
Jian Heng tidak hanya diam saja menunggu Fang Yin selesai bersih-bersih dan bersiap. Dia juga melakukan hal yang sama dengan mandi di tempat yang berbeda.
Meskipun dia seorang pria, dia senang berlama-lama untuk mandi. Rambutnya yang panjang sering kali membuatnya kesulitan dan tercelup ke dalam air. Hal ini membuatnya sangat berhati-hati.
Baginya, makan malam bersama Fang Yin adalah sebuah momen yang spesial sehingga dia ingin tampil sempurna. Jian Heng menambahkan wewangian yang menyegarkan ke dalam air mandinya.
Suasana di sekitarnya telah menjadi gelap, Jian Heng mempersingkat ritual mandinya dan kembali ke kamarnya. Dia kemudian memilih pakaian yang paling bagus lalu memakainya.
Setelah rambut panjangnya tersisir dengan rapi, dia mengikatnya dengan tali lalu memasang hiasan yang terbuat dari perak. Jian Heng benar-benar terlihat sangat tampan malam itu.
Apa yang dibutuhkan telah siap, dia tidak perlu membawa banyak barang ke ruang makan. Hanya gulungan yang akan dia berikan pada Fang Yin saja yang dia bawa. Dia memasukkannya ke dalam cincin penyimpanannya.
Fang Yin belum selesai bersiap. Pintu kamarnya masih tertutup rapat dan sesekali terdengar benda jatuh dari dalam. Meskipun tidak melihatnya secara langsung, Jian Heng yakin jika gadis itu kesulitan untuk merias diri. Beruntung dia terbiasa menutupi wajahnya sehingga tidak perlu repot memolesnya.
Jian Heng berjalan mondar-mandir sambil memperhatikan pintu kamar Fang Yin. Menunggu adalah sebuah hal yang menyebalkan untuknya.
Di kejauhan terlihat Hao Xiang berjalan tergesa-gesa menuju ke tempat Jian Heng berada. Ada atau tidaknya masalah yang penting, dia tetap terbiasa seperti itu. Dia tidak memiliki rasa sabar.
Hao Xiang tidak menghiraukan keberadaan Jian Heng dan berjalan melewatinya begitu saja dan hanya melihatnya sekilas saja.
Jian Heng sengaja membiarkan kakaknya itu dan melihat apa yang akan dilakukannya. Kedua tangannya dilipat di dada dengan pandangan yang tak beralih dari Hao Xiang.
"Nona Xiao! Nona Xiao! Aku menjemputmu. Apakah kamu masih lama? Kakiku sudah pegal menunggumu." Hao Xiang berbicara seolah-olah dia telah lama berada di sana.
Mata Jian Heng melotot dan tangannya terangkat ke udara dengan mulut terbuka seolah ingin mengucapkan sesuatu. Namun, tertahan oleh isyarat yang ditujukkan oleh Hao Xiang yang memintanya untuk diam.
Dengan perasaan kesal, dia menggenggam tangannya sendiri dan membantingnya ke udara. Kakaknya benar-benar sangat pandai mengambil kesempatan dan membuatnya terlihat tak berguna.
"Kak ...." panggil Jian Heng yang mendadak berhenti ketika melihat Fang Yin datang ke hadapan mereka.
Dandanan sederhana dengan wajah tertutup membuat Fang Yin terlihat sangat menawan. Terlebih lagi dia mengenakan pakaian mewah yang telah disiapkan oleh Jian Heng.
Hao Xiang tak berkedip menatapnya dan tidak sadar jika Fang Yin telah berlalu dari hadapannya setelah menunduk hormat. Dia masih terpaku hingga beberapa saat dan baru menyadari kepergiannya setelah keduanya menjauh.
"Hei, tunggu!" teriak Hao Xiang menyusul Fang Yin dan Jian Heng yang berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
Fang Yin memelankan langkahnya diikuti oleh Jian Heng yang tidak akan pernah rela melihatnya berdekatan dengan Hao Xiang. Mukanya terlihat sangat masam setiap kali bersitatap dengan Hao Xiang.
"Aku sudah lama menunggumu, Nona Xiao Yin. Pasti pria tengil ini yang memaksamu untuk pergi dan meninggalkanku."
Hao Xiang menggeser posisi Jian Heng dan berdiri di tengah-tengah. Mereka bertiga dengan posisi Hao Xiang berada di tengah dan diapit oleh Fang Yin dan Jian Heng. Namun, itu tidak berlangsung lama dan Jian Heng berpindah ke sisi lain. Kini Fang Yin yang berada di tengah diapit oleh kakak beradik itu.
Jian Heng dan Hao Xiang terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang berebut mainan.
"Kita harus segera sampai di ruang perjamuan. Tidak perlu meributkan sesuatu yang tidak perlu." Fang Yin berbicara tanpa melihat ke arah mereka berdua.
Sikapnya sangat dingin, berbeda seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Perubahan ini mengherankan bagi Hao Xiang, tetapi tidak bagi Jian Heng. Dia sudah terbiasa merasakan dinginnya sikap Fang Yin setiap kali suasana hatinya sedang tidak baik.
Hao Xiang merasa sedikit segan mendekati Fang Yin dan tidak banyak mengeluarkan kata-kata lagi. 'Gadis ini menakutkan juga, ya. Sikap dinginnya seakan membekukan hatiku.'
