
Bukan hanya Fang Yin saja yang merasa kesal, Jian Heng pun merasakan hal yang sama. Wajahnya terlihat kurang bersemangat. Dengan malas dia berbenah dan mengikuti Fang Yin untuk merapikan penampilannya.
"Tunggu sebentar, Yin'er! Jangan dibuka dulu pintunya!" larang Jian Heng ketika melihat Fang Yin sudah hampir selesai bersiap.
Fang Yin menoleh ke arah Jian Heng yang masih berantakan sekali. Rona wajahnya terlihat memerah ketika melihat tubuh suaminya yang belum tertutupi sepenuhnya.
"Aku sebentar lagi selesai." Fang Yin memasang jepit rambut terakhirnya.
Sebuah senyuman terbit di wajah Jian Heng ketika mendengar ucapan Fang Yin. Dia merasa sangat senang karena mendapatkan sebuah ide. Dengan senyum yang masih mengembang, dia datang mendekati Fang Yin.
"Sayang, bantu aku untuk merapikan pakaianku," ucap Jian Heng sambil memamerkan gigi-gigi putihnya.
Ucapannya sedikit mengejutkan untuk Fang Yin. Selama ini dia adalah sosok yang sangat mandiri. Menurutnya sangat mengherankan ketika melihat Jian Heng bersikap manja. Namun demikian, Fang Yin tetap melakukan apa yang diminta olehnya.
Jian Heng tersenyum ketika melihat Fang Yin yang tampak malu-malu. Saat membantunya berbenah dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Tingkahnya itu membuat Jian Heng tidak habis pikir mengingat Fang Yin sudah melihatnya polos beberapa kali.
"Kenapa kamu harus malu? Bukankah setiap hari kamu sudah melihatnya?" goda Jian Heng.
Ucapan Jian Heng membuat Fang Yin menghentikan aktifitasnya. Bibirnya mengerucut dengan bola mata yang dimainkan.
"Bisa tidak kamu untuk diam. Aku takut salah memasang atributmu," ucap Fang Yin sambil mendengus kesal.
"Baiklah, Tuan Putri. Aku tidak akan mengganggumu sampai kamu selesai." Jian Heng terus melihat ke arah Fang Yin yang sedang bekerja.
Tidak ada lagi perdebatan di antara mereka. Jian Heng memilih untuk diam dan sesekali terlihat mengulum senyumnya saat mendapati hal yang lucu di antara mereka. Dia merasa sangat senang saat melihat wajah malu-malu Fang Yin yang tampak begitu menggemaskan.
Berada di dekatnya adalah sesuatu yang sangat menggembirakan. Terkadang Jian Heng merasa enggan untuk berjauhan dari istri. Namun, kewajibannya sebagai seorang Kaisar membuatnya harus rela mengesampingkan urusan pribadinya demi rakyatnya.
"Nah, sudah selesai!" Fang Yin tersenyum puas lalu menepuk dada Jian Heng dengan lembut sebelum berpaling ke arah lain.
Saat akan beranjak pergi, Jian Heng menarik tangan Fang Yin sehingga dia jatuh dalam pelukannya.
"Kamu masih memiliki hutang yang belum lunas. Setelah urusan kita selesai, kamu harus segera menuntaskannya," bisik Jian Heng.
Setelah mengatakan itu dia melepaskan Fang Yin dan membiarkannya pergi dengan wajah yang memerah.
Jian Heng berjalan di belakang dengan langkah yang pelan. Tangan kanannya mengulur ke depan dengan telapak tangan yang mendorong ke tempat kosong. Dia menghilangkan pembatas tak terlihat yang dia tanam sebelumnya.
Penjaga istana dan prajurit yang melapor terdiam ketika melihat pintu ruangan Fang Yin terbuka. Mereka segera mengambil sikap dan memberi penghormatan kepada Fang Yin dan Jian Heng. Sebelum diminta mereka tidak berani untuk membuka suara.
"Berdirilah! Apa yang sedang kalian ributkan? Apakah tidak bisa menunggu kami selesai beristirahat?" tanya Fang Yin sambil menatap kesal ke arah mereka.
