
Fang Yin menatap pria di hadapannya itu tanpa berkedip. Gemuruh di dadanya membuatnya tidak mampu menggerakan kedua bibirnya.
Tidak jauh berbeda dengan dirinya, pria itu juga sangat sulit untuk mengendalikan perasaannya. Untuk beberapa saat lamanya mereka saling berpandangan tanpa mengatakan apapun.
"Tetua Yu!"
Setelah sekian lama, Fang Yin akhirnya bisa menguasai dirinya. Mereka berada di dalam jarak yang sangat dekat dan saling merasakan napas masing-masing. Suara detak jantung mereka pun mungkin terdengar antara satu sama lain.
Tanpa mereka sadari benih-benih kerinduan yang telah tertanam di dalam hati mereka kini telah berkembang. Jian Heng meraih tubuh Fang Yin dan memeluknya.
Awalnya Fang Yin berusaha untuk melepaskan diri, tetapi akhirnya pasrah ketika Jian Heng tidak ingin melepaskannya.
"Xiao Yin! Apakah kamu sedang lapar? Mengapa tubuh kamu gemetar sekali?" tanya Jian Heng membuat Fang Yin gelagapan dan segera mendorong tubuhnya ke belakang.
Fang Yin memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
Sementara itu Jian Heng semakin terlihat bingung untuk mengatakan sesuatu karena dia takut salah bicara.
"Xiao Yin! Kamu baik-baik saja bukan? Bagaimana kalau kita pergi ke kedai untuk mencari makan siang?" ajak Jian Heng sambil terus memperhatikan wajah Fang Yin yang tertutup cadar.
Fang Yin hanya menganggu dan mengikuti ke mana Jian Heng berjalan untuk memilih tempat makan yang akan mereka kunjungi. Mereka berjalan tanpa mengobrol. Sesekali keduanya terlihat saling menatap sekilas lalu kembali berpaling.
Sikap yang manis untuk dua orang pemalu yang saling jatuh cinta. Meskipun begitu, keduanya masih belum bisa mengartikan semua yang mereka rasakan adalah sebuah cinta.
'Berada di dekat Zidane versi kuno membuat jantungku bermasalah. Aku memang naksir dia, tetapi masa iya aku harus mengungkapkannya terlebih dahulu. Di dunia modern usiaku memang sudah sangat matang. Namun di sini aku masih di bawah dua puluh tahun.' Fang Yin berpikir tentang perasaannya.
Di dunia modern Zidane orang yang mirip dengan Jian Heng telah menikah dan memiliki keluarga yang harmonis. Agata hanya bisa untuk sebatas mengaguminya saja, meskipun hatinya selalu bergetar bila bertemu dengan Zidane.
Kali ini, Agata yang telah sepenuhnya menjadi Fang Yin, merasa tidak rela jika Fang Yin mengalami nasib yang sama dengannya yang tidak beruntung soal asmara. Setelah ini, Fang Yin tidak ingin kehilangan Jian Heng.
Jian Heng berhenti di depan sebuah kedai yang sangat ramai dan mengamati para pengunjung yang lalu lalang keluar masuk dari sana.
__ADS_1
"Ini terlalu ramai," ucapnya lalu membawa Fang Yin kembali berjalan lagi.
"Sepertinya itu tidak terlalu ramai." Fang Yin menunjuk ke arah kedai yang berada di seberang jalan.
"Boleh juga." Jian Heng mengangguk setuju.
Keduanya menyeberang jalan menuju ke sana. Jalanan kota itu lumayan ramai. Ada saja aktifitas warganya yang mengharuskan mereka berjalan di tengah teriknya matahari.
Sesampainya di dalam kedai, Jian Heng meminta pelayan untuk menyediakan makanan yang paling enak di sana. Rupanya kedai itu dikunjungi oleh para bangsawan dan orang kaya saja. Semua itu bisa dilihat dari pakaian yang mereka gunakan.
Pelayan itu menatap Jian Heng dan Fang Yin secara bergantian. Mungkin mereka ragu apakah keduanya bisa membayar makanan yang akan mereka makan nantinya.
Melihat gelagat pelayan itu, Jian Heng tahu apa yang dia pikirkan. Segera saja dia mengeluarkan satu tail emas dan memberikannya pada pelayan itu.
