
Fang Yin masih tak bergeming. Dia terdiam melihat kakek dan Patriak Shi pergi meninggalkan ruangan. Dalam penglihatannya, An Hui sedang melawan dua orang musuh. Dengan kedatangan Patriak Shi dan Jun Hui, dia yakin masalah bisa teratasi tanpa bantuannya.
Jian Heng terlihat gelisah. Perasaannya merasa tidak enak. Sesuatu yang besar pasti akan terjadi setelah ini. Namun, dia berusaha tetap tenang untuk menantikan situasi yang akan terjadi selanjutnya.
"Yin'er, kamu terlihat kurus. Apakah kamu tidak makan dengan baik selama ini?" tanya Yu Ruo.
"Aku banyak makan, Nek. Tetapi aku jarang beristirahat." Fang Yin tersenyum senang menerima perhatian neneknya.
Mereka mengobrol bersama. Sesekali Han Wu dan Jian Heng ikut menambahi, sedangkan selir Shi terlihat sedang berkonsentrasi dan melakukan kultivasi. Awalnya Fang Yin tidak menyadari hal itu, ini adalah sebuah pemandangan yang langka.
Selama tinggal di istana, ibunya itu tidak pernah menunjukkan dirinya sebagai seorang kultivator. Dari cerita yang dia dengar, sebelum menjadi selir dia adalah seorang dayang. Selain itu Fang Yin tidak pernah mendengar kisah hidup ibunya secara jelas.
Semua anggota Klan Shi yang berada di sana juga melakukan hal yang sama. Sebagian besar di antara mereka sedang berkultivasi. Hanya beberapa wanita dan anak-anak saja yang tidak melakukannya.
Ruangan itu dipenuhi oleh cahaya energi yang berkumpul seperti kunang-kunang. Energi itu menyebar di seluruh penjuru ruangan dan menyelimuti tubuh penggunanya. Seluruh Klan Shi memiliki Qi Awan Salju. Qi dasar yang menyusun tubuh mereka.
"Apakah kita tidak sebaiknya ikut berkultivasi?" tanya Fang Yin meminta pendapat Han Wu dan Jian Heng. Dia tidak meminta pendapat neneknya karena tidak tahu jika neneknya juga seorang kultivator.
"Kamu tidak meminta pendapat nenekmu?" Han Wu berbicara dengan gaya yang santai.
Fang Yin menatap Yu Ruo meminta kejelasan. Neneknya itu terlihat lemah dan tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai seorang petarung. Dia berpikir jika Han Wu hanya bercanda saja.
Fang Yin teringat akan Kitab Sembilan Naga bintang sembilan yang berada di tangan Klan Shi. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Yu Ruo untuk bertanya secara pribadi. Mungkin saja neneknya itu tahu di mana kitab itu berada.
Yu Ruo membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Fang Yin. Selama ini tidak ada yang tahu jika keluarganya yang memegang Kitab Sembilan Naga bintang sembilan. Tangannya segera meraih tangan cucunya itu lalu dia mengeluarkan mantranya.
__ADS_1
Tubuh Fang Yin terasa hangat terutama pada tangan yang dipegang oleh Yu Ruo. Tangan yang dipegang itu mengeluarkan kuku-kuku yang tajam dan sisik berwarna emas.
Yu Ruo segera mengakhiri mantranya sebelum ada yang melihat melihatnya.
"Jadi Dewi Naga telah bangkit? Aku tidak sadar jika cucuku adalah seorang Dewi Naga." Yu Ruo terlihat gelisah. Entah apa yang mengganggu pikirannya, dia terlihat tidak senang dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Fang Yin kembali duduk dan tidak bertanya lagi tentang keberadaan kitab itu.
Hingga hari malam, Patriak Shi dan kakeknya juga belum kembali pulang membawa An Hui. Seluruh Klan Shi bahkan telah menyiapkan makan malam untuk mereka. Mereka tidak bisa menunggu Patriak Shi dan hanya menyisihkan makanan untuk ketiga orang yang masih di luar itu.
"Yin'er, apakah kamu tahu di mana keberadaan Patriak Shi dan yang lainnya?" tanya Jian Heng merasa ada yang tidak beres.
Sebenarnya Fang Yin merasa sangat malas. Jika bukan karena kakeknya ada di sana, dia enggan untuk memikirkan di mana keberadaan An Hui.
