Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 279. Kesalahpahaman


__ADS_3

"Pergilah bersama ibumu! Aku akan melihat apa yang terjadi." Fang Yin melepaskan tangan anak itu dan pergi dengan cepat menuju ke arah sumber ledakan.


Banyak orang berlari pontang panting mencari tempat berlindung. Mereka tidak berani memasuki rumah mereka, takut jika perusuh itu membakarnya.


Fang Yin merasakan aura energi yang besar dari jejak energi yang menyebar di sekitar ledakan. Untuk menghindari banyaknya korban, dia berusaha memancing pengacau itu untuk menjauh dari pemukiman penduduk.


Pengacau itu datang bersama pedangang yang telah dilepaskan oleh Fang Yin sebelumnya. Entah apa yang dia katakan pada kultivator itu sehingga dia terlihat sangat marah dan mengamuk di sana.


"Itu dia!" pekik pedagang itu sambil menunjuk ke arah Fang Yin yang terbang menjauh dari pemukiman penduduk.


Kultivator yang mengamuk menyerangnya dengan lemparan energi sembari mengejarnya.


Setelah mencapai jarak yang aman dari pemukiman penduduk, Fang Yin berhenti dan menyambut serangan energi kultivator itu dengan energinya. Ledakan keras membuat tempat di sekitarnya terguncang akibat dua energi yang bertabrakan.


Keadaan ini terus berlangsung hingga membuat tempat di sekelilingnya timbul lubang yang cukup dalam. Pohon-pohon terbakar dan sebagian tumbang akibat pertarungan mereka.


"Kamu sangat senang sekali mengacau. Seharusnya aku tidak membiarkan pria bengis itu hidup." Fang Yin melemparkan energi pada pedagang itu, tetapi kultivator yang membelanya membelokkan energi itu hingga berbelok ke tempat kosong.


"Pengacau teriak pengacau! Wanita iblis, kamu begitu kejam membunuh para pedagang yang sedang mencari penghidupan." Kultivator itu terlihat sangat marah kepada Fang Yin.


Sekarang Fang Yin yakin jika pedagang itu telah mencuci otaknya dan memutar balikkan fakta. Pria licik itu menutupi kesalahannya dan melimpahkan kesalahan padanya.


"Rupanya kamu termakan omong kosong pria bodoh itu. Sayang sekali, kamu membela orang yang salah." Fang Yin mengeluarkan api hitamnya berharap kultivator itu berpikir ulang untuk menyerangnya.


Kultivator itu terlihat waspada dan mundur beberapa langkah untuk mengatur serangannya. Pedagang yang masih berdiri di tempat itu pun tidak menyangka jika Fang Yin memiliki api abadi. Sebelumnya dia hanya bertarung dengan ketrampilan pedang tanpa menggunakan aliran Qi sedikitpun.


"Kamu bilang dia hanya seorang pendekar biasa. Kita telah berurusan dengan orang yang salah," bisik kultivator itu.


Semuanya sudah terlanjur. Ibarat anak panah yang telah diluncurkan tidak akan bisa ditarik ulang. Kultivator itu terlihat sangat waspada. Kedua tangannya telah siap dengan energinya.


"Sebelumnya dia hanya melawan kami dengan pedangnya." Pedagang itu terlihat ketakutan. Dia berhati-hati dalam bicara agar kultivator itu tetap berdiri di pihaknya.


Melihat ketakutan di wajah musuh-musuhnya, Fang Yin semakin bersemangat. Hari ini dia tidak ingin bermain-main.


Fang Yin melemparkan api hitamnya ke arah kultivator dan pedagang secara bersamaan. Dia sengaja ingin membuat keduanya terpisah.


Tenaga pedagang yang telah terkuras dalam pertarungan sebelumnya membuatnya sulit untuk menghindar. Luka-luka yang dialaminya juga cukup parah. Kultivator itu berusaha untuk melindunginya meskipun dia sendiri kepayahan menghadapi serangan dari Fang Yin.


Kemarahan Fang Yin tidak bisa dihentikan. Masyarakat kecil harus dilindungi dari kekejaman para tengkulak tak bermoral. Kultivator itu juga harus mendapatkan pelajaran karena membela orang yang salah. Seharusnya dia melihat situasinya terlebih dahulu sebelum melakukan serangan pembelaan.


