
Fang Yin menunduk menyusun kata-kata yang akan dia ucapkan. Bola matanya yang indah bergerak-gerak saat berpikir.
"Aku punya kesulitan untuk ... untuk ... membuka kitab ini." Fang Yin berbicara terbata-bata sambil menunjukkan Kitab Sembilan Naga bintang tujuh di tangannya.
Phoenix Api dan Es membelalakkan matanya lalu melompat ke atas. Reaksi yang tidak biasa tergambar jelas di wajahnya. Antara terkejut, takut, dan merasa terancam.
Fang Yin tidak tahu harus melakukan apa. Dia segera menyimpan kitabnya lalu melompat ke atas menyusul Phoenix Api dan Es.
"Menjauhlah dariku! Aku tidak akan memberikan buluku padamu. Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkannya!" Dari nada suaranya, phoenix itu terlihat marah.
"Tapi aku sangat membutuhkannya. Tanpa bulumu kitab ini tidak bisa dibuka. Aku tidak akan bisa menyelesaikan sembilan kitab tanpa kitab ini." Fang Yin terlihat putus asa.
Di satu sisi dia sangat menginginkan bulu itu tetapi di sisi lain dia tidak ingin menyulut permusuhan. Hatinya dirundung kesedihan, merasa bimbang memilih maju atau menyerah pada keadaan.
Setiap kali hatinya gelisah, energi di dalam tubuhnya tidak bisa terkontrol secara benar. Tanpa di sengaja, api hitam muncul dengan sendirinya di kedua telapak tangannya. Fang Yin merasa takut ketika melihatnya dan ketakutannya semakin menambah masalah. Api hitam itu semakin besar diiringi dengan energi yang menyelimuti tubuhnya.
'Gawat! Aku tidak bisa mengendalikan energiku saat aku sulit mengendalikan diriku. Apa yang harus aku lakukan?' Wajah Fang Yin menjadi semakin panik.
Melihat perubahan yang terjadi pada Fang Yin, Phoenix Api dan Es itu merasa salah paham. Dia menganggap hal itu sebagai sebuah ancaman. Sayapnya mengepak perlahan dan menghasilkan hawa panas dan dingin dari kedua sisinya.
Sayap kanannya mengeluarkan api yang sangat panas, api itu meluncur ke arah Fang Yin. Tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar, tangan kanan Fang Yin mendorong ke depan lalu menyongsong api dari Phoenix Api dan Es. Ledakan keras terdengar saat kedua energi itu bertabrakan.
Sayap kirinya mengibas dengan cepat, lalu kristal salju meluncur dengan cepat menyerang Fang Yin. Jarak yang terlalu dekat membuatnya kesulitan untuk menghindar. Jurus Perisai Es melindungi tubuhnya dan membuat kristal-kristal es itu menancap pada perisai itu.
Retakan kecil diujung kristal es bergerak merambat, memanjang dan membuat retakan menjadi besar. Perisai dan kristal es itu pecah dan jatuh berhamburan ke tanah. Phoenix Api dan Es terkejut ketika melihat Fang Yin memiliki inti energi yang sama.
Di belakang Phoenix Api dan Es muncul dua phoenix lagi dengan ukuran tubuh yang berbeda. Corak dan warna bulunya juga sedikit berbeda. Mungkin setiap tingkatan yang berbeda memiliki ciri khas yang berbeda pula.
"Hei! Mengapa kalian datang kemari? Ini sangat berbahaya." Phoenix Api dan Es yang bertarung dengan Fang Yin merasa panik.
Kedua Phoenix kecil melirik ke arah Fang Yin lalu bersembunyi dibalik Phoenix besar. Mereka berbisik pada Phoenix besar dan mengatakan jika ayah mereka sedang sakit keras.
Meskipun sangat pelan, Fang Yin bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh dua phoenix kecil itu. 'Semoga ini jadi kesempatanku untuk mendekati mereka,' bisiknya dalam hati.
Phoenix Api dan Es besar terlihat sedih. Aura energi ditubuhnya melemah. Dia terlihat kebingungan memilih antara tetap di sana atau pergi menemui keluarganya.
__ADS_1
Setelah Fang Yin merasa lebih tenang, aura energi di tubuhnya bisa terkontrol dengan baik. Seluruh energinya kembali tersimpan.
"Maafkan aku. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk menyerangmu. Hingga saat ini aku belum bisa mengontrol energiku saat sedang panik dan ketakutan." Fang Yin mencoba meluruskan kesalahpahaman di antara mereka.
"Anggap saja semua yang kamu katakan itu benar dan aku telah percaya padamu. Sekarang pergilah!" ketus Phoenix Api dan Es.
'Untuk mendapatkan apa yang aku mau aku harus mengalah. Aku tidak akan memaksanya untuk memberikan bulunya. Semoga dia tidak keberatan jika aku menolong keluarganya. Jika aku beruntung, aku pasti akan mendapatkan bulu itu atau tidak sama sekali.' Fang Yin mencoba berpikir dengan tenang.
Fang Yin maju mendekati Phoenix Api dan Es. Keduanya saling berpandangan dengan ekspresi yang sulit diartikan. Beberapa saat mereka terdiam tanpa pergerakan.
