Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 254. Tak Akan Menyerah


__ADS_3

Kaisar Xi mengantarkan Fang Yin hingga di persimpangan jalan menuju ke istana Pangeran Ketiga.


Fang Yin berjalan dengan riang menuju ke kamarnya. Langkahnya terasa begitu ringan hingga dia tidak menyadari ada seseorang yang tengah mengamatinya di samping gerbang istananya.


Saat kebahagiaan menyelimutinya, Fang Yin melupakan semua yang ada disekitarnya. Dia tidak menyadari jika telah melewati seseorang dan merasa terkejut ketika orang itu menarik tangannya.


"Haahh!" pekik Fang Yin yang secara otomatis memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menyerang.


Di saat tangan kirinya dipegang, tangan kanannya melayang ke arah orang yang memegang tangannya.


Jian Heng mengelak dari serangan itu dengan meliukkan tubuhnya ke belakang tanpa melepaskan tangan Fang Yin.


"Tetua Yu!" seru Fang Yin.


Dalam keadaan panik, Fang Yin melupakan siapa Jian Heng. Seketika yang terlintas adalah ingatan di masa lalunya yang melekat kuat hingga saat ini.


Setelah melihat siapa orang yang ada di hadapannya, Fang Yin mulai menurunkan kewaspadaannya dan mengontrol dirinya.


Jian Heng melepaskan pegangannya dan merasa canggung.

__ADS_1


"Ma-maaf, Xiao Yin. Aku tidak bermaksud untuk mengagetkanmu. Kupikir kamu sengaja mengabaikanku, rupanya kamu memang benar-benar tidak menyadari keberadaanku," jelas Jian Heng penuh penyesalan.


"Aku terlalu fokus dengan diriku sendiri. Maafkan aku."


Jian Heng berpikir jika Fang Yin sangat lelah dan butuh istirahat. Rasa lelah seringkali membuat seseorang kehilangan fokus dan konsentrasi.


"Sebaiknya kamu beristirahat. Aku juga ingin tidur walaupun hanya sebentar saja." Jian Heng berbicara penuh pengertian.


'Sial! Kenapa jantungku tidak bisa berdetak normal setiap kali pria ini menatapku dengan lembut. Ucapannya seperti mengandung magic. Tidak ... tidak ... aku tidak boleh lupa akan tujuanku.' Fang Yin berusaha keras untuk mengendalikan perasaannya lalu kembali berjalan menuju ke kamarnya.


Mereka berdua berjalan bersama-sama tanpa banyak berbicara lagi. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing.


Sesampainya di kamar, Fang Yin segera menutup pintunya rapat-rapat lalu menguncinya dari dalam. Tidak lupa dia menanamkan mantra pelindung berlapis yang tidak akan tertembus oleh kekuatan apapun.


Di ruangan yang lain, Jian Heng pun melakukan hal yang sama. Dia tidak ingin ada orang lain yang masuk dan melihat atau mengambil barang-barang pribadinya.


Meskipun lukisan Fang Yin telah kembali padanya, tetapi dia lebih waspada sekarang. Menurutnya, tidak aman membiarkan orang lain memasuki kamarnya meskipun dia adalah orang terdekatnya.


Siang itu, Jian Heng tertidur dengan lelap di temani lukisan wanita yang sangat dia kagumi.

__ADS_1


Kembali ke kamar Fang Yin,


Buku yang di pinjamnya memiliki bahan dan tulisan kuno yang sudah mulai usang. Dia membukanya dengan hati-hati karena takut robek.


Selembar demi selembar dia baca dan pahami. Di dalam buku itu tertulis banyak sekali binantang roh yang melegenda termasuk roh naga.


Dari buku itu dia menjadi tahu tentang ciri fisik, kemampuan, kelemahan, serta cara menaklukkan binatang roh yang tercantum di sana.


Phoenix Api dan Es yang dia cari ternyata bukan binatang roh biasa. Kekuatannya sangat besar dengan perpaduan dua energi yang terbilang sulit untuk dihadapi.


Fang Yin terlihat menahan napasnya sambil berpikir setiap kali membaca betapa sulitnya menghadapi Phoenix Api dan Es.


Keberadaannya juga sangat langka, dia hidup di sebuah gunung berapi yang dikelilingi oleh sebuah danau. Gunung berapi itu berada di Benua Timur yang berbatasan langsung dengan Benua Tengah.


"Untuk membuka Kitab Sembilan Naga bintang tujuh aku harus berusaha. Masa, iya, aku menyerah begitu saja. Aku sudah sejauh ini melangkah. Seberat apa jalan yang harus aku lewati, aku tidak boleh menyerah.' Fang Yin menyemangati dirinya sendiri.


Bayangan kekalahannya di dalam mimpi kembali terlintas. Semangatnya kembali tersulut.


"Aku tidak akan membiarkanmu terus berada di atas angin Kaisar Ning. Kematian ayahku harus terbalas dan aku akan membawa ibuku masuk ke istana itu dengan hormat. Di hari itu, dunia akan tahu bahwa akulah pemilik istanamu yang sesungguhnya." Fang Yin tersenyum penuh dendam.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2