
Tidak ada penanda untuk memulai pertarungan. Fang Yin dan Kaisar Jing terlihat sama-sama menunggu dan tidak segera mengambil inisiatif untuk menyerang terlebih dahulu.
Semua orang terlihat tegang melihat ke pusat pertandingan. Mereka tidak tahu jika keduanya hanya akan bertarung seni pedang. Bisa dibayangkan jika kedua kultivator kuat itu beradu tenaga dalam, seluruh kerajaan itu akan menjadi hancur berantakan.
"Mari kita mulai."
Fang Yin tidak ingin lagi menunggu lebih lama lagi. Dia melompat ke hadapan Kaisar Jing dan menyerangnya lebih dulu.
Pedangnya mengayun dengan dinamis menghasilkan gerakan indah yang mengagumkan. Jurus yang dimainkan Fang Yin terbilang langka, hanya dikuasai oleh orang yang mempelajari Kitab Sembilan Naga.
Pertama gerakannya pelan dan mirip dengan tarian. Namun, lama kelamaan gerakannya menjadi sangat cepat dan sulit ditebak. Tak ayal jurus pedang tanpa nama itu membuat Kaisar Jing terpukau.
Mulanya Kaisar Jing bermain santai. Setelah Fang Yin mulai mengeluarkan gerakan-gerakan yang mematikan, dia pun mengimbanginya dengan jurus pedang yang dia kuasai.
Sebagai seorang kaisar yang telah melewati banyak pertarungan dan mengalahkan ratusan pendekar, menghadapi Fang Yin bukanlah masalah besar untuknya. Selain jurus yang hebat, Kaisar Jing juga memiliki pengalaman yang membuatnya lebih siap.
Keduanya bertarung dengan sangat serius dan menunjukkan kehebatan mereka. Pasangan itu membuat semua orang yang melihat pertarungan berdecak kagum. Belum terlihat siapa yang akan menang atau kalah karena mereka sama-sama hebat.
"Sungguh aku tidak melihat gerakan yang cacat dari keduanya. Tidak heran Yang Mulia begitu tertarik dan menginginkan Nona Xiao Yin menjadi istrinya." Orang berbaju biru tua berbicara.
"Kamu benar. Negara ini akan semakin kuat jika mereka bersatu. Keturunan suku es memang tidak diragukan lagi kehebatannya." Orang berbaju hitam menimpali.
Mulut mereka terus saja merancau dengan kata-kata yang mewakili isi hati mereka. Terkadang mereka tegang, kagum, dan terkesima dengan gerakan-gerakan berbahaya dalam pertandingan pedang itu.
Matahari mulai bergerak meninggi. Namun pertarungan belum juga menentukan siapa yang lebih unggul. Baik Kaisar Jing maupun Fang Yin masih bersemangat dan terus mengeluarkan kemampuan mereka.
Tubuh keduanya bermandikan keringat. Teriknya matahari membuat mereka merasa kehausan. Tenggorokan mereka mengering.
"Xiao Yin! Sebaiknya kita mengambil jeda dan beristirahat." Kaisar Jing berbicara pada Fang Yin di sela-sela pertarungannya.
"Apakah di medan perang musuhmu mau menunggumu untuk istirahat dan minum anggur?" Fang Yin tersenyum mengejek.
Sebenarnya dia juga sangat haus dan lelah, tetapi dia tidak ingin mengulur waktu dan ingin segera mengakhiri pertarungan ini. Dia berpikir keras bagaimana cara agar mengakhiri pertandingan sesegera mungkin.
'Dalam perjanjian tidak diterangkan secara jelas ketentuannya. Bukankah Kaisar Jing hanya mengatakan jika tidak boleh menggunakan tenaga dalam saat bertarung? Berarti tidak akan jadi masalah jika aku mengeluarkan teknik teleportasi.' Fang Yin tersenyum senang.
Teknik teleportasi yang dia miliki memang belum sempurna, tetapi cukup untuk menghadapi lawan yang tidak memiliki teknik yang sama.
Kaisar Jing mengayunkan pedangnya ke arah Fang Yin yang terlihat lengah. Gerakan lawan yang melambat dia artikan sebagai awal kemenangannya. Dia sangat yakin serangannya kali ini akan mengunci pergerakannya.
"Apa?!" pekik Kaisar Jing saat mendapati tubuh Fang Yin menghilang.
Dia tidak menyangka jika Fang Yin menguasai teknik teleportasi.
Orang-orang yang melihat pertandingan reflek berdiri dan merasa tegang. Tidak ada yang bersuara dan sebagian diantara mereka menahan napasnya.
Fang Yin muncul dari arah tak terduga, menyerang Kaisar Jing dengan pedangnya. Serangan mengejutkan itu berhasil membuat Kaisar Jing kelabakan. Namun, dia bisa segera mengatasi keadaan.
