dengan semua yang terjadi. Kedatangan orang tuanya dia perkiraan masih sampai di sana hari ini.
"Aku pikir ibu belum berangkat kemari. Mana saya tahu jika ibu sudah sampai lebih dulu." Jian Heng bersikap manis agar ibunya tidak marah lagi padanya.
"Kamu kemana saja? Jarak negara ini dan negara kita tidak terlalu jauh. Jangan membodohi ibu dengan kata-katamu itu, Heng'er. Ibu tahu jika kamu terlalu santai saat dalam perjalanan tetapi ibu tidak suka kamu melakukan ini lagi." Sorot mata Selir Tang terlihat mendung dengan air mata yang hampir jatuh. Jika sudah begini hanya permintaan maaf yang bisa menenangkannya.
Jian Heng beranjak lalu memeluk ibunya. Meskipun kesalahan ini tidak disengaja dirinya tetap harus meminta maaf. Amarah ibunya adalah perwujudan dari rasa sayang dan kekhawatirannya.
"Maafkan aku, Ibu. Aku tidak melakukan kesalahan ini dengan sengaja. Segala sesuatu yang terjadi karena aku terlalu bersantai saja. Ini adalah perjalanan pertamaku dengan membawa pengawal. Aku takut mereka kelelahan jadi aku membiarkan mereka istirahat setiap kali merasa lelah. Jika aku sendirian saja mungkin aku bisa sampai dalam waktu sehari saja," jelas Jian Heng.
Dia tidak mengatakan jika Qin Meng An menyerangnya di dalam perjalanan dan menyusup ke dalam istana. Semua itu tidak penting karena dia telah berhasil mengatasinya.
"Baiklah! Ibu percaya padamu. Seharusnya hari itu kamu lebih sabar dan berangkat bersama kami saja agar kita sampai di waktu yang sama."
Jian Heng melepaskan pelukannya lalu membawa Selir Tang untuk duduk di sisi Selir Shi. Dia sendiri bergeser menuju ke samping Fang Yin dan membuat mereka duduk saling berhadapan.
"Kita tidak bisa terus di sini. Sebaiknya kita pergi ke ruang pertemuan sekarang. Seluruh keluarga kita pasti sedang menunggu di sana." Selir Shi mengingat pada mereka.
"Tunggu sebentar, Ibu. Aku ingin mengatakan satu hal. Bolehkah pernikahan antara kami dipercepat saja. Sungguh aku tidak bisa lagi menahan diri lebih lama." Jian Heng mengatakan keinginannya.
Keterusterangan yang diungkapkannya membuat Selir Tang dan Selir Shi ingin tertawa tetapi mereka tahan. Melihat ekspresi wajah Jian Heng yang malu-malu membuat mereka tidak tega. Mereka bisa memaklumi apa yang dirasakan oleh Jian Heng mengingat kebersamaannya dengan Fang Yin yang sudah cukup lama.
"Jangan pernah berbuat macam-macam sebelum kalian menikah, Heng'er. Bersabarlah sedikit sebentar lagi kalian akan segera bersatu." Selir Tang melirik ke arah Jian Heng dan Fang Yin bergantian.
"Tentu saja, Ibu. Mana berani aku begitu. Bisa-bisa Yin'er membunuhku jika aku macam-macam padanya. Saat dia lengah pun aku tidak berani menyentuhnya."
Kata-kata Jian Heng membuat Fang Yin tersipu. Dia merasa menjadi wanita paling beruntung karena menemukan pria setulus Jian Heng.
'Di duniaku sebagai Agata aku tidak bisa memiliki Zidane. Rupanya Zidane yang lain menungguku di tempat yang lain. Aku merasa beruntung karena mendapatkan cinta tanpa melukai perasaan orang lain. Aku tidak melihat perbedaan antara Zidane dan Kak Heng. Sepertinya mereka adalah orang yang sama yang hidup di jaman yang berbeda.' Fang Yin menatap Jian Heng penuh perasaan.
Melihat muda mudi yang sedang kasmaran membuat Selir Shi dan Selir Tang seperti makhluk tak kasat mata di sana. Mereka tidak menyalahkan keduanya. Hanya saja waktu berlalu begitu cepat dan tentunya mereka sudah ditunggu oleh anggota keluarga yang lain.
"Yin'er, kita harus segera pergi ke ruang pertemuan. Apakah kamu sudah siap?" tanya Selir Shi.