Mata pelayan itu membulat sempurna dengan mulut ternganga melihat bongkahan emas itu. Dia segera membungkuk dan pergi untuk menyiapkan makanan Jian Heng.
Bukan hanya pelayan itu saja, pengunjung yang melihat kejadian itupun dibuat heran. Di balik pakaiannya yang sangat sederhana, ternyata Jian Heng sangat kaya.
Terlihat seorang pengunjung wanita mulai menunjukkan ketertarikannya pada Jian Heng. Meskipun tidak berpakaian mewah, ketampanan Jian Heng memang tidak bisa disembunyikan.
Tidak lama kemudian, beberapa orang pelayan datang membawa makanan yang dipesan oleh Jian Heng dan menatanya di atas meja.
Melihat Jian Heng mengambil makanannya sendiri, wanita itu semakin yakin jika Fang Yin bukanlah kekasih atau istri dari Jian Heng. Wanita itu bangkit dari duduknya dan berjalan untuk menghampiri Jian Heng.
"Selamat siang, Tuan. Bolehkah aku membantumu untuk mengambi makananmu?" tanya wanita itu.
Meskipun terdengar lembut dan sangat sopan, tetapi sesungguhnya itu tidak sopan karena mereka belum saling mengenal.
"Tidak terimakasih. Ada istriku yang akan mengambilkannya." Jian Heng memberi isyarat pada Fang Yin untuk mengambilkan makanan untuknya.
Fang Yin yang terkejut tidak segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Jian Heng. Namun melihat wanita itu tidak kunjung pergi, Fang Yin pun segera mengambilkan makanan untuk Jian Heng.
__ADS_1
'Sial! Tetua Yu seenaknya bilang kalau aku adalah istrinya tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu.' Fang Yin mengulurkan tangannya untuk meletakkan makanan di mangkuk Jian Heng.
Tanpa di duga pada uluran terakhirnya, Jian Heng meraih tangan Fang Yin dan menciumnya.
'Jangan baper, Fang Yin! Ini hanyalah pelengkap sandiwaranya untuk mengelabuhi wanita itu.' Fang Yin menatap Jian Heng tak percaya.
"Terimakasih, Istriku." Suara lembut Jian Heng membuyarkan lamunan Fang Yin.
Dengan gerakan cepat, Fang Yin menarik tangannya dan segera bersiap untuk makan. Tangan kirinya menyibak sedikit cadarnya, sedangkan tangan kanannya memegang sumpit dan memasukkan makanan dari bawah.
Wanita yang menggoda Jian Heng merasa gerah. Melihat Jian Heng tidak menganggapnya ada, akhirnya dia pergi meninggalkan tempat itu.
Jian Heng tersenyum saat menyadari wanita itu pergi tanpa permisi.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Jian Heng.
"Dia sudah pergi. Kita tidak perlu bersandiwara lagi."
Rupanya Fang Yin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Jian Heng. Maksud dari pertanyaan Jian Heng bukan untuk menanyakan bagaimana dengan sandiwaranya, melainkan bagaimana rasa makanan yang mereka santap.
"Apakah kamu menyukainya?" Lagi-lagi Jian Heng mengajukan pertanyaan yang ambigu.
"Uhukk! Uhuukk!" Fang Yin tersendak makanannya karena masih merasa salah paham dengan pertanyaan Jian Heng.
"Maaf! Tidak seharusnya aku mengajakmu bicara saat makan." Jian Heng mengambilkan minum untuk Fang Yin.
Fang Yin menerima cangkir dari Jian Heng dengan ragu. Perasaannya tidak menentu, dia segera meminum air itu tanpa banyak berpikir lagi.
Keduanya saling terdiam setelah itu dan memilih untuk menikmati makanannya tanpa banyak bicara.
'Xiao Yin, kamu sangat manis. Akankah kita berpisah lagi setelah ini. Rasanya aku enggan untuk melakukannya. Aku harus mencari cara agar kita bisa terus bersama.' Jian Heng menatap Fang Yin dan sama-sama salah tingkah ketika kedua pandangan mereka bertemu.
__ADS_1
****
Bersambung ....