
Fang Yin tersenyum saat melihat Qin Yushang yang datang memberi bantuan. Meskipun tidak membutuhkan itu tetapi dia sangat menghargainya. Setidaknya pemimpin bukit Giok Hitam telah menyadari kesalahannya dan berpihak padanya.
Qin Gongni menatap Qin Yushang dengan penuh amarah. Tangannya mendorong ke depan dan menyongsong serangan Qin Yushang. Kedua energi mereka bertemu dan menimbulkan ledakan yang sangat keras.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Fang Yin, dia mendekati keempat tetua yang berhasil selamat. Dengan gerakan cepat dia menyelesaikan proses pembersihan racun sihir itu.
"Yin'er, apa yang bisa kami lakukan untukmu?" tanya Jian Heng menghampiri Fang Yin bersama Guan Xing.
"Energi mereka cukup terkuras. Entah sudah berapa banyak wanita iblis itu menyerapnya. Setelah racun mereka bersih, berikan tambahan energi untuk mereka," jelas Fang Yin.
Jian Heng dan Guan Xing mengangguk secara bersama-sama. Mereka menunggu Fang Yin menyelesaikan bagiannya.
Keempat tetua itu berhasil selamat dan kembali menjadi manusia biasa. Mereka memberi hormat pada Fang Yin lalu mengucapkan terimakasih. Tubuh mereka terlihat lebih segar setelah terbebas dari racun sihir.
Pertarungan antara Qin Yushang dan Qin Gongni masih terus berlangsung. Mereka memiliki kekuatan yang seimbang, keduanya sama-sama menyerang dengan penuh emosi. Kekecewaan Qin Yushang membuat kebencian di hatinya semakin menggunung.
Dalam waktu sekejap, tipu daya Qin Gongni telah terbongkar. Qin Yushang berharap bisa melenyapkannya sebelum tengah malam. Jika sampai Qin Gongni menyerap seluruh energi dari altar suci maka tidak ada harapan bagi mereka untuk selamat.
"Nona! Bisakah Anda membuka segel yang memanipulasi energi dari altar suci?" tanya Qin Yushang pada Fang Yin.
Mendengar hal itu Fang Yin kembali melompat ke udara mendekati Qin Yushang dan Qin Gongni. Sementara itu Jian Heng dan Guan Xing membantu empat tetua yang belum pulih sepenuhnya.
"Akan kucoba." Fang Yin bergerak menuju ke arah cahaya yang memancar ke langit. Namun, Qin Gongni tidak tinggal diam, dia menyerang Fang Yin dengan lemparan energinya. Tidak sampai di situ saja, dia juga mengejarnya dan mencoba untuk menghalanginya.
Fang Yin berusaha untuk menghindar tetapi serangan-serangan itu cukup mematikan. Dia memilih untuk menghadapi Qin Gongni terlebih dahulu ketimbang memikirkan pancaran energi yang akan terserap segelnya.
Wajah Qin Yushang terlihat sangat panik. Waktu sudah hampir mendekati tengah malam, tetapi pertarungan antara Fang Yin dan Qin Gongni belum juga berakhir. Dia terus saja melihat ke arah cahaya yang memancar ke langit.
Di dalam aula,
Tetua Jung dan yang lainnya merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Mo Huan. Kakek tua itu berdiri mematung didepan altar suci. Mulutnya terlihat bergerak-gerak seperti sedang mengucapkan sesuatu.
Tetua Jung meminta Wong Li untuk pergi mendekatinya. Kakek Mo Huan dikenal sebagai seorang yang tuna rungu. Usianya sudah sangat tua dan tidak ada yang tahu berapa tepatnya. Anak cucunya sudah banyak yang meninggal dan sebagian lagi merawatnya.
"Kek, Kakek Mo! Turunlah! Apa yang kamu lakukan di sana. Kita semua tetap akan menyerap energi ini meskipun tidak berdiri di atas altar suci," panggil Wong Li dengan suara yang sedikit keras.
Mo Huan tidak bergeming. Dia tetap berdiri dan mengucapkan sesuatu di depan pancaran cahaya energi dari pusat altar suci itu. Wong Li dan yang lainnya tidak tahu jika ada sebuah segel penyerap energi yang dipasang oleh Qin Gongni di atas aula.
