
Ketua Sekte dan Fang Yin beranjak dari duduknya.
Sreeekk!
Fang Yin merobek ujung hanfunya untuk membalut luka di lengannya yang lumayan dalam dan perih. Dia balutkan sobekan kain itu lalu menariknya dengan tangan dan mulutnya.
'Kamu benar-benar bisa melakukan segalanya sendiri, Yin'er! Bahkan untuk mengikat pembalut luka itu pun kamu tidak meminta bantuanku.' Ketua Sekte mengamati apa yang dilakukan oleh Fang Yin.
Energi asing yang mereka rasakan semakin dekat membuat Ketua Sekte dan Fang Yin kembali bersikap waspada.
"Aku tidak menyangka perjalanan kali ini begitu berbahaya." Fang Yin menyalakan api energi di tangannya.
"Tidak ada yang perlu di sesali. Kita tidak bisa mengelak lagi." Ketua Sekte terlihat sedang memasang indera pendengarannya baik-baik.
Di kejauhan terdengar suara derap langkah binatang yang begitu bergemuruh. Jika diperhatikan ada banyak sekali binatang yang datang menuju ke sana.
"Yin'er! Sepertinya kita harus kabur lagi!" seru Ketua Sekte.
Mereka tidak menyangka jika tempat ini merupakan habitat binatang-binatang yang ganas dan kuat.
Baru kali ini mereka mengalami kesulitan seberat ini.
"Pantas saja tempat ini dinamakan lembah tengkorak. Kematian selalu menghantui siapa saja yang masuk ke sini!" gumam Fang Yin lirih.
Mereka berjalan untuk mencari jalan keluar sambil terus waspada. Bahaya bisa mengintai mereka dari mana saja.
__ADS_1
Tempat ini memiliki medan yang sulit di tebak karena mereka belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini.
Deru suara binatang yang berlari pun semakin terdengar mendekat. Fang Yin dan Ketua Sekte melihat ke sekeliling untuk mencari dari mana arah sumber suara itu berasal. Mereka memasang mata dan telinga mereka untuk menentukan arah untuk kabur.
Ketua Sekte sudah bisa menentukan arah datangnya binatang-binatang itu.
"Kita lari ke sana, Yin'er!" seru Ketua Sekte sambil menunjuk ke sebuah arah.
"Baiklah!" seru Fang Yin sudah siap untuk berlari.
"Pegang tanganku!" Ketua Sekte mengulurkan tangannya ke hadapan Fang Yin.
Fang Yin menyambut uluran tangan itu lalu mengikuti ke mana Ketua Sekte membawanya berlari.
Mereka tidak menggunakan jurus meringankan tubuh untuk menghemat energi tubuhnya yang belum pulih.
Di hutan itu memiliki pohon-pohon yang sangat tinggi dan berdaun lebat sehingga mereka tidak bisa melihat bintang yang ada di langit untuk menentukan arah.
Suara binatang bercuitan dan lari menjauh ketika mendengar langkah kaki Fang Yin dan Ketua Sekte yang melewati tempat di sekitar mereka.
Deru suara binatang yang mereka dengar sebelumnya sudah tidak terdengar lagi. Namun mereka kini terjebak di sebuah tempat yang begitu asing dan gelap.
Hawa panas begitu terasa di sekeliling mereka membuat mereka bertanya-tanya di mana mereka berada sekarang.
Mereka berhenti sejenak untuk mengatur napas mereka sebelum kembali berlari. Rasa haus dan lapar pun mulai mereka rasakan. Namun apa daya di dalam kegelapan mereka tidak akan bisa menemukan apapun untuk mengganjal perutnya.
__ADS_1
"Sepertinya kita sekarang sudah aman," ucap Ketua Sekte dengan napas yang masih terengah-engah.
"Tetapi udara di sekitar tempat ini terasa begitu panas," ujar Fang Yin sambil menggembungkan mulutnya lalu menghembuskannya.
"Kamu benar. Sebaiknya kita berjalan lagi untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk singgah sebentar," ucap Ketua Sekte.
"Benar sekali!" Fang Yin mengangguk setuju.
Mereka kembali berjalan tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.
Kini mereka melalui medan yang sedikit berbeda dengan sebelumnya. Tidak ada tumbuhan perdu ataupun rerumputan, yang ada hanyalah jalan berbatu.
"Tebing?!" seru Fang Yin ketika melihat sebuah tebing di sisi sebelah kirinya.
Ketua Sekte melihatnya sekilas lalu kembali membawa Fang Yin berjalan.
"Kita ikuti saja tebing ini, mungkin setelah ini kita bisa menemukan alam yang terbuka," ucap Ketua Sekte.
Fang Yin membenarkan apa yang dikatakan oleh Ketua Sekte dan kembali melanjutkan langkah mereka.
Tidak terlihat jurang atau lubang di hadapan mereka. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan dengan tanah yang mereka pijak bergerak-gerak.
Mereka berusaha melompat untuk menghindari tanah yang ambles ke bawah dan mencari pijakan yang kuat.
"Aaaaaaa!" pekik Fang Yin dan Ketua Sekte secara bersamaan ketika mendapati tubuh mereka terperosok masuk ke dalam lubang yang belum tahu di mana ujungnya.
__ADS_1
****
Bersambung ....