
Da Xia dan Fang Yin telah menyelesaikan sarapan mereka dan membereskan goa itu agar terlihat seperti tidak pernah mereka singgahi sebelumnya. Hal itu mereka lakukan untuk mengecoh musuh agar tidak menemukan jejak apapun yang menjadi petunjuk bagi mereka untuk melacak keberadaan Fang Yin dan Da Xia.
"Adik kecil, sudah saatnya kita berpisah! Aku harap suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi. Jika kamu menjadi kultivator yang hebat, jangan pernah melupakan aku!" canda Da Xia dengan senyum lebarnya.
Fang Yin terlihat berkaca-kaca mengingat perpisahan ini. Baginya kebersamaannya yang singkat bersama Da Xia meninggalkan kesan tersendiri yang membuatnya semakin bersemangat untuk mengejar impian dan mencapai tujuannya. Pertemuannya dengan Da Xia membuka matanya bahwa seorang wanita juga bisa menjadi hebat dan melakukan segalanya.
"Hei! Seorang pendekar tidak boleh murung seperti itu! Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Jika ada kesempatan dan umur yang panjang, kita pasti akan bertemu lagi. Percayalah!" Da Xia menghibur Fang Yin yang sedang bersedih.
"Aku tidak tahu setelah ini bisa bertemu wanita hebat sepertimu lagi atau tidak. Dalam dirimu ada kebaikan yang membuat siapapun yang ada di dekatmu merasa nyaman. Sampai kapanpun Kak Da Xia adalah kakakku, guruku, dan juga teman terbaik yang pernah hadir dalam hidupku." Fang Yin tidak kuasa lagi melanjutkan kata-katanya. Sekuat apapun dirinya dia tetaplah seorang manusia biasa yang memiliki perasaan.
Da Xia menghambur memeluk Fang Yin dan larut dalam keharuan mereka untuk beberapa saat. Tidak ada tangisan tetapi mereka sama-sama merasakan kehilangan. Tidak ada air mata tetapi hati mereka sama-sama merasakan nestapa.
"Pergilah, Xiao Yin! Melangkahlah maju ke depan dan jangan lagi menoleh ke belakang!" seru Da Xia dengan membuang mukanya ke samping karena tidak sanggup melihat kepergian Fang Yin.
Fang Yin mengerti. Saat ini dia juga merasakan kesedihan yang sama dan enggan berpisah dengan Da Xia. Namun apa mau di kata, mereka memiliki tujuan yang berbeda dan harus berpisah.
__ADS_1
Sesuai kata Da Xia, Fang Yin benar-benar berjalan maju ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang. Ilmu meringankan tubuh yang dia gunakan tidak mengurangi berat langkahnya. Setelah menguatkan hatinya, Fang Yin segera mengambil langkah bayangan dan pergi berlalu dari tempat itu meninggalkan Da Xia.
'Aku harap tidak mengalami nasib buruk lagi setelah ini.' Fang Yin keluar dari hutan dan melompat dari satu pohon ke pohon yang lain mengikuti arah jalanan yang berada tidak jauh dari jalur yang dia buat sendiri.
Untuk menghindari bertemu dengan orang yang melintas di sana, Fang Yin memilih untuk melewati jalur udara.
Setelah menempuh jarak sekitar dua mil dari tempatnya berada bersama Da Xia, Fang Yin mulai melihat perkampungan di kejauhan.
'Perkampungan itu dekat dengan gunung ini. Jika aku tinggal sementara waktu di sana, aku bisa pergi ke gunung ini untuk berkultivasi. Bagaimanapun juga aku butuh informasi untuk mengetahui di mana bagian kedua Kitab Sembilan Naga berada.' Fang Yin melompat turun ke jalan yang berada di bawah pohon tempatnya bertengger sebelumnya.
Untuk mengurangi kecurigaan orang-orang yang akan ditemuinya, Fang Yin menelan pil penekan energi agar tingkatan kultivasi dan energinya tersembunyi. Fang Yin melihat ada cabang jalan setapak menurun menuju ke perkampungan dari jalan yang dia lalui saat ini. Dia segera berjalan di jalan setapak itu setelah di rasa tidak ada orang yang melihatnya.
Merasa sangat haus, Fang Yin menghampiri pipa air itu untuk minum. Dia menyatukan kedua telapak tangannya untuk menampung air dan meminumnya. Air pada jaman ini masih sangat murni dan mengandung berbagai mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Rasanya pun segar dan sedikit manis meskipun tanpa gula.
Fang Yin tidak menyadari jika di belakangnya ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya. Beruntung dia tidak melihat wajah Fang Yin saat dia menyibakkan cadarnya ketika minum. Di lihat dari penampilannya dia juga seorang pengembara sama seperti Fang Yin.
__ADS_1
"Aaaaa!" teriak Fang Yin dengan tubuh yang terhuyung dan hampir jatuh karena terkejut.
Biasanya Fang Yin selalu merasakan hawa kehadiran seseorang, tetapi tidak untuk kali ini. Dia tidak menyadarinya sama sekali sehingga membuatnya sangat terkejut. Pemuda itu pun segera menangkap tubuh Fang Yin sebelum dia jatuh ke parit yang becek berlumpur.
Deg
Jantung Fang Yin berdegup kencang ketika wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat. Bahkan Fang Yin bisa merasakan hembusan napas pria di hadapannya itu. Mereka terlihat sama-sama canggung dan saling melepaskan setelah terdiam beberapa saat dalam posisi hampir berpelukan.
"Maaf jika aku mengagetkanmu," ucap pemuda itu dengan wajah yang masih malu-malu.
"Aku saja yang tidak hati-hati. Permisi!" Fang Yin pergi untuk menghindar.
'Ini baru pertama kalinya aku melihat pemuda setampan ini sejak pertama masuk ke dalam tubuh Fang Yin. Dia sangat mirip dengan Zidane di dunia modern. Ah, sepertinya otakku menjadi sedikit bermasalah setelah melihat wajah tampannya.' Fang Yin melanjutkan langkahnya menunju ke perkampungan.
"Hei! Tunggu! Aku ingin bertanya sesuatu padamu!" teriak pemuda itu tetapi Fang Yin tidak menghiraukannya.
__ADS_1
****
Bersambung ...