Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 318. Utusan


__ADS_3

Setelah sekian lama tinggal di bukit Giok Hitam dan terisolasi dari dunia luar, Fang Yin dan Jian Heng ingin pergi berjalan-jalan untuk menikmati ramainya pedesaan yang menjadi jalur lintas perdagangan itu. Para penduduk masih ramai di berjualan di pinggir jalan. Desa ini menjadi pusat lalu lintas menuju ke empat arah yang berbeda.


"Suasana di sini cukup ramai juga. Meskipun malam sudah larut." Jian Heng membuka percakapan sambil melirik ke kanan kiri untuk mencari sesuatu yang menarik untuk dibeli.


"Aku rasa juga begitu." Fang Yin juga melakukan hal yang sama.


Keduanya beberapa kali berhenti untuk melihat barang yang dijual oleh pedagang kaki lima di sana. Selain mereka banyak orang yang lewat di sana hanya untuk melintas saja. Para pengguna jalan bergerak menepi ketika beberapa orang berkuda datang melalui gerbang desa.


Fang Yin dan Jian Heng sedang asik membeli makanan ringan lalu membawanya duduk di sebuah tempat yank lumayan sepi. Mereka melihat pasukan berkuda itu berhenti dan membeli makanan yang sama dengan mereka.


Fang Yin menganati pakaian yang mereka gunakan. Jika dilihat sekilas, tidak ada yang aneh dengan penampilan rapi mereka. Namun, bagi Fang Yin dia mengenali ciri khusus yang menandakan jika mereka adalah pilihan khusus dari sebuah kekaisaran.


Jian Heng mencoba mengabaikan mereka karena tidak pernah saling mengenal. Dua orang yang merupakan bagian dari pasukan berkuda, bergerak mendekati dirinya dan Fang Yin.


Mereka mengenalkan dirinya sebagai seorang prajurit biasa. Dalam masalah seperti ini, salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan berbohong. Untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan, rahasia tentang identitas mereka harus benar-benar dijaga.


"Selamat malam, Tuan dan Nona," sapa salah satu dari mereka.


"Namaku Ling dan ini temanku Zhang." Pria itu memperkenalkan diri mereka di hadapan Fang Yin dan Jian Heng tanpa rasa gugup.


Di sini sudah sangat jelas jika mereka berdua adalah orang terlatih.

__ADS_1


"Selamat malam. Adakah yang bisa kami bantu?" tanya Jian Heng.


Sementara itu Fang Yin berlagak seperti tidak peduli dan terus memakan makanan yang dibelinya. Meskipun dirinya mencurigai kedua orang itu, tetapi dia tidak menampakannya.


Merasa Jian Heng memberi mereka celah, keduanya merasa senang. Sejenak mereka melihat ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang menguping pembicaraan mereka.


Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah lukisan dan menunjukkan pada Jian Heng.


Fang Yin yang berada di dekatnya bisa melihat dengan jelas lukisan itu. Keduanya saling berpandangan karena sangat mengenal siapa orang yang berada di dalam lukisan tersebut.


"Siapa dia?" tanya Jian Heng pura-pura tidak tahu.


Fang Yin hampir memekikkan sebuah kalimat, tetapi dia berusaha untuk menahannya. Akan sulit baginya jika identitasnya terbongkar saat ini.


"Aku sudah mengingat wajahnya, jika kami bertemu dengan wanita di dalam lukisan itu, kami akan membawanya ke hadapan Kaisar Ning." Jian Heng beranjak dan menarik tangan Fang Yin agar mengikutinya.


"Baik, Tuan. Terimakasih atas bantuannya." Pria itu menyimpan kembali lukisannya.


"Hmm. Istriku sudah nengantuk. Aku takut kehamilannya akan terpengaruh jika terus berada di sini. Kami mohon diri." Jian Heng memberi hormat saat berpamitan.


Kedua orang itu membalasnya dan memaklumi tanpa merasa curiga sedikitpun.

__ADS_1


Jian Heng menarik tangan Fang Yin tanpa banyak bicara lagi. Dia menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Fang Yin yang begitu menggemaskan.


"Sampai kapan kamu akan memperlihatkan wajah konyolmu itu, Nona manis?" Jian Heng bertanya sambil menggamit lengan Fang Yin dengan sedikit menariknya paksa.


"Ah, sungguh kamu gila, Kak Heng. Masa, iya, aku dibilang hamil. Kira-kira dong kalau bersandiwara," omel Fang Yin dengan suara yang pelan.


Tidak akan cukup waktu sehari semalam untuk melayani perdebatan Fang Yin. Jian Heng memilih diam.


"Jangan banyak bicara. Anggota pasukan berkuda yang mencarimu bisa saja ada di sekitar sini," ucap Jian Heng dengan suara pelan.


Dari kejauhan terlihat Guan Xing berjalan tergesa ke ara mereka berdua. Wajahnya terlihat sangat cemas


Fang Yin dan Jian Heng mempercepat langkahnya untuk mencapainya. Semakin dekat maka semakin terlihat jelas ketakutan di wajah Guan Xing.


"Ada apa, Kakek Lesung pipi? Apakah kamu sedang mencari kami?" tanya Fang Yin dengan sorot mata tajam menusuk.


"Gawat, Nona! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepada Anda berdua." Guan Xing melihat ke sekelilingnya untuk menemukan tempat yang aman.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2