Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 255. Hancur


__ADS_3

Hari terus berganti dan waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa Fang Yin telah berada di istana Kekaisaran Benua Tengah selama satu bulan.


Banyak hal yang telah dia lalui di sana. Keakrabannya dengan keluarga inti istana membuat iri siapapun yang melihatnya.


Kaisar Xi memperlakukan Fang Yin dengan sangat istimewa. Dia merasa semakin kagum pada gadis itu karena tidak pernah tergiur dengan hadiah yang dia tawarkan.


Agar Kaisar Xi tidak kecewa, Fang Yin mengambil upah sebesar upah yang diberikan pada guru besar istana. Selain dari itu, dia tidak ingin menerimanya.


Selama kurun waktu tersebut, banyak hal yang terjadi. Pertengkaran kecil di antara tiga pangeran, kecemburuan Jing Jihua, dan kedekatan Fang Yin dengan murid-muridnya.


Jian Heng sering kali cemburu ketika ada tabib muda pria yang mencari-cari kesempatan untuk mendekati Fang Yin. Dia tidak segan untuk menegurnya dan memintanya untuk tidak mencari perhatian.


Tidak sampai di situ saja, Jian Heng juga melarang siapapun memberikan hadiah secara pribadi untuk Fang Yin. Kabar itu sampai ke telinga Kaisar Xi, tetapi dia tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh putranya itu.


Suatu malam, Fang Yin pergi berjalan-jalan ke luar istana untuk melihat festival. Perayaan ini dilakukan setiap seratus hari sekali sebagai ajang silaturahmi antar warga.


"Para tabib muda itu sudah banyak mengalami kemajuan. Mungkin sepekan atau dua pekan lagi tugasku akan selesai," ucap Fang Yin pada Jian Heng sambil berjalan beriringan.


Jiang Heng menatap Fang Yin dengan tatapan sedih. Dengan selesainya tugas, maka keduanya akan kembali berpisah.


Beberapa saat mereka terdiam, Fang Yin pun merasakan kesedihan yang sama. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan saat akan kembali berbicara.


Untuk mencairkan suasana, Fang Yin menunjuk sebuah tontonan yang disuguhkan oleh anak-anak. Mereka tampil membawakan tarian dan opera.


Keduanya berdiri di barisan depan dan melihat pertunjukan itu dengan antusias. Fang Yin dan Jian Heng melemparkan koin emas pada kotak yang disediakan. Sumbangan sukarela yang terkumpul biasanya akan digunakan untuk kepentingan umum.


Fang Yin dan Jian Heng berpindah dari satu pertunjukan ke pertunjukkan lain hingga seluruh pertunjukkan mereka datangi. Mereka tidak menunggu seluruh pertunjukkan itu berakhir dan segera kembali ke istana.


Seluruh penghuni istana juga pergi ke festival yang diadakan di tempat yang berbeda. Jian Heng tahu tempat yang akan dikunjungi oleh keluarganya sehingga dia memilih lokasi yang berbeda.


"Aku melihat keluarga istana dan para pejabat penting keluar untuk pergi ke festival, tetapi mengapa sejak tadi aku tidak bertemu dengan seorangpun di sini, ya?" Fang Yin mengungkapkan keheranannya saat berjalan pulang.


Jian Heng menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan senyum nakalnya.


"Mungkin mereka pergi ke lokasi yang berbeda. Aku sendiri juga tidak tahu ke mana mereka pergi," elak Jian Heng. Padahal dia sengaja melakukannya agar bisa pergi berduaan dengan Fang Yin.


Sebelum kembali ke istana, mereka membeli makanan yang di jual oleh para pedagang yang berjajar di sepanjang jalan. Pengunjung yang ramai membuat mereka berdua harus rela mengantri.


Tidak ada yang mengenali Jian Heng sebagai pangeran ketiga karena dia memakai pakaian yang sederhana. Begitu juga dengan Fang Yin, keduanya terlihat seperti seorang rakyat biasa.


Mereka berjalan ke tempat sepi lalu melesat terbang ke udara setelah tidak ada yang memperhatikan keduanya. Sinar bulan yang terang menambah keromantisan keduanya.


Di tempat lain, Changyi dan Hao Xiang menaiki tandu mereka bersama rombongan keluarga istana. Keduanya merasa bosan karena tidak bisa bergerak bebas. Mereka terus dikawal dan dijaga oleh pasukan khusus.


