
Fang Yin bukanlah manusia biasa. Selain seorang Dewi Naga, dia juga ditakdirkan memiliki dua ingatan dan dua jiwa. Tubuhnya yang telah bertransformasi membuatnya memiliki sifat-sifat yang melampaui batas logika.
Suasana langit di negeri Benua Timur mendadak menampilkan fenomena aneh malam itu. Cahaya yang indah mirip seperti supernova mengubah langit yang gelap menjadi bercahaya.
Orang-orang yang sedang berada di luar rumah berteriak memanggil anggota keluarganya untuk melihat fenomena yang terjadi. Mereka berbondong-bondong pergi keluar untuk melihatnya secara beramai-ramai.
Keluarga istana juga merasa takjub dengan fenomena ini. Mereka berpikir jika ini adalah sebuah keajaiban dan berkah dari Dewa atas pernikahan Fang Yin dan Jian Heng.
Di luar pendapat mereka, kejadian ini merupakan pengumpulan energi dari Fang Yin dan Jian Heng. Ke depannya, Fang Yin tidak akan melahirkan seorang anak seperti wanita kebanyakan. Anaknya akan tercipta dari energi murni yang menyatu dari keduanya.
Fang Yin sendiri tidak tahu tentang hal ini. Tidak ada kitab yang menjelaskan tentang kelahiran keturunan Dewi Naga secara detail. Waktu kemunculan antara Dewi Naga terdahulu dengan Dewi Naga berikutnya berjarak cukup jauh sehingga tidak ada sumber informasi yang akurat.
Mungkin saja di masa lalu ada catatan tentang ini tetapi seiring dengan berjalannya waktu, catatan itu telah hilang termakan oleh zaman. Para Tetua dan peramal yang telah berusia ratusan hingga ribuan tahun pun tidak banyak tahu. Bagi mereka sangat tabu membahas tentang Dewi Naga.
Setelah fenomena supernova telah menghilang dari angkasa malam, para penduduk kembali beristirahat. Banyak di antara mereka yang memilih untuk berkumpul di luar rumah hingga pagi. Mereka menyiapkan hidangan kecil dan minuman hangat untuk menemani mereka tinggal di luar.
***
Setelah Jian Heng resmi menjadi suami dari Fang Yin, keluarga besar Kekaisaran Benua Timur berkumpul untuk membahas tentang pemegang kekuasaan tertinggi di negara itu. Mereka memberikan pilihan untuk Fang Yin dimana dia bisa mengambil peran itu atau menyerahkannya kepada Jian Heng.
Di hadapan kedua keluarga besar Fang Yin dan Jian Heng, Fang Yin menyatakan keputusannya. Dia menyerahkan kekuasaan kepada Jian Heng dengan syarat. Keputusan ini dilegalkan dalam sebuah dekrit dan disahkan oleh kedua keluarga.
Syarat yang diberikan oleh Fang Yin berjumlah tiga poin. Poin pertama Jian Heng harus mengabdikan seluruh hidupnya untuk Benua Timur, poin kedua dia harus mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, dan poin yang ketiga jika dikemudian hari Fang Yin tidak memberinya keturunan maka tahta kekaisaran akan diwariskan pada Klan Gu bukan keturunan Jian Heng dari pernikahan yang berbeda.
Semua orang setuju dengan persyaratan yang diajukan oleh Fang Yin. Hari itu juga Jian Heng dikukuhkan sebagai Kaisar Benua Timur yang baru.
Kaisar Xi dan seluruh keluarga bersiap untuk kembali ke Benua Tengah. Mereka akan berangkat menjelang pagi.
Selir Shi dan Gu Tian Feng mempersiapkan hadiah untuk besannya. Dalam hal ini dia juga melibatkan Selir Ning untuk membantu memilih.
"Selir Kedua, apakah ada yang kurang atau tidak?" tanya Selir Shi sambil memeriksa nampan dan kotak kayu yang berisi hadiah.
"Aku rasa ini saja sudah cukup. Pemberian kita sudah lebih dari pantas." Selir Ning juga turut memeriksa hadiah-hadiah di hadapannya.
"Baiklah! Sekarang kita pergi menemui ibu. Kita juga harus memeriksa perbekalan yang akan kita bawakan untuk mereka." Selir Shi bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.
