Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 399. Saling Merahasiakan


__ADS_3

Tiga orang pelayan berjalan beriringan masuk ke ruangan Fang Yin. Masing-masing mereka membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Fang Yin dan Jian Heng. Salah satu di antara mereka meletakkan makanan di meja yang lain lalu membereskan meja yang masih menyimpan perabot makanan sebelumnya.


Pelayan itu terlihat berhati-hati dan menata hidangan dengan baik. Aroma sup dan berbagai makanan yang dihidangkan terasa tidak asing di hidung Fang Yin. Masakan ibunya memang beda dengan hasil memasak koki istana.


"Tunggu!" seru Fang Yin ketika para pelayan itu hendak pergi meninggalkan istana.


Mereka serempak berhenti dengan pandangan yang tertunduk ke lantai. Salah satu diantara mereka maju ke hadapan Fang Yin untuk menerima perintah.


"Ampun, Yang Mulia. Apakah ada tugas yang harus kami kerjakan?" tanya pelayan itu.


"Tidak. Aku ingin menanyakan keberadaan Ling Shasha. Apakah kalian melihatnya?"


Sebelum pertarungannya dengan kepala pelayan, Fang Yin meninggalkannya begitu saja di dalam perjalanan menuju ke istananya. Dia lupa untuk memberinya perintah.


"Ampun, Yang Mulia. Kami tidak melihatnya," jawab pelayan itu.


Jawaban itu membuat Fang Yin terhenyak tetapi dia tidak ingin menghentikan pelayan lebih lama. Tangan kanannya terangkat ke atas sebagai isyarat jika mereka boleh pergi. Sorot mata penuh rasa penasaran mengiringi kepergian mereka.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu pasti mengkhawatirkan pelayan baru itu, bukan?" Jian Heng menggeleng tidak habis pikir.


Fang Yin menunduk. Dia sedang tidak ingin berdebat dan memilih untuk berpikir sendirian. Keadaan tidak memungkinkan bagi mereka untuk saling bertukar cerita.


"Tunggu sebentar! Aku akan mengambilkan makanan untukmu." Fang Yin beranjak dari duduknya lalu pergi untuk mengambil sajian.


Di luar dugaannya, Jian Heng tidak ingin berdiam diri menunggunya. Dia beranjak dari tempatnya tidur untuk menyusulnya. Tubuhnya masih dalam proses pemulihan, tidak heran jika Fang Yin tidak menyukai apa yang dilakukannya.


Melihatnya berjalan dengan begitu payah, Fang Yin segera meletakkan alat makannya untuk menyongsong Jian Heng.


"Dasar keras kepala! Kak Heng masih lemah. Seharusnya berbaring saja, aku akan segera datang. Menunggu sebentar saja tidak sabar," omel Fang Yin.

__ADS_1


"Aku sudah baik-baik saja, Yin'er. Kakiku kram sehingga jalanku seperti ini." Jian Heng mencoba menenangkan Fang Yin. Sebenarnya saat ini tubuhnya memang masih terasa sangat lemah.


Dari sentuhan tangannya, Fang Yin bisa merasakan keadaan tubuh Jian Heng tetapi dirinya benar-benar tidak ingin berdebat malam ini. Sebagai seorang pria ksatria, harga diri suaminya akan terluka jika dia tergantung padanya.


'Aku tahu jika sebenarnya kamu memaksakan diri untuk bisa duduk dan makan di depan meja. Namun, tidak ada yang perlu ditakutkan selama aku ada bersamamu.' Fang Yin menatap lembut ke arah Jian Heng dengan perasaan yang mendalam. Entah mengapa, perasaannya mengatakan seolah dia hampir kehilangan suaminya itu.


Sebelum menikmati makan malamnya, Fang Yin memeriksa minuman dan makanan itu terlebih dahulu. Dia merasa sedikit lega saat tidak mendapati racun pada semua makanan itu. Meskipun demikian, dia belum bisa berspekulasi dan mengatakan jika tidak ada penyusup lain selain kepala pelayan yang telah mati.


"Mengapa penyusup itu tiba-tiba tidak menaruh racun di dalam minumanmu?" tanya Jian Heng di tengah makan mereka.


"Entahlah! Mungkin dia memiliki rencana lain dan berpikir jika rencana ini terlalu lambat." Belum saatnya dia mengungkapkan kematian kepala pelayan pada Jian Heng agar dia tidak curiga memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


Pendapat Fang Yin membuatnya berpikir. Mereka harus waspada ke depannya dan bersiap untuk menghadapi musuh yang mungkin akan menyerang mereka dengan tiba-tiba.


Makan malam yang sangat lezat terasa begitu hambar karena banyaknya permasalahan yang menyertai mereka. Baik Fang Yin maupun Jian Heng menyimpan rahasianya sendiri-sendiri. Mereka sama-sama menutup diri akan sebuah hal yang sulit untuk mereka bagi satu sama lain.


