
Saat kepulangan Fang Yin dan Jian Heng semalam, keluarganya telah beristirahat, hanya kedua kakeknya saja yang masih terjaga. Kedua kakeknya pun tidak bisa melihat penampilan Fang Yin dengan jelas.
"Yin'er! Sepertinya kamu mengalami perubahan fisik. Pupilmu memiliki warna yang berbeda. Apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Selir Ning.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin karena aku menyentuh batu mustika es atau karena energinya saja yang membuatku seperti ini. Entahlah!" Fang Yin mengangkat bahunya karena dia sendiri juga tidak tahu apa penyebabnya.
"Kita mengobrol lagi di rumah saja. Ayo kita pulang!" Yu Ruo berjalan lebih dulu.
Penduduk suku es telah kembali ke rumah mereka masing-masing. Hanya tinggal keluarga Shi Jun Hui saja yang masih tinggal di sana.
Mereka akhirnya berjalan di belakang Yu Ruo dengan langkah cepat. Hari ini mereka harus pergi ke bukit di mana prasasti mustika es berada sehingga harus menyelesaikan kebutuhan mereka dengan cepat.
Saat semua berjalan dengan santai, Fang Yin menghentikan langkahnya karena merasa ada yang mengintipnya di belakang. Jian Heng ikut berhenti dan menunggu Fang Yin yang sudah kembali berjalan.
"Ada apa, Yin'er?" tanya Jian Heng merasa penasaran.
Di lihat dari ekspresi wajah dan gerak geriknya, sangat jelas jika Fang Yin sedang waspada. Jian Heng sangat hafal dengan sifat dan kebiasaan kekasihnya itu. Cukup lama mereka bersama sehingga mulai saling tahu satu sama lain.
"Tidak ada apa-apa." Fang Yin memberi jawaban seperti itu dengan tujuan untuk mengecoh orang yang mengikutinya.
Langkah kakinya dibuat sesantai mungkin dan sengaja mengambil jarak dari keluarganya. Namun, ibunya menoleh dan berdiri menunggunya di depan.
"Ibu, kalian pulang duluan saja. Aku ingin pergi ke sungai bersama Kak Heng," ucap Fang Yin tanpa meminta pendapat Jian Heng terlebih dahulu.
'Sudah kuduga. Yin'er pasti menyembunyikan sesuatu. Aku harus waspada meskipun aku tidak merasakan apa-apa, pasti ada sesuatu yang membuatnya mengambil tindakan seperti ini,' gumam Jian Heng dalam hati.
Selir Shi mengangguk lalu kembali berjalan bersama anggota keluarganya yang lain. Mereka berpikir mungkin ada hal penting yang akan dibicarakan oleh Fang Yin dan Jian Heng sehingga pergi menjauh dari keluarganya.
Fang Yin dan keluarganya berpisah di persimpangan karena mereka mengambil arah yang berbeda. Saat dia belum terlalu jauh melangkah, hawa manusia yang mengikutinya pun kian menjauh.
Jian Heng bertanya-tanya ketika melihat Fang Yin berhenti dan melihat ke arah rombongan ibunya yang hampir tak terlihat.
"Apa kamu melihat hal yang aneh, Yin'er?" tanya Jian Heng tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Ada seseorang yang mengikuti kita tetapi aku tidak merasakannya sekarang. Aku berpikir jika orang yang diincarnya adalah salah satu anggota keluargaku. Bagaimana kalau kita berteleportasi antar ruang dan mengawasi gerak-geriknya dari tempat yang tersembunyi? Aku takut orang itu adalah seorang penyusup yang berbahaya. Dia memiliki kemampuan menyembunyikan hawa kehadirannya dan hanya insting roh naga saja yang bisa menangkap hawa manusianya," jelas Fang Yin.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Jian Heng.
Fang Yin tidak ingin membuang-buang waktu lagi dan mengabaikan pertanyaan Jian heng. Dia memilih untuk membagi energinya untuk Jian Heng lalu membawanya melakukan teleportasi dan mendekati penguntit itu dari tempat yang tidak terlihat.
Setelah berjalan beberapa saat, Fang Yin melihat seseorang berpakaian serba hitam menyelinap di balik pepohonan besar. Terkadang dia bersembunyi di balik dinding rumah penduduk juga melompat ke atas atap.
