
Semua orang yang berada di ruangan itu melihat ke arah Kaisar Xi dan Jian Heng. Suasana tegang itu belum juga berlalu.
Kaisar Xi berbalik dengan posisi berdiri membelakangi Jian Heng. "Ikut denganku!"
Pria paruh baya yang terlihat gagah dengan pakaian kebesarannya itu berjalan meninggalkan ruang perjamuan. Dia berjalan menuju ke area memanah.
Tidak ada rasa takut untuk menghadapi musuh sekuat apapun. Namun, Jian Heng merasa kecil dihadapan ayahnya. Dia menjadi tidak berdaya dihadapan orang-orang yang disayanginya.
Selir Tang dan yang lainnya mengikuti di belakang dengan tetap menjaga jarak. Mereka ingin melihat hukuman apa yang akan diberikan untuk Jian Heng.
"Bersabarlah, Adik Tang. Yakinlah semuanya akan baik-baik saja. Aku sangat yakin Yang Mulia tidak akan sekeras dulu pada putra kita." Permaisuri Han mencoba menenangkan Selir Tang.
"Itu benar. Jika diperhatikan, tidak ada raut kemarahan di wajah Yang Mulia Kaisar." Selir Liu menambahkan.
Selir Tang memegang tangan kedua madunya itu sambil mengangguk. Mereka bertiga berusaha saling menguatkan.
"Hao Xiang, aku takut ayah akan memberi hukuman berat untuk Jian Heng. Baru saja kita berkumpul, rasanya aku masih enggan berpisah dengannya."
"Kakak benar. Apalagi aku yang sama sekali belum berbicara padanya. Aku belum memarahinya karena mangkir dari tugas sebagai seorang pangeran." Hao Xiang sependapat dengan Changyi.
Hu Chu melihat kedua kakaknya dengan tatapan tak mengerti. Dia hanya memperhatikan saja dan tidak mau memikirkannya. Menurutnya, urusan orang dewasa itu sangat rumit.
Kembali ke Kaisar Xi dan Jian Heng,
Ayah dan anak itu berdiri di tengah area berlatih. Kaisar Xi masih dengan ekspresi datarnya dan Jian Heng dengan wajah pasrahnya.
Tangan Kaisar Xi bergerak ke depan lalu muncullah sebuah pedang. Dalam kegelapan malam pedang itu tampak berkilau saat tersorot cahaya penerangan disekitarnya.
Wajah Jian Heng seketika menjadi pucat. Dia tidak akan sanggup jika bertarung seni pedang bersama ayahnya. Selain kemampuan ayahnya yang hebat, akan sulit berkonsentrasinya dan gerakannya terbatasi oleh perasaan.
Selir Tang membelalakkan matanya. Tangannya memegangi dadanya yang berdetak tak karuan. Ketenangan yang semula dia rasakan menguap dan berganti dengan kecemasan.
__ADS_1
Saat Selir Tang ingin berlari menghampiri Jian Heng, Selir Liu dan Permaisuri Han mencoba menenangkannya. Changyi dan Hao Xiang mendekat ke arah para ratu.
"Ini adalah Pedang Penakar Jiwa. Kamu bukan anak-anak lagi, jadi aku ingin menguji kekuatanmu dengan pedang ini. Mengenai hukuman yang akan kuberikan padamu akan aku berikan setelah ini," ucap Kaisar Xi sambil menatap Jian Heng lekat.
Kedua tangan Jian Heng menyatu untuk memberi hormat pada ayahnya, "Aku siap menerima hukuman darimu, Ayah."
Hati Kaisar Xi tersentuh ketika putranya memanggilnya 'ayah'. Sudah lama sekali dia tidak mendengar kata-kata itu terucap dari bibir Jian Heng. Sifat keduanya sama-sama keras hingga keduanya bersikap formal untuk menutupi kecanggungan di antara mereka.
Kaisar Xi menancapkan pedang yang dipegangnya ke tanah. Pedang itu ditekan hingga tampak gagangnya saja. Di sekeliling pedang itu dikelilingi oleh mantra pelindung.
Selir Tang bernapas lega. Bayangan buruk yang terlintas di benaknya tidak menjadi nyata. Mengingat apa yang di alami oleh Jian Heng sebelumnya, kekhawatirannya cukup beralasan.
"Pedang ini dilindungi oleh mantra. Tetapi kamu tidak perlu khawatir. Mantra itu akan terbuka dengan sendirinya jika kamu memiliki tingkatan kultivasi yang tinggi dan energi pendamping yang memadai."
Kaisar Xi mundur beberapa langkah. Dengan pedang itu dia akan mengetahui seberapa kuat putranya. Menurutnya sia-sia jika dia pergi berpetualang tanpa mendapatkan apa-apa. Kedua kakaknya kini telah mencapai ranah suci bintang atas. Besar harapannya untuk melihat Jian Heng memiliki tingkatan yang sama dengan mereka. Padahal, saat ini Jian Heng telah jauh melampaui mereka.
