
Fang Yin dan Jian Heng keluar dari villa itu bersama-sama.
"Xiao Yin! Apakah kamu telah melupakan aku?" tanya Xiao Chen dengan nada yang sedikit merajuk.
"Mana mungkin aku melupakan sepupu angkatku yang teramat cerewet dan suka berbicara seenaknya ini," balas Fang Yin.
Mereka terus berdebat hingga membuat semua orang yang ada di sana tertawa termasuk Jian Heng. Sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya, di mana Fang Yin juga memiliki sisi humor di balik sikapnya yang terlihat dingin dan kejam.
Setelah bercengkrama bersama mereka untuk beberapa saat, akhirnya Fang Yin pun berpamitan pada mereka semua untuk pergi meninggalkan sekte ini.
Mereka semua adalah orang-orang yang bersimpati pada Fang Yin.
Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Mereka rela atau pun tidak, Fang Yin tetap harus pergi dari sana.
Jian Heng dan Xiao Chen berjalan paling depan untuk mengantar Fang Yin hingga ke depan gerbang Sekte Sembilan Bintang.
Ketua Lama dan Ketua Sekte juga melihat kepergian Fang Yin dari tempat yang tersembunyi. Mereka tidak sanggup untuk melihat kepergiannya. Sebagai seorang pemimpin mereka tidak ingin terlihat lemah di depan para tetua dan murid-muridnya.
__ADS_1
Matahari sudah meninggi ketika Fang Yin keluar dari sana. Sekiilas dia menoleh dan membalas lambaian tangan mereka lalu melompat dengan cepat ke atas pohon.
'Selamat tinggal semuanya. Aku tidak menyangka akan singgah di tempat yang dulu pernah di singgahi oleh ayah. Tempat ini akan aku jadikan tempat untukku singgah lagi di lain kesempatan.' Fang Yin melihat ke belakang sejenak lalu melanjutkan langkahnya.
Dengan teknik meringankan tubuh yang semakin sempurna, menuruni Gunung Telaga Emas bukanlah hal yang sulit bagi Fang Yin.
Setelah sekian lama tinggal, akhirnya Fang Yin kembali merasakan kebebasan.
Sebuah senyuman tidak pernah lepas dari wajah Fang Yin yang tersembunyi di balik cadarnya.
Fang Yin tidak ingin melalui jalur desa untuk menghindari bertemu dengan orang-orang. Dia memilih untuk melalui jalur hutan.
Meskipun begitu, Fang Yin tetap mengambil jarak beberapa hasta dari jalan itu dengan melewati pepohonan yang berada tidak jauh darinya.
"Hahaha! Sekarang terima kematianmu!" Suara seorang pria menggema di tempat Fang Yin melintas.
"Ampun, Tuan. Kamu boleh mengambil harta kami tapi jangan bunuh kami!" Terdengar suara orang lain sedang meminta ampun.
__ADS_1
Fang Yin menyamarkan hawa kehadirannya dan melihat apa yang terjadi dari dekat.
Terlihat lima orang bandit sedang menghadang rombongan pedagang yang berjumlah sekitar sepuluh orang. Tujuh di antaranya terluka parah dan tersisa tiga orang yang kini sedang dikepung oleh kelima bandit itu.
"Tidak ada gunanya kalian hidup. Bukankah lebih baik kalian mati daripada terlunta-lunta di tempat ini! Sudah terima saja kematianmu!" Bandit itu mengayunkan pedangnya dan bersiap untuk menebas leher salah satu dari mereka.
Sreeeett!
"Aaarrggh!" pekik bandit itu menjatuhkan pedangnya.
Tangan kirinya memegangi tangan kanannya yang terkena jarum beracun. Dia juga harus merasakan perih luar biasa ketika pedang yang jatuh itu mengenai kakinya sendiri.
Rupanya bandit itu memiliki pil penawar, menyadari racun dari jarum terus menyebar, dia segera menelan pil itu.
"Siapa yang berani bermain-main denganku?! Tunjukkan wujudmu sekarang!" teriak bandit itu.
Keempat rekannya juga terlihat waspada. Berjaga-jaga jika dia juga mendapatkan lemparan jarum beracun juga.
__ADS_1
****
Bersambung ....