Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 90. Panggil Aku Kak Feng!


__ADS_3

Hari itu juga Fang Yin bersiap untuk berangkat ke Hutan Bintang Selatan bersama Ketua Sekte.


Sebelum berangkat, Fang Yin kembali ke villa Jian Heng terlebih dahulu untuk berpamitan dengannya meskipun sejak tadi pagi sikapnya kurang bersahabat padanya.


Jian Heng sedang memegang sebuah kitab ketika Fang Yin sampai di villanya.


"Tetua Yu! Ada sesuatu hal yang ingin aku katakan padamu," ucap Fang Yin ketika dia sudah duduk di hadapan Jian Heng.


"Hmm." Jian Heng masih terlihat enggan untuk bicara pada Fang Yin.


'Huh! Pria ini kesambet apa, sih. Dari tadi irit bicara,' Fang Yin menggerutu kesal dalam hati.


"Aku akan pergi untuk beberapa hari ke depan."


Jian Heng menoleh pada Fang Yin. Hatinya ingin bertanya tetapi rasa gengsi menghalanginya untuk melakukan itu.


"Pergilah!" Sebenarnya hati Jian heng merasa tidak rela Fang Yin pergi, tetapi dia harus mengerti. Fang Yin sekarang telah memiliki keluarga baru yang menyayanginya.


Sikap diamnya itu ternyata adalah wujud rasa tidak berdaya dari dirinya. Jian Heng sengaja bersikap dingin dan acuh pada Fang Yin agar dia bisa pergi darinya dengan mudah.


Rasanya tidak adil bagi Ketua Lama dan Ketua Sekte jika dia terus menahan Fang Yin untuk terus bersamanya.


Tatapan Ketua Sekte begitu menusuk ketika Fang Yin menolak untuk diberikan tempat tinggal baru dan memilih untuk tetap tinggal bersamanya.


Dengan bersikap dingin dan acuh padanya, Jian Heng berharap Fang Yin tidak akan betah tinggal bersamanya dan memilih berkumpul bersama keluarga barunya itu.


Mungkin ini terdengar naif dan egois, tetapi Jian Heng harus rela mengalah dan memberi kesempatan pada mereka untuk dekat.

__ADS_1


Bukan hanya berat untuk Fang Yin, di kedalaman hati Jian Heng sebenarnya dia menangis jika Fang Yin meninggalkannya bahkan membencinya.


'Pergilah? Mengapa kamu begitu senang mengatakan itu, pria aneh! Baiklah, kamu pikir kamu siapa. Aku akan pergi sekarang, biar kamu puas!' Fang Yin menahan amarahnya dan segera berjalan meninggalkan Jian Heng yang sedang berpura-pura membaca kitab.


Di halaman sekte, Ketua Sekte telah menunggunya dengan memegang dua ekor kuda.


"Naiklah!" seru Ketua Sekte menyerahkan sebuah tali pengendali kuda untuk Fang Yin.


"Tidak perlu! Aku tidak membutuhkan kuda untuk pergi ke sana!" Fang Yin menolak untuk pergi ke Hutan Bintang Selatan mengendarai kuda.


Ketua Sekte mendengus kesal. Ini artinya mereka harus berjalan untuk pergi ke sana.


Tidak ingin berdebat dengan Fang Yin, Ketua Sekte segera memanggil muridnya yang kebetulan lewat di sana untuk menyimpan kuda-kuda itu ke kandangnya.


"Berapa lama kita akan sampai di sana jika kita hanya berjalan kaki saja tanpa menggunakan teknik meringankan tubuh," ucap Ketua Sekte merasa malas berjalan mengikuti Fang Yin yang telah mendahuluinya.


"Apa kamu ingin pamer pada mereka tentang bagaimana hebatnya dirimu sebagai seorang ketua sekte?" Fang Yin memberi lirikan tajam pada Ketua Sekte.


Kesenjangan yang terjadi bisa menimbulkan kecemburuan. Semakin lama akan berkembang menjadi rasa iri, dengki lalu berujung pada kejahatan seperti yang dilakukan oleh Tetua Song padanya.


"Apakah pantas seorang adik memanggil kakaknya dengan sebutan 'Ketua Sekte'?" Ketua Sekte mengalihkan topik pembicaraan.


Fang Yin menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Ketua Sekte.


"Lalu? Aku harus memanggilmu apa?" Fang Yin menatap Ketua Sekte dengan tatapan dinginnya.


"Kak Feng!" ujar Ketua Sekte yang tidak ingin berdebat masalah kecil seperti ini dengan adik barunya itu.

__ADS_1


"Baiklah, Kak Feng! Ingatkan aku jika aku lupa. Aku sudah terbiasa memanggilmu dengan Ketua Sekte."


"Aku tahu ini tidak akan mudah, Yin'er! Tapi percayalah, aku ingin menjadi orang yang selalu melindungi mu mulai hari ini," ucap Ketua Sekte tulus.


"Terimakasih," ucap Fang Yin mulai bersiap untuk melompat ke atas pohon dan melanjutkan perjalanan mereka dengan jalur udara.


Saat ini mereka telah berada dalam jarak yang cukup jauh dari area sekte sehingga membuat Fang Yin leluasa untuk mengeluarkan teknik meringankan tubuhnya.


Mereka melompat dari satu pohon ke pohon yang lain dengan cepat. Fang Yin mengingat jalur menuju ke hutan itu dan mencari jarak terdekat dari sana. Untuk melihat arah, Fang Yin menggunakan matahari sebagai petunjuknya di siang hari dan bintang di malam hari.


Manusia di jaman ini sudah menguasai ilmu perbintangan dan menggunakannya sebagai acuan untuk menentukan arah dalam sebuah perjalanan.


Jarak antara Gunung Telaga Emas dan Hutan Bintang Selatan cukup jauh, kira-kira butuh waktu satu minggu untuk perjalanan jalur darat dengan memakai kuda.


Itulah alasan Fang Yin menolak memakai kuda untuk pergi ke sana.


Dengan teknik ini dia bisa sampai ke sana paling lama dua hari, tergantung berapa lama mereka berhenti untuk beristirahat.


Matahari sudah mulai condong ke barat ketika Fang Yin mengajak Ketua Sekte untuk beristirahat dan mencari makan.


"Kenapa aku begitu bodoh dan melupakan untuk membawa bekal makanan untuk kita." Ketua Sekte menyentuh keningnya dan merasa gemas pada dirinya sendiri.


"Kak Feng tidak perlu mengkhawatirkanku! Aku sudah terbiasa hidup liar di a-lam be-bas ...." Fang Yin memelankan suaranya karena mendengar sesuatu yang bergerak di balik semak yang berada tidak jauh dari mereka.


Terlihat tanaman perdu yang berada di sekitarnya itu bergerak-gerak. Fang Yin mengeluarkan alat berburunya dari dalam cincin penyimpanannya dan memasang anak panah pada busurnya.


Ketua Sekte merasa kurang yakin apakah alat sederhana milik Fang Yin itu bisa bekerja dengan baik.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2