Di pagi itu tidak banyak orang yang berada di luar rumah. Mereka masih sibuk untuk melakukan aktifitas di dalam rumah sehingga penyusup bisa bergerak dengan leluasa.
Saat keluarga Fang Yin telah mendekati halaman rumahnya, penyusup yang mengikuti mereka mulai menunjukkan gelagat yang aneh. Tangannya seperti sedang mengeluarkan sesuatu yang tidak begitu kentara dari tempat persembunyian Fang Yin dan Jian Heng.
"Apakah itu semacam sebuah senjata rahasia, Yin'er?" tanya Jian Heng.
"Aku rasa juga begitu tetapi aku sangat sulit untuk mendapatkan posisi yang pas dan melihat benda itu dengan jelas." Fang Yin berbicara sambil terus mengawasi orang asing itu.
Fang Yin membuka telapak tangannya dan mengeluarkan beberapa puluh jarum-jarum yang sangat kecil. Dia kemudian mengalirkan Qi pada telapak tangan kanannya itu.
"Aku rasa jarum ini tidak akan terlihat jika aku gunakan untuk melawan penyusup itu," ucap Fang Yin.
Penyusup itu mulai mengeluarkan sebilah pisau kecil dan mengalirinya dengan Qi. Dia terlihat sedang memperhatikan target yang akan diserangnya lalu duduk berjongkok di tempat yang terlindungi oleh tumpukan kayu yang hanya setinggi lutut orang dewasa.
Penyusup itu menata tiga buah pisau kecil di tangannya lalu dengan gerakan yang sangat cepat melemparkannya ke arah Selir Ning. Pisau-pisau itu melesat dengan cepat ke arah Selir Ning yang berjalan di paling belakang bersama Selir Shi.
Sebelum pisau-pisau itu mencapainya, Fang Yin melemparkan jarum dengan jumlah yang sama untuk menghalaunya. Meskipun jarum itu sangat kecil tetapi Qi yang menyertainya membuatnya memiliki daya dorong yang kuat.
Tring! Tring! Tringg!
Jarum Fang Yin yang beradu dengan pisau terbang milik penyusup itu bersuara nyaring.
Selir Ning dan Selir Shi menoleh ke belakang dan tidak melihat apa-apa. Mereka pikir itu hanya halusinasinya saja. Keduanya berhenti dan melihat ke sekeliling tetapi tidak ada orang di sana.
"Berhati-hatilah, Selir Shi. Hanya kultivator tingkat atas yang bisa melakukan serangan tak terlihat," ucap Selir Ning mengingatkan Selir Shi akan bahaya yang mengintai mereka.
"Tentu saja. Kita tunggu beberapa saat. Jika tidak ada pergerakan berarti suara tadi hanyalah ilusi kita."
Selir Ning mengangguk setuju lalu kembali mengedarkan pandangannya. Mereka tidak merasakan hawa manusia lain di sana. Merasa tidak ada yang perlu dicemaskan lagi, mereka berdua kembali melangkah dan segera masuk ke dalam rumah.
Penyusup itu masih bersembunyi dalam posisi jongkok dan mengamati jarum yang tertangkap pada pisaunya yang telah ditariknya. Tanpa rasa takut, penyusup itu mencari orang yang melemparkan jarum itu.
Fang Yin tersenyum licik. Dia mengeluarkan hawa kehadirannya yang tentu saja dirasakan oleh penyusup. Dengan begitu dia bisa membawanya menjauh dari desa.
Apa yang dilakukan oleh Fang Yin membawa hasil, penyusup itu terpancing lalu mengikutinya meskipun tidak melihatnya.
Jian Heng tersenyum bangga pada Fang Yin kini keduanya telah sampai di hamparan luas di kaki bukit yang berada agak jauh dari pemukiman penduduk.
Tidak ada tempat bersembunyi lagi bagi penyusup yang berpakaian serba hitam itu. Mau tidak mau dia harus menghadapi kemungkinan terburuk ketika penyerangnya muncul di hadapannya.
__ADS_1
"Siapa kamu? Tunjukkan dirimu!" seru penyusup itu.
Tidak ingin melakukan petak umpet dengannya, akhirnya Fang Yin dan Jian Heng muncul di hadapannya.