"Aku akan pergi dari sini, tetapi setelah membantumu. Aku adalah seorang tabib, itupun jika kamu percaya padaku. Jika tidak, ya, sudah, aku akan pergi sekarang." Fang Yin menatap Phoenix Api dan Es berharap mendapat respon positif.
Phoenix itu terlihat bimbang dengan tidak mengatakan sesuatu.
Fang Yin mundur beberapa langkah lalu berbalik untuk pergi. Dia melangkah pelan berharap Phoenix Api dan Es memanggilnya.
'Akankah harapanku benar-benar akan menjadi sia-sia? Aku akan menghitung langkahku. Jika di hitungan ketiga dia tidak memanggilku maka aku harus melupakan bulu phoenix dan Kitab Sembilan Naga. Satu ...,' ucap Fang Yin dalam hati sambil melangkah.
'Dua ... ti-.' ucapannya terhenti ketika Phoenix Api dan Es memanggilnya.
Phoenix Api dan Es meminta Fang Yin untuk mengikutinya di belakang. Dia meminta kedua phoenix kecil berjalan di depannya. Mereka berempat berhenti di sebuah undak batu yang menyerupai sebuah pintu gerbang.
Setelah melewati portal dimensi itu, Fang Yin melihat perbedaan yang mencolok antara tempat itu dan tempat sebelumnya. Saat ini dia seperti sedang berada di tepi sebuah danau dengan pemandangan yang begitu indah.
Phoenix yang bersamanya bertransformasi menjadi wujud manusia. Meskipun tidak memiliki wajah yang sempurna, tetapi mereka terlihat sangat cantik. Mereka berjalan dengan tegap seperti dirinya.
Mahkota di kepala Phoenix yang besar terlihat berkilauan diterpa cahaya matahari yang masuk ke sana. Meskipun hari masih siang, di tempat ini teriknya tidak membuat udara menjadi panas. Di dalam alam dimensi memang memiliki pelindung tak terlihat yang mampu menyesuaikan keadaan.
Phoenix itu membawa Fang Yin memasuki halaman istana dengan bangunan unik yang berbeda dengan istana yang ada di alam manusia. Tidak banyak penghuni yang ada di sana. Mereka menyambut dan memberi hormat pada Phoenix yang membawanya.
"Berhenti!" seru Phoenix itu ketika mereka sampai di teras istana.
Fang Yin menghentikan langkahnya. Di hadapannya terdapat sebuah bejana perunggu yang diletakkan di atas sebuah batu yang diukir. Dia tidak tahu apa kegunaan dari batu itu dan memilih menunggu Phoenix itu untuk menjelaskannya tanpa bertanya.
"Ini adalah bejana jiwa suci. Dengan bejana ini aku bisa melihat niat baik atau buruk seseorang. Aku hanya akan membiarkan orang yang berhati baik masuk ke dalam istana ini. Bagi orang yang berhati buruk maka dia akan terlempar dengan sendirinya dari istana ini," jelas Phoenix itu.
__ADS_1
Fang Yin mengangguk. Dia menyingsingkan lengan bajunya dengan sedikitnya menggulungnya ke atas.
"Apakah aku harus memasukkan tanganku sekarang?" tanya Fang Yin.
"Lakukanlah!" Phoenix Api dan Es membaca mantra saat Fang Yin memasukkan tangannya di dalam bejana.
Air di dalam bejana itu berwarna merah sebelum Fang Yin memasukan tangannya. Kedua tangannya masuk sebatas pergelangan. Dia tidak merasakan apapun saat tangannya masuk ke dalam, seperti hanya memegang air biasa
Hingga beberapa saat tidak ada yang terjadi pada Fang Yin. Hanya warna airnya yang berubah menjadi putih susu.
Phoenix Api dan Es tersenyum. Kecurigaannya tidak terbukti. Kini dia yakin jika Fang Yin tidak memiliki niat yang buruk.
Kedua tangannya menyatu dengan tubuh sedikit membungkuk memberi hormat pada Fang Yin.
Fang Yin melakukan hal yang sama untuk membalas penghormatannya.
Tidak ada keraguan lagi, keduanya melangkah masuk ke dalam istana. Dari luar istana itu terlihat sederhana, tetapi keadaan di dalamnya sangat mewah. Perabot dari emas dan berlian berkilauan diterpa oleh cahaya batu bersinar yang melayang di bawah langit-langit ruangan.
Phoenix Api dan Es yang sejak tadi bersamanya merupakan pemimpin dari rasnya. Tidak heran jika aura kewibawaan terlihat jelas di wajahnya sejak awal pertemuan mereka.
Mereka berjalan melintasi lorong istana yang lengang. Hanya beberapa phoenix saja yang melintas di istana yang besar.
"Bolehkah aku tahu, mengapa istana ini terlihat sepi? Kemana penghuninya? Apakah aku tidak bisa melihat yang lainnya?" Fang Yin melontarkan banyak pertanyaan sambil berjalan.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Saat ini aku sedang tidak baik-baik saja. Keadaan Han Han sangat parah." Phoenix itu terlihat sedih.
Fang Yin mengerti. Setelah ini mereka bisa berbicara banyak hal. Melihat kekhawatiran di wajah phoenix itu, pasti ada hal yang menekan perasaannya.
****
Bersambung ....
Fang Yin
__ADS_1
Kak numpang promo novel karya temanku, ya, terimakasih.