Mantra pelindung yang ditanam oleh Kaisar Xi hanya bisa dibuka oleh tingkatan kultivasi ranah suci. Tingkatan di bawah itu tidak akan bisa mencabut pedang itu. Jika tingkatan kultivasi Jian Heng lebih dari itu maka mantra itu akan mengikat energinya dan memancarkan cahaya energi ke langit.
Jian Heng menahan napasnya ketika dia telah berdiri di hadapan pedang leluhurnya. Wajahnya semburat kekuningan terkena cahaya mantra yang berada di bawah kakinya. Sejenak dia berkonsentrasi lalu mengalirkan Qi di tangan kanannya.
Apa yang dilakukan oleh Jian Heng tidak luput dari pengawasan Kaisar Xi. Meskipun dia merasakan energi yang kuat tetapi tidak mampu membaca tingkatannya. Semuanya akan menjadi jelas setelah ini.
Tangan Jian Heng mulai menyentuh gagang pedang dan memegangnya kuat-kuat. Ternyata mencabut pedang itu tidak semudah yang dia bayangkan. Dia membutuhkan energi yang besar untuk mengeluarkan benda tak bergerak itu.
'Mantra ini sangat kuat. Qi yang aku keluarkan tidak berguna. Padahal ini sudah menggunakan Qi ranah langit bintang atas.' Jian Heng berkeringat.
Kediamannya diartikan sebagai kegagalan oleh Kaisar Xi. Gurat kekecewaan terlihat jelas di wajahnya. Sebagai seorang ayah dia merasa gagal.
Tidak ingin melihat hal yang lebih menyedihkan lagi, Kaisar Xi berpaling dan berdiri membelakangi Jian Heng. Dia tidak ingin melihat putranya itu bersusah payah dalam kegagalan.
'Sebenarnya aku tidak ingin menunjukkan kekuatanku pada kalian. Namun, melihat wajah sedih ayah hatiku terasa sakit. Dia pasti merasa menjadi pria tak berguna karena gagal mendisiplinkanku.' Jian Heng akhirnya meyakinkan dirinya.
__ADS_1
Mungkin setelah ini kedua kakaknya akan merasa iri padanya. Namun, dia tidak mempedulikan itu. Toh dia tidak menginginkan tahta dan memilih hidup bebas. Sampai saat ini dia tidak tahu jika Fang Yin adalah orang yang sederajat dengannya dan berpikir jika dia gadis biasa.
Jian Heng meningkatkan aliran Qi di tangannya. Otot-otot tangannya terlihat menonjol ketika dia menarik pedang itu kuat-kuat. Kedua rahangnya beradu, tanda dia bekerja keras untuk mencabut pedang itu.
Pedang itu terhunus secara perlahan dan menimbulkan getaran. Mantra yang terlepas menghasilkan gelombang energi yang mempengaruhi udara di sekelilingnya.
Saat merasakan itu, Kaisar Xi kembali menoleh pada Jian Heng. Dia tersenyum.
Setelah pedang itu terhunus dengan sempurna, Jian Heng merasakan sesuatu yang tidak beres. Aura pedang itu seakan menghisap aura energi ditubuhnya. Dia tidak tahu makna Pedang Penakar Jiwa, dimana pedang itu bisa menerobos menembus dantiannya dan mengukur kekuatannya.
'Apa ini? Mengapa pedang ini menarikku ke atas?' Jian Heng tidak dapat melepaskan tangannya dari pedang yang membawanya naik.
Kakinya tidak lagi menyentuh tanah dan tangan kanannya mengarahkan pedang itu kelangit. Wajahnya terlihat kebingungan tetapi pergerakan tubuhnya seperti terkunci.
Pada ketinggian sekitar sepuluh kaki tubuhnya terhenti. Cahaya memancar dari pedang itu dan menembus kegelapan malam. Tidak hanya menerangi sekelilingnya saja, cahaya menyilaukan itu memancar ke langit.
Peristiwa ini mengundang decak kagum penghuni istana yang melihatnya. Setelah Kaisar Xi, baru Jian Heng yang membuat pedang itu kembali bersinar. Orang-orang berdatangan dan berbondong-bondong datang ke tempat itu. Mereka mengira jika pria pembawa pedang itu adalah Pangeran Changyi.
Jian Heng tidak tahu berapa lama dia akan berada di sana. Dia berpikir jika ini adalah hukuman dari ayahnya yang harus dia jalani.
"Ayah, berapa lama lagi aku harus begini?"
Wajah Jian Heng terlihat memelas memandang ayahnya dengan tatapan memohon.
****
Bersambung ....
Numpang promo novel karya temanku ya kak ... terimakasih...
__ADS_1