Pria itu terlihat terkejut dengan kemunculan mereka. Semula dia berpikir jika yang dihadapinya adalah kaum iblis yang biasanya menggunakan teknik ini. Iblis yang memiliki sifat dasar jahat akan mudah untuk diajak bekerja sama.
"Kenapa terkejut? Aku mencium bau Kaisar Ning di tubuhmu dan itu membuatku merasa heran. Bagaimana bisa kamu berminat untuk mencelakai keponakannya?" Fang Yin bertanya dengan gayanya yang tampak santai sambil melangkah perlahan mendekati pria itu.
"Bukan urusanmu! Aku tidak sedang menjalankan perintah Kaisar Ning," ucap pria itu.
"Seorang pria bodoh menyusup masuk ke kandang singa hanya untuk menyerahkan nyawa? Sungguh ini adalah hal konyol yang pernah kudengar." Fang Yin tertawa kecil mendengar sanggahan penyusup.
Pria itu terlihat gusar ketika mendengar dirinya dikatakan bodoh. Aura energinya muncul dan menyelimuti tubuhnya.
"Besar sekali mulutmu! Siapa kamu sebenarnya?" pria itu benar-benar sangat marah dan bersiap untuk menghajar Fang Yin.
"Untuk menghadapi seorang pembunuh bayaran sepertimu aku harus kejam. Tajamnya mulutku belum seberapa dibandingkan dengan ini!" Fang Yin menunjukkan kuku-kuku tajamnya yang menyerupai kristal bening yang berkilauan.
"Haruskah aku membantumu, Yin'er?" tanya Jian Heng.
"Sepertinya dia bukan lawan yang kuat. Biar aku saja, Kak Heng."
Jian Heng mengangguk.
Untuk menghadapi pria itu, Fang Yin menghindari menggunakan kekuatannya sebagai Dewi Naga agar identitas tetap aman. Mengingat saat ini dia tinggal di Gunung Perak, maka dia akan menggunakan kemampuan sebagai seorang keturunan suku es.
Kaki kanannya terangkat sedikit lalu dihentakkan ke tanah. Tubuhnya berubah menjadi seorang wanita berambut putih dengan mahkota berlian yang berkilauan. Hawa dingin menusuk tulang menyelimuti sekitar tempat itu.
Jian Heng mundur beberapa langkah dan menggunakan armor pelindung miliknya. Kekuatan Fang Yin bisa saja melukainya meskipun pemiliknya tidak bermaksud untuk itu.
"Kamu adalah penduduk suku es. Mengapa kamu melindungi Selir Ning? Bukankah dia mata-mata dari Kaisar Ning?" tanya pria itu.
Fang Yin sedikit termakan ucapan pria itu dan menurunkan kewaspadaannya.
'Apakah pria ini orang yang berpikir jika Selir Ning adalah musuh dalam selimut? Tapi aku tidak boleh percaya begitu saja padanya. Banyak orang yang menggunakan cara licik untuk memenangkan pertarungan.' Fang Yin bermonolog dalam hati.
Untuk mengetahui apakah pria itu anggota suku es atau bukan, maka Fang Yin harus menyerangnya dan membuatnya menunjukkan identitasnya yang sebenarnya.
Kristal-kristal es runcing dan tajam muncul di bawah kaki Fang Yin. Kemunculannya terus meluas memaksa pria itu bergerak mundur.
"Aku beritahu padamu, Selir Ning akan menusuk Selir Shi dari belakang. Percayalah!" Pria itu kembali berbicara dengan setengah berteriak.
"Kamu berbicara omong kosong. Aku tidak percaya apa yang kamu katakan karena kamu bukan anggota kami. Seluruh penduduk suku es sudah tahu siapa Selir Ning dan tujuannya berada di sini. Tidak perlu khawatir, simpan kepedulianmu itu untuk dirimu sendiri. Sekarang aku tidak ingin lagi bermain-main. Terima ini!" Fang Yin melemparkan sebuah kristal es pada pria itu dengan gerakan tangannya.
Fang Yin merasa sedikit heran dengan warna Qi ini. Warna ini cukup langka. Dia pernah memilikinya setelah menyerap esensi energi dari binatang roh naga untuk pertama kalinya di Hutan Bintang Selatan.
