
Jian Heng meminta penduduk Gunung perak untuk berbaris menjadi empat barisan. Untuk menghemat tempat mereka diminta berbaris rapat.
Setelah mereka siap, Jian Heng dan Fang Yin berdiri saling berhadapan dengan jarak empat lingkaran api.
Jian Heng kemudian meminta penduduk Gunung Perak untuk mengosongkan tempat di seberang barisan dan membentuk dua barisan bagi yang telah melewati api. Barisan penduduk yang berhasil di sebelah kanan dan yang gagal di sebelah kiri.
Setelah semua orang jelas dengan aturan yang disampaikan oleh Jian Heng, mereka segera memulai seleksi. Empat orang maju bersama-sama dan melompati lingkaran api yang dikendalikan oleh Fang Yin dan Jian Heng.
Semua orang yang berada di tempat itu menjadi tegang. Mereka takut jika anggota keluarga mereka mengalami cidera. Meskipun bagi Fang Yin ini merupakan seleksi paling ringan tetapi bagi sebagian orang ini cukup berbahaya.
Penduduk yang semula tidak lolos dalam pemilihan Patriak Shi lolos dari seleksi api dan penduduk yang lolos pemilihan ada juga yang tidak lolos seleksi. Diperkirakan ada sekitar empat ratus lima puluh orang yang lolos dari seleksi tahap pertama ini.
Fang Yin akan mengadakan seleksi kedua besok pagi, tetapi seleksi seperti apa yang akan dilakukan masih dirahasiakan olehnya. Dia akan meminta pendapat Jian Heng untuk melakukan seleksi ini.
Penduduk Gunung Perak merasa puas dengan cara yang dilakukan oleh Fang Yin. Cara ini bersifat umum dan adil. Tidak ada batasan dan kriteria khusus untuk menjadi bagian pasukan khusus. Dalam sebuah peperangan yang paling mendasar adalah sebuah keberanian.
Satu persatu penduduk Gunung Perak meninggalkan tempat itu untuk pulang ke kediaman mereka masing-masing. Kini ditempat itu hanya tinggal segelintir orang saja. Fang Yin, Jian Heng, keluarganya serta Patriak Shi dan para tetua.
Mereka berjalan bersama sembari mengobrol hingga sampai di persimpangan jalan dan berpisah. Mereka mengobrolkan rencana-rencana yang akan dilakukan di masa yang akan datang.
"Yin'er, sebaiknya kamu juga memperhatikan kesehatanmu. Kami akan membantumu untuk melakukan seleksi. Apa yang akan terjadi kita tidak ada yang tahu." Yu Ruo memberi usulan.
"Sedang aku pikirkan, Nek. Aku akan melakukan latihan di malam hari dan melatih pasukan dari suku es di siang hari." Fang Yin merasa jika ini adalah tanggung jawabnya.
"Kamu adalah calon penguasa Benua Timur, Yin'er, kamu harus belajar membagi tugasmu kepada orang-orang yang berada di sekelilingmu. Kelak kamu dan Jian Heng hanya perlu mengatur strategi untuk menjalankan pemerintahan, bukan pelaku utama yang harus melakukan segalanya seorang diri," imbuh Shi Jun Hui.
"Aku setuju denganmu," ucap Shi Han Wu.
Fang Yin terdiam mempertimbangkan ucapan kakek dan neneknya. Apa yang mereka katakan memanglah benar tetapi selama ini dia terbiasa melakukan apapun sendiri. Perlu pemikiran yang panjang dan penuh perhitungan untuk memperkecil korban peperangan dari pihaknya.
"Tidak ada salahnya kita memberi kesempatan kepada orang lain tanpa kita melepaskan tanggung jawab kita, Yin'er." Jian Heng turut meyakinkan Fang Yin agar mulai merubah kebiasaannya yang terlalu mandiri.
Kehidupan seorang putri tidak akan sama dengan kehidupannya yang bebas saat ini. Kehidupan ideal yang diimpikan oleh semua orang itu sepintas memang menyenangkan, tetapi pada kenyataannya penuh dengan hal-hal yang dibuat-buat dan membosankan.
