
Kerusuhan di perbatasan bagian barat terus berlanjut. Sebenarnya jarak perbatasan dengan istana Benua Timur tidak terlalu jauh. Jika di tempuh dengan berkuda bisa dicapai dalam waktu setengah hari saja.
Utusan yang menjadi mata-mata kembali ke istana pada tengah hari. Diperkirakan dia akan sampai di istana saat matahari terbenam dengan sekali istirahat untuk memberi makan kuda dan juga dirinya.
Sebuah kedai yang cukup ramai menjadi pilihan utusan itu untuk singgah. Di luar kedai juga terlihat dua orang pawang kuda yang sedang merawat seekor kuda milik seseorang. Utusan datang mendekatinya lalu turun dari atas kudanya.
"Selamat sore, Tuan. Aku ingin seseorang memberi makan dan merawat kudaku. Dimana aku bisa menemukannya?" tanya utusan.
Kedua orang yang merawat kuda menatap ke arah utusan. Mereka bisa merawat dua kuda secara bersamaan dalam satu waktu.
"Kami bisa merawat kuda Anda bersama dengan kuda ini. Anda bisa meninggalkannya jika berkenan," ucap pria itu.
"Baiklah, terimakasih. Aku ingin pergi ke kedai di depan terlebih dahulu dan menunggu Anda selesai merawat kuda-kuda ini," ucap utusan sembari menyerahkan tali kudanya.
"Silakan, Tuan." Pria perawat kuda mengambil tali dari tangan utusan.
Pengunjung kedai yang dituju utusan sangat ramai. Seluruh meja di ruangan penuh dengan pengunjung. Dia terus mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat kosong hingga tiba-tiba dia mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Yuan! Yuan!" panggilnya.
Utusan memutar tubuhnya untuk mencari siapa yang memanggilnya barusan. Kedai yang cukup ramai membuatnya kesulitan. Dia baru menemukannya setelah beberapa saat mencari.
Tidak di sangka dia akan bertemu dengan orang dari istana Kekaisaran Benua Timur juga di sini. Tanpa ragu-ragu Yuan berjalan menghampirinya dan duduk di meja yang sama dengannya.
"Tuan Huang Ran, apakah Anda sendirian saja?" tanya Yuan setelah dia duduk.
"Aku sendirian saja. Ini hari kedua aku keluar dari istana dan akan kembali setelah ini," jawab Huang Ran.
Yuan mengangguk.
"Saya juga sedang menuju ke istana. Ada sebuah kabar penting yang harus saya sampaikan." Yuan dan Huang Ran berbicara dengan suara pelan.
"Aku ingin mendengarnya tapi tidak di sini. Kita bisa membicarakannya dalam perjalanan," ucap Huang Ran sambil menerima pesanannya.
Melihat pesanan Yuan belum datang, dia tidak segera memakannya.
"Silakan makan terlebih dulu, Tuan. Pesananku pasti juga akan segera sampai." Yuan tidak ingin membuat Huang Ran menunggu.
"Tidak apa. Makanan ini juga terlalu panas saat pesanmu datang pasti lebih mudah untuk dimakan."
Yuan mengangguk.
Tidak lama kemudian pesanannya juga datang. Mereka pun memakannya bersama-sama.
Pengunjung kedai yang sangat ramai terus berdatangan. Mereka rela mengantri untuk mendapatkan makanan yang mereka inginkan. Cukup lama keadaan berlangsung baik tetapi tiba-tiba seseorang datang menyerobot antrian dan terjadi keributan.
Dua pria yang berebut berkelahi di dalam kedai. Yuan ingin datang melerai tetapi Huang Ran menghentikannya.
"Jangan libatkan dirimu dengan urusan yang tidak penting. Kita harus tetap menjaga kerahasiaan identitas kita." Huang Ran meletakkan alat makan lalu berdiri dari duduknya.
Yuan menurut. Dia mengikuti apa yang dilakukan oleh Huang Ran. Sebagai orang baru dalam pekerjaannya, dia masih perlu bimbingan dan banyak belajar dari seniornya.
Mereka berdua keluar dari kedai untuk menghindari keributan. Kuda-kuda mereka juga sudah selesai dengan kebutuhannya. Rupanya kuda Huang Ran juga dirawat oleh orang yang sama dengan yang merawat kuda Yuan.