Kedua tangan Fang Yin mendorong ke atas dan membuat sebuah lingkaran api yang sangat besar. Dia melakukannya dengan begitu cepat tanpa memberi kesempatan bagi kedua lawannya untuk bergerak. Lingkaran api hitam itu dia lepaskan dan membuat kedua pria itu terkurung di dalamnya. Senyum kepuasan tersembunyi di balik cadarnya.


"Perempuan licik! Kamu tidak bisa mengurung kami seperti ini!" teriak kultivator dengan sangat marah.


Api yang mengurungnya begitu tinggi dengan kerapatan yang cukup dekat. Salah bergerak sedikit saja maka tubuhnya akan terbakar.


Fang Yin melompat ke udara dan berdiri di atas api itu dengan wajah sombongnya. Baru ada segelintir orang saja yang memiliki kemampuan untuk memadamkan api abadi, yaitu orang-orang yang pernah mempelajarinya di dalam Kitab Sembilan Naga bintang empat.


"Aku tidak suka kesewenang-wenangan, kamu pikir kamu siapa, berani-beraninya mengotori wilayah ini dengan sikap brutalmu?" Fang Yin melipat kedua tangannya sambil melirik jengah pada kedua musuhnya itu.


Tubuh kultivator itu terlihat bermandikan keringat. Wajahnya menyeringai menahan panas dengan dada yang tersengal-sengal mulai merasakan sesak.


"Kamu yang kejam. Apa salah para pedagang untuk mencari penghidupan di tempat ini? Mengapa kamu membunuh mereka dengan sadis? Dasar pengecut!" Kultivator itu tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh Fang Yin.

__ADS_1


Fang Yin membuka lipatan tangannya lalu mengangkat tubuh pedagang itu dengan kekuatannya lalu menariknya ke hadapannya hanya dengan jentikan jari. Kini keduanya saling berhadapan dengan tubuh pedagang yang terikat oleh energinya.


"Kamu tidak ubahnya seperti patung kayu sekarang. Aku menyesal telah berbelas kasihan padamu. Harusnya aku membunuh kamu seperti teman-temanmu. Kalian memang manusia berhati iblis. Uang telah membuat hatimu mati rasa. Demi mendapatkannya kalian dengan tega memeras rakyat biasa. Bukannya kembali ke asalmu dan bertaubat, kamu malah mencari bantuan untuk menyerangku. Kamu memang tidak pantas untuk dikasihani."


"Arrgh!" pedagang itu berteriak kesakitan ketika Fang Yin mengepalkan tangannya. Meskipun tidak menyentuhnya secara langsung, tetapi energi yang mengikat tubuhnya bergerak sesuai dengan keinginannya.


Kultivator itu mencoba menyerang Fang Yin tetapi tidak berhasil mengenai tubuhnya. Energi yang dia lepaskan terserap ke dalam telapak tangan kiri Fang Yin.


"Sial! Siapa kamu sebenarnya?" Wajah kultivator itu mulai panik.


"Apakah kamu tidak mengenal api hitam ini? Atau kamu ingin merasakannya agar bisa tahu siapa diriku?" Pupil mata Fang Yin berkilat.


"Tidak ... tidak! Apakah Dewi Naga telah bangkit? Itu tidak mungkin. Kitab Sembilan Naga tersebar di seluruh benua ini dan tidak akan mudah untuk mendapatkannya." Kultivator itu tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Fang Yin.


Pedagang yang telah merasa lemas, membelalakkan matanya. Dia semakin merasa ketakutan ketika kultivator menyebutkan nama Dewi Naga. Meskipun dia bukan seorang kultivator hebat, tetapi dia adalah keturunan Dewi Naga sebelumnya.


"Dewi Naga, ampuni aku. Aku adalah keturunan Dewi Naga sebelum kamu. Di bilik rumah kami masih ada tempat pemujaan untukmu." Pedagang berbicara dengan napas tersengal-sengal.


Fang Yin tidak langsung percaya. Sebelumnya dia adalah seorang penjilat ulung yang telah mempengaruhi seorang kultivator untuk menyerangnya.


"Baiklah! Jika darah Dewi Naga masih mengalir di tubuhmu, maka kamu tidak akan terbakar oleh api hitamnya." Fang Yin melemparkan tubuh pedagang lalu membakarnya dengan api hitam.