"Jika kamu mengijinkan, aku juga ingin ambil bagian untuk melakukan seleksi besok," ucap Selir Ning yang sedari tadi diam.
__ADS_1
Hanya Selir Shi yang tidak ingin ikut dalam proses seleksi karena dia memilih untuk bergerak di belakang layar. Dia dan para wanita suku es berencana untuk mengatur konsumsi dan pertolongan bagi para penduduk yang mungkin mengalami cidera. Jiwa sosialnya yang tinggi lebih berkuasa ketimbang keinginan bertarungnya.
Keluarga besar Fang Yin sampai paling akhir karena tempat tinggal mereka terletak di bagian pinggir di desa itu. Di malam yang hening itu, mereka menikmati makan malam seadanya sebelum mereka pergi untuk beristirahat.
***
Penduduk Gunung Perak telah berkumpul di kaki bukit dengan pelataran yang luas. Penduduk yang lolos seleksi tahap pertama berbaris di depan sedangkan yang tidak lolos ingin melihat jalannya seleksi tersebut.
Mereka rata-rata adalah kaum pria karena kaum wanita ikut bersama Selir Shi untuk menyiapkan konsumsi dan menjadi regu penyelamat di bagian pinggir.
Ada sekitar lima belas orang yang dilibatkan untuk membantu seleksi ini. Fang Yin dan Jian Heng bertindak untuk menerima pasukan yang telah melewati seleksi.
Mereka terlihat begitu bersemangat melewati seleksi itu dan menunjukkan seluruh kemampuan mereka.
Di tahap kedua, seleksi dilakukan dengan permainan pedang dan tombak tingkat pertama. Para peserta dinilai dari kecepatan dan kemampuan untuk menghindar.
Seleksi ini memakan waktu hampir setengah hari meskipun dalam sekali seleksi mengambil lima belas peserta sekaligus. Butuh kecermatan dalam menilai para peserta yang benar-benar menguasai dua senjata itu. Dari peserta sebelumnya tinggal sekitar tiga ratus peserta saja yang tersisa.
Setelah beristirahat sebentar untuk makan dan minum, mereka kembali untuk melanjutkan seleksi tahap akhir. Dalam seleksi ini peserta diwajibkan untuk mengeluarkan Qi Awan Salju dan membuat perisai es untuk perlindungan.
Ketiga ratus lebih orang peserta melakukan seleksi ini secara bersama-sama dengan formasi berbentuk lingkaran. Para juri berada di udara untuk menandai siapa yang lolos dan siapa yang gugur.
Tempat itu terlihat seperti lautan salju ketika mereka mengeluarkan Qi Awan Salju secara bersama-sama. Dinding pelindung yang terbentuk dari kristal-kristal es terlihat seperti berlian yang berkilauan saat terkena sinar matahari.
Kekuatan besar dari suku ini membuat kristal-kristal yang mereka miliki tidak terpengaruh oleh panasnya sinar matahari. Qi Awan Salju mampu membekukan api berkekuatan rendah hingga menengah. Hanya api abadi dan beberapa jenis api istimewa saja yang tidak terpengaruh olehnya.
Dari semua peserta yang mengikuti seleksi ini didapatkan peserta pilihan sejumlah dua ratus lima puluh orang. Jumlah yang sama dengan pemilihan sebelumnya tetapi dengan kualifikasi yang berbeda.
Untuk selanjutnya, pasukan terpilih akan menjalani pelatihan guna mempersiapkan diri dalam agenda penyerangan. Fang Yin kembali melibatkan para juri ini untuk melatih mereka.
Proses seleksi berakhir ketika matahari condong di ufuk barat. Mereka berbondong-bondong kembali ke rumah mereka untuk merayakan kemenangannya bagi yang lolos seleksi. Bagi yang tidak lolos, mereka tetap semangat dan berlatih untuk menjadi lebih kuat.
Suku es lama dan suku es naturalisasi dari suku gletser kini telah membaur menjadi satu. Tidak ada jarak yang membuat mereka terpecah. Kini mereka telah kembali menjadi sebuah keluarga.