Entah mantra apa yang dibaca oleh Mo Huan, pancaran energi dari altar suci itu tiba-tiba padam. Semua orang terkejut melihatnya dengan tatapan menyalahkan.
Kakek Mo berjalan menuruni altar dengan wajah tak berdosa. Dia turun dengan hati-hati dan menatap aneh semua orang yang berdiri mengelilinginya.
"Ada apa ini? Mengapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Mo Huan.
Tetua Jung maju ke depan. Setelah sampai dihadapannya, dia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan mulutnya ke telinganya.
"Apa yang kakek lakukan tadi?" tanya Tetua Jung.
Kakek Mo Huan meminta Tetua Jung untuk mengulangi pertanyaannya. Tetua Jung pun melakukannya, dia mengulangi pertanyaannya dengan suara yang lebih keras.
Kakek Mo Huan mengangguk lalu menjawab, "Aku hanya mendengar perintah untuk membatalkan pembagian energi."
Jawaban yang menurut sebagian orang tidak masuk akal. Semua orang yang ada di sana memiliki pendengaran yang normal dan tidak ada satupun di antara mereka yang mendengarkan perintah itu. Mereka berpikir jika Mo Huan sedang berhalusinasi dan melakukan hal sesuai khayalannya saja.
Tidak ada yang perlu disesalkan, semua telah terjadi. Mau tidak mau mereka harus menunggu kesempatan lain satu tahun yang akan datang untuk melaksanakan upacara ini.
Para penduduk bukit Giok Hitam berjalan keluar meninggalkan aula. Sebelum mereka mencapai pintu keluar, Qin Gongni dan Fang Yin datang. Qin Yushang menyusul mereka di belakang.
Mereka kembali mundur untuk menghindari kemarahan Qin Gongni. Wanita ular itu terus saja melemparkan energi secara membabi buta. Ledakan-ledakan yang dihasilkan dari energi itu menimbulkan retakan didinding dan lubang di lantai.
Fang Yin sedang berpikir untuk mengatasi keadaan. Jika dirinya balas menyerang maka kerusakan yang ditimbulkan akan semakin besar.
"Aku harus melindungi mereka dengan Jurus Perisai Es," bisiknya pada dirinya sendiri.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Fang Yin pun melemparkan Qi Awan Salju yang membentuk sebuah dinding es transparan. Penduduk bukit Giok Hitam aman berada dalam kurungan es itu sementara Fang Yin merasa tenang untuk menghadapi Qin Gongni.
__ADS_1
Qin Gongni terperanjat saat melihat Fang Yin mengeluarkan Qi Awan Salju. Dia bergerak mundur seakan ada trauma yang mendalam ketika dia melihat bongkahan-bongkahan es di bawah kaki Fang Yin.
Suhu ruangan di dalam aula itu seketika menjadi dingin. Fang Yin menyunggingkan senyum saat membaca ketakutan di wajah Qin Gongni.
'Yang Hui, apa pendapatmu tentang ini?' tanya Fang Yin.
'Lanjutkan saja. Sepertinya ini adalah kelemahannya. Saat ini tubuhnya sudah melemah dan aku merasakan kekuatan jiwanya pun kian memudar. Serang dia dengan Qi Awan Salju.'
'Hmm.' Fang Yin sependapat dengan Yang Hui.
Penggunaan Jurus Badai Es akan memberikan efek yang besar bagi kehidupan disekitarnya. Fang Yin tidak akan melakukan itu, dia hanya akan memberikan serangan kristal-kristal es yang muncul dari Qi Awan Salju yang dia olah sebelum dilepaskan.
"Siapa kamu sebenarnya? Bagaimana bisa kamu menyimpan dua energi yang bertolak belakang di dalam tubuhmu?" tanya Qin Gongni sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Tubuhnya berdiri dengan terhuyung-huyung dan ular-ular yang hidup di kepalanya menjuntai dengan lemas. Uap berwarna hijau pekat keluar dari tubuhnya. Keadaannya terlihat sangat menyedihkan.
