Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 369. Bukit Salju Abadi


__ADS_3

Fang Yin memimpin di depan dan berjalan mengendap-endap menuruni Bukit Lentera Emas. Mereka bisa melihat dengan jelas keadaan di sekeliling bukit dari tempat mereka berada saat ini.


Puluhan orang berdiri di depan goa. Mereka membawa berbagai senjata di tangannya dengan wajah tidak sabar.


'Aneh. Mengapa mereka tidak masuk saja ke dalam goa dan malah menunggu di luar?' Fang Yin berpikir sambil bersiap untuk turun.


"Apakah kita akan turun sekarang, Yin'er?" bisik Yu Ruo tidak sabar.


"Tidak. Kita akan turun saat mereka mengadakan perlawanan. Jika mereka bersikap damai maka tidak ada alasan bagi kita untuk menyerang," jelas Fang Yin dengan suara yang pelan.


Yu Ruo dan yang lainnya mengangguk.


Shi Jun Hui dan Shi Han Wu telah keluar dari dalam goa. Mereka berpura-pura bersikap acuh pada penduduk desa yang sedang berkumpul di sana.


Keduanya berjalan dengan santai melewati penduduk dengan kedua tangan yang menyatu untuk mengisyaratkan penghormatan.


Ketika Shi Jun Hui dan Shi Han Wu berada di tengah-tengah kerumunan, para penduduk desa mengepungnya. Langkah mereka pun terhenti dan mencoba untuk memahami apa yang diinginkan oleh penduduk desa.


"Enak saja mau pergi begitu saja setelah mengacau di tempat ini. Kalian sudah membunuh bandit naga dan layak untuk diberi hukuman yang setimpal!" seru salah seorang penduduk desa.


Shi Han Wu maju ke depan dan mengeluarkan auranya. Tubuhnya perlahan membumbung tinggi ke atas. Sebuah kecapi muncul di tangannya.


Lain halnya dengan Shi Jun Hui yang mengeluarkan pedang bintang lima untuk bersiap melawan musuh-musuhnya.


"Kami tidak pernah mengundang permusuhan. Anggota bandit naga yang menyerang kami terlebih dahulu ketika kami akan memasuki goa. Sebelum kalian menyesal sebaiknya kalian mundur saja dan membiarkan kami lewat," ucap Shi Jun Hui menawarkan perdamaian.


Ucapannya tidak mendapatkan sambutan apapun dari penduduk desa. Wajah mereka tidak menunjukkan perdamaian tetapi mereka juga tidak ingin melawan.


Shi Jun Hui dan Shi Han Wu saling berpandangan. Mereka merasa aneh dengan yang dilakukan oleh penduduk desa. Mereka tidak juga melakukan perlawanan tetapi juga tidak membiarkan keduanya pergi.


'Sepertinya orang-orang ini hanya menahan kepergian kami. Perasaanku mengatakan jika mereka sedang menunggu seseorang yang datang.' Shi Han Wu bermonolog dalam hati.


Di tempat yang tersembunyi Yu Ruo kembali bertanya pada Fang Yin untuk meminta mereka pergi menyusul Shi Jun Hui dan Shi Han Wu.


"Mengapa aku tidak meminta nenek bergabung dengan mereka sejak awal?" kesal Fang Yin.


Itulah mengapa dia tidak meminta neneknya bergabung bersama kedua kakeknya. Yu Ruo tipe orang yang tidak sabaran dan suka seenaknya. Sulit dipercaya jika sifat ini juga menurun pada Fang Yin.


"Hmm. Kita tidak bisa terus berdiam seperti ini, Yin'er. Kakiku kesemutan." Yu Ruo tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berdiri.


"Aku merasakan ada kekuatan besar datang mendekat ke tempat ini. Sebaiknya kita waspada. Kekuatan itu terus mendekat dan terasa begitu kuat." Fang Yin merasakan hawa kehadiran beberapa orang dengan aura energi yang sangat pekat.


Yu Ruo dan yang lainnya bersikap waspada. Ucapan Fang Yin membuat keadaan mendadak menjadi tegang.


Tidak lama kemudian hawa energi membuat angin berhembus kencang. Binatang yang berada di sekeliling mereka berlari ketakutan. Suhu udara terasa meningkat menjadi sangat panas dan membuat semua orang berkeringat.