Huang Ran memberikan sejumlah koin emas untuk perawat kuda dan membayar biaya perawatan untuk kuda milik Yuan sekalian.
"Terimakasih, Tuan," ucap Yuan sambil menyatukan kedua tangannya.
"Tidak perlu sungkan, ini bukan hal yang besar." Huang Ran melompat ke atas punggung kudanya.
__ADS_1
Tidak ingin tertinggal, Yuan pun mengikutinya. Mereka memacu kuda dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu. Saat telah jauh dari pemukiman penduduk, Huang Ran memelankan laju kudanya.
Seperti yang dikatakannya di kedai, Huang Ran ingin mendengar berita penting yang dibawa oleh Yuan. Setelah memastikan tidak ada orang lain di sekeliling mereka, Huang Ran bersiap untuk bertanya pada Yuan.
"Yuan, aku ingin tahu berita yang kamu bawa. Setelah sampai di istana aku akan langsung menyampaikannya pada Kaisar Heng."
Yuan melihat ke kanan kiri untuk kembali memastikan keadaan aman. Sebagai seorang mata-mata pilihan dia sangat berhati-hati. Dia mulai bercerita setelah benar-benar yakin tidak ada orang lain yang ikut mendengarkan ceritanya.
"Keadaan di perbatasan barat sangat genting, Tuan. Mereka kesulitan untuk mendapatkan pasokan makanan dan dilanda kelaparan. Ada seseorang yang sengaja menghentikan pasokan bahan makanan ke wilayah itu." Yuan melihat kejadian ini secara langsung.
"Apakah kamu tahu siapa dalang dibalik masalah ini?" tanya Huang Ran.
"Aku tidak tahu pasti siapa pemimpin pemberontakan ini tetapi aku tahu di mana markas mereka. Anggotanya terus bertambah setiap hari. Mereka menarik dukungan masyarakat dengan memberikan bahan makanan. Semakin hari kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan yang dijalankan oleh Kaisar Heng semakin menurun karena hasutan mereka."
Huang Ran terdiam mendengarkan cerita dari Yuan. Keadaan ini harus segera di atasi sebelum pengaruh dari pemberontak semakin meluas. Pada akhirnya masyarakat kalangan bawah yang akan menjadi korban.
Mereka tidak sadar jika saat ini hanya diperalat saja oleh kelompok pemberontak. Makanan yang mereka terima itu memang hak mereka. Namun, mereka tidak tahu jika semua itu berasal dari pemerintah.
"Aku akan menyampaikan berita ini pada Kaisar Heng. Kamu bisa beristirahat setelah sampai di istana. Untuk misi selanjutnya aku akan datang menemuimu untuk mengabarkannya." Huang Ran kembali berbicara setelah beberapa saat terdiam.
"Baik, Tuan."
Tidak ada lagi yang perlu untuk dibicarakan. Huang Ran dan Yuan memacu kudanya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di istana.
Seperti yang diperkirakan, mereka sampai sesaat setelah matahari terbenam. Lampu-lampu yang terpasang di jalanan kota sudah menyala. Penjaga gerbang istana langsung mengenali keduanya saat mereka menunjukkan token khusus kekaisaran.
Yuan dan Huang Ran mengambil jalan terpisah. Tidak ingin membuang banyak waktu, Huang Ran ingin segera menemui Jian Heng sedangkan Yuan beristirahat di kediamannya.
Jian Heng masih berada di ruang kerjanya ketika Huang Ran datang. Pengawal pribadinya mengantarkan Huang Ran kepadanya. Setelah sampai di depan pintu, pengawal itu meninggalkannya dan kembali untuk bertugas.
"Selamat malam, Yang Mulia." Huang Ran memberi salam.
Pintu ruangan Jian Heng dalam keadaan terbuka sehingga dia bisa melihat dengan jelas siapa orang yang datang.
Huang Ran memberi hormat sebentar lalu bersiap untuk melapor. Pertama dia melaporkan misi yang dijalankannya. Setelah itu dia melaporkan berita tentang kerusuhan yang terjadi di perbatasan.
Jian Heng mendengarkannya dengan seksama dan memikirkan langkah yang akan diambilnya. Namun, dia tidak bisa mengambil keputusan sebelum membicarakannya bersama Fang Yin dan para Dewan Pemerintahan.
