
Tanpa meminta pendapat dari Jian Heng, Fang Yin segera mengeluarkan artefak daun miliknya dan melompat ke atasnya.
"Naiklah! Kita harus segera pergi dari sini!" seru Fang Yin.
Tidak ada pilihan lain bagi Jian Heng, dia tidak ingin mengambil resiko dan bahaya sendirian. Segera saja dia melompat ke atas artefak daun milik Fang Yin dan berdiri di belakangnya.
Jian Heng mencoba untuk menjaga keseimbangan tubuhnya tanpa berpegangan pada Fang Yin. Dia ingat betul betapa galaknya wanita di hadapannya itu.
"Pantas saja para bandit itu mendatangi Kolam Misteri, lihat itu!" Fang Yin menunjuk ke goa di mana Kolam Misteri berada.
Sebuah cahaya dari arah goa memancar ke langit dan perlahan memudar dari ujung atas dan merambat ke bawah. Cahaya keemasan itu sangat jelas sekali terlihat di kegelapan malam.
"Itu adalah tanda segel ketiga telah terbuka dan Mutiara Naga Abadi telah berhasil diambil." Fang Yin kembali berbicara kepada Jian Heng yang masih tertegun melihat cahaya goa yang ditunjukkan oleh Fang Yin sebelumnya.
"Mutiara Naga Abadi?" Jian Heng merasa asing dengan nama itu.
Fang Yin membuka telapak tangannya lalu keluarlah sebuah bongkahan batu berbentuk bulan panjang asimetris yang bersinar. Cahaya ungu yang redup memancar dari batu itu.
"Jadi ini wujud dari Mutiara Naga Abadi itu?" Jian Heng kembali bertanya.
Fang Yin mengangguk lalu kembali menyimpan batu itu.
Malam itu begitu gelap karena awan menyelimuti langit dan menutupi bintang-bintang. Meskipun tidak akan turun hujan, tetapi malam tanpa rembulan itu begitu pekat.
__ADS_1
Artefak daun Fang Yin membumbung tinggi di angkasa dan melesat kencang menuju ke daratan yang bertabur ratusan cahaya lentera. Lentera-lentera itu menandakan jika ada kehidupan di sana.
Kemajuan di Benua Utara memang tidak diragukan lagi. Kaisarnya membawa kemakmuran yang adil bagi seluruh rakyatnya. Hanya saja kebiasaan di masyarakat yang memperlakukan wanita lebih rendah dari pria menimbulkan banyak sekali kekacauan.
Berkat artefak daunnya, Fang Yin dan Jian Heng berhasil mencapai pemukiman penduduk dengan cepat. Seperti biasanya, Fang Yin berhenti di tempat yang sepi di luar perkampungan.
Mereka turun dari artefak daun itu dan bersiap untuk melangkah memasuki perkampungan.
"Tunggu Xiao Yin! Kita tidak bisa pergi bersama-sama di tengah malam seperti ini kecuali kamu mau berpura-pura menjadi istri atau adik perempuanku. Em, kamu jangan salah paham dulu. Aku hanya tidak ingin ada yang mengganggumu."
Jian Heng menghentikan langkahnya dan membuat Fang Yin pun melakukan hal yang sama.
"Terserah Tetua Yu saja."
"Begini saja, jika ada yang bertanya biar aku saja yang menjawabnya." Setelah melihat penyiksaan terhadap wanita di tempat yang dia kunjungi sebelumnya, Jian Heng tidak ingin ada seseorang yang mengusik Fang Yin.
Fang Yin mengerti akan kekhawatiran Jian Heng. Meskipun dia bisa menjaga dirinya dengan melawan siapapun dengan kekuatannya yang sekarang. Namun menunjukkan kemampuannya akan mengundang para kultivator untuk memburunya.
Ada sebuah kedai dan penginapan yang masih buka di depan mereka. Malam yang telah larut terlihat sepi. Di dalam kedai itu hanya terlihat beberapa orang pria yang sedang minum arak.
Fang Yin mengikuti Jian Heng lalu berdiri di belakangnya saat Jian Heng sedang memesan kamar untuk mereka. Penjaga penginapan menatap keduanya secara bergantian. Mungkin dia merasa heran mengapa mereka memesan kamar yang terpisah.
Setelah membayar sejumlah uang, akhirnya penjaga penginapan itu memberikan kunci kamar untuk mereka berdua dan meminta pelayan untuk menunjukkan kamar mereka.
__ADS_1
Jian Heng membukakan pintu kamar Fang Yin lalu menyerahkan kuncinya.
"Aku telah merepotkanmu, Tetua!" Fang Yin menyatukan kedua tangannya memberi hormat.
"Tidak perlu berterimakasih. Ini bukan sesuatu yang besar." Jian Heng pergi ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Fang Yin.
Mereka pergi untuk beristirahat meskipun pagi sebentar lagi akan turun.
Fang Yin tidak langsung tertidur. Dia duduk di atas ranjangnya dan mengeluarkan Kitab Sembilan Naga bintang lima di tangannya.
Untuk mengetahui di mana letak Kitab Sembilan Naga bintang enam, Fang Yin harus berkonsentrasi dan membuat segel mantra khusus. Fang Yin mengikuti bagaimana cara untuk membuat segel mantra penembus aura Kitab Sembilan Naga.
Kitab Sembilan Naga bintang lima melayang di depan Fang Yin dan terbuka di halaman terakhir. Huruf dan simbol keluar dari kitab itu dan tertulis di udara dengan cahaya keemasan.
Fang Yin mengikuti semua petunjuk itu dengan serius. Tangan kanannya mengeluarkan Qi untuk membentuk sebuah simbol. Tangan kirinya membuka untuk menarik simbol yang telah terbentuk.
Simbol itu mengecil dan menyatu pada telapak tangan kirinya sebagai segel penembus aura Kitab Sembilan Naga.
"Aku berhasil!" Fang Yin tersenyum senang dan ingin segera mencobanya untuk mendeteksi keberadaan Kitab Sembilan Naga bintang enam.
****
Bersambung ....
__ADS_1