Dia berhasil mengatasi serangan Fang Yin meskipun tidak melihat arah kedatangannya. Ranah dewa memang memiliki ketajaman insting yang luar biasa. Dia mampu mendeteksi gelombang energi jarak dekat meskipun tak terlihat.
Serangan Fang Yin tidak memberikan hasil yang memuaskan untuknya. Dia mulai berpikir ulang untuk melakukan serangan yang lebih berpotensi membawa kemenangan.
Terlintas sebuah jurus sederhana yang sudah lama tidak dia gunakan dalam bertarung. Jurus Merendahkan Bayangan yang dipadukan dengan teknik teleportasi sepertinya tidak terlalu buruk, pikirnya.
Tanpa pikir panjang, Fang Yin segera menggabungkan teknik dan jurus itu untuk menyerang Kaisar Jing. Selain serangan asli, Fang Yin juga menggunakan trik serangan tipuan untuk mengecoh.
Awalnya Kaisar Jing masih sanggup untuk mengatasi serangan Fang Yin. Namun, semakin tinggi tingkatan Jurus Merendahkan Bayangan, gerakannya semakin sulit diatasi.
'Bocah ini ternyata memiliki banyak sekali teknik rahasia. Haruskah aku kalah darinya?'
Baru saja pikiran itu muncul di kepala Kaisar Jing, pedang Fang Yin sudah menempel di lehernya.
Semuanya sudah berakhir dan Kaisar Jing mengangkat tangannya pertanda dia menyerah.
"Aku kalah darimu, Nona Xiao."
Fang Yin menarik pedangnya lalu menghilangkannya dari pandangan. Kaisar Jing melakukan hal yang sama. Mereka saling berpandangan dengan keadaan yang sama-sama payah. Tubuh mereka basah oleh keringat dengan napas yang terengah-engah.
Setelah tubuh mereka mulai terkontrol kembali, keduanya berjalan menepi. Mereka sama-sama diam seribu bahasa, larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Kaisar Jing membawa Fang Yin pergi ke istananya dan duduk di tempat terbuka. Para pelayan sibuk menyiapkan kudapan untuk mereka. Rasa haus mendorong keduanya untuk segera menenggak air madu yang menyegarkan. Tanpa diminta, para pelayan itu sudah tahu apa yang mereka inginkan.
Tubuh mereka segar kembali. Kaisar Jing terus menatap Fang Yin nyaris tak berkedip. Hanya itu yang bisa dia lakukan setelah mengalami kekalahan. Harapan untuk memilikinya sirna sudah
"Nona Xiao. Apakah Anda benar-benar menolakku? Tidakkah Anda memberikan aku kesempatan untuk mendapatkan hatimu?" Tutur lembut Kaisar Jing terdengar seperti sebuah paksaan bagi Fang Yin.
Seberapapun besarnya usaha yang dilakukan oleh Kaisar Jing, dia tetap tidak akan bergeming. Misi yang dia lakukan masih panjang dan dia telah menanamkan keyakinan dalam hati di mana dia tidak akan menikah sebelum dendamnya terbalas dan kehormatannya kembali atau semua usahanya selama ini akan menjadi sia-sia.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Dengan berat hati aku tidak bisa menerimanya. Tubuhku telah aku hadiahkan sebagai bentuk baktiku kepada ayahku. Aku telah berjanji padanya tidak akan berhenti sebelum aku mewujudkan harapannya."
Fang Yin tidak menjelaskan siapa ayahnya dan tujuan apa yang ingin dia capai.
Mendengar ucapannya yang menyiratkan ketegasan, Kaisar Jing mencoba mengerti. Apa yang dilakukan oleh wanita dihadapannya itu bukan semata-mata untuk membuktikan jika dirinya yang terkuat. Namun, sebuah beban moril yang menyangkut keluarganya.
Jika Kaisar Jing dihadapkan pada keadaan yang seperti ini, mungkin dia juga akan mengambil langkah yang sama seperti yang akan dilakukan oleh Fang Yin. Setidaknya dia memiliki kebanggaan tersendiri pernah mengenalnya dan mengungkapkan isi hatinya.
"Aku banyak berhutang padamu, Nona Xiao. Tolong simpan kitab ini baik-baik."
Kaisar Jing menyodorkan Kitab Sembilan Naga bintang tujuh muncul di telapak tangannya ke hadapan Fang Yin.
"Aku hanya ingin meminjamnya saja. Suatu saat aku akan mengembalikannya padamu." Fang Yin menerima kitab itu.
__ADS_1
"Sampai saat itu, keadaan hatiku padamu tidak akan pernah berubah. Dengan senang hati aku akan menerimamu jika kamu berubah pikiran."
Sebenarnya Fang Yin merasa risih dengan kata-kata itu. Namun, dia mencoba bersikap biasa dan mengangguk. Penolakannya sudah terlalu menyakitkan, tidak seharusnya dia menambah rasa sakit itu berulang-ulang.