Fang Yin belum mengambil tindakan apapun. Dalam menghadapi sebuah masalah yang besar dia mulai berhati-hati.


"Yin'er, kita harus mengeluarkan Qi Awan Salju sebelum alam ini mengering," ucap Selir Shi.


"Tenanglah, Ibu. Aku ingin melihat siapa orang yang ada dibalik kejadian ini."


Tidak berselang lama setelah Fang Yin mengatakan itu, beberapa orang berkelebat dengan cepat menghampiri kerumunan penduduk desa yang mengurung Shi Jun Hui dan Shi Han Wu. Fang Yin merasa tidak asing dengan seragam yang dipakai orang-orang itu.


Pemimpin mereka mengeluarkan aura api yang sangat panas dan membuat udara disekelilingnya seperti neraka.


Penduduk desa menjauh untuk menyelamatkan diri mereka. Tinggal kedua kakek Fang Yin yang berdiri dengan tenang menghadapi pasukan yang datang.


"Mereka adalah pasukan penjaga perbatasan Benua Utara. Bukit Lentera Emas berada di garis perbatasan. Orang yang berada di paling depan adalah Panglima Shucheng. Penduduk desa pasti melaporkan kematian bandit naga kepadanya. Sejauh ini mereka bekerja sama untuk menjaga wilayah ini," jelas Fang Yin.


"Kamu mengenalnya?" tanya Yu Ruo.


Fang Yin menggeleng.


"Aku pernah tinggal di istana Kekaisaran Benua Utara. Sesekali aku mendengarkan percakapan antara Kaisar Jing dengan para pembesar istana tentang penataan wilayah dan pemerataan." Fang Yin kembali menjelaskan.


"Aku dengar Benua Utara sangat tidak adil pada wanita dan memperlakukannya dengan semena-mena. Apakah itu benar, Yin'er?" tanya Selir Ning.


Fang Yin mengangguk lalu berkata, "Itu benar. Meskipun Kaisar Jing telah melakukan perubahan tetap saja sangat sulit bagi penduduknya untuk merubah kebiasaan yang sudah mendarah daging selama ribuan tahun lamanya."


"Jadi, karena masalah ini kamu meminta kami bersembunyi? Apakah tidak sebaiknya kita tidak turun membantu saja?" tanya Yu Ruo.


"Aku memiliki rencana," ucap Fang Yin. Dia lalu meraih bahu kedua ibu dan neneknya untuk mendekat.


Fang Yin ingin mempermalukan Panglima Shucheng dengan mengalahkan pasukannya. Selama ini dia sangat sombong dan merasa menjadi pasukan paling kuat bagi Kekaisaran Benua Utara.


Kekuatan mereka memang sangat besar dan beberapa kali memenangkan pertarungan besar. Para bandit yang hidup di wilayah perbatasan dan seluruh wilayah Benua Utara bertekuk lutut pada mereka.


"Yin'er! Kedua kakekmu terlihat kewalahan menghadapi mereka. Jumlah dan kekuatan mereka tidak seimbang," ucap Yu Ruo bernada khawatir.


"Baiklah, kita mulai sekarang. Ibu, minumlah pil ini!" Fang Yin memberikan sebuah pil peningkat energi kepada Selir Ning.


Kali ini Fang Yin, Selir Shi, dan Yu Ruo akan menggunakan Qi Awan Salju untuk membekukan wilayah ini. Tidak tanggung-tanggung, ketiganya ingin menggunakan Jurus Es Abadi. Dengan jurus ini, setelah pertarungan berakhir, wilayah ini akan tetap tertutup oleh salju selamanya.


Keadaan ini akan membuat penduduk desa di sekitarnya harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang mungkin berada di luar kebiasaan mereka. Jika semula bukit itu memiliki hawa yang panas, rumah-rumah penduduk di sekeliling Bukit Lentera Emas tentu memiliki dinding yang tidak rapat. Mereka bisa mati kedinginan jika tetap bertahan dengan kebiasaannya kecuali mereka berpindah ke tempat yang jauh dari bukit ini.