"Kamu bisa beristirahat sekarang. Kita akan bertemu di ruang pertemuan besok. Masalah ini harus diselesaikan dengan segera. Namun, aku tidak bisa mengambil keputusan saat ini. Aku tidak ingin masyarakat yang tidak tahu apa-apa akan menjadi korban dalam penangkapan para pemberontak," jelas Jian Heng.
"Baik, Yang Mulia." Huang Ran memberi hormat lalu berjalan meninggalkan ruang kerja Jian Heng.
Sikap bijaksana Jian Heng membuatnya terkagum-kagum. Dia hanya ingin menangkap pemberontak saja tanpa melukai masyarakat yang tidak berdosa. Sepintas memang terdengar sederhana tetapi dalam prakteknya tentu ini tidak akan mudah.
Akan sulit untuk meyakinkan masyarakat yang telah terhasut oleh pemberontak. Mereka tidak mengetahui hal yang sebenarnya dan tentunya akan rela melakukan apa saja untuk membela pemberontak yang mereka anggap sebagai pahlawan.
Seringkali Jian Heng berada di ruang kerjanya hingga larut malam. Kali ini dia ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih awal. Dia tidak sabar ingin menyampaikan kabar yang dibawa oleh Huang Ran kepada Fang Yin.
Beruntung pekerjaannya hari ini tidak terlalu banyak. Jian Heng bisa pulang lebih awal ke istananya.
"Kak Heng, kamu sudah datang." Fang Yin sedang makan ketika Jian Heng datang. Dia meletakkan alat makannya dan berjalan menyambut suaminya.
"Kenapa kamu tidak melanjutkan saja makan malammu." Jian Heng meletakkan mantel yang baru saja dilepaskannya.
"Tidak apa. Makananku tidak akan basi hanya karena kutinggal sebentar." Fang Yin menggamit lengan Jian Heng dan membawanya duduk di sampingnya.
Jian Heng merasa lapar saat melihat hidangan di hadapannya. Dia hanya makan sedikit saja di ruang kerjanya.
Ekspresi wajah Jian Heng tidak luput dari pengamatan Fang Yin. Meskipun tidak mengatakannya, Jian Heng terlihat ingin mencicipi makanan di hadapannya.
__ADS_1
"Apakah Kak Heng mau aku ambilkan makan?" tanya Fang Yin.
"Aku sudah makan tadi. Kalau boleh, aku ingin memakan beberapa suap saja."
Fang Yin akan meraih mangkuk kosong tetapi tangannya dipegang oleh Jian Heng.
"Suapi aku dari mangkukmu." Jian Heng ingin makanan yang ada di mangkuk Fang Yin.
"Baiklah!" Fang Yin tersenyum.
Mereka bergantian makan dari mangkuk yang sama. Beberapa kali Fang Yin menambahkan makanan hingga keduanya merasa benar-benar kenyang. Mereka makan dengan baik dan membuat tubuh keduanya terlihat lebih berisi.
"Yin'er, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Jian Heng setelah mereka selesai dengan makanannya.
"Kelihatannya sangat penting. Apakah terjadi sesuatu?" tanya Fang Yin penasaran saat melihat Jian Heng yang tampak serius.
Jian Heng menyampaikan berita yang dibawa oleh Huang Ran pada Fang Yin mengenai masalah yang terjadi di perbatasan barat. Sebelum membicarakannya dengan Dewan Pemerintahan, dia ingin mendengar lebih dulu pendapat Fang Yin sebagai bahan pertimbangan.
"Berani sekali dia melawanku. Kita tidak perlu melibatkan siapapun untuk menyelesaikan masalah ini. Aku akan turun langsung untuk menangkap mereka." Fang Yin mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Tidak! Kamu tidak bisa melakukannya. Ada tugas yang lebih penting dari itu. Kita harus mempercayai pasukan yang kita miliki. Dengan begini kita juga bisa mengukur kekuatan pasukan yang kita miliki."
Fang Yin terdiam mendengar penjelasan Jian Heng. Jiwa petarungnya tidak bisa dikekang oleh apapun tetapi semua ucapan Jian Heng memang benar. Dia tidak bisa mengatasi seluruh masalah yang terjadi seorang diri.
