
"Aarrgh!" Jian Heng kembali berteriak kencang ketika tubuhnya semakin terasa panas.
Tidak ada api yang muncul di sana namun panasnya mampu membakar apa aja yang melekat di tubuhnya. Bahkan bantalan tipis yang didudukinya pun ikut habis terbakar. Hawa panas terus menyelimuti seluruh ruangan itu.
Andai Jian Heng tidak melindungi ruangan itu dengan mantra, mungkin villa miliknya ini pun akan ikut hangus terbakar oleh energi ular legenda ini.
Perlahan Jian Heng menekan Qi Kristal Biru dan berusaha untuk mengendalikannya.
Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuh Jian Heng dan membuatnya basah kuyup seperti baru keluar dari derasnya hujan.
Sedikit demi sedikit Qi yang telah terserap itu mulai tersimpan dan terkunci di dalam dantian. Seiring dengan itu, suhu tubuh Jian Heng mulai kembali normal.
Kedua tangan Jian Heng melakukan suatu gerakan yang merupakan bagian teknik pengendali energi tingkat atas.
Jian Heng akhirnya berhasil mengendalikan seluruh Qi Kristal Biru dan menyelaraskan dengan tubuhnya. Sebelum mengakhiri kultivasinya, Jian Heng menekan energi miliknya untuk menyembunyikan ranah suci bintang akhir yang dia capai hari ini. Sebelum ini dia masih berada di ranah suci bintang tengah dan dia menerobos beberapa tingkat setelah berhasil menyerap kristal inti roh ular legenda.
"Ah, apa ini?" pipi Jian Heng memerah ketika mendapati dirinya dalam keadaan polos tak berbusana.
Baru kali ini Jian Heng kehilangan pakaiannya saat berkultivasi. Sialnya lagi, dia melepas cincin penyimpanannya dan menyimpannya di dalam kamarnya. Tidak ada harapan lagi bagi Jian Heng untuk keluar dari ruangan itu dengan pakaian lengkapnya.
__ADS_1
Jian Heng melihat ke sekeliling dan mencari-cari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menutupi tubuhnya.
Di pojok ruangan, Jian Heng melihat sebuah mantel musim dingin tergantung di sana.
"Lumayan daripada aku tidak menemukan apapun." Jian Heng tersenyum senang lalu menggunakan mantel itu dan melilitkannya di tubuh meskipun tidak bisa menutupi seluruhnya.
Berulang kali dia membolak balik dan merubah posisi mantel itu, tetapi tetap saja tidak bisa menutupi tubuhnya dengan baik.
"Apa yang akan dipikirkan oleh Xiao Yin jika dia melihatku dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa dia akan salah paham dan mengira diriku seorang pria cabul."
Jian Heng berjalan mondar-mandir merasa ragu untuk keluar dari ruangan itu dan pergi ke kamarnya.
Sepi.
Tidak ingin menunda waktu lagi, Jian Heng segera berlari menuju ke kamarnya sebelum Fang Yin melihatnya.
Sesampainya di depan kamar, Jian Heng segera membuka pintunya lalu segera masuk ke kamar. Jian Heng berdiri dan bersandar di pintu untuk menyetabilkan detak jantungnya yang tidak beraturan.
Ketakutannya terlihat jelas bahkan melebihi rasa takutnya saat menhadapi musuh yang sangat kuat.
__ADS_1
"Syukurlah, Xiao Yin tidak menyadari kehadiranku dan melihatku tadi."
Setelah suasana hatinya sedikit membaik, Jian Heng segera mengganti pakaiannya lalu pergi tidur. Tubuhnya terasa sangat letih. Tidak butuh waktu lama bagi Jian Heng untuk mengembara di alam mimpi.
Di kamar yang berbeda, Fang Yin juga sedang melakukan kultivasi dan berlatih teknik pengendalian Qi. Dia tidak ingin terlihat payah di depan semua orang. Sungguh memalukan jika setelah mengeluarkan jurus yang hebat, tubuhnya akan kehilangan kesadaran.
Meskipun sangat lambat, Fang Yin berusaha untuk mengubah sebagian Qi dalam tubuhnya menjadi energi pengendali tubuh yang berguna untuk mengatur keseimbangan dan pengontrol jurus.
"Aku menyerah!" seru Fang Yin dengan perasaan kecewa.
Dalam kultivasinya kali ini, Fang Yin gagal mendapatkan hal yang ingin dicapainya. Setelah ini dia akan belajar dengan serius untuk mempelajari teknik pengolahan Qi menjadi energi pendukung.
"Kali ini aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku membutuhkan seorang guru untuk membimbingku!"
Tidak ingin melakukan hal yang sia-sia, Fang Yin memilih untuk menghabiskan malam dengan beristirahat. Masih ada hari esok untuk memperbaiki semuanya.
****
Bersambung ....
__ADS_1