Setelah urusan selesai, mereka kembali melanjutkan minum bersama. Perasaan bahagia setelah mendapatkan kitab yang dia mau membuat suasana hati Fang Yin berbeda. Dia sedikit ramah pada Kaisar Jing dan menanggapi obrolannya meskipun sekedar candaan.
Di kejauhan, permaisuri dan para selir melihat keduanya dengan perasaan cemburu. Ini pertama kalinya bagi mereka melihat suami mereka bisa tertawa lepas dengan seorang wanita asing. Mereka sangat yakin jika Kaisar Jing telah benar-benar jatuh cinta pada Fang Yin.
Di tempat lain,
Jian Heng dan kedua pengawalnya telah memasuki wilayah Benua Utara. Dia mengunjungi tempat di mana sebelumnya mereka bertemu dan bertanya pada penduduk sekitar. Namun, tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaan Fang Yin.
Perbekalan yang dibawa oleh mereka telah habis, Jian Heng memutuskan untuk membawa kedua pengawalnya pergi ke sebuah kedai. Mereka ingin makan di sana dan mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan.
"Ke mana tujuan kita selanjutnya, Yang Mulia?" tanya pengawal berbaju putih.
Jian Heng terdiam sambil berpikir. Dia memejamkan matanya sejenak dan merasakan mantra yang dia tanam ditubuh Fang Yin. Keberadaannya cukup jauh dari sana sehingga dia tidak bisa mengetahui keberadaannya.
"Dia masih berada jauh dari sini," jujur Jian Heng.
Kedua pengawalnya saling berpandangan. Mereka tidak tahu kemampuan aneh yang dimiliki oleh tuannya. Namun, mereka percaya jika Jian Heng tidak mencoba untuk main-main atau berbohong.
Di tengah menikmati makanannya, mereka tidak sengaja mendengar percakapan dua orang prajurit yang juga sedang makan di sana. Mereka sedang membicarakan tentang kaisar mereka dan seorang wanita bercadar.
"Sayang sekali kita tidak bisa melihat pertarungan mereka. Pasti sangat seru. Aku merasa kesal pada penasehat yang memberikan tugas ini dan melewatkan kesempatan untuk melihat kehebatan mereka."
Jian Heng sangat yakin jika orang yang mereka bicarakan adalah Fang Yin. Selera makannya tiba-tiba hilang. Dia terlalu bersemangat dan ingin cepat-cepat menyusul Fang Yin sebelum dia kehilangan jejaknya lagi.
Kedua pengawalnya merasa heran melihat perubahan sikap Jian Heng. Meskipun begitu, mereka tidak berani untuk menanyakannya.
"Jika kalian sudah selesai, kita harus segera pergi dari sini sesegera mungkin." Jian Heng beranjak dari duduknya dan berniat untuk menunggu pengawalnya di luar. Namun, kedua pengawalnya tidak ingin membuatnya menunggu dan memilih untuk meninggalkan makanan mereka.
Kuda biasa tidak akan sampai di tempat tujuan dengan cepat, Jian Heng memberi ketiga kuda mereka pil energi yang harga sebutirnya berkali-kali lipat dari harga mereka. Kedua pengawalnya terperanjat, tetapi mereka tidak berani berkomentar.
Setelah menelan pil itu, ketiga kuda itu mampu melesat ke ketinggian dan terbang tanpa sayap. Kedua pengawal Jian Heng belum terbiasa dan berpegangan dengan kuat pada kuda-kuda mereka.
Istana Kekaisaran Benua Utara yang seharusnya ditempuh dalam waktu sehari semalam, bisa mereka capai dalam waktu setengah hari saja. Jian Heng terus memikirkan Fang Yin dan tidak ingin kehilangan jejaknya. Mungkin, mereka bertiga akan sampai menjelang malam hari.
Jian Heng memacu kudanya seperti ketika dia sedang memacunya di daratan. Dia terlalu bersemangat dan tidak sabar untuk bisa segera bertemu dengan Fang Yin.
Kedua pengawalnya tertinggal jauh di belakang dan berusaha untuk mengejarnya dengan susah payah. Ini pengalaman pertama mereka menaiki kuda biasa yang dipaksa terbang. Mereka tidak menyalahkan Jian Heng yang rela memberikan pil mahal itu demi segera menemukan orang yang dipercaya bisa menyembuhkan ayahnya.
Matahari perlahan turun dan meredup di ufuk barat. Ketiga orang itu memelankan laju kuda mereka ketika memasuki ibukota. Setelah melihat istana Kekaisaran Benua Utara, Jian Heng memimpin untuk turun dan menjalankan kuda mereka dengan pelan.