Fang Yin yang semula sedang melamun sambil memandangi Jian Heng tersentak saat ibunya memanggil. Dia tampak gugup dan berusaha untuk bersikap sewajarnya.
"Maaf aku sedang melamun. Tadi ibu bicara apa?" tanya Fang Yin dengan malu-malu.
"Kita harus segera pergi ke ruang pertemuan, Yin'er. Semua orang sudah menunggu kita di sana."
Fang Yin mengangguk.
Mereka berempat berangkat bersama-sama menuju ke ruang pertemuan. Kehadiran Jian Heng membuat para pengawal sedikit heran pasalnya semalam dia tidak tampak dalam perjamuan. Kedua orangtuanya juga berpikir jika dia terlambat datang dan mungkin baru akan sampai hari ini.
Mo Bing terlihat sedang mengobrol bersama pengawal. Entah apa yang sedang mereka obrolkan dengan serius sampai-sampai mereka tidak melihat kedatangan Fang Yin dan rombongan yang melintas di dekatnya.
"Mo Bing, apa yang kamu lakukan di sini? Ikutlah bersamaku!" ajak Jian Heng.
Mo Bing berbalik dan terkejut dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba. Dia baru menyadari kedatangan mereka sehingga menganggap kemunculannya tiba-tiba.
__ADS_1
"Mo Bing memberi hormat! Ampun Yang Mulia atas ketidaksopanan saya." Mo Bing berlutut di hadapan mereka.
"Tidak masalah. Bangunlah!" Fang Yin memaklumi apa yang terjadi.
"Aps yang kamu lakukan di sini, Mo Bing?" tanya Jian Heng.
Fang Yin dan yang lainnya baru tahu jika Jian Heng memiliki sahabat bernama Mo Bing. Mereka tidak heran hanya saja tidak mengenalnya sebelum ini.
"Saya sedang mengobrol bersama prajurit. Mungkin saja di sini masih menerima pendaftaran prajurit baru. Saya ingin mendaftar. Maaf bukannya saya tidak setia dengan Benua Tengah, saya hanya ingin mengikuti Anda Yang Mulia."
Fang Yin melihat kejujuran dalam ucapan Mo Bing. Sepertinya dirinya memang ingin mencari pekerjaan.
"Jika kamu memiliki kemampuan, kamu bisa mencari Huan Ran. Dia yang akan memberimu pekerjaan sesuai bidangmu. Katakan saja kamu datang atas perintahku," ucap Fang Yin.
Mata Mo Bing berbinar mendengar jawaban Fang Yin. Dia tidak menyangka jika pertemuannya dengan Jian Heng akan membawanya hingga ke tempat ini dan menuntunnya untuk bekerja sebagai abdi negara.
"Terimakasih, Yang Mulia. Saya akan mengabdikan hidup saya untuk negara ini." Mo Bing memberi hormat pada Fang Yin.
"Heh! Kamu tidak sedang ingin bermain-main, bukan? Aku akan memenggal kepalamu jika menjadikan sebuah pekerjaan sebagai bahan lelucon." Jian Heng ingin tahu keseriusan Mo Bing.
"Mana saya berani, Pangeran. Sudah lama aku ingin bekerja dan menikah. Setidaknya walaupun aku tidak tampan dengan uang aku bisa memikat mereka." Mo Bing berbicara dengan wajah memelas. Namun, bukan rasa iba yang dia dapat. Semua orang tertawa karena pembawaannya yang mampu membuat mereka merasa lucu.
"Baiklah! Semoga kamu mendapatkan jodoh yang kamu impikan di kemudian hari. Temuilah orang yang dikatakan oleh Yin'er." Jian Heng tidak lagi memprotes ulah Mo Bing.
Setelah mengucapkan terimakasih dan memberi hormat, Mo Bing pergi menemui Huan Ran dengan di antar oleh seorang pengawal sedangkan Fang Yin dan yang lainnya melanjutkan perjalanan menuju ke ruang pertemuan.
Kemunculan Jian Heng di antara Fang Yin dan yang lainnya membuat semua orang terkejut. Berita kedatangannya tidak terdengar tetapi dia tiba-tiba ada di sini.
Kaisar Xi beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan mereka. Tidak ada gunanya memarahi Jian Heng Karen sesuatu yang terjadi tidak bisa diperkirakan. Di dalam sebuah perjalanan tentu ada kendala yang bisa menimpa siapa saja.
