
Dari Kitab Sembilan Naga Bintang delapan, Fang Yin mengetahui cara untuk membuka Kitab Sembilan Naga bintang sembilan. Sepintas sampul dan bentuknya memang sama jika dilihat dari depan. Namun, ada relief dan sebuah lubang berbentuk lonjong di tengahnya.
Kitab itu akan terbuka jika Fang Yin menemukan benda berbentuk lonjong itu dan memasukkannya ke sana. Menurut Kitab Sembilan Naga bintang delapan, benda itu adalah sebuah artefak yang dimiliki oleh ras manusia berkulit hijau.
Selama berkeliling, Fang Yin tidak pernah bertemu atau mendengar cerita tentang mereka. Di dalam kitab itu hanya dituliskan jika mereka hidup dan tinggal menjauh dari peradaban manusia. Untuk keterangan yang lainnya, Fang Yin tidak memiliki pengetahuan tentang itu.
Fang Yin, Yu Ruo dan Selir Shi sampai di hadapan para pria.
"Kamu sudah selesai, Yin'er?" tanya Shi Jun Hui.
Shi Han Wu dan Jian Heng ikut terkejut melihat kedatangan Fang Yin. Sebelumnya mereka asyik mengobrol sendiri dan tidak tahu jika pembuatan pil itu telah berakhir.
"Sudah, Kek. Sayangnya setelah ini aku belum bisa membuka Kitab Sembilan Naga bintang sembilan," ucap Fang Yin dengan nada kecewa.
"Apakah ada sesuatu yang menghalangimu untuk mempelajarinya?"
Fang Yin pun menceritakan kesulitannya pada kedua kakek dan Jian Heng. Mereka terlihat bingung mendengar ciri-ciri orang yang dituliskan sebagai manusia berkulit hijau
Shi Han Wu yang terbiasa berpetualang pun tidak pernah mendengar tentang mereka. Sepertinya manusia berkulit hijau hanyalah sebuah sebutan dan bukan hal yang sebenarnya.
Malam itu mereka tidak melanjutkan obrolan mereka dan pergi ke kamar mereka masing-masing kecuali Jian Heng dan Fang Yin. Keduanya masih berada di luar rumah untuk menikmati udara malam.
Suasana di desa itu telah senyap. Semua orang telah larut dalam mimpi mereka karena malam telah larut.
Setelah salju-salju yang menyelimuti desa menghilang, bintang di langit bisa terlihat dengan jelas. Jian Heng tersenyum melihat sebuah bintang yang selalu mengingatkannya pada Fang Yin.
Setiap kali Jian Heng merindukannya ketika berjauhan, maka dia akan terus memandangi bintang itu hingga berjam-jam. Dengan begitu perasaannya menjadi lebih tenang meskipun rasa kerinduannya tidak juga menghilang.
Fang Yin melirik Jian Heng yang asyik dengan lamunannya. Rasa penasaran timbul di hatinya dan membuatnya ingin bertanya. Semakin menahannya, hatinya semakin merasa kesal.
"Kakak Heng!" panggil Fang Yin.
Jian Heng tampak terkejut. Dia segera berbalik menghadap ke arah Fang Yin dengan perasaan yang malu. Tubuhnya bergerak-gerak karena salah tingkah.
"Aku ... aku sangat menyukai bintang itu. Kamu ingat sewaktu kita tinggal di Sekte Sembilan Bintang kita pernah melihatnya bersama-sama."
Fang Yin mengingat momen itu. Dia pun tersenyum. Memori lama terputar kembali di dalam ingatannya.
Keduanya mengakhiri keromantisan mereka dan kembali ke dalam rumah karena malam telah larut. Meskipun tidak ada yang mengusik apa yang mereka lakukan, tetapi mereka cukup tahu diri. Untuk saat ini mereka masih menjaga batasan sebagai sepasang kekasih.
Tangan Jian Heng memegang erat tangan Fang Yin. Mereka melangkah perlahan menuju rumah. Namun, rasanya langkah itu begitu cepat dan membuat keduanya segera sampai.
__ADS_1
Jian Heng melepaskan tangannya lalu mengantar Fang Yin hingga di depan kamarnya dan ibunya.
"Selamat malam, Yin'er," ucap Jian Heng ketika Fang Yin bersiap untuk menutup pintu kamarnya.
"Selamat malam, Kak Heng."
Malam itu, mereka merasa bahagia dan melihat semua hal di sekelilingnya menjadi indah.
Selir Shi belum tidur ketika Fang Yin tiba. Dia sedang melakukan kultivasi di atas tempat tidur yang biasa mereka gunakan.
Di ujung kamarnya ada sebuah meja. Di atasnya terdapat buku-buku dan minuman serta makanan ringan. Fang Yin berpikir untuk menunggu ibunya di sana.
Dia menuangkan segelas air dan meminumnya. Buku-buku di atas meja itu begitu menarik perhatiannya. Dia bisa menghilangkan kebosanannya dengan membaca buku-buku itu selama menunggu.
Buku itu berisi tulisan tangan ibunya yang menuliskan tentang resep-resep obat yang biasa dia gunakan. Fang Yin mendapatkan banyak pengetahuan dari buku itu.
Cukup lama dia menunggu, tetapi ibunya tidak kunjung selesai. Rasa kantuk tak tertahankan membuat Fang Yin tertidur, kepalanya berada di atas meja dengan tubuh dalam posisi duduk.
Saat terlelap, Fang Yin masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Dia merasa sedang berjalan-jalan di wilayah Gunung Perak dan bertemu dengan penduduk yang berada di sana.