Selir Shi, Fang Yin dan Yu Ruo berdiri membentuk formasi segitiga di atas Bukit Lentera Emas. Mereka bisa melihat keadaan di bawah bukit tetapi orang-orang yang berada di bawah tidak bisa melihat mereka berempat.


"Selir Ning, kami membutuhkanmu. Berdirilah di tengah formasi untuk menyetabilkan energi. Gunakan energi Cahaya Perak yang kamu miliki," ucap Yu Ruo.

__ADS_1


"Baik!" Selir Ning melompat ke tengah formasi.


Mereka segera memulai pemancaran energi dan mengumpulkannya di tengah. Kedua tangan Selir Ning mendorong ke atas dan membuat energi mereka yang terkumpul membumbung tinggi.


Udara di sekeliling mereka berhembus kencang dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Kekuatan dari Qi Awan Salju menekan ke segala arah melawan hawa panas yang semula memenuhi tempat itu.


Panglima ShuCheng terlihat bingung saat merasakan hawa dingin yang tiba-tiba datang. Dia tidak melihat ada orang lain di sana selain kedua orang yang sedang bertarung dengannya.


'Fenomena apa ini? Aku tidak melihat orang lain di sekitar tempat ini. Hawa dingin ini membuat kekuatanku melemah. Sial!' Panglima hucheng merutuki kemalangannya.


Wajahnya mendongak ke langit dan mendapati kabut putih menyelimutinya. Matahari yang semula bersinar cerah kini mendadak menjadi redup. Panglima Shucheng semakin yakin jika ini bukan fenomena biasa.


Penduduk desa yang tinggal di kaki Bukit Lentera Emas bersembunyi di bilik mereka untuk mengusir hawa dingin yang menyelimuti wilayahnya. Dari tempat mereka bisa melihat dengan jelas ada sesuatu yang memancar dari puncak Bukit Lentera Emas.


Cahaya putih berkilauan membumbung ke langit dengan ujung yang tak terlihat karena terhalang oleh kabut tebal yang menyelimuti langit. Mereka merasakan udara semakin dingin dan membuat mereka tidak bisa bernafas dengan baik.


Penduduk desa mencoba membuat perapian untuk menghangatkan tubuh mereka. Wajah para bayi dan anak-anak memucat. Mereka tidak kuat dengan hawa dingin yang memiliki tingkatan lebih dari hawa di musim dingin yang mereka alami.


"Kita harus pergi dari sini. Anak-anak bisa mati jika kita terus bertahan," ucap salah seorang penduduk kepada penduduk lain yang ditemuinya.


"Benar! Aku juga tidak sanggup bertahan dengan udara dingin ini. Api yang kami buat tidak mampu membuat tubuh kami menghangat."


"Iya! Sebelum semakin parah, mari kita berkemas. Kita pergi mencari tempat yang aman dari badai dingin yang melanda."


"Ayo! Kita berkemas dan berangkat bersama-sama meninggalkan desa ini."


Penduduk desa sepakat untuk pergi dari sana. Mereka berkemas dan berkumpul di jalan utama untuk pergi bersama-sama dari sana. Mereka menyerah pada keadaan, terlebih lagi bandit naga yang biasa melindungi mereka.


Kembali ke pertarungan,


Shi Jun Hui dan Shi Han Wu yang semula terdesak kini berubah menjadi pihak yang diuntungkan. Mereka tersenyum saat mengetahui jika cucunya memiliki ide sebagus ini. Semula mereka berpikir akan kalah menghadapi Panglima ShuCheng bersama lima puluh orang pasukannya.


Tubuh Shi Jun Hui mengalami beberapa luka sayatan tetapi dia tidak menyerah dan terus menyerang lawan-lawannya dengan gagah berani. Kemampuan bertarungnya memang tidak sehebat Shi Han Wu yang terus berpetualang dan mendapatkan banyak sekali pengalaman.


Perihnya luka yang dirasakan oleh Shi Jun Hui membuatnya menggila. Dia menyerang pasukan penjaga perbatasan dengan penuh semangat. Tebasan pedangnya membuat mereka tumbang satu persatu.


Salju mulai turun. Butiran-butiran kristal putih mendarat di tanah Bukit Lentera Emas dengan lembut.


"Salju? Bagaimana mungkin salju turun di musim panas?" seru Panglima Shucheng.