Selir Shi menanyakan banyak hal pada Selir Tang. Pertanyaan itu membuatnya merasa dilema. Sangat sulit baginya untuk berbohong dan menutupi kehamilan Fang Yin dari orang tua kandungnya tetapi harus tetap dilakukannya demi menjaga calon cucu mereka.


Percakapan mereka kini lebih mengarah ke hal lain dan semua yang tidak berhubungan dengan anak dan menantunya.


Sebenarnya Selir Shi tahu perubahan sikap Selir Tang yang terlihat tidak nyaman malam ini. Namun, dia tidak ingin menyimpulkan sesuatu yang tidak dia pahami dengan jelas. Berada di tengah banyak orang terkadang menghalangi seseorang untuk bicara secara bebas.


"Akhir-akhir ini Yin'er sering kali mengalami masalah kesehatan. Tidak tahunya Heng'er juga tertimpa masalah. Pekerjaan yang begitu banyak membuatnya harus selalu sibuk dan melupakan dirinya," ucap Selir Shi dalam perjalanan menuju ke kediaman Selir Tang.


"Jangan terlalu memikirkannya! Mereka sudah dewasa. Sebagai orang tua, kita cukup mengawasinya dari jauh dan sedikit memberi kebebasan." Selir Tang tidak ingin Selir Shi berada dekat di sekitar Fang Yin dan Jian Heng karena mereka sedang berusaha untuk menyembunyikan banyak hal.


"Anda benar, Kak Tang. Mereka telah banyak mengalami banyak kesulitan dalam perjalanan panjang. Aku saja yang terlalu khawatir dan menganggap mereka seperti anak kecil." Selir Shi akhirnya bisa tersenyum.


"Bagus jika kamu sudah menyadarinya. Mari kita istirahat. Besok pagi-pagi sekali aku akan pergi melihat keadaan anak-anak." Selir Tang berniat untuk memutuskan percakapan mereka.

__ADS_1


"Sampai ketemu besok. Selamat malam," pamit Selir Shi.


"Selamat malam."


Setelah kepergian Selir Shi, Selir Tang masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam. Dia tidak bisa tertidur malam itu. Selama Fang Yin dan Jian Heng belum bisa menggunakan kekuatannya, dia harus berjaga di sekitarnya.


Banyak hal yang mungkin bisa terjadi dan Selir Tang harus tetap merahasiakan tentang kondisi lemah anak dan menantunya. Malam ini, dia tidak bisa tidur nyenyak dan membiarkan mereka tidak berada dalam pengamanan. Sebagai satu-satunya orang yang tahu tentang keadaan Fang Yin dan Jian Heng, dia berniat untuk berjaga secara diam-diam di sekitar kediaman mereka.


Selir Tang mengambil pakaian serba hitam dari kotak bajunya. Tidak lupa dia mengambil penutup wajah dengan warna senada. Siapapun tidak akan mengenali penampilannya yang sekarang. Kini dia lebih mirip dengan seorang bandit ketimbang seorang bangsawan.


Suasana di luar kediamannya sudah sangat sepi mengingat malam yang telah larut. Di depan ruangannya ada dua orang pengawal yang berjaga. Selir Tang memutuskan untuk keluar melalui jendela kamarnya dan berjalan mengendap-endap dalam kegelapan.


Sesekali dia menunggu pengawal lengah dan baru kembali melangkah. Jarak antara tempat tinggalnya dan istana Fang Yin yang cukup jauh membuat perjalanannya sedikit lama. Setelah bersusah payah akhirnya dirinya berhasil memasuki istana kaisar.


'Keamanan di sini sudah cukup bagus. Hanya penyusup dengan kemampuan tinggi yang mampu menerobos masuk. Aku harus tetap waspada.'


Selir Tang menemukan sebuah tempat mengintai yang aman. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat dengan jelas keadaan di kamar Fang Yin dan sekitarnya. Sebuah pohon besar yang cukup tinggi menjadi tempatnya bernaung saat ini.


Hingga beberapa saat tidak ada hal-hal yang mencurigakan di sekitarnya. Selir Tang memutuskan untuk melompat ke atas pohon dan duduk bersandar pada sebuah dahan. Matanya terus mengawasi sekitar dan melihat pergerakan sekecil apapun, bahkan angin yang berhembus pada ujung daun pun mengundang perhatiannya.


Setelah waktu melewati tengah malam, Selir Tang mulai merasakan hawa yang aneh. Dia merasakan aura energi yang kuat mendekat ke arah kamar Fang Yin. Cahaya lampu remang-remang membuat semuanya terlihat samar.


Selir Tang meningkatkan fokusnya dan menekan hawa kehadirannya.


'Siapa orang itu? Apa yang dilakukannya malam-malam begini?'


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2