Biasanya keluarga kerajaan akan menjadi pusat perhatian masyarakat yang hadir dalam festival sehingga mereka butuh pengamanan. Status mereka yang tinggi akan memancing berbagai macam tindak kejahatan.

__ADS_1


Dalam setiap kesempatan mereka melirik ke sana kemari untuk mencari keberadaan Jian Heng dan Fang Yin. Awalnya mereka semua memang berangkat bersama-sama. Namun, saat semuanya berangkat, Jian Heng meminta untuk turun lagi dari tandu dan berganti pakaian.


Sebelumnya dia telah membuat janji bersama Fang Yin. Keduanya sepakat untuk bertemu di luar istana di tempat yang sudah di tentukan.


Keluarga istana belum kembali saat Fang Yin dan Jian Heng mendarat cantik di istana. Mereka menikmati makanan yang mereka beli sambil duduk di taman di bawah cahaya bulan.


Keduanya tidak lagi membahas tentang perpisahan dan hanya membicarakan seputar festival yang mereka tonton. Mereka tidak menunggu rombongan istana pulang dan memilih untuk beristirahat sebelum mereka kembali.




"Xiao Yin! Xiao Yin!" panggil Jian Heng. Dia terus mengetuk-ngetuk pintu kamarnya hingga beberapa kali.



Jian Heng kembali memanggilnya dan tidak ada jawaban juga. Dua hari ini dia pergi menjalankan tugas dari ayahnya untuk mengatasi perselisihan di wilayah perbatasan. Dia tidak tahu jika tugas Fang Yin telah selesai dan pergi dari istana pagi ini.



Seorang pelayan datang menghampiri Jian Heng lalu memberi hormat padanya. Dia yakin jika Jian Heng yang baru kembali tidak mengetahui jika Fang Yin telah pergi dari istana ini pagi tadi.




Pelayan itu tertunduk lalu menjawab, "Nona Xiao sudah pergi pagi ini, Yang Mulia."



Mata Jian Heng membulat. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pelayan itu. Menurutnya tidak mungkin Fang Yin meninggalkan istana ini tanpa menunggunya.



"Kamu jangan bercanda. Aku sedang tidak ingin bercanda."



Sorot matanya yang tajam membuat pelayan itu ciut nyali. Semua yang dia katakan adalah kebenaran tetapi dia merasa takut jika Jian Heng tidak mempercayainya.



Wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya menjadi beku. Mulutnya begitu sulit untuk terbuka meskipun dia sangat ingin menjelaskan semua yang dia tahu.


__ADS_1


Jian Heng terlihat tidak sabar dan hampir saja murka padanya. Beruntung pelayan yang biasa melayani Fang Yin datang ke hadapan mereka.



"Salam hormat, Yang Mulia. Apakah Anda sedang mencari Nona Xiao?" tanya pelayan itu.



Jian Heng mengangguk. Di wajahnya sangat jelas tergambar kegelisahan. Hatinya berada dalam rasa penasaran antara percaya dan tidak percaya dengan berita yang dia terima dari pelayan sebelumnya.



Pelayan pribadi Fang Yin menyampaikan hal yang sama dan memberikan sebuah gulungan yang berisi pesan untuk Jian Heng. Dia tidak banyak berbicara karena tahu bagaimana perasaan pria di hadapannya.



Kedua pelayan itu memilih pergi meninggalkan Jian Heng seorang diri.



Jian Heng melemparkan jirah yang menempel ditubuhnya ke sembarang arah. Dia tidak peduli dengan suara lemparannya akan mengejutkan orang-orang di sekelilingnya.



Tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Dia berjalan gontai memasuki kamarnya sambil mencengkeram kuat-kuat gulungan yang ada di tangannya.



Sesampainya di dalam kamar dia mengunci pintu kamarnya lalu bersandar di sana. Perlahan tubuhnya melorot ke bawah dan terduduk di lantai.



"Mengapa kamu begitu kejam padaku, Xiao Yin? Aku tahu kau akan pergi, tapi setidaknya kamu harus menunggu kepulanganku."



Jian Heng mengepalkan kedua tangannya lalu menghantam lantai dengan keras. Ruangan itu bergetar dan muncul sebuah lubang di kedua sisinya, tepat di mana kepalan tangannya beradu dengan lantai marmer.



\*\*\*\*



Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2