"Aku? Seharusnya kamu sudah tahu siapa diriku. Namun, sebelum jiwamu musnah, aku akan memberitahumu tentang siapa aku agar kamu tidak mati penasaran. Aku adalah Gu Fang Yin, putri Kaisar Gu dan pemegang seluruh Kitab Sembilan Naga yang berjumlah sembilan. Kedatanganku kemari untuk mencari giok pembuka kitab kesembilan. Apakah kamu mau berbaik hati untuk memberitahuku tentang di mana giok itu berada?" Fang Yin bergerak maju dan membuat Qin Gongni mundur selangkah demi selangkah untuk menjauhinya.
Qin Gongni menatap Fang Yin sambil terus menggeleng. Tubuhnya terasa kaku dengan adanya kristal-kristal es yang muncul di bawah kaki Fang Yin ikut terbawa ketika dia bergerak menghampirinya. Dalam keadaan yang terdesak seperti ini, dia tetap tidak ingin mengatakan rahasia besar yang dia ketahui sekalipun dirinya harus kehilangan jiwanya.
"Baiklah! Kamu mengatakannya atau tidak aku akan tetap mendapatkannya." Kilat kekejaman di mata Fang Yin terlihat sangat menakutkan. Kuku-kukunya menajam dengan aura dingin yang menyelimutinya. Saat dia mengayunkan tangannya untuk mencabik tubuh Qin Gongni, Tetua Ming berteriak padanya untuk mencegahnya.
Di belakangnya tiga tetua lain bersama Jian Heng dan Guan Xing juga terlihat panik. Fang Yin menatap mereka dengan keheranan. Kewaspadaannya menurun seiring dengan itu sehingga keadaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Qin Gongni. Wanita ular itu diam-diam menyusun strategi untuk memberikan serangan mematikan.
Dengan sisa-sisa kemampuan yang dimilikinya, Qin Gongni mengambil seluruh esensi racun dari ular-ular yang hidup di kepalanya. Dengan paduan sihir racun itu membentuk sebuah bola energi berwarna hijau. Ular dikepalanya menghilang membuat kepalanya terlihat botak.
Proses ini berlangsung dengan sangat cepat sehingga Fang Yin yang sedang menunggu penjelasan Tetua Ming tidak menyadarinya. Melihat serangan Qin Gongni telah dilepaskan, Jian Heng bergerak dengan cepat dan menyambar tubuh Fang Yin ke arah yang aman.
Lemparan bola energi yang dilepaskan oleh Qin Gongni terus mengejar mereka hingga keduanya melayang di atas altar suci. Tetua Ming dan tiga tetua lainya mengepung Qin Gongni dan membuat formasi pengurung jiwa.
Bola hijau Qin Gongni terhenti dan berada tepat di atas kepala Fang Yin dan Jian Heng. Dengan gerakan cepat Guan Xing melemparkan energinya untuk menghantam bola hijau beracun itu dan membuatnya pecah di dinding aula.
Hawa racun sihir yang pekat keluar dari pecahan bola hijau sehingga membuat Fang Yin segera mengeluarkan api hitam untuk memusnahkannya.
Qin Gongni menjerit histeris ketika merasakan tubuhnya seperti terbakar. Formasi pemusnah jiwa dari empat tetua sudah cukup untuk memusnahkannya. Fang Yin dan Jian Heng hanya melihatnya dari atas altar.
Jian Heng dan Guan Xing menoleh ke belakang dan menatap Fang Yin heran. Mereka kembali mendekatinya.
"Yin'er, apa ada sesuatu yang aneh?" tanya Guan Xing.
Fang Yin menggeleng tanpa menoleh pada Guan Xing. Dia tetap fokus melihat pahatan relief di atas permukaan altar. Dia merasa tidak asing dengan bentuk ukiran itu.
Guan Xing dan Jian Heng saling berpandangan. Mereka menduga jika Fang Yin menemukan sesuatu yang aneh pada altar itu.
Di sisi lain, keempat tetua telah berhasil memusnahkan jiwa Qin Gongni yang telah memperdaya penduduk bukit Giok Hitam. Mereka kemudian menyusul Fang Yin, Jian Heng dan Guan Xing.
Setelah keadaan benar-benar aman, Fang Yin menarik kembali Jurus Perisai Es. Penduduk bukit Giok Hitam merasa lega akhirnya bisa terbebas dari pengaruh racun sihir Qin Gongni.
Qin Yushang sebagai pemimpin mereka memimpin penghormatan pada Fang Yin, Guan Xing dan Jian Heng. Mereka merasa senang telah terlepas dari sihir yang memperbudak mereka selama ribuan tahun.