Mereka melupakan keberadaan Gu Tian Feng yang sejak tadi duduk menunggu mereka. Dia sengaja berdiam diri agar tidak mengganggu konsentrasi para wanita yang sedang sibuk memilih hadiah. Namun, saat melihat kedua selir itu benar-benar pergi meninggalkannya, Tian Feng pura-pura terbatuk.
Selir Shi dan Selir Ning menghentikan langkahnya. Mereka menoleh pada Tian Feng secara bersamaan.
"Kak Feng!" Selir Shi lupa jika suaminya duduk dan menunggunya di sebuah bangku.
"Apakah aku boleh mengantarkan barang-barang ini sekarang?" tanya Tian Feng. Dia tidak ingin membahas kesalahan istrinya yang telah melupakan keberadaannya.
"Tentu saja. Aku akan menyusulmu menemui keluarga besan." Selir Shi juga tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
"Baiklah! Kamu boleh pergi," ucap Tian Feng kemudian.
Tidak ada yang berubah dari Tian Feng. Dia masih irit bicara dan lebih banyak diam. Dia tidak suka berbasa-basi dan hanya berbicara secukupnya saja.
Selir Shi dan Selir Ning kembali melangkah menuju ke tempat logistik dan dapur istana. Di sana sudah ada Yu Ruo dan para koki istana. Segala jenis hidangan dan beberapa bahan mentah disiapkan untuk perbekalan perjalanan Kaisar Xi dan rombongannya.
Di dalam istana, Fang Yin dan Jian Heng sedang bercengkerama bersama keluarga Kaisar Xi. Belum bisa dipastikan berapa lama lagi mereka akan bertemu. Mereka ingin menghabiskan waktu untuk bersama sebelum keluarganya kembali.
"Ibu, sering-seringlah mengunjungi kami," ucap Fang Yin pada Selir Tang.
__ADS_1
Selir Tang mengelus tangan Fang Yin lembut. Dia sangat senang memiliki menantu yang luar biasa sepertinya. Tidak di sangka, putra semata wayangnya kini menjadi penguasa tanpa harus berebut tahta dengan saudara-saudaranya.
"Tentu saja. Segeralah memberi ibu cucu, dengan begitu ibu pasti akan tinggal di sini lebih lama." Selir Tang berbicara santai sambil tersenyum.
Ucapan Selir Tang membuat Fang Yin tersipu. Dengan malu-malu dia menganggukkan kepalanya. Sebagai seorang wanita yang sudah menikah, memiliki seorang anak adalah sebuah anugerah yang tidak ternilai.
"Aku sangat senang mendengarnya." Selir Tang memeluk Fang Yin untuk meluapkan kebahagiaannya.
Apa yang dilakukan oleh Selir Tang dan Fang Yin terlihat dari tempat Jian Heng, ayah, dan kedua kakaknya berada. Keakraban di antara keduanya membuat hati para pria menghangat. Bagi mereka Fang Yin dan Selir Tang adalah dua wanita hebat yang sama-sama memiliki latar belakang sebagai seorang wanita kuat.
Cukup lama mereka menghabiskan waktu hingga larut malam. Keluarga besar Fang Yin tidak ikut bergabung bersama mereka dan memilih untuk membantu rombongan Kaisar Xi berkemas. Saat semuanya selesai malam sudah sangat larut sehingga mereka tidak berani mengganggu istirahat Kaisar Xi dan yang lainnya.
Para pelayan yang bekerja di istana Kekaisaran Benua Timur didominasi oleh tenaga baru. Selir Shi dan keluarga tidak ingin terjadi kesalahan dan memilih untuk turun langsung mempersiapkan semuanya.
Sebelum tidur, Xi Hao Xiang memeriksa barang bawaan dan kesiapan armada yang akan digunakan. Dia merasa kagum pada ketelitian dan kemurahan hati keluarga Fang Yin. Segala keperluan mereka telah siap dan sangat lengkap.
***
Pagi-pagi sekali istana Kekaisaran Benua Timur telah sibuk. Mereka bersiap untuk melepas kepulangan Kaisar Xi dan rombongan ke negaranya.
Momen mengharukan pun tercipta. Selir Tang begitu terharu saat melihat banyak sekali hadiah yang diberikan oleh Selir Shi dan keluarga. Segala kebutuhan selama perjalanan juga telah tertata dengan rapi.