Kultivator yang berada di hadapannya tertegun melihat tubuh lemah pedagang itu diselimuti oleh api hitam. Hatinya merasa was-was menanti gilirannya untuk mati.


"Dewi Naga, aku meminta belas kasihanmu. Aku meminta maaf atas penyerangan yang aku lakukan tanpa dasar. Aku terlalu mempercayai pria itu dan merasa perlu untuk menegakkan keadilan." Kultivator itu memegangi dadanya yang semakin berat menahan udara panas yang terus menerus dia hirup.


Fang Yin memadamkan api hitam yang mengelilingi tubuh kultivator itu. Peringatan ini sudah cukup untuk membuatnya menyadari kesalahannya. Kultivator itu terbatuk setelah terlepas dari api hitam yang mengelilinginya. Paru-parunya bekerja keras untuk menyesuaikan suhu udara yang berganti.


Tubuhnya memang tidak terbakar, tetapi pakaiannya habis di makan oleh api itu. Fang Yin berbalik memunggunginya lalu memadamkan api itu. Dia memang benar keturunan Dewi Naga. Matanya tidak akan sanggup untuk melihat seorang pria dewasa tidak berbusana di hadapannya. Dia melemparkan sebuah pakaian untuknya.


Di sisi lain, kultivator yang juga terluka sedang berkultivasi untuk memulihkan energinya. Luka yang dialaminya memang tidak serius, tetapi banyak sekali tenaga yang terkuras. Butuh pemulihan yang cepat karena energi pendampingnya kian melemah. Dia bisa kehilangan kesadarannya dan berakibat fatal kedepannya.


Fang Yin berdiri memunggungi kedua pria itu dan tidak peduli dengan apa yang terjadi pada keduanya.


"Namaku Bai An, Nona. Terimakasih sudah mengampuniku." Pedagang itu mengaku bernama Bai An. Dia berjalan tertatih mendekati Fang Yin lalu menyatukan kedua tangannya sambil menunduk.


Fang Yin tidak bergeming. Dia tetap berdiri di tempatnya, bersikap acuh seolah tidak mempedulikan keberadaan Bai An.


Bai An terlihat ragu-ragu untuk mendekat, tetapi keadaan akan semakin memburuk jika dia tidak meminta maaf. Di belakangnya kultivator itu juga menyusulnya berjalan menghampiri Fang Yin.


"Aku Liu Sheng atau lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Dari Timur, Nona. Dengan segenap kerendahan hati memberimu penghormatan tertinggi."


Mereka tetap memberi hormat pada Fang Yin meskipun diacuhkan. Mereka tetap menunggunya bicara tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.


Fang Yin memalingkan wajahnya dari Bai An dan Liu Sheng. Hatinya masih merasa kesal pada keduanya.


"Berbuatlah sesuka kalian dan jangan pernah menginjakkan kaki di tempat ini lagi." Fang Yin melangkah pergi dari hadapan keduanya.


Bai An tidak ingin kehilangan jejaknya. Meskipun saat ini Fang Yin tidak menyukainya, tetapi dia ingin mengenalnya lebih dekat.


"Apakah Anda tidak ingin tahu lebih banyak tentang Dewi Naga sebelum Anda, Nona." Bai An tidak menyerah.


Fang Yin menghentikan langkahnya. Sebenarnya dia sangat dongkol tetapi tawaran menarik dari Bai An mengusik rasa ingin tahunya. Dia terlihat menarik nafasnya dengan cepat lalu menghembuskannya kasar.

__ADS_1


Liu Sheng pun tertarik untuk mengikuti keduanya. Meskipun wanita di hadapannya itu sangat hebat, tetapi dia berharap bisa mendapatkan perhatian darinya. Dengan alasan ingin menghapus kesalah pahaman di antara keduanya, dia mengikuti Fang Yin dan Bai An.


Senja telah turun. Kembali ke perkampungan pengrajin kain sutra hanya akan menimbulkan ketakutan bagi mereka. Kesalah pahaman akan semakin besar dengan kedatangan Fang Yin bersama dua pengacau itu.


Setelah menimbang-nimbang sejenak, Fang Yin memilih untuk pergi meninggalkan perkampungan itu tanpa pamit. Mereka bertiga berjalan memasuki hutan dan bermalam di sana.


"Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dengan mengikutiku." Fang Yin berbicara tanpa menoleh pada Bai An dan Liu Sheng.


