Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 360. Sedarah


__ADS_3

Pria yang sangat mirip dengan Jian Heng itu menoleh ke belakang. Fang Yin menahan nafasnya untuk menyambut beberapa kemungkinan tentang siapa pria itu.


Terlepas orang itu Jian Heng atau bukan, hatinya terasa sangat kacau dengan kehadirannya.


'Dari hawa tubuhnya dia bukanlah Kak Heng tetapi pakaiannya membuat aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku melihat Kak Heng ada di mana-mana.'


"Selamat malam, Yang Mulia!" sapa pria itu memberi hormat.


"Se-selamat malam, Huan Ran," jawab Fang Yin gugup.


Huan Ran mengenakan pakaian yang dihadiahkan oleh Jian Heng saat mereka tinggal di Gunung Perak. Mereka berteman akrab dan sering berlatih bersama selama tinggal di sana.


"Maaf, mengganggu Anda malam-malam. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan untuk Anda." Tangan Huan Ran mengeluarkan beberapa buku dan gulungan berisi rekapitulasi pengeluaran dan perencanaan dalam pemerintahan.


Fang Yin menunjuknya menjadi perdana menteri. Meskipun Huan Ran awalnya menolak tetapi ketika melihat Fang Yin begitu kesulitan menangani pemerintahan seorang diri, dia akhirnya menerimanya.


Dengan pekerjaannya yang sekarang, Huan Ran berharap dia bisa sejajar dan pantas untuk Da Xia. Kedepannya, saat pemerintahan Fang Yin sudah stabil, dia ingin menikahinya dan membawanya tinggal di istana.


"Aku akan memeriksanya malam ini juga. Kamu akan tahu hasilnya besok."


Huan Ran mengangguk lalu meminta diri untuk kembali ke kediamannya. Malam telah larut dia tidak ingin mengganggu Fang Yin lagi. Dia masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini.


Setelah kepergian Huan Ran, Fang Yin kembali sendiri. Banyak hal yang harus diselesaikannya mengingat pembentukan pemerintahan yang baru belum sepenuhnya selesai.


Untuk urusan penyeleksian prajurit dan pengawal dia mempercayakannya pada kedua kakek dan neneknya. Pemilihan raja-raja kecil belum dilakukan mengingat semua pemerintahan pusat belum terbentuk secara sempurna.


Seluruh negara bagian tetap mendapatkan perhatian dari Fang Yin meskipun belum memiliki pemimpin yang sah. Dia meminta Guan Xing, Acong dan Tian Feng untuk pergi berkeliling dan memastikan keamanan penduduk.


Mereka sangat senang dan antusias menerima pemimpin baru yang berkuasa. Selama ini pemerintah seakan mencekik mereka dengan pajak dan upeti yang tinggi untuk kerajaan. Ke depannya, Fang Yin akan mengawasi aktifitas pemerintahan hingga ke wilayah yang paling bawah.


Mengingat banyaknya potensi yang belum digali di daerah-daerah, Fang Yin membuat peta lokasi dan menandai lokasi-lokasi tertentu yang menjadi targetnya. Dengan begitu dia berharap bisa mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang ada di seluruh wilayah kekuasaan Benua Timur.


"Rasanya kepalaku sakit sekali. Ternyata menjadi seorang kepala pemerintahan tidaklah mudah. Setelah menikah aku ingin menyerahkan semua tugas ini pada Kak Heng saja." Fang Yin meletakkan penanya setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Tubuhnya terasa kaku. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas lalu menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk melakukan perenggangan. Setelah merasa lebih baik Fang Yin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Malam sudah sangat larut sehingga tidak butuh waktu lama baginya untuk berpindah ke alam mimpi. Di alam bawah sadarnya tubuh Fang Yin seperti terjebak di dalam sebuah ruang yang gelap.


Matanya tidak bisa menjangkau apapun. Kakinya berjalan perlahan menapaki permukaan tanah yang terjal dan sedikit licin. Suara titik-titik air yang memantul membuatnya berpikir jika dirinya saat ini sedang berada di dalam goa.


Udara lembab terhirup dan tersimpan di dalam rongga paru-parunya. Kedua tangan Fang Yin mencoba menggapai dinding yang mungkin ada di sampingnya tetapi tidak menemukan sesuatu apapun.


