
Mata kejam Fang Yin terus berkilat. Dia tidak ingin membiarkan satu pun dari mereka untuk hidup. Keadaan keempat kultivartor itu sangat mengerikan dengan luka cabikan, cakaran dan tusukan memenuhi seluruh tubuh mereka.
Teriakan memilukan keempat kultivator yang meregang nyawa terdengar menggema di keheningan malam di tengah hutan yang semula sepi.
Setelah semua musuh Jian Heng mati secara mengenaskan, Fang Yin mengambil darah mereka untuk menulis di batang pohon besar.
'Pendekar Cadar Perak.'
Tulisan itu ditinggalkan Fang Yin sebagai tanda siapa yang menghabisi mereka.
"Sayang sekali aku belum menguasai Jurus Napas Naga tingkat atas. Seharusnya aku bisa memanfaatkan keempat orang ini dengan menyerap kultivasinya terlebih dahulu sebelum aku membunuhnya." Fang Yin berbisik lirih pada dirinya sendiri.
Fang Yin berbalik pergi meninggalkan keempat mayat kultivator yang setengah membeku itu untuk melihat keadaan Jian Heng.
Tubuh Fang Yin terlihat stabil setelah menguasai pengendalian Qi dan energi tubuhnya meskipun dia telah menggunakan Qi yang besar dalam bertarung.
Jian Heng sedang bermeditasi ketika Fang Yin datang menghampirinya. Aura berwarna biru dengan tekanan energi yang kuat membuat Fang Yin berdecak kagum. Fang Yin merasakan jika saat ini Jian Heng telah menerobos ke ranah surgawi bintang dua.
Luka-luka di tubuh Jian Heng tidak lagi terlihat meskipun pakaian dan darah yang mengering masih terlihat di sekujur tubuhnya.
Setelah menunggu sesaat, Jian Heng pun mengakhiri meditasinya.
"Uhukk ... uhukk!" Jian Heng masih terbatuk. Sepertinya meditasi yang dia lakukan tidak bisa menghilangkan racun energi yang terlanjur mengendap di dalam pembuluh darahnya.
__ADS_1
"Tetua Yu! Bagaimana keadaanmu?" tanya Fang Yin dengan wajah khawatir.
Di bawah sinar bulan dia bisa melihat jika keadaan Jian Heng sedang tidak baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja. Anak nakal! Kenapa kamu keluyuran malam-malam? Hmm ... kamu ingin menertawakan gurumu yang payah ini, bukan?" Jian Heng berdiri tepat di hadapan Fang Yin.
"Ahm ... itu ... aku hanya ingin mencari udara segar saja," ucap Fang Yin gugup. Dia tidak menemukan alasan yang tepat untuk pertanyaan Jian Heng.
'Harusnya aku segera pulang ke sekte saja tadi. Meskipun Tetua Yu tahu tetapi aku bisa mencari jawabannya lebih dulu sebelum bertemu dengannya.' Fang Yin meringis karena malu.
"Hahh, sudahlah! Anggap saja aku mengampuni kesalahanmu karena telah menyelamatkanku. Tetapi aku harap kamu jangan mengulangi hal seperti ini lain kali. Kamu bisa membahayakan nyawamu!"
"Aku mengerti." Fang Yin menunduk menyadari kesalahannya.
Mereka berjalan di bawah sinar bulan melewati jalan setapak. Meskipun terlihat santai saat berjalan tetapi kecepatan langkah mereka tidak kalah dengan kecepatan kuda yang sedang berlari. Keduanya sama-sama memakai jurus meringankan tubuh tingkat tinggi.
"Xiao Yin!" panggil Jian Heng ketika mereka sudah semakin dekat dengan Sekte Sembilan Bintang.
Fang Yin menghentikan langkahnya dan menatap Jian Heng dengan tatapan tidak mengerti.
"Jika kamu berjalan denganku lewat pintu depan ...." Jian Heng menggantung kalimatnya.
"Aku mengerti. Aku akan kembali ke villa dengan caraku sendiri." Fang Yin segera melompat ke atas pohon dan terus melompat dari satu pohon ke pohon yang lain meninggalkan Jian Heng.
__ADS_1
Jian Heng tersenyum menatap kepergian Fang Yin yang sudah tidak terlihat lagi.
"Gadis nakal! Kamu satu-satunya wanita yang berhasil mengobrak abrik hatiku setelah ibuku." Jian Heng menggelengkan kepalanya berharap wajah Fang Yin bisa segera menghilang dari pikirannya.
Rasa nyeri masih terasa di dadanya, Jian Heng memeganginya sambil terus berjalan. Sebelumnya dia memang sengaja bersikap biasa untuk menyembunyikan luka yang sebenarnya dari Fang Yin. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan wanita yang sangat di kaguminya.
Malam sudah sangat larut. Hanya penjaga keamanan saja yang belum tertidur ketika Jian Heng sampai di sektenya. Itu lebih baik baginya karena dia tidak perlu menjawab banyak peranyaan dari orang-orang yang menyambutnya.
Saat memasuki villa miliknya, Fang Yin telah menyambutnya dengan minuman hangat untuknya.
Jian Heng duduk di depan Fang Yin dan menerima gelas minum yang dia berikan.
"Terimakasih." Jian Heng langsung menyeruput minuman itu.
"Kamu terlihat sangat pucat. Apakah tubuhmu merasakan sesuatu?" tanya Fang Yin khawatir.
Jian Heng terlihat bingung. Dia tidak tahu harus mengatakan apa yang sebenarnya atau tidak. Tubuhnya memang merasakan sakit di beberapa bagian meskipu dia telah mencoba untuk mengobatinya dengan bermeditasi.
"Aku ... aku ... aku tidak apa-apa, Xiao Yin." Jian Heng mengucapkan kata-kata dengan gugup dan ragu-ragu.
Fang Yin tidak mempedulikan ucapan Jian Heng, dia segera beringsut mendekatinya lalu meraih tangan kiri Jian Heng dan menariknya dengan paksa.
****
__ADS_1
Bersambung ....