Dengan identitas sebagai pangeran ketiga Benua Tengah tidak akan membuatnya kesulitan untuk bertemu dengan Kaisar Jing. Kedua kerajaan itu tidak pernah berselisih sebelumnya.
Prajurit Benua Utara yang berjaga di depan gerbang segera membukakan pintu untuk mereka saat Jian Heng menunjukkan token kebangsawanannya. Mereka menunduk hormat dan membiarkan mereka masuk.
__ADS_1
Sesampainya di dalam istana, Jian Heng melapor kepada pengawal khusus untuk menyampaikan perihal kedatangannya pada Kaisar Jing. Setelah beberapa saat menunggu, mereka memintanya untuk masuk dan menunggu kaisar menemuinya di aula utama.
Jian Heng merasakan keberadaan Fang Yin di sana. Hatinya menjadi lega. Dia belum terlambat untuk menjemput kekasihnya itu.
"Salam hormat, Yang Mulia." Jian Heng menyatukan kedua tangannya memberi hormat pada Kaisar Jing yang baru tiba.
Kaisar Jing membalas penghormatan itu dan meminta Jian Heng kembali duduk.
"Angin apa yang membawa Anda sampai di sini, Pangeran. Aku merasa tersanjung dengan kunjungan Anda tapi aku merasa jika kedatangan Anda memiliki sebuah tujuan."
"Anda benar, Yang Mulia. Kedatangan saya kemari untuk menjemput seseorang yang sangat penting. Saya harap Anda tidak keberatan untuk menyerahkannya pada kami," ucap Jian Heng dengan sopan.
Kaisar Jing tidak mengerti dengan ucapan Jian Heng. Dia tidak tahu siapakah seseorang yang dimaksud oleh tamu kehormatannya itu.
"Bisa Anda jelaskan tentang seseorang yang Anda maksud, Pangeran?" Kaisar Jing mengernyitkan dahinya.
Jian Heng menjelaskan tentang ciri-ciri Fang Yin dan informasi keberadaannya yang dia dengar tanpa sengaja dari prajuritnya. Dia tidak mengatakan kebohongan sedikitpun dan menceritakan jika keduanya saling mengenal sebelumnya.
Benih-benih kecemburuan muncul didalam hati Kaisar Jing. Dia merasa iri dengan kedekatan di antara mereka meskipun Jian Heng tidak menceritakannya secara gamblang. Dalam hati dia berharap jika Xiao Yin yang berada di istananya bukan Xiao Yin yang dimaksud oleh Jian Heng.
Kaisar Jing meminta pengawalnya untuk memanggil Fang Yin ke hadapannya. Selama menunggu kedatangannya, kedua pria yang sama-sama memiliki perasaan pada Fang Yin itu terdiam. Keduanya bermain dengan pikiran masing-masing dan menerka-nerka.
Kedua pengawal Jian Heng yang duduk di sampingnya merasa ada yang aneh dengan kedua pria hebat itu. Mereka sangat yakin jika keduanya memiliki hubungan tak biasa dengan wanita yang sedang dinantikan kehadirannya.
Detak jantung Jian Heng memacu seiring dengan suara langkah kaki seseorang yang terdengar sedang menuju ke sana. Bayangan Fang Yin belum tampak, tetapi dia sudah merasa mencium aroma tubuhnya.
Dia mengenalnya sangat dekat melebihi dia mengenal keluarganya sendiri karena tanda itu menjadi ikatan tak terlihat di antara keduanya. Seberapa jauh Fang Yin pergi, dia akan tetap menemukannya dan tidak akan pernah salah orang.
Ketegangan di wajah Kaisar Jing sangat jelas terlihat. Dia masih berharap jika Fang Yin bukanlah, wanita yang dicari oleh Pangeran Xi Jian Heng.
Fang Yin memasuki ruangan itu tanpa banyak berpikir. Langkahnya begitu santai hingga dia melihat pria yang sangat dikenalnya. Untuk sejenak dia berdiri mematung tersihir oleh penampilan Jian Heng yang terlihat berbeda. Dia seperti terjebak antara ilusi dan kenyataan.
Identitas Jian Heng sebagai putra ketiga Kaisar Xi tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Mulai hari ini Fang Yin akan mengetahui tentang siapa dirinya sebenarnya.
Jian Heng beranjak dari duduknya dan tertegun melihat Fang Yin. Mereka saling menatap dalam kebisuan.
"Ehemm! Silakan duduk, Nona!" Kaisar Jing menyadarkan lamunan mereka.
Fang Yin duduk di kursi yang berseberangan dengan Jian Heng dan Jian Heng kembali duduk di kursinya.
Kaisar Jing mencoba untuk tetap bersikap biasa meskipun hatinya bergejolak. Paru-parunya seakan berhenti memompa udara dan membuat dadanya terasa sesak.
\*\*\*\*
Bersambung ....
__ADS_1