"Tuan, bolehkah aku bertanya padamu?" tanya Fang Yin pada Qin Yushang.
"Silakan, Nona! Dengan senang hati kami akan menjawab sesuai yang kami tahu."
Fang Yin memutar tubuhnya menghadap ke arah altar dan menunjuk altar puncak.
"Apa yang ada di dalam altar ini? Aku seperti pernah melihat ukiran seperti ini."
Qin Yushang berjalan mendekati Fang Yin dan menjelaskan tentang altar suci. Altar itu sudah ada semenjak pemimpin yang pertama mendiami tempat ini. Namun, ritual tumbal darah baru dilaksanakan pada masa kepemimpinan generasi ke 70. Tepatnya setahun setelah Qin Gongni dikurung di tempat itu.
Fang Yin melirik ke arah prasasti yang telah hancur oleh tetesan darahnya. Dia turun ke sana lalu memeriksa jejak energi yang tertinggal di sana.
Saat telapak tangannya menyentuh dasar prasasti itu, Fang Yin tertarik masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Dirinya berdiri di sebuah tempat asing yang tidak dikenalnya.
"Tempat apa ini?"
__ADS_1
Fang Yin tidak melihat siapapun di sana. Dia lalu berjalan mendekati sebuah pelataran batu yang mirip seperti batu altar suci. Auranya juga sama persis dengan aura energi yang keluar dari sana.
Untuk melihatnya secara jelas, Fang Yin berjalan memutarinya tanpa berani menyentuhnya. Permukaan batu itu masih rata tanpa ukiran seperti yang dia lihat di aula.
Di tengah kebingungannya itu, seseorang datang menghampiri Fang Yin. Tidak diketahui dari arah mana dia datang. Tiba-tiba saja dia sudah muncul dan berdiri di hadapannya.
"Selamat datang Dewi Naga," ucapnya sambil menyatukan kepalan tangan kanan pada telapak tangan kirinya sebagai penghormatan
Fang Yin terkejut mendengar pria itu mengetahui tentang identitasnya meskipun baru bertemu. Lebih terkejut lagi saat Fang Yin mengamati wajahnya. Pria itu terlihat sangat mirip dengan Qin Yushang.
"Terimakasih atas sambutannya." Fang Yin membalas penghormatannya.
"Aku adalah kekuatan jiwa Qin Shao Shao, orang yang pertama kali menemukan tempat ini. Aku mengikatkan rohku pada batu ini dan menunggu seseorang yang datang untuk mengambil giok hitam yang dititipkan padaku."
Fang Yin menatap pria yang mengaku bernama Qin Shao Shao dengan tatapan tidak mengerti. Dia berpikir apakah orang yang ditunggu itu adalah dirinya. Bibirnya bergerak-gerak seperti ingin berbicara tetapi tidak tahu apa yang akan dia ucapkan.
Kekuatan jiwa Qin Shao Shao tersenyum pada Fang Yin. Dia berjalan dan berdiri dalam jarak yang dekat pada batu yang mirip dengan altar itu. Tangan kanannya menjulur di atasnya dengan telapak tangan menghadap ke bawah.
Batu itu pecah dan munculah sebuah giok berwarna hitam berbentuk lonjong. Sama persis dengan pembuka kunci Kitab Sembilan Naga bintang sembilan.
Mulut Fang Yin ternganga melihat benda yang dicarinya muncul dihadapannya. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Qin Shao Shao berjalan menghampirinya dan memberikan giok itu padanya.
Fang Yin menerimanya dengan tangannya yang bergetar. Aura energi dari giok hitam itu begitu besar sehingga membuatnya harus melapisi tangannya dengan Qi.
"Tugasku sudah selesai, setelah ini giok hitam akan menjadi milik Dewi Naga." Qin Shao Shao membungkukkan badannya di hadapan Fang Yin.
"Tunggu! Aku ingin menanyakan banyak hal padamu. Kamu jangan pergi dulu!" larang Fang Yin.
"Dengan senang hati, Dewi Naga."
Fang Yin menanyakan tentang asal usul giok hitam dan batu yang menjadi altar suci keturunan Qin Shao Shao dan keluarganya.