Di dalam ruangan itu, Fang Yin masih menduduki tempat tertinggi. Semua orang memberinya penghormatan meskipun hingga saat ini dia masih menolak gelar sebagai Kaisar Benua Timur.
Di dalam pertemuannya kali ini, keluarga Kaisar Xi datang untuk memastikan hari pernikahan antara Jian Heng dan Fang Yin. Kedua keluarga telah sepakat dan menyerahkan segala keputusan kepada calon mempelai.
"Bagaimana, Yang Mulia? Apakah Anda memiliki usulan untuk hari pelaksanaan upacara pernikahan?" tanya Guan Xing selaku penasehat.
"Aku ikut bagaimana Pangeran Ketiga memutuskan." Fang Yin menyerahkan urusan ini pada Jian Heng.
"Bagaimana, Yang Mulia?" tanya Guan Xing sambil menatap Jian Heng penuh penghormatan.
"Bagaimana jika dilaksanakan seminggu lagi? Aku pikir segala persiapan bisa dilakukan dalam waktu ini. Kita hanya perlu mengundang sedikit orang saja. Mengenai perayaan pesta kita bisa melakukannya di waktu lain."
Penjelasan Jian Heng cukup masuk akal. Mereka sependapat dengan usulannya. Hari itu diputuskan bahwa upacara pernikahan Jian Heng dan Fang Yin akan dilaksanakan satu minggu lagi.
Setelah para pembesar istana dan anggota pemerintahan meninggalkan ruangan, kedua keluarga saling berembuk untuk merancang acara yang akan dihelat sebentar lagi. Mereka membahas hal-hal mendetail mengenai pakaian dan segala sesuatu yang akan mereka gunakan di hari spesial itu.
Fang Yin tidak memiliki selera yang bagus untuk memilih pakaian dan yang lainnya. Dia menyerahkan semua urusan kepada ibu dan keluarganya.
***
Kaisar Xi berjalan mendekati Jian Heng yang sedang duduk bersantai di dekat taman. Melihat putranya begitu bahagia hatinya merasa tenang. Selama ini dia menganggap putra ketiganya sebagai anak nakal yang susah diatur. Pada akhirnya orang yang dianggap sebagai orang yang kekanak-kanakan malah menjadi orang yang dewasa, penuh perhitungan, dan melampaui kedua kakaknya.
"Aku ingin berbicara padamu, Heng'er. Sebagai seorang ayah aku memiliki kewajiban untuk memberimu nasihat meskipun kamu tidak membutuhkannya." Kaisar Xi berbicara dengan lembut. Jauh berbeda dengan sifatnya yang selalu tegas dan penuh wibawa.
"Aku akan mendengarkanmu, Ayah. Mungkin sebelumnya hubungan kita kurang harmonis karena kita memiliki pandangan hidup yang berbeda tetapi Anda tetaplah seorang ayah yang selalu aku hormati. Tanpa ayah sadari aku selalu meniru banyak hal darimu."
Kaisar Xi tersenyum. Jian Heng memang selalu membuatnya marah, kesal dan beberapa kali menghukumnya. Namun, di hati kecilnya terselip rasa bangga mengingat prestasi yang dimiliki oleh putranya yang berhasil mencapai puncak sebagai seorang praktisi bela diri.
"Kamu sudah banyak berpengalaman dan mengerti banyak hal. Ayah hanya ingin kamu bersikap baik sebagai seorang suami. Jika suatu saat kamu memiliki lebih dari seorang istri maka kamu harus berlaku adil. Jangan sampai sebuah kecemburuan menimbulkan perpecahan yang berujung petaka."
"Tidak akan ada kecemburuan, Ayah. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menikahi Yin'er saja. Hatiku seperti tertutup untuk memikirkan wanita lain." Jian Heng mengatakan hal yang sebenarnya.
"Itu akan lebih baik. Jika dari awal kamu bersikap tegas. Aku yakin orang yang akan merasa segan untuk menjodohkanmu dengan wanita lain. Sebagai seorang pria, ayah salut padamu. Kamu lebih bisa menjaga diri dan perasaanmu untuk seorang wanita. Perjuangkan ini, ayah akan selalu mendukungmu." Kaisar Xi menepuk bahu Jian Heng lembut.
"Apakah kedua kakakku juga akan datang di saat upacara pernikahaku? Mereka pasti akan menghajarku jika ayah lupa tidak meninggalkan pesan sebelum berangkat kemari." Jian Heng menatap Kaisar Xi penuh harap.