Masih dalam posisi menunduk kedua pengawal itu saling menatap satu sama lain dengan tatapan menyalahkan. Mereka merasa jika salah satu diantara merekalah yang salah. Namun, mereka tidak berani untuk berkata apapun.
"Cepat katakan ada berita apa sehingga kalian tidak membiarkan kami untuk beristirahat dengan tenang?" imbuh Jian Heng.
Tidak ingin membuat Fang Yin dan Jian Heng semakin marah akhirnya pengawal yang hendak melapor pun angkat bicara.
"Ampun, Yang Mulia. Saat ini kita kedatangan tamu dari Kekaisaran Benua Tengah. Mereka datang membawa pesan yang ingin disampaikan langsung kepada Anda, Yang Mulia," ucap pengawal yang melapor.
Fang Yin dan Jian Heng saling berpandangan. Takut jika yang dibawanya adalah berita yang sangat penting, mereka pun segera pergi untuk menemui utusan tersebut di aula utama.
"Aku akan pergi untuk menemuinya sekarang. Kalian bisa kembali bertugas," ucap Jian Heng sesaat sebelum berjalan meninggalkan istana mereka.
Fang Yin berjalan mengikutinya di belakang.
Keduanya melangkah tergesa karena merasa sangat penasaran dengan kabar yang dibawa oleh utusan dari keluarga Jian Heng. Sudah cukup lama mereka tidak saling bertemu atau berkomunikasi. Baik Jian Heng maupun keluarganya disibukan oleh urusan masing-masing yang sempat tergeser ketika mereka tinggal di istana Kekaisaran Benua Timur.
Baik Fang Yin maupun Jian Heng hanya mengangguk untuk membalas sapaan dan penghormatan para penghuni istana yang berpapasan dengan keduanya. Mereka pun akhirnya sampai di tempat utusan itu sedang menunggu. Rupanya, Huan Ran sudah berada di sana.
Melihat kedatangan Fang Yin dan Jian Heng, Huan Ran dan utusan dari Kekaisaran Benua Tengah berdiri lalu menyatukan kedua tangannya untuk memberi hormat.
Jian Heng memberi isyarat agar keduanya kembali untuk duduk.
"Mohon maaf jika kedatangan saya telah mengganggu istirahat, Yang Mulia," ucap utusan Kekaisaran Benua Tengah berbasa-basi.
"Bukan masalah yang besar. Katakan kabar apa yang kamu bawa!" Jian Heng tidak sabar untuk mendengarkan berita yang dibawa oleh utusan keluarganya.
Utusan dari Kekaisaran Benua Tengah mengeluarkan sebuah gulungan surat dan menyerahkannya kepada Jian Heng. Dia sendiri tidak tahu apa isi yang tertulis di dalamnya.
Fang Yin yang duduk di samping Jian Heng ikut membaca gulungan pesan ketika dia telah membukanya. Gulungan itu berisi pesan yang mengatakan bahwa Selir Tang akan datang ke Kekaisaran Benua Timur dalam waktu dekat. Ekspresi wajah Jian Heng dan Fang Yin terlihat sangat senang, sudah cukup lama mereka tidak bertemu.
"Aku merasa sungkan kepada ibu mertua dan ayah mertua. Seharusnya kita yang lebih muda yang datang untuk berkunjung. Sungguh aku merasa sangat malu." Fang Yin mengungkapkan perasaannya.
"Tenanglah! Keluargaku sangat pengertian. Mereka tahu jika negeri yang kita pimpin sekarang sedang dalam masa berbenah. Sudah sewajarnya kita tetap berada di istana untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin."
__ADS_1
Ucapan dari Jian Heng mendapatkan anggukan dari utusan dan Huan Ran. Tidak akan ada yang menyalahkan ketidakhadiran pemimpin mereka dalam berbagai acara di luar pemerintahan. Setiap kali mendapatkan undangan dari kerajaan atau kekaisaran lain, Jian Heng mewakilkannya pada anggota dewan atau keluarganya.
Jian Heng meminta utusan itu untuk menunggunya menuliskan jawaban dari pesan yang dikirim oleh keluarganya. Tidak lupa dia juga mengungkapkan permohonan maaf atas ketidakhadirannya dalam berbagai kesempatan.
