Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 242


__ADS_3

Jian Heng merasa dirinya seperti sebuah patung arca dewa. Tubuhnya sulit digerakkan dan energinya terus berkurang. Gerakkan yang terbatas itu juga membuat otot-ototnya terasa pegal.


Pedang Penakar Jiwa memang memiliki banyak sekali keunikan. Hanya pemiliknya saja yang mampu mengendalikannya. Ada mantra khusus untuk membuatnya menjadi apa yang diinginkan.


Raut wajah Kaisar Xi mulai berubah. Dia mengerti akan keadaan putranya. Dia bisa kehilangan banyak energi jika dibiarkan terlalu lama. Tanpa banyak berpikir lagi, dia mengangkat tangannya ke langit mengarah pada pedangnya. Dalam sekejap pedang itu telah berpindah tangan.


Cahaya yang memancar ke langit memudar lalu menghilang. Suasana kembali normal seperti sedia kala. Namun, para penghuni istana yang berkerumun di sana belum beranjak. Mereka ingin tahu siapa orang yang membuat pedang leluhur bercahaya.


Tanpa pedang itu, tubuh Jian Heng meluncur dengan cepat ke bawah. Orang biasa akan jatuh tersungkur tanpa kesiapan. Untuknya, dia mendarat di tanah dengan gagahnya setelah mengatur keseimbangan.


Kaisar Xi berjalan untuk menghampirinya. Perasaan bangga tersirat jelas di wajahnya. Untuk kali ini, dia tidak marah akan kenakalan putranya itu.


"Aku bangga padamu. Tetapi, hukuman tetap hukuman. Ayah tidak akan membiarkan terus-menerus tinggal di luar istana, tidak peduli seberapa besar kekuatan yang akan kamu dapatkan. Umur ayah sudah semakin tua, sebelum benar-benar mundur dari kepemimpinan, ayah harus menentukan pengganti dan menyerahkan gelar putra mahkota pada salah satu dari kalian."


Ucapan lembut itu menyiratkan kegalauan hati seorang pemimpin. Putranya sudah memiliki usia yang cukup dewasa, putra mahkota juga belum ditentukan. Satu pun juga belum ada yang menikah. Kaisar Xi harus segera memikirkannya semua ini.


"Ayah tidak perlu khawatir. Kak Changyi begitu berbakat dan juga cerdas, aku sangat setuju jika ayah mengangkatnya sebagai putra mahkota."


Bukannya senang, Kaisar Xi malah memberi tatapan yang menyiratkan ketidaksetujuan. 'Anak bodoh. Di mana-mana putra kaisar saling berebut untuk menduduki tahta. Mengapa putraku malah saling berebut untuk menolak menjadi pemimpin? Aku tidak habis pikir dengan mereka.'


Kaisar Xi berbalik dan pergi meninggalkan Jian Heng yang terpaku. Saat tahu Jian Heng tidak mengikutinya, dia menoleh ke belakang dan memberi isyarat agar putranya itu segera menyusulnya.


"Apakah ada yang salah dengan ucapanku? Mengapa ekspresi wajah ayah berubah, ya?" Jian Heng bertanya pada dirinya sendiri lalu bergegas mengikuti ayahnya sebelum dia semakin marah.


Orang-orang yang berkerumun mengelilingi tempat berlatih itu terkejut saat melihat siapa yang datang mendekat. Kegelapan malam membatasi jarak pandang mereka. Sebenarnya Changyi dan Hao Xiang berada di tepi arena bersama para ratu. Namun, mereka tidak bisa melihatnya.


Saat Jian Heng berada dalam jarak dekat, mereka baru bisa melihat wajahnya dengan jelas. Mereka diam membeku merasa tidak yakin dengan penglihatannya. Tidak di sangka, Pangeran ketiga merekalah yang paling berbakat di antara saudara-saudaranya.


Mereka semua masih terbengong di tempatnya meskipun bayangan Jian Heng dan seluruh keluarganya telah menghilang dari sana.


Kaisar Xi dan keluarganya memasuki ruangan khusus untuk berkumpul. Dia duduk dengan tenang di atas singgasananya menanti semuanya berkumpul.


Sebagai tersangka utama, Jian Heng diminta untuk duduk paling dekat dengan Kaisar Xi. Kedua kakaknya mendampinginya dan yang lainnya berada di belakang kursi yang agak jauh.


"Malam sudah semakin larut. Aku akan segera mengatakan hukuman apa yang harus dijalani oleh Jian Heng. Kali ini aku tidak akan memberinya hukuman fisik."


Semuanya diam menyimak, tidak ada yang berani bersuara.