"Energi yang unik. Tekanan energi ini sangat besar dan merupakan salah satu elemen penting penyusun api hitam," ucap Fang Yin menilai Qi yang dikeluarkan oleh lawannya.
"Pengetahuanmu luas juga. Aku pikir suku es adalah kaum yang terbelakang dan tidak mengenal dunia luar dengan baik. Dalam seni bela diri, kalian hanya mengandalkan Qi Awan Salju saja," ucap pria itu sambil menyunggingkan senyum sinis.
Aura energi di tubuh Fang Yin meningkat dengan kemunculan api hitam di antara aura dingin dari Qi Awan Salju. Dia tidak terima pria itu menyebut Qi Awan Salju di anggap kemampuan yang rendah.
"Setiap Qi memiliki keistimewaan dan tergantung siapa yang mengolahnya. Sehebat apapun Qi yang kamu miliki tetap saja akan bernilai rendah jika yang memilikinya adalah seorang sampah." Fang Yin balas menghina pria itu.
Pria itu kembali menyerangnya. Pertarungan tidak terhindarkan lagi dengan aksi saling serang.
Fang Yin melompat ke udara dan mereka bertarung di ketinggian untuk menghindarkan kerusakan di sekitarnya.
Jian Heng melindungi tempat itu dan meredam suara pertarungan agar tidak menarik perhatian penduduk Gunung Perak. Armor pelindung yang dia miliki hanya mampu untuk meredam suara pertarungan tetapi tidak bisa meredam energi yang dipancarkan oleh pria asing dan Fang Yin.
Seseorang dengan insting tinggi bisa merasakan keberadaan mereka bertiga dan mengetahui bahwa di tempat itu ada pertarungan.
Beberapa kali serangan Fang Yin berhasil mengenai pria asing itu dan membuatnya mengalami luka dalam. Di beberapa bagian permukaan tubuhnya juga tampak muncul goresan yang membeku. Meskipun sangat lambat, racun energi yang telah menyentuhnya akan menyebar dan membuat bekuan dari goresan itu meluas.
'Gawat! Tubuhku terasa sangat dingin. Ulu hatiku rasanya seperti membeku. Aku sudah meremehkan wanita sialan ini. Aku harus mengeluarkan Jurus Badai Petir Pembelah langit sebelum energiku habis terkuras.' Pria itu bermonolog dalam hati.
Tangannya mulai melakukan gerakan pengumpulan Qi dan memancarkannya ke langit. Langit Gunung Perak yang semula cerah kini mendadak diselimuti oleh awan hitam yang membuat wilayah itu menjadi gelap.
Kilatan cahaya mulai muncul seakan ingin menyambar tubuh mereka. Semakin lama kilatan itu semakin besar disertai dengan suara guntur yang menggelegar.
Sebenarnya Fang Yin bisa mengeluarkan energi api listrik yang lebih besar dari itu tetapi urung dua lakukan. Dia hanya ingin menggunakan identitasnya sebagai keturunan suku es sehingga dia menutupi kemampuan lainnya.
Kedua tangannya terangkat ke udara dan mengumpulkan kristal-kristal es yang besar membentuk sebuah payung raksasa yang melingkupi tempat disekelilingnya. Kilatan-kilatan kecil muncul menyertai Qi Awan Salju meskipun Fang Yin telah berusaha menekan energi yang lain.
Dia juga menyimpan api hitamnya kembali dan menahannya agar tidak keluar meskipun emosinya tidak stabil.
Pria itu kembali menggerakkan tangannya untuk mengendalikan awan dan petir yang sangat menyeramkan itu.
Di saat yang bersamaan, Fang Yin menggerakkan tangannya untuk menghalau serangan pria asing itu.
Ledakan yang keras terus terdengar seiring dua energi yang saling bertabrakan. Suara ledakan itu terdengar sangat memekakkan telinga melebihi suara guntur dari jurus pria itu.
__ADS_1
Serangan demi serangan mampu dihalau oleh Fang Yin dengan mudah sehingga pria itu terlihat kewalahan menghadapinya. Bisa dikatakan jika pertarungan mereka seri saat ini.
Perbedaanya, pria itu mengerahkan seluruh kekuatannya sedangkan Fang Yin hanya mengeluarkan Qi Awan Salju saja.