"Sekarang kamu bisa beristirahat dan menikmati makan siang terlebih dahulu. Aku akan menambahkan stempel kerajaan pada surat ini sebelum menyerahkannya padamu." Jian Heng lalu meminta pada Huan Ran untuk menjamu utusan tersebut sebaik mungkin.
Sebelum pergi utusan mengatakan jika dia akan kembali ke Kekaisaran Benua Tengah setelah malam turun. Kaisar Xi sudah berpesan kepadanya bahwa dia harus segera kembali setelah melakukan tugasnya untuk menyampaikan pesan.
Stempel resmi Kekaisaran Benua Timur berada di ruang kerja Jian Heng. Tidak ingin kembali ke istananya seorang diri, Fang Yin memilih untuk pergi mengikuti Jian Heng. Sudah beberapa waktu dia tidak melihat seperti apa keadaan ruang kerja suaminya.
Saat Jian Heng sibuk dengan gulungan yang ingin dia kirim untuk keluarganya, Fang Yin sibuk berkeliling untuk melihat-lihat seisi ruangan. Tempat itu cukup rapi tetapi dia merasa jika masih ada yang kurang. Ada beberapa bagian yang ingin ditambahkannya di sana, tentu saja harus dengan izin dari Jian Heng.
Karena terlalu fokus sampai-sampai Fang Yin tidak melihat jika Jian Heng datang menghampirinya. Dia sedikit terkejut saat tangan Jian Heng menyentuh bahunya dengan lembut.
"Apa yang kamu pikirkan, Yin'er? Hmm, sedikit sentuhanku saja membuatmu berjingkat." Jian Heng berbicara dengan dagu yang diletakkan di atas bahu Fang Yin sebelah sementara kedua tangannya melingkar di perut.
Tangan kiri Fang Yin menumpuk pada tangan kanan Jian Heng sedangkan tangan kanannya memegang pipi kanan suaminya.
"Aku hanya sedang memikirkan perbaikan untuk ruang kerjamu. Seharusnya bagian ini diperluas, di sini diletakkan sebuah rak lagi dan di ujung sana ada tempat yang nyaman untuk bersantai." Fang Yin menjelaskan sambil menunjuk ke arah yang dia maksud.
Pandangan Jian Heng bergerak mengikuti telunjuk tangan Fang Yin. Kepalanya mengangguk-angguk. Sepertinya apa yang dikatakan oleh istrinya itu memang ada benarnya.
"Pendapat yang bagus. Tapi kita tidak perlu terburu-buru untuk melakukan perubahan terhadap ruangan ini. Selama masih bisa digunakan aku akan tetap menyukainya. Lagipula barang-barang milikku cukup banyak, itu tidak memiliki tempat untuk menampungnya ketika ruangan ini diperbaiki," jelas Jian Heng.
Fang Yin mengangguk. Sebelum melakukan perbaikan dia harus memikirkan banyak hal hal hingga yang terkecil. Akan menjadi masalah yang besar jika sampai ada satu barang penting milik Jian Heng yang hilang atau tercecer saat dalam proses pemindahan.
Melihat wajah bingung istrinya, Jian Heng merasa tidak enak. Seharusnya tadi dia menuruti apa katanya saja sehingga Fang Yin tidak perlu repot-repot untuk mencari cara lain.
"Kita bisa memikirkannya lagi lain waktu. Biarkan para pekerja menyelesaikan pekerjaan yang sudah mereka mulai terlebih dahulu," ucap Jian Heng tidak ingin Fang Yin pusing memikirkan suatu hal yang tidak begitu penting untuk saat ini.
"Kamu benar tetapi aku sudah menemukan ide lain yang lebih bagus dari ini." Fang Yin memutar tubuhnya dengan cepat sehingga posisinya kini saling berhadapan dengan Jian Heng.
Binar-binar mata indah Fang Yin membuat Jian Heng ikut larut dalam suasana. Sebenarnya dia tidak tahu apa yang membuat Fang Yin terlihat begitu bahagia tetapi dia ikut merasakan kebahagiaan itu. Ikatan batin di antara keduanya menumbuhkan perasaan yang selalu terhubung satu sama lain.