Mereka bertiga melangkah dengan santai menuju ke ruang perjamuan. Di sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan para pejabat penting dan saling memberi hormat. Rupanya, makan malam ini bukan hanya mengundang keluarga ini saja.
'Aku merasa gugup berada satu ruangan dengan para pejabat pemerintahan dan keluarganya.' Fang Yin merasa ragu untuk melangkah. Namun, Jian Heng meyakinkannya dengan isyarat sebuah anggukan.
Mereka pun kembali melangkah memasuki ruang perjamuan. Semua mata menatap ke arah Fang Yin, entah apa yang ada dipikiran mereka. Mungkin karena penampilannya yang berbeda dari wanita kebanyakan yang senang memperlihatkan wajahnya dan berlomba-lomba menjadi yang tercantik dalam sebuah acara.
Setelah memberi hormat, wanita itu merapat pada Jian Heng dan menggamit lengannya tanpa permisi. Dia adalah Jing Jihua, putri Perdana Menteri.
"Jaga sikapmu, Jihua. Kamu masih saja kekanak-kanakan." Jian Heng berusaha melepaskan dirinya.
"Aku tidak peduli, sudah lama kita tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu, Pangeran."
Fang Yin bergidik melihat tingkah wanita yang dipanggil Jihua itu. Sedikit cemburu, tetapi lebih ke risih. Tidak ingin berlama-lama melihatnya, dia memilih pergi menghampiri Kaisar Xi.
Hao Xiang serasa mendapatkan angin segar. Dia segera menyusul Fang Yin menghadap Kaisar Xi dan keluarganya.
Di belakangnya, Jian Heng berjalan dan terus berusaha untuk melepaskan diri dari Jing Jihua. Mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang dan menertawakan tingkah konyol keduanya.
Sejak kecil keduanya sudah digadang-gadang menjadi pasangan, meskipun sebenarnya Jing Jihua lah yang selalu mengejar-ngejar Jian Heng.
Fang Yin duduk di tempat khusus bersama para selir dan undangan wanita. Mereka saling berbisik sambil melirik ke arahnya dan terdiam ketika dia melirik ke arah mereka.
__ADS_1
Selir Tang merasa tidak terima melihat tatapan merendahkan para istri dan putri pejabat. Untuk menghentikan sikap buruk mereka, Selir Tang menoleh ke belakang dan menatap mereka tajam. Sorot matanya seperti mengandung kekuatan magis yang membuat mereka terdiam seketika.
Fang Yin tersenyum dibalik cadarnya. Setidaknya ibu dari Jian Heng peduli padanya meskipun putranya saat ini membuatnya muak. Wajahnya berpaling ke arah lain setiap kali pandangan mereka bertemu.
"Jihua, kamu membuatku sangat malu."
Jing Jihua baru melepaskan tangannya saat berhadapan dengan Kaisar Xi dan permaisuri. Dia terlihat bahagia karena mendapatkan dukungan penuh dari mereka berdua yang sepakat untuk menjodohkannya dengan Jian Heng.
Jian Heng bergabung di barisan para pria. Dia duduk di antara kedua kakaknya dan bersikap tenang. Suasana hatinya sangat buruk karena ulah Jing Jihua.
Di dalam tengah keramaian, dia tidak mungkin menunjukkan kemarahannya di depan semua orang meskipun sangat ingin.
Ketiga pangeran tampan yang duduk bersebelahan itu, menjadi daya tarik tersendiri untuk para gadis yang menatap mereka penuh kekaguman. Mereka berharap salah satu dari pangeran akan mempersunting mereka. Tidak masalah meskipun hanya menjadi selirnya.
Dengan penuh percaya diri Jing Jihua meminta Fang Yin untuk bergeser. Dia ingin duduk bersebelahan dengan Selir Tang.
Tidak ingin membuat keributan di hadapan para undangan, Fang Yin memilih untuk mengalah. Dia beranjak dari duduknya. Namun, tangan Selir Tang memegang tangannya dan menahannya.
Selir Tang menganggap sikap Jing Jihua tidak sopan dan suka seenaknya. Dia bangkit berdiri dan meminta Jing Jihua untuk duduk ditempatnya.
"Kamu boleh duduk di sini. Jaga sopan santunmu pada tamuku." Ucapan Selir Tang menjadi tamparan keras bagi Jing Jihua. Dia merasa sangat malu.
"Maaf, Yang Mulia. Aku tidak bermaksud untuk tidak sopan."
Jing Jihua menatap Fang Yin penuh kebencian dan menghalangi Selir Tang agar tidak berpindah dari tempat duduknya semula.
Selir Tang menghela napas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Setelah hatinya sedikit tenang dia kembali duduk. Tidak baik juga membuat kehebohan di tengah para tamu undangan.
"Carilah tempat duduk yang kosong," ucapnya kemudian.
Jing Jihua memberikan tatapan menusuk untuk Fang Yin dan berlalu dari hadapan mereka. Selama ini dia selalu mendapatkan apa yang dia mau dan merasa jika Fang Yin telah merebut tempat duduknya.
'Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu, Wanita Buruk Rupa.' Jing Jihua mencengkeram ujung lengan bajunya meluapkan emosi.
****
__ADS_1
Bersambung ....