
Selir Tang meminta Jian Heng untuk duduk dan membiarkannya berjalan mendekati pintu. Dengan berjingkat, dia berjalan mengendap-endap mendekati pintu. Saat pintu terbuka dengan tiba-tiba, orang yang berada di luar terkejut dan reflek mengambil kuda-kuda.
“Xi Changyi!” seru Selir Tang yang juga terkejut dengan keberadaan Putra Pertama.
Orang yang dipanggil Xi Changyi merasa lega setelah melihat Selir Tang baik-baik saja. Dia segera menurunkan kewaspadaannya dan bersikap biasa.
“Maaf, Yang Mulia. Aku pikir tadi ada penyusup. Tadi aku seperti mendengar suara pria tertawa di sekitar sini.”
Changyi menggerakkan kepalanya ke kanan dan kekiri untuk melihat keadaan di dalam kamar Selir Tang.
“Masuklah!”
Hubungan Selir Tang dan semua putra Kaisar Xi sangatlah baik. Dia tidak membeda-bedakan mereka meskipun terlahir dari rahim yang berbeda.
Melihat Jian Heng berada di sana, Changyi langsung berjalan mendahului Selir Tang untuk menghampirinya.
“Heh, Anak Nakal! Berapa lama kamu tidak pulang?" Changyi memukul bahu Jian Heng lalu duduk di sebelahnya.
Jian Heng tersenyum. Lalu mengayunkan kepalan tangannya ke hadapan Changyi. Kepalan tangan mereka beradu dengan lembut.
"Kamu tidak pernah merasakan betapa indahnya dunia luar, Kakak. Aku yakin kamu pasti enggan pulang jika tahu rasanya."
Roman muka Changyi menjadi muram. "Sayangnya aku tidak memiliki keberanian seperti dirimu. Ayah pasti akan memberiku hukuman berat jika aku melanggar perintahnya."
Jian Heng tidak ingin membahas tentang ini lebih jauh. Dia memikirkan topik lain untuk dibicarakan. Setelah ini dia harus bersiap untuk menerima hukuman dari sang ayah.
"Apa kabar Kak Hao Xiang? Kalian masih suka berebut tempat latihan atau tidak?" Jian Heng bersikap seolah dia tidak akan mengalami hal yang buruk setelah ini.
"Kamu masih saja mengingatnya. Sungguh aku berpikir jika kamu telah melupakan kami."
Selir Tang membawakan minuman untuk kedua putranya. Di belakangnya dua orang pelayan membawa makanan untuk mereka. Jian Heng dan Changyi tidak menyadari kepergian ibunya hingga dia kembali.
"Mengobrolnya ditunda dulu. Makanlah!" Selir Tang mendorong piring-piring porselen berisi makanan ke hadapan mereka.
__ADS_1
Bukan hanya Jian Heng yang merasa lapar, Changyi yang baru selesai berlatih pun merasakan hal yang sama. Mereka berdua berlomba-lomba menghabiskan makanan itu.
Selir Tang menggeleng melihat tingkah putranya yang kekanak-kanakan tersebut. Di luar mereka terlihat tangguh dan berwibawa. Namun, ketika mereka berada di tengah-tengah keluarga, mereka sangat berbeda.
Waktu berlalu begitu cepat. Senja mulai turun, memaksa mereka untuk kembali ke villa masing-masing dan mengakhiri kehangatan di sore itu.
Selir Tang mengantar keduanya hingga di depan pintu. Muncul rasa khawatir di hatinya. Senyum kebahagiaan di wajahnya, sebentar lagi pasti akan menjadi air mata. Siap ataupun tidak, dia harus melihat Jian Heng dihukum oleh ayahnya.
Kabar kepulangan Jian Heng akhirnya sampai ke telinga Kaisar Xi. Dia memerintahkan ajudannya untuk memanggil Jian Heng setelah makan malam. Wajahnya yang tenang memang tidak menunjukkan kemarahan. Namun, sorot matanya memancarkan sebuah ketegasan.
Malam ini Permaisuri Han mempersiapkan jamuan istimewa untuk makan malam. Semuanya dia lakukan untuk menyambut kepulangan Jian Heng. Meskipun Kaisar Xi menganggapnya berlebihan, dia tetap tidak bergeming. Baginya, Xi Jian Heng sudah seperti putranya sendiri.
"Jangan terlalu keras pada putramu. Dia sudah dewasa sekarang. Bersikaplah lebih lembut atau kamu akan kehilangan dia selamanya." Permaisuri Han berbicara pada Kaisar Xi yang sedang duduk termenung di kamarnya.
Kaisar Xi hanya meliriknya sekilas lalu kembali berpaling melihat ke tempat kosong.