Tidak ingin mengecewakan Fang Yin, Jian Heng pun akhirnya mengangguk agar dia mengungkapkan apa rencananya. Sangat sulit baginya untuk menolak keinginan Fang Yin. Terlebih lagi semua ini dia lakukan untuk dirinya.
Tiba-tiba saja Fang Yin menarik tangannya dan membawanya pergi keluar dari ruangan itu. Mereka berjalan menuju ke sebuah tempat kosong yang berada di sisi aula pertemuan dan halaman utama. Menurutnya tempat itu cukup luas untuk membangun sebuah ruang kerja sesuai yang diharapkan oleh Fang Yin.
"Aku ingin membuat ruang kerja yang baru. Dengan begitu kita tidak perlu memindahkan barang-barang penting sebelum ruangan ini jadi. Tempat ini tidak digunakan untuk apapun sehingga bisa memanfaatkan," jelas Fang Yin sambil menggerakkan tangannya ketika menjalankan sesuatu dengan detail.
Pernyataannya membuat Jian Heng tidak langsung menyetujuinya. Selain membutuhkan biaya yang tidak sedikit dia juga merasa sayang dengan ruangan sebelumnya yang sudah tidak terpakai lagi.
"Kita bisa menggunakannya untuk menyimpan berkas-berkas penting milikmu agar tidak tercampur dengan berkas umum kerajaan. Bukankah selama ini kamu terkadang kesulitan untuk menemukan barang yang kamu cari?" tanya Fang Yin mencoba meyakinkan Jian Heng.
Jika ini tidak berhasil, dia telah siap dengan ide-ide yang lain. Sifat pantang menyerahnya tidak akan membiarkan dirinya berhenti begitu saja ketika Jian Heng menolak. Egonya yang tinggi juga menuntutnya untuk selalu menjadi pemenang.
"Baiklah-baiklah, Tuan Putri. Ruangan itu akan segera dibuat di sini tetapi semuanya aku serahkan padamu. Aku tidak memiliki selera yang bagus untuk memilih dan mendekorasi ruangan." Jian Heng akhirnya mengalah dan membiarkan Fang Yin membangun ruang kerja baru untuknya.
Tidak ada gunanya berdebat, toh semuanya juga dipersembahkan untuknya. Mungkin itu adalah bentuk dari perhatian dan penghargaan istrinya. Justru semestinya dia harus berterima kasih.
Fang Yin tersenyum senang. Hatinya merasa lega karena pada akhirnya Jian Heng meluluskan keinginannya. Mereka lalu kembali ke ruang kerja lama. Di sana keduanya hanya tinggal sebentar saja. Setelah mengambil balasan pesan untuk keluarganya di Benua Tengah, Jian Heng dan Fang Yin kembali ke aula utama untuk menemui utusan Kekaisaran Benua Tengah.
Mengingat hari masih sore, Jian Heng memintanya untuk kembali beristirahat sebelum kembali ke Kekaisaran Benua Tengah.
"Yin'er, kembalilah ke istana lebih dulu. Aku akan menyelesaikan sedikit pekerjaan." Jian Heng menghentikan langkahnya di dekat persimpangan jalan antara ke ruang kerja dan ke istananya.
Fang Yin cukup mengerti tentang kesibukan suaminya. Dia hanya mengangguk lalu pergi.
Keduanya berpisah ke tempat tujuan mereka masing-masing.
'Belum waktunya aku mandi. Masih ada sedikit waktu untukku tidur.' Fang Yin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur ketika dia telah sampai di istananya.
"Hoamm! Akhir-akhir ini aku merasa begitu cepat lelah. Sepertinya aku sudah cukup makan tapi tidak tahu kenapa aku selalu lapar." Fang Yin menoleh ke atas meja yang masih menyimpan beberapa makanan.
Rasa malas membuatnya enggan terbangun hingga lambat laun matanya menjadi berat dan mulai terlelap. Fang Yin masih tertidur meskipun hari sudah sore dan Jian Heng sudah kembali ke istananya. Dia sedikit terkejut melihat istrinya masih menggunakan pakaian yang sama dengan yang dia kenakan saat bersamanya, itu artinya Fang Yin belum mandi dan membersihkan diri.
