
Matahari mulai menyingsing, kicau burung saling bersahutan menyambut datangnya pagi. Fang Yin yang terbiasa bangun di pagi hari mulai menggeliat saat suara gaduh binatang liar terus berlomba mengeluarkan suara indahnya. Hampir saja dia membangunkan Da Xia dengan gerakannya yang hampir menyenggolnya. Terbiasa tinggal sendiri membuat Fang Yin lupa jika saat ini dia tinggal bersama dengan Da Xia.
Fang Yin bangun tanpa menimbulkan suara dan melangkah pergi meninggalkan goa untuk mencari sesuatu yang bisa mereka makan pagi itu.
Ketika Fang Yin keluar dari dalam goa, hari masih sedikit gelap tertutup oleh kabut putih. Dinginnya embun menembus baju hingga menyentuh kulitnya. Fang Yin melakukan gerakan ringan untuk merenggangkan otot-ototnya.
Kelinci terlihat berlompatan di sekitarnya, tetapi Fang Yin tidak ingin menangkapnya. Jika masih ada yang lain untuk di makan, Fang Yin merasa tidak tega untuk memakan binatang lucu itu. Fang Yin lebih suka menangkap ayam hutan atau mencari umbi-umbian dan buah.
Tidak ingin berlama-lama meninggalkan Da Xia sendirian, Fang Yin segera mengambil umbi-umbian di tempat yang telah dia tandai ketika melihatnya. Saat menemukannya, Fang Yin memang sengaja tidak mengambil semuanya. Begitupun ketika dia menemukannya lagi di tempat yang berbeda, Fang Yin tidak langsung mengambilnya dan meninggalkan tanda saja dengan menancapkan bilah bambu di sana.
Da Xia sudah terbangun ketika Fang Yin datang.
"Baru saja aku akan pergi ke luar untuk menyusulmu," ucap Da Xia sambil melirik apa yang di bawa oleh Fang Yin.
Seakan tahu apa yang ada dipikiran Da Xia, Fang Yin segera membuka umbi yang dia bungkus dengan kain dan segera menunjukkannya.
"Sarapan kita kakak!" seru Fang Yin sambil meletakkan sebagian umbi itu di rak sederhana yang dia buat dari rotan.
Da Xia baru melihatnya. Semalam dia tidak memperhatikan keadaan di dalam goa karena sudah mulai gelap. Berbeda dengan sekarang yang sudah mulai terang. Goa yang mereka tinggali tidak terlalu dalam sehingga memungkinkan cahaya untuk menerobos masuk ke sana.
"Apakah perabot ini kamu yang membuatnya?" tanya Da Xia sambil menyentuh rak dari rotan itu.
"Bukan barang bagus, Kak. Hanya peralatan sederhana untuk menyimpan barang."
Da Xia mengangguk-angguk tidak ingin memperpanjang percakapan mereka.
__ADS_1
Fang Yin mengambil beberapa umbi lalu menyalakan api pada kayu bakar yang dia susun sedemikian rupa itu dengan kekuatannya. Sesuatu hal yang tidak bisa dia lakukan sewaktu tinggal di dunia manusia. Seiring berjalannya waktu, Agata mulai terbiasa menjalani kehidupannya sebagai seorang putri yang terbuang, Fang Yin.
"Api yang bagus," puji Da Xia ketika melihat api naga merah milik Fang Yin.
"Ah, ini hanya api biasa saja, Kak." Fang Yin berusaha menutupi jenis api yang dia gunakan dengan menekannya ke dalam hingga tersembunyi.
'Meskipun kak Da Xia baik, aku tetap harus waspada. Aku harus selalu mengingat pesan Tetua An yang memintaku untuk menyembunyikan kekuatanku yang sebenarnya.' Fang Yin mencoba tetap fokus pada umbi bakarnya meskipun dia bisa melihat dari sudut matanya jika Da Xia sedang memperhatikannya.
"Aku ingin mengajarimu satu jurus hari ini. Kamu bisa memilih di antara dua jurus ini yaitu Jurus Badai Es atau Jurus Perisai Es." Da Xia memberikan dua pilihan untuk Fang Yin.