Tidak ada yang aneh dengan mimpinya di mana dia melihat para penduduk melakukan aktifitas seperti biasanya. Mereka terlihat sibuk dan tidak mempedulikan kehadirannya. Mereka memang saling bertegur sapa tetapi hanya sepintas lalu.
"Nona Yin!" seseorang memanggil Fang Yin dari arah belakang. Dia membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa pemilik dari suara itu.
"Kakek Lesung pipi. Bagaimana keadaanmu?" tanya Fang Yin sambil memperhatikan pria yang masih terlihat muda di usianya yang telah mencapai ratusan tahun itu.
"Seperti yang kamu lihat. Apa yang kamu lakukan di sini? Wajahmu terlihat seperti sedang menyimpan beban."
Fang Yin meraba wajahnya dengan konyolnya lalu membetulkan cadarnya. Dia merasa tidak ada yang aneh dengan wajah dan penampilannya. Menurutnya beban yang dimaksud olah Guan Xing adalah ketidakceriaannya.
"Aku biasa saja, Kek. Tidak ada beban seperti yang kakek pikirkan."
Guan Xing tersenyum layaknya seorang pakar ekspresi yang mencoba dibohongi. Di matanya, Fang Yin adalah obyeknya.
"Aku bisa mendeteksi perasaan seseorang dengan melihat sorot matanya. Penglihatanku akan hilang jika kamu menutup matamu."
Fang Yin mencoba untuk menutup matanya tetapi pikirannya tidak kosong. Terlintas dalam pikirannya di mana dia merasa kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan manusia hijau. Alhasil, ekspresi wajahnya malah semakin memburuk setelahnya dan semakin menunjukkan jika dia memiliki beban. Namun, dia tidak ingin mengatakan masalahnya pada Guan Xing.
"Tidak masalah jika kamu tidak ingin jujur. Kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak bisa membaca pikiran atau isi hati seseorang. Teruskan perjuanganmu, Nona Yin. Aku akan berdiri di belakangmu untuk membantu."
"Terimakasih, Kakek Lesung pipi."
__ADS_1
Langit di dunia mimpi Fang Yin tiba-tiba berubah menjadi gelap. Angin yang semula tenang bertiup sangat kencang.
"Ada badai! Ada badai!" teriak penduduk Gunung Perak yang berlarian menuju ke tempat tinggal mereka masing-masing.
Semua orang pergi mencari tempat berlindung dan berkumpul bersama keluarganya. Hanya tinggal Fang Yin dan Guan Xing yang tetap bertahan di luar. Keduanya merasa keadaan alam yang tiba-tiba berubah bukanlah pertanda baik.
Fang Yin merasakan kekuatan yang besar pada jarak yang cukup jauh. Perubahan cuaca yang terjadi hanyalah efek dari kekuatannya saja.
"Ada sebuah kekuatan yang sangat besar bangkit dari arah utara," ucap Fang Yin dengan suara lirih.
Meskipun sangat pelan suara itu bisa di dengar dengan jelas oleh Guan Xing. Wajahnya terlihat tegang saat mendengar arah darimana kekuatan besar itu berasal. Keluarganya masih tinggal di wilayah Daratan Utara yang penuh misteri. Tujuannya menyerang dan menguasai Gunung Perak adalah untuk membawa mereka kembali ke tempat ini dengan selamat.
"Keluargaku ada di sana. Daratan Utara bukan tempat yang aman, ada banyak makam kuno yang ada di sana dan beberapa misteri yang belum terpecahkan."
Fang Yin menatap Guan Xing dalam. Berharap salah satu misteri itu adalah misteri tentang manusia hijau.
"Apakah ada misteri tentang manusia hijau di sana?" tanya Fang Yin penuh harap.
Guan Xing terlihat beku. Wajahnya menjadi pucat seakan melihat sesuatu yang menakutkan di hadapannya. Di Daratan Utara sangat tabu untuk menggunakan pakaian atau atribut berwarna hijau. Ada sebuah suku yang sangat menyukai warna itu. Orang yang menggunakan atribut warna hijau tiba-tiba akan menghilang secara misterius.
"Darimana kamu tahu? Orang-orang merasa tabu menyebutkan nama mereka, bahkan tidak ada yang berani untuk menggunakan atribut warna hijau di daratan utara."
'Tidak salah lagi. Aku harus segera ke sana,' gumam Fang Yin dalam hati lalu segera melompat ke udara.
"Tunggu, Nona Yin!" Guan Xing menyusulnya terbang.
Keadaan tiba-tiba berubah. Alam disekelilingnya menjadi gelap dan tubuhnya berguncang. Sayup-sayup dia mendengar suara seorang wanita memanggil namanya. Suara itu semakin jelas dan begitu familiar di telinganya.
"Yin'er! Yin'er! Bangunlah, Sayang! Kamu tidak bisa tidur seperti ini," panggil Selir Shi.
Fang Yin membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat ketika terbangun saat sedang nyenyak tertidur. Mulutnya bergerak-gerak menahan kantuk dengan wajah yang masih setengah sadar.
"Sudah pagi kah?" tanya Fang Yin sambil menggaruk-garuk pipinya. Pemandangan yang sangat lucu bagi Selir Shi.
"Belum. Tadi kamu tertidur di atas meja. Ayu kita tidur di tempat tidur!" Selir Shi membantu putrinya berdiri dan berjalan ke tempat tidur mereka.
Malam baru mendekati pertengahan sehingga masih cukup banyak waktu untuk mereka kembali beristirahat. Fang Yin tidak menceritakan mimpinya barusan kepada ibunya dan memilih untuk melanjutkan tidurnya. Dia berharap setelah ini mimpinya bisa kembali berlanjut dan mendapatkan jawaban yang pasti dari semua pertanyaannya.
****
Bersambung ....
__ADS_1