"Kami merasa menyesal dengan apa yang telah kami lakukan," ucap Bai An.


"Kami? Kamu yang membuat semua kekacauan ini. Kamu telah menjebakku dengan cerita palsumu. Hampir saja aku menghancurkan desa yang penuh dengan orang-orang tak berdosa." Liu Sheng terlihat sangat marah pada Bai An.


Bai An menundukkan wajahnya tidak berani menatap Liu Sheng. Apa yang telah dia lakukan memang salah. Selama ini dia telah menghidupi keluarganya dengan cara yang curang.


"Aku adalah tulang punggung keluarga. Kebutuhan kami sangat besar. Tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain berdagang. Dari keuntungan yang aku dapatkan aku bisa menghidupi keluargaku," jelas Bai An.


Liu Sheng tidak berkata-kata lagi, meskipun hatinya masih sangat kesal pada Bai An tetapi dia tidak memiliki solusi untuk masalah ini.


"Jangan karena terpaksa kamu mengorbankan orang lain. Kamu mendapatkan makan dengan merampas makanan orang lain. Apa bedanya antara kamu dengan para perampok? Carilah keuntungan sewajarnya saja dan jangan memaksakan harga. Harusnya kamu malu pada nenek moyangmu yang merupakan seorang Dewi Naga." Fang Yin menatap Bai An dengan tatapan tegasnya.


Bai An tidak berani menjawab karena semua yang dikatakan oleh Fang Yin memang benar. Tidak ada alasan lagi untuk mencari pembenaran atas kejahatan yang telah dia lakukan.


Liu Sheng merasa sangat kagum pada Fang Yin. Meskipun statusnya berada di atasnya, dia ingin sekali mendapatkan tempat di hatinya.


"Nona, bolehkah aku mengenalmu lebih dekat. Aku rela melakukan apa saja asalkan kamu mau berteman denganku." Liu Sheng berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk dekat dengannya.


"Aku tidak pernah menjalin relasi dengan siapapun. Bahkan demi melindungi keluargaku, aku menjauh dari mereka. Berada di sampingku hanya akan mengundang bahaya. Aku juga manusia yang memiliki sisi lemah dan tak sanggup menanggung rasa kehilangan."


Ungkapan bijak Fang Yin membuat Liu Sheng dan Bai An terkesan. Mereka saling berpandangan. Perbedaan yang sangat mencolok pada kekuatan mereka memang membuat segan. Namun, mereka lebih segan ketika tidak mampu melampaui kebijaksanaannya.


Mereka berhenti untuk bermalam di hutan itu. Fang Yin merebahkan tubuhnya di atas sebuah batu sambil menatap langit malam. Sedangkan Bai An dan Liu Sheng berburu binatang setelah membuat perapian.


Fang Yin tidak menggerakkan tubuhnya untuk menjaga nyala api, dia hanya melemparkan api kecil dengan menjentikkan jarinya. Api itu tetap menyala tanpa dia harus bersusah payah.


Tidak lama kemudian, Bai An dan Liu Sheng datang membawa satu ekor ayam dan seekor kelinci. Mereka membersihkan hewan itu di hadapan Fang Yin lalu membakarnya.


Fang Yin memiringkan tubuhnya menghadap ke arah mereka dan memperhatikan apa yang mereka lakukan tanpa ada niatan untuk membantu. Dia menyangga kepalanya dengan satu tangannya.


"Apakah kalian membutuhkan garam?" tanya Fang Yin yang mulai merasakan lapar ketika mencium aroma daging bakar yang lezat.


"Tentu saja, Nona. Sayangnya kami tidak membawanya." Liu Sheng menjawab pertanyaan Fang Yin.


"Ambil ini!" Sebuah botol berisi garam bubuk muncul di tangan Fang Yin. Botol itu dia lemparkan pada Liu Sheng.


Mereka berdua bergantian menaburkan garam itu di atas daging bakar itu.


Fang Yin menegakkan tubuhnya dan berajak dari tempatnya. Dia melompat turun dan berjalan pelan sambil terus memasang indera pendengarannya. Di kejauhan dia mendengar suara alunan kecapi.


"Kalian tunggu di sini! Aku akan segera kembali!" Fang Yin melompat ke udara meninggalkan Liu Sheng dan Bai An. Keduanya menatap kepergiannya dengan tatapan tidak mengerti.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2