"Sepertinya pertarungan ini akan berakhir seri jika Yin'er tetap bertahan dengan Qi Awan Salju saja. Tapi ...." Jian Heng tersenyum ketika melihat bekuan di tubuh pria asing itu terus meluas.
Semakin banyak Qi yang dikeluarkannya maka bekuan itu semakin cepat menyebar. Jika racun energi ini memasuki pembuluh darah dan membekukan alirannya, korbannya bisa mati lebih cepat.
"Meskipun kamu hanya menggunakan Qi Awan Salju, tetapi kamu terlihat begitu hebat, Yin'er." Jian Heng begitu mengagumi kekasihnya itu.
Serangan pria asing itu melemah. Dia merasakan tangannya kaku karena jari-jarinya mulai membeku.
"Aku tidak ingin mati. Aku harus menghilangkan pengaruh hawa dingin di tubuhku." Bunga-bunga es mulai muncul di ujung rambut dan alisnya.
Pria itu menghentikan serangannya dan membiarkan awah hitam dan petir yang ada di langit perlahan menghilang. Dia memilih berkonsentrasi untuk memulihkan tubuhnya dan berharap lawannya tidak kembali menyerangnya.
Fang Yin berdiri di kejauhan dan mengawasi apa yang dilakukan oleh lawannya dari tempatnya. Dia melirik ke bawah dan melihat Jian Heng masih setia menunggunya.
"Arrggh!" teriak pria itu yang merasakan tubuhnya telah membeku hingga lebih dari lima puluh persen.
Kondisinya yang tidak stabil membuatnya tidak mampu lagi bertahan untuk tetap tinggal di udara. Tubuh pria itu pun terjun bebas dan meluncur jatuh ke tanah.
Fang Yin tidak sanggup untuk melihatnya. Bisa dipastikan tubuhnya yang telah menjadi bekuan es itu akan menabrak tanah yang keras lalu hancur berkeping-keping. Dia memilih melihat ke arah lain dan mengakhiri fenomena awan petir dan juga payung kristal esnya.
Jian Heng juga tidak berkeinginan untuk menolong pria asing itu mengingat akan kejahatannya yang telah dia lakukan. Jika Fang Yin tidak waspada mungkin Selir Ning telah mati atau setidaknya terkena racun yang sangat parah.
Sekelebat bayangan berwarna putih muncul dan bergerak dengan cepat menghampiri pria itu sesaat sebelum dirinya menyentuh tanah. Belum jelas siapa orang yang menyelamatkan pria asing yang menyusup ke tengah suku es.
"Huang Ran! Huang Ran! Sadarlah!" Penyelamat itu memanggil pria asing itu dan menepuk-nepuk wajahnya.
Pria yang dipanggil dengan nama Huang Ran itu membuka matanya meskipun dia merasa jika pandangannya telah kabur. Dirinya berusaha untuk menggerakkan tangannya tetapi tidak sanggup karena otot-ototnya terasa membeku. Bahkan untuk berkata pun dia tidak bisa. Hanya bibirnya saja yang bisa bergerak tetapi tidak dengan lidahnya.
Penolong itu menggerakkan tangan kanannya dengan cepat dan berusaha untuk menyelamatkan Huang Ran. Sementara itu tangan kirinya menyangga kepala Huang Ran di dalam pangkuannya.
Qi pengobatan yang dia berikan tidak cukup untuk menghilangkan racun yang terus menjalar itu. Racun es yang menyebar di tubuh Huang Ran begitu kuat sehingga Qi itu hanya bisa menghambatnya dan menghilangkannya sedikit demi sedikit.
'Butuh waktu yang lama untuk menolong Huang Ran. Aku tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan. Seandainya aku adalah Xiao Yin mungkin Huang Ran bisa cepat terselamatkan." Penolong itu bergumam dalam hati dan terus mengobati Huang Ran.
Keadaan alam kembali normal tetapi Fang Yin masih tetap waspada. Terlebih lagi dia melihat seseorang berada di sisi lawannya dan sedang mengobatinya.
'Pria asing itu mendapatkan bantuan dari seseorang. Aku tidak akan menghabisi orang yang lemah dan tak berdaya karena lambat laun dia akan mati. Racun es yang aku lepaskan adalah racun es terkuat yang sulit untuk dikeluarkan. Jika terlalu lama berada di dalam tubuh seseorang maka dia akan mengalami kelumpuhan.' Fang Yin berbicara pada dirinya sendiri sambil bergerak turun.