"Aku sangat berterima kasih atas semua yang Anda berikan, Kakak." Selir Tang memeluk Selir Shi erat kemudian beralih memeluk Selir Ning yang juga berada di sana.
"Ini bukanlah sesuatu yang besar. Semoga keluarga kita selalu diberikan kemakmuran dan nasib baik." Selir Shi membalas ucapan terimakasih Selir Tang dengan doa.
Fang Yin berada jauh di depan. Berdiri di samping Jian Heng dan Kaisar Xi yang bersiap untuk memimpin keberangkatan rombongan.
"Heng'er," ucap Kaisar Xi sambil menatap putranya dalam.
"Iya, Ayah." Jian Heng bersiap mendengarkan perkataan ayahnya.
"Jadilah pemimpin yang baik bagi keluarga dan juga negara. Selalu rukunlah dengan istrimu dan jangan pernah menyakiti hatinya. Yin'er bukan sekedar menantu untuk ayah tetapi sudah seperti putri kandungku sendiri. Jika sampai dia bersedih karena ulahmu, ayah akan menjadi orang pertama yang menghukummu." Kaisar Xi berbicara pelan tetapi syarat dengan ketegasan.
"Aku akan selalu mengingatnya, Ayah. Nasihat ayah adalah perintah dan pantang bagiku untuk melanggarnya." Jian Heng menyatukan kedua tangannya ketika berjanji.
"Bagus." Kaisar Xi mengangguk lalu beralih menatap Fang Yin.
Sejak tadi Fang Yin terdiam. Meskipun dia kurang ekspresif dalam menunjukkan perasaannya tetapi sangat terlihat jelas jika saat ini dia sangat bersedih.
"Yin'er," panggil Kaisar Xi.
"Iya, Ayah." Fang Yin menyatukan kedua tangannya untuk memberi hormat.
"Kamu adalah putri kebanggaan ayah. Aku yakin Benua Timur akan menjadi negara yang luar biasa di tangan kalian berdua. Semoga kalian akan terus bersama dan diberikan umur yang panjang." Berbeda dengan ketika berhadapan dengan Jian Heng, saat berhadapan dengan Fang Yin dia terlihat sangat terharu.
"Terimakasih, Ayah. Semua keberhasilan dan pencapaian yang kami raih terjadi karena doa ayah dan semua orang yang menyayangi kami." Fang Yin berbicara dengan terus memberi hormat.
Di kejauhan terlihat Selir Tang telah datang. Sebelumnya Fang Yin dan Jian Heng sudah berpamitan dengannya dan kedua kakaknya.
Tidak ingin terlalu lama menunda keberangkatan, Kaisar Xi dan Selir Tang segera meminta diri. Perpisahan memang menyedihkan tetapi hidup harus terus berlanjut. Sebagai orang tua mereka harus rela berpisah dengan buah hatinya agar mereka bisa hidup mandiri.
Selir Tang tidak sanggup lagi berkata-kata. Setelah memeluk Fang Yin dan Jian Heng secara bergantian, dia langsung memasuki keretanya. Begitu juga dengan Kaisar Xi, meskipun terlihat tegar hatinya sangat rapuh.
Rombongan Kaisar Xi mulai berjalan meninggalkan halaman istana. Keluarga Fang Yin menunggu hingga rombongan benar-benar tidak terlihat dari pandangan.
__ADS_1
Fang Yin dan Jian Heng berjalan meninggalkan halaman istana menyusul orang tua dan para pengantar rombongan. Hari masih terlalu pagi untuk beraktifitas. Mereka memilih untuk kembali beristirahat di kediamannya masing-masing.
"Aku masih mengantuk, Yin'er." Jian Heng langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur setelah sampai di kamarnya.
Fang Yin menggeleng. Dia tidak menyusulnya dan memilih duduk di depan meja. Masih tersisa beberapa buah-buahan dan air.
Pagi ini dia merasa sangat lapar. Dia memakan buah-buahan itu tanpa memotong-motongnya terlebih dahulu. Fang Yin langsung menggigit dan mengunyahnya.
Jian Heng merasa heran karena Fang Yin tidak juga datang menyusulnya. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Jian Heng segera bangun dan mencari keberadaan Fang Yin. Orang yang dia cari ternyata sedang bersantai sambil menikmati makanannya.