"Kalian bertiga sudah dewasa. Usia kalian tidak terpaut jauh antara satu sama lain. Sudah waktunya kalian memikirkan untuk mencari pendamping. Khusus untuk Jian Heng, aku yang akan menentukan siapa wanita yang akan dia nikahi. Terbiasa tinggal di luar istana, pasti membuatnya memiliki selera yang buruk tentang wanita," lanjutnya.


Jian Heng langsung menegakkan kepalanya setelah mendengar ucapan ayahnya. Dia tidak terima dengan perjodohan yang akan diatur untuknya. Lebih baik dia menerima hukuman berat ketimbang harus mengkhianati hatinya dan menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Di hatinya hanya ada Fang Yin.


"Maafkan aku, Ayah. Aku tidak bisa menerima hukuman ini. Aku tidak menginginkan tahta kerajaan ini, tapi kumohon biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri."


Changyi dan Hao Xiang menatap Jian Heng tak percaya. Mereka tidak menyangka adik mereka berani menolak keputusan ayahnya. Memang mereka akui jika selama ini adiknya itu sangat suka melawan ayahnya.


Kekecewaan bercampur kemarahan tergambar jelas di wajah Kaisar Xi. Setiap kali bertemu, Jian Heng selalu mempermainkan perasaannya. Emosinya yang tak terbendung membuat dadanya terasa sakit.


Kaisar Xi memegangi dadanya yang terasa nyeri. Beberapa kali dia terbatuk dengan napas yang tersengal-sengal.


"Ayah!" pekik ketiganya berbarengan. Mereka beranjak dari duduknya berniat untuk membantu ayahnya.


Kaisar Xi mengangkat tangannya ke depan lalu beranjak dari duduknya. Dia tidak ingin mereka mendekatinya.


Jian Heng merasa bersalah pada ayahnya. Ketiganya tertegun menatap kepergiannya yang berjalan terseok sambil memegangi dadanya. Para ratu mengikutinya dan membantunya berjalan.


Changyi dan Hao Xiang menepuk bahu Jian Heng lembut lalu pergi meninggalkannya menyusul ketiga ibunya.


"Apakah aku keterlaluan? Kurasa tidak. Tidak seharusnya mereka memaksakan kehendak. Meskipun pada umumnya memang begitu. Inilah yang membuatku benci dengan kehidupan istana." Jian Heng tidak berani menemui ayahnya dan membuat suasana hatinya semakin memburuk.


Dalam perjalanan menuju ke kamar, dia beberapa kali berpapasan dengan pelayan istana dan prajurit yang berpatroli. Mereka saling berbisik dan mengungkapkan kekagumannya pada Jian Heng.


'Mereka tidak tahu jika aku hanyalah pengacau yang selalu membuat ayahnya naik pitam.' Jian Heng menggeleng menyalahkan dirinya sendiri.


Di kejauhan dia melihat tabib istana berlari-lari kecil menuju ke kamar Kaisar Xi. Perasaan khawatir menyelimuti hatinya, tetapi Jian Heng tidak berdaya. Dia takut kedatangannya akan memperburuk keadaan.


"Maafkan aku, Ayah." Jian Heng menghembuskan napas kasar penuh sesal.


Dengan membawa kegamangan hatinya dia melanjutkan langkahnya memasuki kamarnya. Pandangannya menerawang jauh, memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Memiliki banyak selir adalah hal yang lazim, tetapi hatinya telah terbawa oleh Fang Yin. Jian Heng tidak ingin menjadi patung yang menikah hanya bermodalkan jantung.


Merasa lelah dengan keadaan, dia berusaha untuk berbaring dan memejamkan matanya. Banyak berpikir membuatnya kehilangan ketenangan.


Gerbang alam bawah sadar baru terbuka, tetapi Jian Heng kembali terjaga. Di luar kamarnya terdengar langkah tergesa.


"Pangeran Ketiga! Maafkan kami mengganggu, Anda. Yang Mulia Permaisuri menunggu Anda di kamar Yang Mulia Kaisar."


"Tunggu sebentar."


Jian Heng merapikan bajunya sambil berjalan lalu membuka pintunya. Di hadapannya berdiri seorang pelayan pribadi kaisar. Dari wajahnya terlihat jelas kepanikan yang memaksanya untuk datang ke sana.


Tanpa banyak bertanya, Jian Heng berjalan mendahului pelayan itu. Banyak sekali dugaan yang muncul di dalam pikirannya. Namun, dia tidak ingin berspekulasi dan dikuasai oleh pikiran negatif.

__ADS_1


Sayup-sayup terdengar suara tangis seorang wanita. Jian Heng yakin jika itu adalah suara ibu-ibunya. Dia mempercepat langkahnya dan berlari menuju ke kamar ayahnya.


Seluruh keluarga inti berada di dalam kamar itu. Mereka melihat kedatangan Jian Heng dan memberinya jalan untuk mendekat. Keadaan Kaisar Xi benar-benar sangat memprihatinkan. Tabib istana pun tidak mampu berbuat apa-apa.