Fang Yin menoleh pada Da Xia sambil menimbang-nimbang mau memilih yang mana. Jurus Badai Es adalah tipe jurus serangan yang cukup merepotkan bagi lawan sekuat apapun. Sedangkan Jurus Perisai Es merupakan sebuah jurus pertahanan yang sangat berguna untuk menahan serangan lawan, di mana jurus ini mampu meredam efek energi dan menghalanginya untuk menyentuh si pemilik jurus. Semuanya sama-sama hebat, Fang Yin belum bisa memutuskan untuk memilih yang mana.
"Bolehkah aku memikirkannya sebentar? Aku akan menjawabnya setelah makan pagi," mohon Fang Yin.
"Kamu sungguh anak yang cerdas, Xiao Yin. Suatu saat kamu pasti akan menjadi orang hebat. Orang tuamu pasti akan bangga padamu." Da Xia menepuk bahu Fang Yin pelan.
Umbi yang mereka bakar telah matang. Fang Yin membelahnya dengan pisau menjadi bagian-bagian kecil agar lekas dingin. Da Xia terlihat tidak sabar dan mengambilnya sepotong.
Dia melempar-lemparkannya ke udara agar lekas dingin dan segera bisa di makan.
'Rupanya orang-orang di jaman ini tidak tahu ada jenis umbi yang bisa di makan. Kak Da Xia kelihatan lucu sekali saat tidak sabaran begitu. Apakah ini sisi lain dari seorang kultivator yang hebat sepertinya. Sungguh konyol.' Fang Yin mengulum senyumnya sambil melihat ke arah Da Xia yang tidak menyadari jika diperhatikan olehnya sejak tadi.
"Dari mana kamu tahu jika ini bisa di makan, Xiao Yin?" tanya Da Xia di sela-sela makannya.
'Mampus, deh! Aku harus mencari jawaban yang tepat. Tidak mungkin aku mengatakan jika makanan seperti ini lazim dimakan di dunia manusia modern.' Fang Yin pura-pura sedang mengunyah untuk mengulur waktu berpikir.
__ADS_1
Da Xia terus menatapnya, menantikan jawaban dari pertanyaannya.
Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Fang Yin menemukan jawaban untuk pertanyaan itu tapi sebelum itu Fang Yin menenggak air yang dia sediakan di dalam guci yang selalu dia bawa di dalam cincin penyimpanannya.
"Aku tidak sengaja mengetahuinya, Kak. Saat aku kelaparan dan tidak ada yang aku miliki untuk di makan, aku menemukan tanaman ini. Ya, sudah, seperti itu saja ceritanya."
"Hmm. Jadi begitu. Lalu untuk jurus yang aku tawarkan tadi, kamu sudah memiliki pilihan?" Da Xia mengambil potongan bambu untuk mengambil air dari dalam guci dan meminumnya.
Fang Yin masih terdiam.
Da Xia bisa membaca kebimbangan di wajah Fang Yin yang sebenarnya sangat menginginkan kedua jurus itu. Merasa berhutang budi pada gadis kecil di hadapannya itu, Da Xia akhirnya berubah pikiran dan memutuskan untuk mengajarkan kedua jurus itu pada Fang Yin. Dengan begitu dia juga bisa menikmati umbi lezat itu lebih lama bersama Fang Yin.
'Ah, kenapa di otakku di penuhi makanan saja.' Da Xia memukul kepalanya pelan hingga membuatnya terlihat bodoh.
Kekonyolan Da Xia itu kembali membuat Fang Yin mengulum senyumnya.
"Baiklah, Xiao Yin! Kelihatannya kamu menginginkan kedua jurus itu. Aku akan mengajarkan semuanya padamu. Tapi dengan satu syarat."
Mata Fang Yin berbinar cerah mendengar ucapan Da Xia. Fang Yin tidak menyangka jika Da Xia adalah orang yang sangat murah hati. Dengan suka rela dia mengajarkan jurus hebat itu pada orang yang baru di kenalnya. Fang Yin bertanya-tanya dalam hati, apakah gerangan yang membuat Da Xia begitu mempercayainya.
'Apakah Kak Da Xia sudah mengetahui jika aku berasal dari suku yang sama dengannya? Tetapi kenapa dia tidak menanyakannya padaku? Ah, sudahlah. Sekarang yang terpenting aku harus tahu apa syarat yang diberikan kak Da Xia,' gumam Fang Yin dalam hati.
"Apakah syaratnya, Kak Da Xia?" tanya Fang Yin.
****
__ADS_1
Bersambung ....