'Jika aku tidak memiliki keberanian mungkin saat ini aku merasa sangat kacau.' Fang Yin mencoba untuk mengeluarkan Qi dari dalam tubuhnya tetapi tidak berhasil. Dia mengulanginya hingga beberapa kali tetapi hasilnya tetap sama.


'Sial! Tempat apa ini? Mengapa aku tidak bisa menggunakan kekuatanku di sini?' Fang Yin terus mencobanya meskipun hasilnya hanyalah sebuah kesia-siaan.


Terpaksa Fang Yin melanjutkan langkah untuk menemukan jalan keluar. Sesekali dia berhenti untuk merasakan udara yang masuk ke tempat ini untuk menentukan arah masuknya. Dengan begitu dia bisa menemukan celah ataupun mulut goa.


Langkah kaki Fang Yin melambat saat merasakan hawa kehidupan di sekitarnya. Sepertinya dia semakin jauh terjebak ke kedalaman.


Untuk melindungi dirinya Fang Yin mencoba mengeluarkan pedang dari dalam cincin penyimpanannya. Pedang itu muncul di tangannya. Senyum tersungging di wajahnya, setidaknya ada harapan untuk bertahan dengan semua barang yang tersimpan di sana.


Hawa kehidupan semakin dekat seiring langkah Fang Yin yang semakin mendekatinya. Kewaspadaannya meningkat. Segala sesuatu bisa terjadi di luar rencananya.


Sepasang mata yang tampak begitu besar menyala di dalam kegelapan. Jaraknya kurang dari lima puluh langkah dari tempatnya berdiri sekarang.


Mata itu bergerak ke atas menandakan tubuhnya yang terbangun dari tidurnya. Aroma nafas memenuhi ruangan goa hingga sebuah bunga api menyala menerangi ruang gelap itu.


Tubuh Fang Yin bergetar ketika cahaya api itu membuat tubuhnya terlihat oleh sepasang mata milik naga yang terbangun. Sepertinya naga itu sangat marah dan merasa terusik dengan kehadirannya.


Terlambat untuk mundur dan tidak mungkin baginya untuk melangkah maju tanpa perhitungan. Hingga semburan api kembali keluar dari mulut naga, Fang Yin belum bisa menguasai keadaan di sekitarnya.


Tubuhnya melompat untuk menghindar dengan sisa kemampuan yang dimilikinya. Beruntung Fang Yin telah melewati banyak latihan fisik tanpa menggunakan Qi sehingga tubuhnya mampu menghindar dengan cepat dari semburan api.


Dengan cahaya dari api itu Fang Yin bisa melihat dengan jelas jalanan yang mungkin bisa membawanya keluar dari sana. Namun, naga itu tidak tinggal diam dan terus mengejarnya dengan penuh dendam.


Konsentrasi Fang Yin terpecah di mana dia harus menghindari semburan api dan mencari jalan keluar. Di balik kesulitan ini, cahaya api membantunya menemukan jalan yang membawanya keluar dari tempat yang gelap.


Secercah cahaya mulai terlihat di kejauhan. Kini Fang Yin semakin yakin dengan langkahnya dan bergerak dengan cepat menuju ujung goa. Meskipun dia tidak tahu seperti apa jalan di depannya tetapi dirinya tidak harus merasa terpanggang di dalam goa yang sempit.


Di luar dugaan, keadaan di luar lebih sulit ketimbang di dalam goa. Fang Yin harus dihadapkan pada kesulitan yang lebih menantang. Di sekelilingnya adalah jurang yang curam dengan bebatuan terjal. Jika tidak berhati-hati, maka dirinya akan tergelincir dan jatuh ke jurang yang tidak terlihat dasarnya saking terlalu dalam.


Bebatuan yang terjatuh tidak terdengar menyentuh dasar. Kabut putih menutupi dasar jurang menandakan dirinya kini berada dalam ketinggian.


'Aku merasa jika ini bukanlah dunia manusia. Mungkin saja aku sedang berada di dimensi lain.' Kedua tangan Fang Yin berpegangan kuat pada dinding tebing dengan salah satunya memegang pedang.


Naga yang mengejarnya berusaha keluar dari dalam goa dengan menggerakkan tubuhnya yang besar. Besar tubuhnya tidak dapat melewati mulut goa yang memiliki ukuran lebih kecil.