Qin Shao Shao menjelaskan jika giok hitam itu dia jaga dari seorang pertapa yang menyaksikan kematian Dewi Naga sebelumnya. Pertapa itu kemudian menitipkan benda ini pada Qin Shao Shao. Dia mengijinkan Qin Shao Shao dan keluarganya untuk menyerap energinya tetapi tidak boleh menyalahgunakannya.
Agar tidak ada yang menyentuhnya, Qin Shao Shao menyembunyikan giok hitam dengan segel batu. Bukan itu saja, Qin Shao Shao juga melindungi wilayah di sekelilingnya dengan segel berdinding dimensi agar tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana.
Keluarga Qin Shao Shao terus berkembang dan menamakan wilayah tempat tinggal mereka itu dengan nama bukit Giok Hitam. Segel pelindung yang ditanamkan oleh Qin Shao Shao membuat wilayah ini terisolasi dari dunia luar. Namun, dia meninggalkan sebuah token yang bisa digunakan untuk menembus dinding tak terlihat itu. Tidak sembarangan orang boleh memegang dan menggunakan token itu.
Semakin hari keluarga Qin terus berkembang. Mereka tetap setia untuk menjaga Giok Hitam itu dan tidak memasukkan orang luar secara sembarangan hingga seorang pemimpin pemegang token keluar dari wilayah bukit Giok Hitam.
Dia bertemu dengan wanita yang sangat cantik tetapi berhati iblis yang tidak lain adalah Qin Gongni. Selain cantik dia juga hebat dan ahli dalam bidang pengendalian racun. Dia kebal dari racun karena menyatu dengan roh pelindung ular legendaris.
Pemimpin bukit Giok Hitam itu jatuh cinta padanya dan membawanya ke bukit Giok Hitam. Merasakan aura energi yang besar dari Giok Hitam jiwa rakus Qin Gongni menguasainya. Dia mempelajari ilmu sihir tingkat tinggi dan mencuci otak penduduk bukit Giok Hitam. Mereka semua terperdaya.
Qin Gongni menanamkan racun sihir pada penduduk bukit Giok Hitam dan membunuh siapa saja yang melawan perintahnya. Dengan jiwa murni penduduk yang mati dan racun sihir yang ditanamkan di tubuh mereka membuatnya mampu menerobos ke ranah dewi tingkat awal.
Pemimpin ke 70 yang merupakan suami Qin Gongni baru menyadari jika ternyata dia menikahi seorang iblis. Dengan bantuan para tetua yang belum terpengaruh racun sihirnya, dia mengurung Qin Gongni di dalam sebuah prasasti.
Jiwanya masuk dan terkurung ke dalam prasasti tetapi raganya meracuni pemimpin itu dan para tetua yang membentuk formasi pengikat jiwa bersamanya.
Pemimpin selanjutnya adalah keturunan adik laki-lakinya yang sudah menjadi manusia hijau bersama penduduk yang lain. Seorang tetua yang telah teracuni pikirannya menganggap kematian pemimpin mereka bersama para tetua adalah sebuah pengorbanan untuk Qin Gongni dan menjadikan hari itu sebagai awal mula terjadinya tumbal darah di atas prasasti Qin Gongni.
Tanpa disadari ritual ini membuat jiwa Qin Gongni tetap hidup dan menunggu untuk dibangkitkan oleh darah yang terhubung dengan giok hitam. Fang Yin memiliki kekuatan yang terhubung langsung dengan giok itu sebagai Dewi Naga sehingga mampu membangkitkannya.
Jika Qin Gongni berhasil mengalahkannya dan mengambil tubuhnya maka dia akan menjadi manusia paling kuat dengan dua roh pendamping.
Cerita Qin Shao Shao selesai. Perlahan kekuatan jiwa Qin Shao Shao mulai memudar. Sebelum menghilang dia mentransfer ingatan tentang cara membuka segel dimensi pelindung ke dalam inti pikiran Fang Yin.
Fang Yin tersadar dan kembali ke alam nyata. Tubuhnya jatuh terduduk ke belakang karena terlalu lama berjongkok.
"Yin'er!" teriak Jian Heng dan Guan Xing hampir berbarengan.
Mereka mendekat dan Jian Heng membantunya berdiri.
****
__ADS_1
Bersambung ...