"Kamu menghadapi lawan yang salah. Kaisarmu begitu menghormati kami dan patuh pada perintah Putri Gu. Namun, apa yang kamu lakukan ini?" Shi Jun Hui berbicara dengan marah kepada Panglima Shucheng.


Mata Panglima Shucheng terbelalak saat mendengar pengakuan Shi Jun Hui. Tanpa pikir panjang dia langsung berlutut di kakinya. Pasukan yang tersisa mengikuti apa yang dilakukannya meskipun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Ampun, Tuan. Kami hanya menerima laporan dari penduduk desa. Mereka mengatakan jika ada pengacau yang ingin menguasai Bukit Lentera Emas dan membunuh seluruh anggota bandit naga." Panglima Shucheng mengatakan alasannya.


Telapak tangan kanannya membuka ke atas lalu Qi Awan Salju memancar dari sana. Wajah Panglima Shucheng yang semula masih menyimpan keraguan kini tidak bisa mengelak lagi.


Pasukan yang berada dibelakangnya kini mengerti mengapa pemimpin mereka begitu takut pada sepasang pria kembar di hadapannya.


Panglima Shucheng dan pasukannya terlihat seperti seorang pesakitan yang menanti diadili. Mereka tertunduk menahan sakitnya luka akibat pertarungan juga hawa dingin yang membuat mereka menggigil.


Sebenarnya Shi Jun Hui merasa iba. Keadaan mereka akan semakin memburuk jika terus berada di sana. Namun, sebelum Fang Yin memutuskan mereka berdua tidak akan berani mengambil tindakan.


"Han Wu, aku merasa iba pada mereka."


Sifat Shi Jun Hui memang memiliki lebih banyak sisi kelembutan ketimbang kekejamannya. Berbanding terbalik dengan Shi Han Wu yang bersifat dingin dan kejam karena sering dihadapkan pada ketidakadilan di kehidupannya yang berhubungan langsung dengan dunia luar.


"Tunggu Yin'er datang. Ini adalah Jurus Salju Abadi. Setelah salju turun mereka akan segera datang untuk bergabung," jelas Shi Han Wu.


Shi Jun Hui mengangguk.


Mereka diam terpaku tanpa melakukan apapun selama waktu menunggu. Butiran salju yang turun menutupi tanah dan pepohonan yang tumbuh di Bukit Lentera Emas.


Tidak hanya bukit dan seluruh permukaannya, kepala mereka juga memutih oleh salju yang jatuh di kepala. Ada beberapa prajurit yang tidak sanggup bertahan dan tumbang tak sadarkan diri.


Shi Jun Hui semakin khawatir. Satu persatu pasukan Panglima Shucheng terus berjatuhan.


'Aku harus melakukan sesuatu untuk menolong mereka tanpa melanggar perintah Yin'er.'


Kedua tangan Shi Jun Hui mengeluarkan energi dan membentuk bola raksasa. Bola itu memang memiliki sifat dingin tetapi mampu menaungi orang-orang yang berdiri di bawahnya dari efek Qi Awan Salju yang menyelimuti tempat itu.


"Apa yang kamu lakukan, Kek?" Suara Fang Yin mengejutkan semua orang.


Untuk mencapai tempat itu dia melakukan teknik teleportasi dan membawa serta kedua ibu dan neneknya.


Panglima Shucheng tidak mengenalinya karena Fang Yin tidak mengenakan penutup wajahnya. Selama ini dia dikenal sebagai wanita yang selalu menutupi wajahnya.


"Yin'er!" Shi Jun Hui menghentikan aktifitasnya. Energi yang belum terbentuk dengan sempurna menghilang begitu saja.


"Biarkan mereka begitu. Mari kita kembali."


Fang Yin tidak mempedulikan keberadaan Panglima Shucheng dan pasukannya. Melihat mereka berlutut di hadapan kakeknya, itu sudah cukup membuatnya malu dan terhina.


"Panglima Shucheng dari Benua Utara memberi hormat pada Putri Gu." Panglima Shucheng memberi hormat pada Fang Yin.


"Bawa pasukanmu pergi atau mereka semua akan mati konyol di sini." Fang Yin melompat ke udara.