Sebelum naga itu bisa keluar, Fang Yin segera mengambil langkah untuk melarikan diri dari tempat itu. Dia tidak bisa tinggal diam mengingat saat ini dia tidak bisa menggunakan kekuatannya.

__ADS_1


Kondisi tebing yang tidak beraturan membuat Fang Yin harus bersusah payah bergerak meninggalkan tempat itu. Tangannya tergores oleh bebatuan yang runcing. Darah bercampur keringat menetes dari tubuhnya.


Puncak tebing sudah terlihat dan sedikit lagi bisa digapainya. Namun, tiba-tiba seseorang menginjak tangannya. Wajahnya sangat mirip dengan dirinya tetapi dia adalah seorang pria.


"Si-siapa kamu?" Fang Yin terkejut sekaligus merasa takut.


Kakinya berusaha menahan tubuhnya mengingat tangan yang menjadi tumpuan diinjak dengan kuat oleh orang itu.


"Hahaha! Tidak ada yang tahu siapa diriku karena ayahmu menelantarkan aku dan ibuku. Mungkin dia tidak pernah menganggap aku sebagai putranya."


Ucapan pria itu membuatnya terhenyak. Dia tidak menyangka jika dirinya masih memiliki seorang saudara lagi selain kedua kakaknya. Semua hal mengejutkan ini serasa seperti petir yang menyambar-nyambar di atas kepalanya.


"Jika kamu memang benar saudaraku seharusnya kamu bicara baik-baik padaku bukan malah menyerangku seperti ini. Apakah kamu akan merasa puas jika melihatku mati. Oh, iya, bagaimana mungkin seorang pengecut akan mengerti hal ini."


Fang Yin berbicara dengan setengah mengejek agar pria itu terpancing. Benar saja, pria itu melepaskan pijakan kakinya dan menarik tubuh Fang Yin ke atas tebing dengan energinya. Keduanya kini berdiri dengan saling berhadapan.


"Aku di mana sekarang?" tanya Fang Yin tanpa rasa takut.


Matanya terus mengamati penampilan pria yang memiliki penampilan yang sedikit berbeda dengan manusia pada umumnya. Di kepalanya terdapat tanduk kecil yang bercabang menyembul di kedua sisi kepalanya. Pupil matanya berwarna kekuningan dengan rambut yang berwarna hitam legam lurus panjang.


"Kamu berada di dalam dimensi alam bawah. Aku adalah keturunan langsung dari Kaisar Gu dari seorang ibu yang melahirkanku. Ibuku adalah binatang roh naga yang telah bertransformasi menjadi manusia."


Berita ini terdengar sangat mengejutkan bagi Fang Yin tetapi dia berusaha untuk bersikap tenang. Kebenaran dari berita ini masih diragukan karena di dalam silsilah keluarganya Kaisar Gu hanya memiliki empat orang istri yang diakui secara sah.


"Apakah kamu tahu jika ayahku telah meninggal sepuluh tahun yang lalu?" tanya Fang Yin.


Pria itu terperanjat mendengar ucapan Fang Yin. Mungkin dia berpikir jika saat ini Kaisar Gu masih hidup dan berkuasa di Kekaisaran Benua Timur.


"Ibuku telah menyegelku di tempat ini sehingga aku tidak bisa keluar dari sini. Aku tidak bisa memeriksa keadaan di dunia manusia. Selama hidupku, aku tinggal di dimensi ini bersama ribuan naga dan hidup di tengah-tengah mereka."


Keterkejutan Fang Yin belum menghilang tetapi dia mencoba untuk berdamai dengan kenyataan. Perlahan dia berjalan mendekati pria itu meskipun sikapnya masih terlihat begitu dingin padanya. Sorot matanya belum menyiratkan bahwa mereka telah berdamai.


"Bolehkah aku bertemu dengan ibumu?" tanya Fang Yin dengan suara yang lembut.


Pria itu menggeleng. Hatinya merasa buruk ketika mengingat ibunya. Sudah hampir satu tahun ibunya meninggal karena kehilangan seluruh kekuatannya. Seseorang dari alam bawah berhasil masuk ke dimensi ini dan mengacaukan wilayah ini. Demi menyelamatkan dimensi ini ibu dari pria itu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan musuh.