Tidak menutup kemungkinan masalah akan terus timbul. Mungkin tidak hanya satu dua mengingat wilayah Kekaisaran Benua Timur yang luas. Ini baru awal dirinya memimpin, masih banyak hal yang perlu untuk dipelajari hingga ke wilayah pedalaman.
"Baiklah! Kita akan mempelajari lokasi dan kebiasaan orang-orang yang tinggal di wilayah itu terlebih dahulu. Jangan sampai ada kesalahan. Kita membutuhkan informasi yang lengkap sebelum mengambil tindakan." Fang Yin akhirnya menurut pada Jian Heng.
"Ini yang aku inginkan darimu. Huang Ran menerima laporan dari seorang utusan yang kita kirim untuk memantau wilayah itu. Besok kita bisa memanggilnya untuk memberikan informasi yang kita butuhkan. Selain itu, kita juga harus meminimalisir korban jiwa dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya."
"Itu akan sulit mengingat pemberontak telah mencuci otak masyarakat yang tinggal di sana untuk melawan pemerintah. Kita tidak bisa memilih korban sesuai yang kita mau tetapi tergantung seperti apa keadaannya nanti," ucap Fang Yin dengan sorot matanya yang tegas.
Jian Heng terlihat sedih. Bisa dipastikan akan ada pertempuran berdarah yang mungkin akan memakan banyak korban jiwa jika penduduk perbatasan barat tetap memihak pemberontak dan melawan pasukan dari kekaisaran.
"Kak Heng jangan khawatir. Aku juga sedang berpikir bagaimana untuk mengurangi korban. Sebaiknya kita beristirahat dulu malam ini." Fang Yin melihat wajah lelah Jian Heng.
Keduanya akan membahas masalah ini keesokan harinya dan memilih untuk beristirahat. Mereka sangat mengantuk tetapi mata masih enggan untuk terpejam. Jian Heng terlihat gelisah dan beberapa kali membolak-balikkan tubuhnya.
"Yin'er, apakah kamu belum merasakan tanda-tanda akan mengandung anak kita?" tanya Jian Heng merasa penasaran.
Fang Yin menggeleng.
"Belum genap sebulan kita menikah, bersabarlah," ucap Fang Yin.
"Aku tidak sabar lagi untuk dipanggil ayah. Sepertinya itu akan terdengar sangat manis." Jian Heng tersenyum sambil menatap ke arah Fang Yin.
Untuk menutupi rasa malunya Fang Yin memeluk Jian Heng dan menyembunyikan wajahnya dengan membenamkannya di dada Jian Heng. Sebenarnya dia juga sangat ingin mengandung secepatnya. Sebagai seorang wanita yang sudah menikah, menjadi ibu adalah sebuah kebanggaan tersendiri.
Angan-angan yang manis mengepakkan khayalan mereka. Perlahan mata mereka terpejam membawa bayangan indah yang mereka dambakan. Senyum menghiasi wajah tenang yang terlelap dalam mimpi.
Sejenak setelah terlelap, Fang Yin seperti berjalan di dunia yang asing di alam bawah sadarnya. Pemandangan di tempatnya berada saat ini tidak jauh beda dengan keadaan di dunia manusia. Perbedaannya daratan tempatnya berpijak tidak terlalu luas dan seperti sebuah pulau kecil yang menggantung di langit.
Fang Yin berjalan berkeliling dan mendapati awan putih mengelilingi pulau kecil yang dipijaknya. Dia melihat matahari yang sama seperti yang biasa dia lihat setiap harinya. Hanya saja udara ditempat ini terasa lebih dingin.
Tubuhnya merasakan esensi energi yang cukup besar pada sebuah titik. Tempat itu tidak jauh dari tempatnya berada saat ini. Namun, dia tidak bisa melihat dengan jelas karena kabut yang membatasi jarak pandangnya.
Kakinya melangkah menghampiri sumber energi yang membuatnya merasa penasaran. Samar-samar terlihat cahaya bersinar di udara. Sepertinya sumber itu berada di tempat yang tinggi.
'Aku harus berhati-hati. Meskipun esensi energinya sangat besar, bisa saja mengandung bahaya. Aku harus tetap waspada.' Fang Yin bergumam dalam hati dan memperlambat langkahnya.
__ADS_1
****
Bersambung ....