"Aku pikir kamu kemana, Yin'er. Kelihatannya buah itu sangat lezat." Jian Heng menelan ludahnya saat melihat Fang Yin memakannya dengan sangat lahap.
"Tentu saja. Apakah kamu juga menginginkannya?" tanya Fang Yin.
Di atas meja masih ada beberapa buah yang tersisa.
"Berikan satu untukku. Kamu lemparkan saja." Jian Heng terlihat tidak sabar menunggu Fang Yin melemparkan buah untuknya.
Sebelumnya Fang Yin memang terbiasa hidup liar di dunia yang bebas. Namun, sekarang dia tidak bisa bersikap seenaknya. Meskipun Jian Heng ingin dia melemparkan buah itu, Fang Yin memberikannya dengan mengantarkannya secara langsung.
"Kamu sekarang adalah seorang kaisar dan suami yang harus aku hormati," ucap Fang Yin sambil menyerahkan buah kepada Jian Heng.
Jian Heng menerimanya sambil menatap Fang Yin tanpa berkedip. Selain cantik istrinya ternyata memiliki kepribadian yang luhur. Dia adalah Dewi Naga terbaik sepanjang sejarah di mana dia mampu membuat roh naga di tubuhnya menjadi jinak dan patuh padanya.
Tubuh Jian Heng tidak bergerak kecuali mulut dan tangannya yang sedang memakan buah. Dia seperti seseorang yang terkena hipnotis. Matanya tidak beralih dari menatap Fang Yin.
"Kamu terlihat menakutkan jika seperti ini." Fang Yin bergidik dan hendak pergi meninggalkan Jian Heng.
Tangan Jian Heng meraih lengan Fang Yin dan membuatnya tertahan. Sedikit tarikan yang menghentak tubuhnya jatuh di pangkuan Jian Heng. Kini kedua wajah mereka berada di dalam jarak yang sangat dekat.
Hembusan nafas dari keduanya menyapu wajah masing-masing.
"Hari masih pagi. Banyak hal yang harus kakak selesaikan hari ini." Fang Yin mengingatkan suaminya.
"Baiklah. Biarkan begini dulu aku ingin memelukmu sejenak," ucap Jian Heng tanpa melepaskan pelukannya.
Fang Yin tidak memberontak dan menikmati sikap mesra Jian Heng. Keduanya masih terlihat malu-malu meskipun sudah melewatkan malam bersama setelah pernikahan.
Buah di tangan keduanya terjatuh tanpa di sadari. Fang Yin tidak menolak ketika Jian Heng membawanya berbaring dengan posisi tetap saling memeluk. Udara yang sangat dingin membuat rasa kantuk kian menjadi-jadi.
Entah siapa yang pertama kali tertidur, mereka terlelap dalam sekejap. Pertempuran yang terjadi di antara mereka tentu juga meninggalkan rasa lelah yang sulit untuk diukur.
Tidak ada yang berani membangunkan mereka. Seluruh keluarga besar mereka mungkin juga sedang beristirahat. Mereka tidur hingga larut semalam.
***
Di perbatasan Benua Timur terjadi sedikit kerusuhan. Setelah keberangkatan ada sekelompok pemberontak yang menghasut masyarakat untuk melawan pemerintahan Jian Heng dan Fang Yin. Mereka seringkali menghalangi pasokan kebutuhan primer yang dikirim ke daerah itu, akibatnya banyak orang yang mengalami kelaparan.
Bahan makanan menjadi barang langka. Keadaan ini dimanfaatkan oleh pemberontak untuk menarik simpati masyarakat dengan memberi mereka makanan. Sebenarnya makanan itu berasal dari pemerintah yang mereka rampas.
Belum jelas siapa dalang di balik kerusuhan ini. Semakin hari semakin banyak masyarakat yang bergabung dengan kelompok pemberontak. Mereka berencana untuk membentuk pasukan dan dukungan yang akan memperkuat kelompoknya.
Berita ini terendus oleh pasukan mata-mata khusus yang dikirim menyebar di seluruh penjuru Benua Timur. Setelah mendapatkan informasi yang mereka butuhkan, salah satu mata-mata itu kembali ke istana Benua Timur.
****
__ADS_1
Bersambung ....