"Ibuku telah mati setahun yang lalu." Wajah pria itu terlihat murung.


Dia kemudian menceritakan secara sekilas tentang apa yang terjadi. Kejadian menyedihkan yang membuatnya terpuruk hingga dia berhasil menguasai ilmu terlarang yang membawa Fang Yin ke sana.


"Namaku Gu Fang Yin. Keluargaku biasa memanggilku Yin'er. Kamu juga bisa memanggilku seperti itu jika kamu mau." Fang Yin mencoba bersikap baik pada pria itu. Melihat wajahnya yang begitu sedih dengan sorot matanya yang sayu, dia mulai yakin jika apa yang diucapkannya tidak mengandung kebohongan.


Nama ini terdengar aneh bagi Fang Yin tetapi dia tidak berani berkomentar macam-macam. Suasana tegang baru saja mereda, dia tidak ingin menyinggung kakaknya itu dan membuatnnnnnya kembali tersulut dendam.


"Dari semua putra Kaisar Gu, akulah yang paling muda. Aku juga memiliki dua orang kakak laki-laki selain dirimu dan aku satu-satunya wanita."


Cau Ahlin merasa heran. Ilmu terlarang yang digunakannya seharusnya membawa serta dua saudaranya yang lain. Dia merasa ada yang salah karena hanya Fang Yin saja yang datang ke sana.


'Aku berpikir dengan menculik saudaraku ayah akan datang ke tempat ini untuk menjemput mereka. Ternyata ayah sudah mati juga. Lalu mengapa kedua saudara laki-lakiku tidak datang ke tempat ini? Apakah aku melakukan kesalahan saat menggunakan teknik terlarang itu?' Cau Ahlin bertanya-tanya dalam hati.


Seperti mengetahui apa yang ada di kepala Cau Ahlin, Fang Yin segera menceritakan pembantaian yang terjadi sepuluh tahun lalu. Segala hal buruk yang menimpanya diceritakan secara gamblang olehnya.


Fang Yin mengatakan jika dirinya juga mengalami penderitaan yang sama dengannya. Lebih dari sepuluh tahun dia berjuang untuk menjadi kuat demi mendapatkan kembali kekuasaan ayahnya.


Cau Ahlin ternganga mendengar cerita Fang Yin tetapi rasa sakit hati masih berkuasa. Selama lebih dari tiga puluh tahun dia hidup terkurung di dalam dimensi ini. Dia mengetahui cerita tentang dunia manusia dari binatang roh naga yang menyerap esensi energi dari alam manusia.


"Aku tidak peduli dengan perjuanganmu. Terserah dengan alam manusia dan Benua Timur-mu. Kamu tetap harus tinggal di sini dan tahu rasanya bagaimana tinggal di dimensi yang tertutup dari dunia luar."


Cau Ahlin berbalik memunggungi Fang Yin. Entah apa yang terlintas di pikirannya hingga dia ingin membawa serta Fang Yin tinggal di dimensi asing yang dipenuhi oleh binatang roh naga.


"Tunggu, Kakak! Aku baru saja memimpin Kekaisaran Benua Timur. Banyak hal yang sedang aku perbaiki dari pemerintahan yang carut marut sebelumnya. Kumohon ijinkan aku pulang." Fang Yin memohon pada Cau Ahlin.


Teknik rahasia yang digunakan oleh Cau Ahlin mempengaruhinya menjadi jahat. Dia menumpahkan darahnya untuk menarik orang yang sedarah dengannya. Kekuatan Fang Yin berada di dalam kekuasaannya.


Tanpa ijin darinya pun Fang Yin tidak akan bisa kembali ke alam manusia. Satu-satunya jalan yang bisa dilakukannya adalah membatalkan perjanjian darah yang telah dibuat oleh Cau Ahlin atau membunuhnya.


Cau Ahlin menghentikan langkahnya lalu kembali menatap Fang Yin dengan tubuh yang masih dalam posisi yang sama. Hanya kepalanya saja yang menoleh dan menatap Fang Yin dengan sebelah mata.


"Aku tidak peduli. Kamu harus tau seperti apa kehidupanku di dimensi ini. Selamanya kamu juga harus tinggal dan merasakan penderitaan yang aku mau tidak mau harus aku terima."