"Terimakasih, Yang Mulia." Panglima Shucheng segera bergerak dan meminta pasukannya yang masih kuat untuk memapah temannya yang sudah tidak berdaya.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang." Fang Yin menatap ke atas Bukit Lentera Emas yang tidak lagi mengeluarkan cahaya api di puncaknya.


"Mulai hari ini, aku memberinya nama Bukit Salju Abadi."


Semua orang mengikuti tatapan Fang Yin dan melihat Bukit Lentera Emas yang berubah menjadi Bukit Salju Abadi. Merasa tidak ada yang perlu dikerjakan lagi di sana, Fang Yin membawa keluarganya pergi meninggalkan bukit.


Mereka menggunakan jurus terbangnya untuk pulang ke istana Benua Timur. Kuda mereka telah menghilang bersama kereta dan barang-barang yang ada di dalamnya. Penduduk desa telah merampas semuanya sebelum pergi meninggalkan desa.


***


Kabar menghilangnya Fang Yin terdengar juga ke telinga Jian Heng. Saat pasukan dari Benua Tengah sedang menjalankan misi, mereka bertemu dengan pasukan khusus dari Benua Timur yang sedang mencari keberadaan Fang Yin.


Pasukan khusus dari Benua Timur belum tahu jika pemimpin mereka telah kembali. Mereka masih terus mencari keberadaan Fang Yin hingga ke seluruh penjuru negeri. Setiap kali mereka mendengar informasi yang mengatakan tentang ciri-ciri Fang Yin, mereka langsung pergi mendatangi tempat tersebut.


Tidak ada yang melapor kepada Jian Heng secara langsung melainkan dia yang mendengarnya secara kebetulan. Pasukannya sedang berbincang satu sama lain dan membahas mengenai berita hilangnya Fang Yin. Di dalam obrolannya, mereka mengungkapkan kekhawatirannya jika Jian Heng mengetahui hal ini.


"Eheem!" Jian Heng berdehem ketika telah mendengar semua obrolan para prajuritnya.


Prajurit yang semula mengobrol seketika bungkam. Mendadak mereka menjadi patung. Tubuh mereka terlihat gemetar dengan wajah yang memucat.


Ketakutan terlihat jelas di wajah mereka. Para prajurit itu tidak bermaksud untuk membicarakan Pangeran Ketiga mereka. Tidak ada gunanya menyesal. Mau tidak mau mereka harus berhadapan langsung dengan Jian Heng dan mengatakan apa yang mereka ketahui padanya.


"Ampun, Yang Mulia. Kami tidak bermaksud untuk menggunjingkan Anda. Kami hanya mendiskusikan berita yang baru saja kami dengar." Salah seorang prajurit maju ke depan memberi hormat dan mencoba menjelaskan semuanya.


"Apakah kalian mengatakan hal yang sebenarnya atau hanya rumor?" tanya Jian Heng dengan tatapannya yang sangat tajam.


"Be-berita itu benar, Yang Mulia. Bahkan mereka bertanya langsung kepada kami dan memastikan jika Putri Gu tidak ada di negara ini."


Jian Heng tidak bisa berkata-kata lagi. Hatinya dipenuhi dengan perasaan cemas yang membuatnya tidak bisa bisa berpikir secara normal.


Berada di tengah-tengah prajurit tidak akan menyelesaikan masalahnya. Jian Heng bergegas pergi menuju ke istana kekaisaran. Berita ini harus segera disampaikan kepada ayahnya.


Kejadian yang menimpa Fang Yin menjadi pukulan berat untuknya. Jian Heng berjalan dengan begitu cepat dengan ekspresi wajah yang sulit dimengerti.


Langkahnya yang tergesa membuat penjaga dan para pelayan menerka-nerka. Mereka sangat yakin jika pangerannya berada dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sebelum mencapai gerbang istana kekaisaran mereka telah membukakan pintu dan menyambutnya.


Kaisar Xi sedang mengadakan rapat bersama para pembesar istana ketika Jian Heng datang. Meskipun sangat ingin mengatakan masalahnya saat itu juga, Jian Heng menahan dirinya dan menunggu sang ayah dan para anggota rapat untuk menyelesaikan pembicaraan mereka.


Pada saat diskusi berlangsung Kaisar Xi terus memperhatikan putranya yang sedang melamun dan terlihat murung. Konsentrasinya menguap begitu saja dan tidak bisa mengikuti rapat dengan serius.