Sebuah energi keluar dari telapak tangan Fang Yin dengan aura berwarna putih yang terang. Dia melemparkan energi itu ke dinding dengan gerakan yang lambat. Semua orang yang berada di sana menahan napas dengan wajah yang pias. Mereka berpikir jika energi itu akan meledak ketika menyentuh dinding. Namun, semua pikiran mereka salah. Energi itu melebar dan membentuk sebuah layar asimetris yang menampakkan keadaan di luar pondok.
Seluruh anggota Klan Shi terlihat panik. Mereka tidak bisa menahan dirinya lagi dan terlihat sangat marah. Di layar itu terlihat jelas jika Patriak Shi sedang terluka parah.
"Putri Gu! Sebaiknya kita segera berangkat sekarang untuk menyelamatkan mereka," ucap seorang tetua yang dibalas anggukan oleh tetua dan anggota lainnya.
"Tunggu dulu! Jangan gegabah! Sisakan setidaknya lima orang kuat untuk tetap tinggal dan menjaga pondok ini. Kita tidak tahu strategi musuh. Bisa saja mereka juga akan menyerang anggota klan yang tinggal selama kita tidak ada," usul Fang Yin.
Usulan itu mendapat tanggapan baik. Mereka setuju dengan idenya dan milih beberapa orang untuk berjaga di sana
Yu Ruo dan Yu Jie berdiri dan masuk ke dalam barisan orang yang akan pergi ke wilayah lawan. Fang Yin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia melirik ke arah Han Wu dan Jian Heng dengan wajah konyolnya lalu kembali melihat ke arah ibu dan neneknya.
__ADS_1
Fang Yin mengangkat tangan kanannya sambil menunjuk Yu Jie dan Yu Ruo. Bibirnya bergerak-gerak tetapi tidak mengeluarkan kata-kata. Keterkejutannya membuatnya sulit bicara.
"Sudah kukatakan jika nenekmu bukan orang yang mudah. Mungkin juga dengan ibumu." Shi Han Wu menepuk bahu Fang Yin lalu bergabung dalam barisan.
Mereka berjumlah sekitar dua puluh orang karena sebagian lagi terluka akibat pertempuran sebelumnya. Tetua Shi Yuan An yang memimpin penyerangan kali ini. Selama ini dia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan penuh perhitungan.
Fang Yin, Jian Heng dan Han Wu berada di barisan paling belakang. Mereka belum mengenal seluk-beluk wilayah ini seperti yang lainnya yang mayoritas penduduk asli Gunung Perak. Namun, Shi Yuan An tetap meminta petunjuk dari Fang Yin untuk menentukan arah di mana keberadaan Patriak Shi dan yang lainnya.
Anggota suku gletser yang berjaga di luar meniup sebuah alat yang berbunyi sumbang. Mungkin itu cara mereka untuk mengabarkan keadaan di luar atau mungkin sebagai tanda bahaya.
"Selamat malam, Tuan-tuan. Aku sudah menantikan kedatangan kalian di sini." Seorang pria muncul dengan diikuti oleh beberapa anggotanya. Jumlahnya tidak terhitung dan terus berdatangan.
"Lepaskan Patriak Shi dan anggota klan kami. Tidak seharusnya kalian menahannya. Beraninya main keroyokan!" Tetua Yuan terlihat emosi.
Ketua suku es itu tidak menghiraukan ucapan Tetua Yuan. Pandangan matanya mengedar seolah mencari seseorang yang berada di dalam barisan anggota Klan Shi. Jarak pandang yang terbatas di dalam gelapnya malam membuatnya harus memperhatikan mereka dengan teliti.
Wajahnya terlihat gembira saat melihat Yu Ruo. Senyum samar terbit dan membentuk sebuah cekungan di pipinya. Seperti apa perasaannya saat ini hanya dirinya sendiri yang tahu.
Seluruh anggota Klan Shi mengikuti arah pandang ketua suku gletser. Mereka berpikir jika orang yang dilihatnya adalah Yu Jie bukan Yu Ruo. Tidak ada yang tahu tentang kisah yang terjadi di antara mereka di masa lampau.
"Yu Ruo!" panggil ketua suku gletser.
Semua orang terkejut dan tidak menyangka jika pria berlesung pipi itu mengenal Yu Ruo.
****
__ADS_1
Bersambung ....