"Hmm. Sepertinya kamu merasa sangat lelah." Jian Heng mengusap kepalanya lalu mengecup keningnya.
Jian Heng sengaja tidak membangunkan Fang Yin dan meninggalkannya untuk membersihkan diri. Tidak masalah jika dia tidak mandi mungkin tubuhnya sedang tidak enak. Selama ini Fang Yin jarang sekali sakit kecuali terluka setelah pertarungan.
Ketika Jian Heng sedang tidak berada di tempat, seseorang datang untuk mengabarkan kepulangan Tian Feng dari perbatasan barat. Suaranya yang lantang akhirnya membuat Fang Yin terbangun. Dalam keadaan yang sangat berantakan dia berjalan menuju ke arah pintu.
'Astaga rupanya hari sudah gelap dan lampu-lampu sudah menyala. Itu berarti Kak Heng tadi sudah kembali. Mengapa dia tidak membangunkanku?' Fang Yin terus berjalan dan mengabaikan penampilannya yang tidak karuan meskipun dia sudah menyadarinya.
Ternyata yang datang adalah salah satu dari anggota pasukan Tian Feng. Dia ingin datang untuk melapor tentang kedatangan rombongan yang dipimpin oleh ayah sambungnya tersebut.
__ADS_1
"Selamat malam, Yang Mulia. Maaf telah mengganggu istirahat Anda," ucap pria itu.
Fang Yin mengangguk.
"Berita apa yang kamu bawa?" tanya Fang Yin tidak ingin berbasa-basi.
Masih dengan kedua tangannya yang menyatu prajurit itu siap untuk melapor. Di belakangnya muncul sebuah bayangan yang tidak lain adalah Jian Heng.
"Ada apa, Yin'er?" tanya Jian Heng sudah berpenampilan rapi dan wangi sehabis mandi.
Muka Fang Yin memerah mengingat penampilannya yang kontras dengan penampilan Jian Heng. Dia merasa sangat malu saat mengingat dirinya ketiduran sore itu.
"Pasukan dari perbatasan barat telah kembali, dia ingin melapor," jawab Fang Yin.
Jian Heng mengangguk.
"Tunggu sebentar! Yang Mulia Kaisar yang akan menerima berita darimu. Aku akan segera kembali," lanjut Fang Yin lalu segera pergi dari hadapan mereka.
Jian Heng merasa aneh tetapi tidak ingin menghentikan Fang Yin. Tatapan penuh tanya mengantar istrinya itu hingga tidak terlihat lagi. Setelah tidak terlihat, dia lalu beralih menatap ke arah prajurit yang hendak melapor.
Di tempat pemandian, Fang Yin disambut oleh beberapa orang pelayan yang hendak membantunya. Tidak seperti biasanya, Fang Yin tidak ingin seorang pun menunggunya di depan pemandian. Keadaan hari yang sudah gelap membuat nyala dari simbol Dewi Naga di punggungnya, para pelayan yang belum pernah melihatnya pasti akan terkejut saat melihatnya.
Setelah selesai menyiapkan semua keperluan Fang Yin, para pelayan itu segera pergi dari sana sesuai keinginannya.
Aroma terapi yang segar membuat ruangan itu begitu harum. Biasanya Fang Yin sangat menyukainya tetapi tidak dengan hari ini. Dia merasa jika aroma itu begitu menyengat di hidungnya.
"Sepertinya ini masih dengan buhur yang sama tetapi aku merasa jika ini terlalu wangi." Fang Yin berkomentar sebelum masuk ke dalam kolam mandinya.
Tangannya mengibas untuk menghilangkan buhur-buhur itu dari hadapannya. Semua buhur-buhur itu jatuh membeku di lantai dan tidak mengeluarkan aroma lagi. Fang Yin teersenyum setelah tidak terganggu lagi dengannya.
Untuk kolam mandinya, Fang Yin memilih aroma wangi yang paling ringan dan nyaman di hidungnya. Perubahan selera yang tiba-tiba berubah membuatnya merasa heran tetapi dia tidak tahu tentang apa penyebabnya. Saat mandi pun Fang Yin tidak ingin berlama-lama di sana.
'Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Mungkin aku hanya merasa lelah saja.' Fang Yin mengabaikan semua yang terjadi dan segera bersiap untuk kembali ke istana.