"Ayah. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini." Jian Heng memegang tangan Kaisar Xi. Matanya berkaca-kaca tidak sanggup menahan kesedihannya.


"Lakukan sesuatu untuk ayahmu, Nak. Kami belum siap untuk kehilangan dia." Permaisuri berbicara sambil terisak.


Jian Heng menatap kedua kakaknya dengan pandangan berkabut. Dia semakin tak berdaya didera oleh rasa bersalah.


"Mengapa kamu tidak menurut saja, Heng? Apa buruknya menikah? Bukankah kita sudah layak untuk itu?" Changyi berbicara dengan suara bergetar.


Jian Heng menunduk. Menjawab kakaknya hanya akan menyulut pertikaian. Dalam keadaan bersedih, akal sehat mereka bisa saja menghilang.


"Kakak, aku mengenal seorang ahli pengobatan. Aku akan membawanya ke mari. Ayah pasti sembuh."


Mendengar ucapan Jian Heng, semua orang menatapnya tajam.


"Apakah ini alasanmu untuk menghindar? Tidakkah kamu berpikir jika dirimulah yang menyebabkan ayah menjadi seperti ini?"


Pertama kalinya Changyi berbicara keras pada Jian Heng membuat semuanya merasa heran. Kecemasan akan keadaan Kaisar Xi membuatnya sulit untuk mengontrol emosinya.


"Aku tidak sekejam itu. Aku hanya ingin menjemput orang itu untuk mengobati ayah. Hanya aku yang tahu keberadaannya dan dia orang yang tidak mudah didekati. Mengirimkan utusan ke Benua Utara tidak akan berakhir baik."


Changyi diam berpikir. Sebagai putra tertua dia berusaha untuk menjadi panutan. Dia tidak bisa sembarangan mengambil keputusan.


"Anggap saja aku percaya padamu, tetapi kamu tidak bisa pergi sendiri. Kamu harus membawa dua orang pengawal."


Jian Heng menelan ludahnya merasa getir. Pengawal pilihan kakaknya akan membatasi geraknya menjadi tidak leluasa. Penyamarannya akan segera terbongkar dihadapan Fang Yin. Namun, tidak ada pilihan lain demi keselamatan ayahnya.


"Tidak masalah. Aku akan berangkat malam ini juga. Aku tunggu mereka di kamarku." Jian Heng memberi hormat pada semuanya lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Malam itu juga, Jian Heng pergi dari istananya bersama dua orang pengawal pilihan. Mereka sudah sering mendapatkan misi rahasia dan merupakan kultivator ranah suci. Wajahnya sangat dingin dan hanya berbicara seperlunya saja. Di kening mereka terdapat lambang kesetiaan yang hanya terlihat oleh keluarga istana.



Kembali ke Benua Utara,



Fang Yin merasa bosan berada di dalam istana. Dia tidak sabar menunggu pagi tiba dan mendapatkan Kitab Sembilan Naga bintang tujuh. Berlama-lama tinggal di istana membuatnya merasa semakin terkekang. Belum lagi Kaisar Jing yang selalu mencari perhatian.




Fang Yin melompat ke atas atap kamarnya. Memandang seluruh istana dari ketinggian. Keindahannya tidak mampu mengikat hatinya untuk tinggal lebih lama di sana.



Wajah Fang Yin menengadah ke langit. Membayangkan apa yang akan dia hadapi esok hari. Teknik pedangnya memang tidak perlu diragukan lagi. Namun, dia tidak tahu seperti apa lawan yang akan dia hadapi.



Kaisar Jing sangat disegani oleh lawan-lawannya. Fang Yin merasa jika dia tidak akan mudah dikalahkan. Bayangan kekalahan sekilas melintas, tetapi berganti wajah Jian Heng dengan senyum termanisnya.



"Tetua Yu. Aku tidak takut akan kekalahan, tetapi aku sangat takut dengan pernikahan. Aku tidak mencintai Kaisar Jing. Harta dan kekuasaannya tidak membuatku silau dan tetap memilih dirimu."



Hingga saat ini, Fang Yin tidak tahu jika Jian Heng adalah pangeran ketiga dari Benua Tengah. Keduanya sama-sama terperdaya oleh identitas palsu yang mereka tunjukkan.



Kenangan mereka selama bersama di Sekte Sembilan Bintang terlintas kembali. Rasa rindu menusuk hatinya dan ingin mengulang masa-masa itu. Apa daya Fang Yin masih harus mengumpulkan Kitab Sembilan Naga dan menyerap seluruh isinya.



"Aku harus beristirahat. Butuh kesiapan fisik untuk menghadapi pertarungan besok pagi. Jika kesepakatan tidak berubah, Kaisar Jing tidak mengijinkanku menggunakan tenaga dalam."



