Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 212


__ADS_3

Fang Yin tidak kembali ke penginapan lagi. Dia ingin melanjutkan misinya yang tertunda.


Pandangan Fang Yin mengedar ke sekeliling ketika dia sudah berada di tempat yang sepi. Setelah memastikan tidak ada orang yang melihatnya, dia kemudian membuka telapak tangannya. Titik cahaya yang semula berada dekat berpindah di tempat yang sedikit jauh.


Untuk membuat segel di tangannya itu menjadi tak terlihat, Fang Yin menyembunyikannya dengan kekuatannya. Hanya dia sendiri yang bisa melihat segel itu.


Setelah semuanya dipastikan aman, Fang Yin kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari pemilik Kitab Sembilan Naga bintang enam. Sesekali Fang Yin mengikuti titik cahaya yang ada di tangannya.


Fang Yin berjalan menyusuri jalanan perkampungan yang lumayan luas itu menuju ke arah titik yang dia cari.


'Huhh! Meskipun pemilik itu berada di wilayah yang sama, tetapi aku tidak yakin bisa mendapatkan kitap itu dengan mudah.' Fang Yin menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon.


Matahari telah merangkak naik dan pagi berkabut telah berubah terik. Udara panas merubah pagi yang dingin menjadi hangat.


Lelah tubuh Fang Yin mulai berkurang. Dia kembali melihat cahaya yang menandai pemilik Kitab Sembilan Naga bintang enam. Alisnya berkerut ketika melihat tanda itu mendekat ke arahnya.


Pandangan mata Fang Yin mengedar ke sekeliling untuk mencari orang yan memiliki tanda kepemilikan Kitab Sembilan Naga. Di kejauhan terlihat beberapa orang pria berperawakan gempal dan berwajah dingin berjalan ke arah Fang Yin.


Mereka belum menyadari keberadaan Fang Yin di sana. Fang Yin menggeser tubuhnya untuk bersembunyi di pohon tempatnya bernaung dari terik matahari.

__ADS_1


Meskipun pohon itu tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menyembunyikan dirinya. Tidak lupa Fang Yin menutupi hawa kehadirannya agar tidak ada yang bisa merasakan keberadaannya.


Ketiga orang itu semakin mendekat ke arahnya membuat Fang Yin harus menggeser tubuhnya memutari pohon untuk menghindari pandangan mereka.


Mereka melewati pohon di mana Fang Yin bersembunyi. Salah seorang dari mereka berhenti sejenak dan melihat ke sekeliling. Fang Yin menempel di pohon sambil berharap-harap cemas dan berharap tidak ketahuan.


Orang itu kembali bergabung bersama kedua rekannya setelah tidak mendapati siapapun di sana.


Saat ketiga orang itu mulai menjauh, Fang Yin berjalan mengikuti mereka dengan tetap menjaga jarak aman. Beruntung ketiga orang itu berjalan di jalanan yang sepi, jadi Fang Yin tidak perlu untuk menghindari kecurigaan orang lain.


Ketiga orang itu memasuki gang sempit menuju ke sebuah villa bertingkat yang mirip seperti sebuah penginapan. Fang Yin tidak tahu tempat apakah itu. Namun dia merasa senang karena itu berarti mereka tidak akan pergi ke mana-mana lagi.


'Haruskah aku masuk ke dalam untuk mengikuti mereka? Kelihatannya ini tempat yang dibuka untuk umum, mungkin tidak akan ada yang curiga jika aku masuk ke sana.' Fang Yin melangkah dengan percaya diri.


Dari arah yang berlawanan terlihat seorang wanita paruh baya yang berlari menuju ke tempat yang sama dengannya. Fang Yin menghentikan langkahnya saat melihat wanita itu mencoba untuk masuk ke dalam villa.


Dua orang pria muncul dari dalam villa itu dan mendorong wanita itu dengan kasar ke luar. Wanita itu tidak menyerah dan mencoba bangkit untuk kembali masuk. Namun lagi-lagi kedua pria itu menghalanginya.


Wanita itu terus berteriak, "Kembalikan anakku! Aku mohon! Kembalikan anakku!"

__ADS_1


Fang Yin bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dan tempat apakah itu. Merasa tidak menemukan jawabannya dengan melihat saja, Fang Yin memutuskan untuk membantu wanita paruh baya itu.


Kedua pria itu beberapa kali memukul wanita itu dengan keras. Tangan dan kaki mereka begitu ringan menghajar wanita itu dengan brutal. Sungguh pemandangan yang menyayat hati.


Merasa tidak tahan lagi melihat semuanya, Fang Yin melangkah maju dengan cepat dan berdiri untuk menghalangi mereka.


"Hentikan!" seru Fang Yin ketika dua orang itu mencoba untuk menarik wanita itu.


Kedua pria itu terlihat sangat marah pada Fang Yin dan menatapnya dengan aura permusuhan.


"Jangan ikut campur dengan urusan kami! Atau kamu akan mengalami nasib yang sama dengan wanita ini." Salah satu dari pria itu menggertak Fang Yin.


Fang Yin tidak bergerak dari tempatnya dan membiarkan wanita itu berlindung di balik punggungnya. Mungkin setelah ini akan ada pertarungan yang tidak mudah, tetapi itu adalah harga yang harus dia bayarkan untuk sebuah keadilan.


"Berikan kami jalan untuk masuk! Atau aku akan membuat kalian menyesal telah menyiksa wanita yang tidak berdaya." Fang Yin mengeluarkan aura kejam yang membuat nyali kedua pria itu sedikit menciut.


"Apakah kamu tahu tempat apa ini? Apakah kamu yakin untuk masuk ke dalam?" pria itu menatap Fang Yin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mereka belum pernah melihat Fang Yin sebelumnya.


****

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2