'Sepertinya keadaanku akan semakin sulit jika aku melawannya. Mungkin untuk sementara waktu aku harus bersabar. Semoga saja keadaan ini tidak akan berlangsung lama dan aku bisa kembali ke dunia manusia dengan segera.' Fang Yin berjalan mengikuti Cau Ahlin melewati puncak tebing dengan kedua sisi yang berbatasan langsung dengan jurang yang dalam.


Di hadapan mereka ada sebuah tangga berpagar ukiran batu menyerupai naga. Tangga itu menjulang ke atas dengan panjang yang tak terbatas. Beberapa bagian tertutup oleh awan putih yang membuatnya semakin samar.


Fang Yin merasa jika pemandangan ini adalah ilusi mata. Namun, Cau Ahlin terlihat sangat santai dan berjalan mendaki mengikuti tangga.


"Kak Lin, kita akan ke mana?" tanya Fang Yin merasa sudah sangat lelah karena mereka telah berjalan terlalu lama.


Cau Ahlin tersenyum jahat dengan samar. Dia memang sengaja membuat Fang Yin kelelahan agar rasa sakit hatinya sedikit terobati. Sudah sangat lama dia menantikan saat-saat seperti ini.

__ADS_1


Sesekali terlihat naga terbang melintas di sekitar mereka dengan gerakan berkelebat. Mereka terlihat mengormati Cau Ahlin dan tidak berani mengganggunya. Pemandangan ini membuat Fang Yin begitu takjub. Dia merasa sedang melihat perayaan festival naga.


"Diamlah! Semakin kamu banyak berbicara maka kita akan semakin lama sampai di kediamanku."


Ucapan Cau Ahlin membuat Fang Yin mengerutkan keningnya. Dia mulai merasa kakaknya mengerjai dirinya.


'Oh, rupanya kamu mengerjai diriku. Sepertinya aku harus mengerjaimu balik. Aku ingin tahu apakah sikapmu benar-benar buruk dan tidak mempedulikan aku. Aku ingin tahu apakah ikatan darah di antara kita membuatmu memperhatikanku.' Fang Yin tersenyum jahil.


Kakinya berpura-pura tersandung dan terhuyung hampir jatuh. Fang Yin berusaha menahan kesenangannya dengan bertumpu pada ujung kaki yang tersisa tetapi Cau Ahlin tidak menyadarinya. Sia-sia sudah kepura-puraan yang dilakukannya.


Tubuh Fang Yin benar-benar jatuh dan membuatnya berteriak. Perasaan kesal menghilangkan konsentrasinya hingga dia tidak mampu bertahan di atas tangga.


Cau Ahlin melompat menyusul Fang Yin karena dia tahu jika adiknya itu dalam bahaya. Dia menyegel kekuatannya, tanpa itu Fang Yin tidak mungkin bisa terbang dan kembali dengan selamat. Bisa saja binatang roh naga buas memangsanya karena mereka belum tahu jika dirinya adalah adik seayahnya.


Tubuh Fang Yin meluncur dengan cepat terjun bebas ke lembah tanpa dasar. Gravitasi di dimensi itu sepertinya lebih besar dari gravitasi di alam manusia.


Saat Fang Yin mulai pasrah, Yang Hui muncul dan menyelamatkannya. Kekuatannya terpisah dengan Fang Yin sehingga masih bisa bertahan.


Di dimensi naga dirinya juga mampu mengambil esensi energi dari alam di sekelilingnya. Bahkan dia memiliki kekuatan di atas seluruh binatang roh yang tinggal di dimensi itu.


Yang Hui meraung dengan keras menunjukkan kemarahannya. Melihat tubuh Fang Yin tidak berdaya dia menariknya untuk menyatu dengannya.


Cau Ahlin terkejut saat melihat perubahan Fang Yin yang telah bertransformasi menjadi naga. Dia baru tahu jika adiknya itu juga memiliki roh pendamping yang menyatu di tubuhnya.


Sorot mata Yang Hui menyiratkan dendam. Mulutnya menyemburkan api yang berwarna hitam dan membakar awan menjadi nyala gelap. Kemampuan ini membuat Cau Ahlin semakin terperanjat, dia tidak menyangka api yang sangat langka itu dimiliki oleh adiknya.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Cau Ahlin pada Yang Hui.