Desa kecil yang ramai tetapi penuh kedamaian. Setelah Kekaisaran Benua Timur kembali ke tangan Fang Yin, mereka meminta bergabung menjadi negara bagian yang diistimewakan. Meskipun mereka masih ingin bertahan sebagai wilayah yang terisolasi, tetapi mereka akan tetap menjadi pendukung utama bagi negerinya.
__ADS_1
Fang Yin masih ingin tinggal di tempat itu meskipun semua orang telah pergi. Hanya tinggal dirinya dan Jian Heng yang tersisa.
"Apakah kamu masih ingin tinggal di sini?" tanya Jian Heng.
"Sebentar lagi kita kembali. Aku ingin menikmati pemandangan indah ini sebelum kita pergi dari sini untuk berperang. Entah kapan lagi kita bisa datang lagi kemari." Fang Yin menunjukkan wajah sedihnya.
"Kenapa kamu terlihat murung? Bukankah ini yang kamu perjuangkan selama sepuluh tahun terakhir. Apakah kamu ingin selamanya berada dalam bayang-bayang masa lalu? Hmm ... hidup bebas memang menyenangkan, Yin'er. Tetapi apakah kamu akan membiarkan kesewenang-wenangan Kaisar Ning terus berlanjut. Kamu tidak bisa melakukan itu, Yin'er. Negerimu harus menjadi negara yang selalu menegakkan keadilan dan pertumbuhan yang merata. Meskipun memulai dari awal tidaklah mudah, kita tidak bisa menyerah pada keadaan dan mengabaikan mereka."
Penjelasan Jian Heng membuatnya tersentuh. Dia menatap Jian Heng penuh arti. Pandangan matanya menjadi berkabut dan memperlihatkan keteduhan.
"Kamu memang orang yang baik, Kak Heng. Aku tahu kamu juga tidak jauh beda dengan diriku yang menyukai alam bebas. Setelah kita memenangkan peperangan, kita tidak boleh terlalu senang karena akan banyak pekerjaan yang menunggu. Kebebasan dan dunia yang begitu indah ini hanya akan menjadi kenangan." Fang Yin tersenyum perih pada Jian Heng.
"Aku janji, aku akan mengambil waktu khusus untuk membawamu jalan-jalan dan pergi berburu. Tidak peduli berapa banyak putra yang kita miliki, aku akan membawanya pergi dan melihat keindahan dunia." Jian Heng menggenggam tangan Fang Yin.
"Kuharap kamu tidak akan melupakan janji yang kamu ucapkan hari ini." Fang Yin terlihat sedikit gembira.
"Tidak akan. Kamu yang aku utamakan dari semua urusan. Senyummu adalah semangatku dan tangismu adalah kesedihanku. Yin'er, jangan pernah mengabaikanku di kemudian hari."
Fang Yin mengangguk.
Matahari terus bergulir menarik tirai malam. Sebelum hari menjadi gelap, Jian Heng membawa Fang Yin kembali ke kediaman keluarganya. Namun, di tengah perjalanan mereka merasakan aura yang sangat kuat dari tempat yang tidak begitu jauh.
Fang Yin memberi isyarat kepada Jian Heng untuk diam. Jian Heng yang juga merasakan aura itu mengangguk. Keduanya melangkah perlahan penuh kehati-hatian mendekati pusat esensi energi itu berada.
Mereka berdiri dengan saling memunggungi dan terus bersikap waspada. Gerakan yang tertata dan hampir tidak meninggalkan suara sengaja mereka lakukan untuk berjaga. Terkadang dibalik sebuah esensi energi yang besar dilindungi oleh binatang roh kuat atau kekuatan jiwa yang menaunginya.
"Tetap waspada, Yin'er. Kita semakin dekat dengan esensi energi itu. Setidaknya kita harus mengambil jarak lima belas langkah dari pusat esensi dan mempelajarinya sebelum mengambil tindakan," bisik Jian Heng.
"Benar. Untung saja aura ini tidak muncul ketika seluruh penduduk berkumpul karena kita tidak tahu bahaya apa yang menyertainya." Fang Yin menjawabnya dengan suara yang sama pelannya.
****
Bersambung ...
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Terimakasih ...
__ADS_1