Sesaat sebelum turun dari atap, beberapa orang prajurit yang berpatroli melihatnya. Tidak ada yang berani untuk mengusiknya. Kabar kematian para dayang yang dibunuh olehnya telah menyebar. Mereka juga tahu jika Fang Yin berasal dari suku es yang menambah ketakutan mereka.



Taman di sepanjang jalan menuju kamar dipenuhi oleh bunga-bunga yang sedang bermekaran. Sisi lembut Fang Yin muncul dan menyukai aroma wanginya. Meskipun dia terkenal kejam, dia tetap seorang wanita yang menyukai keindahan.


__ADS_1


Aroma wangi bunga menjadi terapi yang membuat pikirannya menjadi tenang. Tubuhnya berjalan tanpa benan, melangkah ringan ke dalam kamarnya. Sebelum terlelap, Fang Yin menanam mantra pelindung ganda hingga mata batin pun tidak mampu menembusnya.



Sepenggal malam berlalu dengan cepat. Sebelum matahari muncul di ufuk timur, Fang Yin telah terjaga.



"Selamat pagi, Nona. Yang Mulia meminta kami untuk membantu Anda mandi."



Dua orang dayang sudah berdiri di hadapan Fang Yin ketika dia membuka pintu. Kaisar Jing benar-benar memperlakukannya dengan istimewa.



"Bukan aku tidak mau. Tetapi aku yakin kalian tidak akan sanggup berada di dekatku dalam waktu yang lama."



"Ini sudah tugas kami, Nona. Kami sudah terbiasa membantu para putri bangsawan untuk mandi."



Mereka salah paham dan berpikir jika tubuh Fang Yin sangat kotor, padahal bukan itu yang dimaksudkan. Keduanya membawa ke ruang mandi yang berada di sebelah kamar Fang Yin.



Di tengah ruangan terdapat bak mandi berbentuk bulat dan berukuran besar. Bak itu bisa menampung lebih dari seratus liter air. Kelopak bunga yang ditaburkan di dalamnya mengeluarkan aroma yang sangat menyegarkan.



"Kalian boleh pergi!" seru Fang Yin setelah membiarkan kedua dayang itu membuka pakaiannya.



"Tenanglah, Nona. Kami bisa menjaga rahasia." Mereka bersikeras untuk tinggal.



Fang Yin yakin mereka akan ketakutan saat melihat simbol Dewi Naga di punggungnya akan muncul setelah tubuhnya menyentuh air. Dengan pakaian tipis yang dikenakannya sekarang simbol itu akan terlihat jelas.



"Terserah kalian. Jangan salahkan aku jika setelah ini kalian melihat sesuatu yang menakutkan."



Kedua dayang itu saling berpandangan. Mereka mengamati tubuh Fang Yin yang terlihat biasa. Kini keduanya merasa ragu dan berdiri mematung tanpa melakukan apa-apa.



Fang Yin masuk ke dalam kolam mandinya. Simbol di punggungnya bersinar dan mengeluarkan gelombang energi yang menekan udara di sekitarnya.



Kedua dayang itu akhirnya mengerti mengapa Fang Yin melarangnya untuk membantunya mandi. Tubuh mereka seperti terdorong ke belakang. Beruntung Fang Yin merendam punggungnya sehingga mereka tidak melihat simbol Dewi Naga yang menyeramkan.



"Kami permisi, Nona." Akhirnya mereka menyerah dan pergi meninggalkan ruangan itu segera.



Fang Yin mengangguk.



Kaisar Jing telah menunggu di tengah arena pertarungan ketika Fang Yin datang. Ada beberapa panglima dan punggawa kerajaan yang melihat pertandingan mereka. Beberapa orang tetua dan dewan kekaisaran juga hadir untuk menilai.


"Kamu begitu serius dengan pertandingan ini, Yang Mulia. Aku pikir ini hanyalah urusan di antara kita." Fang Yin melihat ke sekeliling arena.


"Kamu tidak perlu khawatir. Segala keputusan tetap berada di tanganku. Ini hanyalah formalitas saja. Aku hanya ingin menunjukkan betapa tangguhnya dirimu agar mereka tidak menyalahkanku yang memiliki perasaan untukmu."


Fang Yin mendengus kesal mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Kaisar Jing. Baginya terlalu berlebihan dan tidak tahu malu. Meskipun dia tahu dalam cinta hal itu wajar-wajar saja.


"Mari kita mulai pertandingannya." Fang Yin tidak ingin mendengar kata-kata yang membuatnya muak lebih banyak lagi.


Sebuah pedang muncul di tangannya. Sebelah kakinya dia tarik ke belakang hingga membentuk kuda-kuda.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2