"Aku adalah Dewi Naga. Kamu salah besar telah menyinggungku. Saat jiwa kami bersatu maka tidak ada lawan yang akan kubiarkan pergi dengan selamat!" Sifat Yang Hui berimbang dengan sifat Cau Ahlin.


Mereka sama-sama memiliki sifat kejam dan sombong. Bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Keduanya tidak bisa menahan dirinya untuk bertarung.


Cau Ahlin merubah wujudnya menjadi seekor naga berwarna putih untuk mengimbangi serangan Yang Hui. Mereka bergerak dengan cepat di langit dan terlihat sebagai kilat cahaya berwarna putih dan emas.


Dua cahaya itu menyemburkan energi sesuai dengan elemen Qi yang mereka miliki. Cahaya energi yang saling beradu menghasilkan ledakan-ledakan kecil yang menyala di langit.


Yang Hui merasa jika Cau Ahlin adalah ancaman sehingga dia menyerangnya dengan serius. Selain menggunakan Qi, Yang Hui juga melakukan serangan langsung. Cakaran dan sabetan ekornya berhasil melukai Cau Ahlin.


Ketinggian membawa mereka memasuki wilayah yang berada di puncak tangga. Tubuh Cau Ahlin berubah menjadi manusia dan terpelanting jatuh di atas sebuah pelataran. Pelataran itu merupakan halaman sebuah istana yang cukup megah.


Yang Hui tidak ingin melepaskan Cau Ahlin meskipun dia sudah tidak berdaya. Tubuhnya bergerak dengan cepat untuk mencabik-cabik tubun Cau Ahlin.


Saat cakar Yang Hui hampir menyentuh tubuh Cau Ahlin, Fang Yin tersadar.


"Yang Hui, hentikan!" pekik Fang Yin.


Seruan Fang Yin menghentikan Yang Hui. Meskipun saat ini Fang Yin melemah, dia tetap harus mematuhi perintahnya. Kedudukannya sebagai pemilik tubuh nyata lebih tinggi darinya.


"Baik Yang Mulia."


Yang Hui mulai mengendurkan kewaspadaannya. Dia sangat tahu seperti apa sifat Fang Yin yang penuh perhitungan. Sering kali dia bersikap lebih kejam darinya.


"Mengapa kamu tidak membiarkan dia membunuhku? Bukankah kamu bisa bebas setelah aku mati." Cau Ahlin memegangi dadanya menahan nyeri. Di sudut bibirnya terlihat darah segar yang keluar.


Fang Yin melepaskan dirinya dari tubuh Yang Hui dan mengambil kendali penuh atas tubuhnya sendiri. Dia melangkah mendekati Cau Ahlin.


"Kamu adalah kakakku. Pada orang lain mungkin aku bisa berbuat kejam, tapi tidak padamu. Seharusnya kamu menolongku saat aku tergelincir tapi kamu membiarkannya. Walaupun kamu begitu kejam, aku tidak akan membalasnya dengan hal yang sama."


Cau Ahlin menatap Fang Yin sejurus. Ada kesalahpahaman di sini tetapi dia tidak memiliki bukti untuk menjelaskannya. Dia juga bukan orang yang pandai bicara.


Sebelum Yang Hui datang menyelamatkan Fang Yin, dia berusaha untuk mengejar untuk menolongnya. Namun, saat mencapainya Fang Yin telah diselamatkan oleh Yang Hui dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Sudah! Lupakan! Aku tidak mempermasalahkannya lagi. Sekarang tujuanku hanyalah ingin berdamai denganmu. Jika aku keluar dari sini maka aku ingin kamu yang memberikan jalan keluar, bukan karena aku yang memaksamu."


Cau Ahlin masih terdiam.


Yang Hui masih terus berdiri di belakang Fang Yin untuk menjaganya. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi.


Binatang roh yang mencoba mendekat segera berbalik arah ketika mereka melihat Yang Hui.


"Yin'er, mungkin ini sudah sangat terlambat tapi aku ingin meminta maaf padamu. Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana cara untuk mengeluarkanmu dari sini."


Ucapan Cau Ahlin membuat Fang Yin terbelalak.


****


Bersambung ....


Kak numpang promo novel karya temanku ya. Terimakasih.

__ADS_1



__ADS_2