Jika keadaan ini terus berlangsung maka dia tidak akan mengerti apa yang sedang mereka bahas. Kaisar Xi tidak bisa berpikir jernih dan menemukan solusi yang tepat untuk masalah yang sedang mereka perbincangkan.


Kaisar Xi meminta maaf kepada anggota rapat dan membubarkannya lebih awal. Mereka akan melanjutkannya esok hari. Para pembesar istana dan anggota pemerintahan satu persatu memberi hormat dan meninggalkan ruangan itu.


Mereka bertanya-tanya tentang perintah Kaisar Xi yang tiba-tiba, tetapi mereka tidak berani bertanya. Satu-satunya alasan yang mereka perkirakan adalah Pangeran Ketiga yang tiba-tiba datang dengan wajah yang sedih.


"Heng'er!" panggil Kaisar Xi.


Jian Heng yang sedang melamun tidak mendengarkan panggilan ayahnya. Matanya yang terbuka pun tidak melihat kepergian para anggota rapat. Dia tidak menyadari jika ruangan itu telah kosong dan hanya tersisa dirinya dan ayahnya saja di sana.


Sikap diam Jian Heng membuat Kaisar Xi semakin yakin jika putranya sedang tidak baik-baik saja. Percuma memanggilnya hingga beberapa kali karena hasilnya pasti akan sama. Seseorang yang sedang melamun hampir kehilangan sebagian besar kesadarannya, tidak heran jika Jian Heng tidak merespon perubahan yang ada di sekelilingnya.


"Heng'er!" panggil Kaisar Xi sambil menepuk pahu Jian Heng pelan.


Jian Heng terlihat kebingungan saat mendapati ayahnya sudah berdiri di hadapannya. Ruangan itu juga telah sepi dan tak berpenghuni.


"Ayah. Maaf aku tidak tahu sudah berapa lama ayah berada di hadapan ku." Jian Heng menunduk sedih.


"Sudahlah! Jangan kamu pikirkan! Kamu terlihat sangat murung, apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Kaisar Xi lembut.


"Aku ... aku ... aku tidak mengalami masalah, Ayah." Suara Jian Heng seperti tercekat saat akan mengatakan masalah hilangnya Fang Yin.


"Lalu?" Kaisar Xi mengernyitkan keningnya.


"Yin'er menghilang."


Mata Kaisar Xi terbelalak saat mendengar ucapan Jian Heng. Untuk beberapa saat dia juga larut dalam keterkejutannya. Namun, sebagai seseorang yang telah dewasa, dia lebih cepat mengatasi keadaan dan mengendalikan perasaannya.


"Aku tahu mungkin kabar itu benar tetapi kamu harus berpikir dengan jernih, Heng'er. Ribuan kesulitan telah dilalui oleh Yin'er. Mengkhawatirkan dengan segala yang dimilikinya saat ini adalah sebuah tindakan yang bodoh."


Jian Heng menatap ayahnya. Ucapannya menyadarkannya akan banyak hal. Tidak seharusnya dia berpikir jika Fang Yin menghilang selamanya dan mengalami sesuatu yang buruk. Namun, ketakutan lain kembali muncul. Jian Heng tidak ingin Fang Yin bertemu dengan pria yang lebih baik darinya dan meninggalkan. Dia takut kehilangan cinta sejatinya.


"Ayah. Aku ingin pernikahan kami dipercepat. Ada ataupun tidak Yin'er saat ini, aku tetap akan berangkat ke Kekaisaran Benua Timur hari ini juga."


Kaisar Xi tersenyum. Melihat putranya kembali bersemangat, dia merasa lega.


"Pergilah bersama beberapa pengawal. Aku akan menyusulmu dengan membawa hadiah pernikahan untuk kalian."


Jian Heng terlihat sangat senang.


"Terimakasih, Ayah." Jian Heng memeluk Kaisar Xi dan meluapkan perasaannya yang campur aduk.


Kabar keberangkatan Jian Heng menuju ke Benua Timur terdengar oleh seseorang yang menyamar menjadi prajurit.


'Aku harus ikut pergi dan menjadi pengawal Pangeran Ketiga menuju ke Benua Timur.'


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2