Kaisar Xi sedikit menggoda Jian Heng dengan tidak segera menjawabnya. Melihat wajah cemas Jian Heng adalah sebuah hiburan tersendiri untuknya. Sangat jarang ada kesempatan untuk mengerjai putra nakalnya ini.
"Ayah lupa ...." Kaisar Xi menggantung kalimatnya.
"Ayah lupa mengatakannya padamu. Tentu saja ayah sudah memikirkan ini, Bocah Nakal!" Kaisar Xi memukul bahu Jian Heng pelan.
"Aku bukan bocah lagi, Ayah. Sebentar lagi aku akan menikah."
"Kamu tetaplah bocah. Setiap kali mengingat tingkahmu ayah selalu merasa gemas. Hanya kamu yang berani mempermainkan emosi ayah."
"Mana ada. Ayah saja yang mudah marah. Aku hanya mengikuti kata hatiku dan menikmati hidup dengan caraku."
Keduanya terus berdebat dan saling mengolok. Namun, mereka tidak bertengkar. Keduanya menikmati momen kebersamaan mereka yang tidak lama dengan saling mengisi dan memahami satu sama lain.
Di kamar Fang Yin,
Fang Yin duduk melamun. Keluarganya belum tahu tentang apa yang dialaminya di dimensi naga. Kesibukannya di dalam mengatasi pekerjaan yang menumpuk setelah ditinggalkannya membuatnya lupa untuk bercerita kepada mereka.
Ayahnya masih memiliki anak yang lain dari istri yang tidak diakui secara sah. Meskipun begitu dia sangat yakin jika Cau Ahlin memang kakak kandungnya. Untuk itu, dia tetap akan mengundangnya untuk hadir di dalam pernikahannya.
"Memiliki banyak istri sungguh sangat rumit. Untung saja Kak Heng tidak begitu. Mungkin dia takut sifat tempramenku akan membuatnya menderita jika dia menyukai wanita lain." Fang Yin tersenyum sendiri saat membayangkan hal konyol yang mungkin dilakukannya jika Jian Heng memiliki istri lebih dari satu.
Fang Yin bingung dari mana dia akan memulai cerita tentang Cau Ahlin dan Gong Kim. Untuk membawa keluarganya pergi ke dimensi naga juga merupakan hal yang tidak mungkin. Satu-satunya orang yang bisa dia percaya hanyalah Jian Heng.
'Aku harus mencari Kak Heng dan menceritakan semuanya. Aku juga ingin meminta pendapatnya bagaimana aku menceritakan masalah ini pada keluargaku. Apapun pendapat mereka tentang ayah, aku tidak peduli. Di masa mendatang, Cau Ahlin akan mendapatkan haknya sebagai putra dari Kaisar Gu.' Fang Yin terus berpikir sebelum bertindak.
Tidak ingin merasa pusing karena memikirkan masalah ini seorang diri, Fang Yin memilih untuk pergi menemui Jian Heng. Dari depan pintunya dia bisa melihat jika tempat tinggal Jian Heng sedang kosong.
Bertanya pada pengawal pun rasanya akan percuma. Mereka tidak bergerak dari tempatnya selama bekerja dan tidak akan tahu ke mana perginya Jian Heng. Fang Yin memilih untuk pergi ke luar dan mencarinya sendiri.
Istananya sangat luas. Di siang hari udara sangat panas, dia berpikir untuk mencari Jian Heng di tempat yang sejuk dan nyaman.
Di kejauhan Fang Yin menemukan Jian Heng sedang mengobrol bersama Kaisar Xi.
'Aku dan Kaisar Xi cukup dekat. Sepertinya tidak masalah jika aku menceritakan masalah Cau Ahlin di depan ayah mertua. Mungkin dia bisa memberiku solusi untuk ini. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana mengatasi masalah ini.'
Fang Yin berjalan menghampiri calon suami dan ayah mertua. Para pelayan membungkuk dan memberinya jalan ketika berpapasan dengannya.
Dari kejauhan Fang Yin bisa melihat keakraban ayah dan anak itu. Dia merasa senang mengingat saat pertama kali mereka bertemu keduanya sempat bersitegang. Kini semuanya telah berlalu dan tidak ada lagi sesuatu ganjalan yang membuat mereka memiliki penghalang untuk berdamai.
"Yin'er! Kemarilah!" panggil Jian Heng saat melihat Fang Yin berdiri mematung sambil menatap dirinya dan ayahnya.
****
Bersambung ....
__ADS_1