Kedua alisnya saling bertaut ketika dia mendapati beberapa orang pelayan dan penjaga istana sedang berdiri di halaman pemandian. Mereka juga terlihat heran saat melihat Fang Yin muncul dari sana.
Masih dengan keheranannya, Fang Yin berjalan mendekati mereka. Sebelum pergi dari sana dia ingin tahu tentang apa yang terjadi.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Apakah kalian sedang mencariku untuk menyampaikan berita yang penting?" tanya Fang Yin tidak ingin berlama-lama memendam rasa penasaran.
Mereka tidak langsung menjawab dan saling menatap satu sama lain. Wajah polos mereka menggambarkan suatu hal yang sulit untuk dipahami. Gagal menebak sikap aneh mereka, Fang Yin pun kembali mengulangi pertanyaannya.
Para pelayan dan penjaga itu pun akhirnya mendorong salah seorang di antara mereka untuk menjelaskan semuanya.
"Ampun, Yang Mulia. Kami tidak bermaksud untuk mengganggu waktu Anda, bahkan kami tidak tahu jika orang yang sedang berada di pemandian adalah Anda."
Fang Yin mengangguk meskipun jawaban itu bisa memuaskan rasa ingin tahunya. Dia berharap ada lanjutan dari kalimat penjelasan mereka. Dan memang benar, orang itu terlihat ingin kembali berucap.
"Kami melihat cahaya berpendar di atas pemandian dan datang ke sini untuk memeriksanya. Namun, tiba-tiba Anda keluar dari dalam dan membuat kami terkejut," jelasnya lagi.
Cahaya yang dimaksud oleh mereka diartikan oleh Fang Yin sebagai cahaya dari simbol Dewi Naga. Dia tidak ingin membahasnya lebih lanjut dan hanya membalasnya dengan senyuman. Merasa tidak ada hal lain yang ingin dilakukannya di sana, Fang Yin memilih untuk segera kembali ke istananya.
Melihat Fang Yin yang telah melangkah pergi, para pelayan yang berkumpul pun kembali bergunjing.
"Tadi itu apa, ya? Apakah mungkin Yang Mulia permaisuri mandi sambil berlatih?" ucap salah seorang di antara mereka.
"Benar. Cahaya yang sangat indah membumbung ke langit. Aku rasa bukan kita saja yang melihatnya," imbuh yang lainnya.
"Jika tadi cahaya energi saat berlatih, mengapa hanya sesingkat itu? Entahlah, kita tidak tahu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kekuatan spiritual."
Mereka terus berbicara dan tidak ingin mengambil pusing tentang apa yang tidak mereka ketahui.
Semua percakapan mereka terdengar oleh Fang Yin karena dia berhenti di luar pemandian. Ucapan mereka terdengar sangat jelas di telinganya meskipun tidak ada orang lain yang mendengarnya atas kemampuannya. Di sepanjang perjalanannya menuju ke istana dia terus berpikir untuk memecahkan misteri dari ucapan para pelayan.
'Mereka tidak mungkin berbohong hanya dan membuat kehebohan yang dibuat-buat. Cahaya dari simbol Dewi Naga tidak mungkin menembus dinding. Dia hanya memancar untuk menerangi keadaan di sekitarnya. Sungguh, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku.' Fang Yin berjalan sambil melamun sampai-sampai dia tidak mendengar dan mengabaikan sapaan para penghuni istana yang menyapanya.
Di depan pintu kamarnya, Jian Heng sudah menunggunya. Dia terlihat senang melihat Fang Yin sudah terlihat rapi. Sebelumnya dia berpikir jika istrinya itu pergi mendahuluinya ke ruang perjamuan.
"Yin'er, rupanya kamu sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang!" seru Jian Heng. Dia meraih tangan Fang Yin dan membawanya keluar dari istana.
Awalnya Fang Yin pasrah saja tetapi setelah pikirannya kembali terbuka dia pun bertanya.
"Kita mau ke mana, Kak?" tanyanya polos.
Jian Heng membawanya berhenti lalu menatapnya dalam. Dia merasa ada yang aneh dengan Fang Yin.
__ADS_1
****
Bersambung ....