"Kamu tahu apa tentang mendidik anak. Dia seorang laki-laki, kelembutan hanya akan membuatnya lemah. Aku berencana untuk menikahkannya saja agar dia mau tinggal di istana." Suara Kaisar Xi terdengar berat dan bergetar.
Permaisuri Han tidak ingin ikut campur lebih dalam. Dia sangat mengerti bagaimana sifat suaminya. Sangat sulit dipengaruhi dan begitu keras kepala. Namun, sebenarnya dia sangat penyayang.
Mereka tidak saling berbicara lagi. Permaisuri Han membantu Kaisar Xi mengganti pakaiannya dan merapikan penampilannya. Meskipun hanya dihadiri oleh keluarga inti saja, dia harus terlihat berwibawa.
Di ruang perjamuan sudah menunggu empat orang putra dan dua selir Kaisar Xi. Si bungsu Hu Chu berlari kecil menghampiri ayahnya dan bergelayut di lengannya. Mereka sangat jarang bertemu meskipun berada dalam satu istana.
Suasana menjadi tegang. Tidak ada yang berani bersuara sebelum sang Kaisar duduk di kursi kebesarannya.
Jian Heng maju ke hadapannya lalu memberinya hormat. "Jian Heng memberi hormat untukmu ayah."
"Duduklah!"
Sikap lembut Kaisar Xi membuatnya curiga. Biasanya Kaisar Xi akan menunjukkan kemarahannya dengan mengacuhkannya. Akan tetapi, Jian Heng tidak ingin berpikir negatif.
Selir Tang dan Selir Liu saling berpandangan. Mereka tidak berani berspekulasi. Apa yang akan terjadi selanjutnya tidak bisa mereka perkirakan.
__ADS_1
Para pelayan menyajikan makanan di meja mereka masing-masing. Sebelum Kaisar Xi membuka percakapan, mereka tidak ada yang berani memulainya. Mereka memilih untuk menikmati makanan lezat di hadapannya sambil menunggu.
Tidak seperti sebelumnya, Changyi dan Jian Heng bersikap lebih sopan. Begitu juga dengan Hao Xiang yang sejak tadi menahan dirinya untuk tidak bicara. Dia merasa kedua saudaranya itu tidak adil padanya. Mereka diam-diam bertemu tanpa melibatkannya.
Selir Tang dan Selir Liu memandang keempat putranya. Kebersamaan mereka membuat hati keduanya merasa sejuk. Mereka berharap keadaan ini akan terus berlanjut.
Sesekali Kaisar Xi melirik ke arah Jian Heng. Diam-diam dia terus mengamati perubahan fisik putranya itu. Dia merasakan aura energi yang begitu kuat dari tubuhnya. Kekuatannya melebihi Changyi dan Hao Xiang.
Setelah selesai makan malam, Kaisar Xi membawa keluarga ke aula istana.
Kecemasan mulai menyelimuti hati Selir Tang. Sebenarnya bukan hanya dia saja, semua yang berada di ruangan itu terlihat tegang. Mereka berharap Kaisar Xi tidak memberi hukuman yang berat untuk Jian Heng.
Dua tahun lalu, Jian Heng dihukum untuk menerima 100 cambukan dan diikat semalaman di luar istana. Tidak sampai di situ saja, dia masih harus melatih seratus kuda perang dalam waktu satu minggu. Kesempatan itu dia gunakan untuk kabur dari istana dengan alasan membawa kuda perang ke tempat yang lebih lapang.
Butuh nyali yang besar untuk seorang Jian Heng kembali pulang. Entah hukuman seperti apa yang akan dia terima setelah ini. Demi menjaga perasaan ibunya, dia mencoba untuk bersikap tenang.
Selir Liu mencoba menenangkan Selir Tang yang mulai terlihat murung. Beberapa kali dia mengusap bahunya dan merangkulnya.
"Jian Heng! Mendekatlah!" Suara berat Kaisar Xi terdengar menggelegar di tengah kesunyian malam.
Hao Xiang dan Changyi menatap sedih ke arah Jian Heng. Hu Chu belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Changyi menepuk pundaknya dengan lembut. Perlakuan kecil itu menjadi dukungan moral yang sangat berarti untuk Jian Heng. Hao Xiang yang merajuk pun melakukan hal yang sama padanya.
Jian Heng berdiri di hadapan ayahnya. Kursi Kaisar Xi berada di tempat yang lebih tinggi membuat keduanya berjarak.
Kali ini, Kaisar Xi turun dari singgasananya dan berdiri di hadapan Jian Heng.
Jian Heng berdiri mematung dan membiarkan ayahnya berjalan mengelilinginya sambil mengamati tubuhnya. Dia tidak memahami maksud ayahnya melakukan hal itu.
****
Bersambung ….
__ADS_1