Masih dengan kewaspadaannya, Fang Yin berjalan mendekat dan mencoba melihat siapa orang yang telah menyelamatkan lawannya.
'Aku merasa tidak asing dengan aura energi orang ini tapi siapa?' Fang Yin belum bisa melihat wajah orang itu dengan jelas karena tertutup oleh aura energi pengobatan yang dikeluarkannya.
Penolong itu terjingkat ketika menyadari ada yang mendekat. Dia menoleh ke arah Fang Yin mencoba mengenali wajahnya yang tertutup oleh kain di wajahnya.
'Aku merasa akrab dengan wanita yang berpenampilan seperti ini tetapi tidak mungkin jika itu adalah Xiao Yin. Sorot matanya terlihat berbeda dengan aura yang berbeda. Aku merasakan Qi Awan Salju yang kuat dan bercampur dengan energi setara dengan energi iblis. Pantas saja racun es di tubuh Huang Ran begitu kuat.' Penolong itu menatap Fang Yin dan menganalisa energi yang dimilikinya.
Mata Fang Yin terbelalak saat melihat dari dekat orang yang sedang menyelamatkan Huang Ran. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Hampir saja dia tidak bisa mengenali orang itu.
"Kak Da Xia," bisik Fang Yin pelan.
Jarak mereka yang cukup dekat membuat Da Xia masih bisa mendengar suara Fang Yin. Keterkejutannya membuat konsentrasinya buyar dan energi pengobatan di tangannya terhenti.
Kedua sahabat lama itu saling berpandangan dengan suasana asing yang masih menyelimuti. Mereka berdiri di dalam kubu yang berbeda di mana Da Xia sedang menyelamatkan orang yang dianggapnya sebagai penjahat. Keadaan ini membuat mereka bimbang dan diliputi kesalahpahaman.
"Xiao Yin, kau kah itu?" tanya Da Xia setelah bisa mengendalikan perasaannya.
"Apa kabar, Kak Da Xia? Yin'er memberi hormat." Fang Yin tetap bersopan santun meskipun dia tidak menyukai tindakan Da Xia yang menyelamatkan musuhnya yang hampir mati itu.
"Seperti yang kamu lihat. Aku tidak menyangka jika kamu telah menjadi seorang yang luar biasa sekarang. Tapi seharusnya kamu tidak menyerang seseorang yang tidak bersalah, Xiao Yin." Da Xia menatap Huang Ran yang terlihat kehilangan semangat hidupnya.
"Siapa dia? Dia telah menyerang ibu sambung ku dan hampir membunuhnya. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik keluargaku." Fang Yin berbicara dengan nada yang tegas.
Meskipun sebelumnya mereka berhubungan baik tetapi Fang Yin tidak bisa membiarkan kejahatan terjadi di Gunung Perak. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Da Xia selama tidak berada di tempat ini. Bahkan dia tidak pulang ketika suku gletser menyerang dan saling bersitegang dengan suku es.
Da Xia menatap ke arah Huang Ran. Baru seminggu yang lalu mereka bertemu dan sepakat untuk datang ke Gunung Perak untuk bergabung bersama pasukan Guan Xing. Mereka berpisah karena Da Xia masih ada urusan.
Huang Ran bisa masuk ke Gunung Perak menggunakan token yang diberikan oleh Da Xia. Namun, tidak di sangka jika dirinya akan membuat masalah dengan Fang Yin sebelum dia datang.
"Aku akan menjelaskan semuanya tetapi kumohon selamatkan dia. Nyawaku jaminannya jika setelah ini dia berbuat kesalahan maka aku dengan suka rela mati di hadapanmu." Da Xia memohon pada Fang Yin.
Fang Yin tidak langsung setuju. Dia terlihat masih menimbang-nimbang. Hubungan keduanya akan semakin memburuk jika ternyata Huang Ran adalah orang yang penting bagi Da Xia.
"Aku melakukan ini demi pertemanan kita. Tetapi setelah ini dia harus menjelaskan apa alasannya ingin membunuh ibu sambung ku." Fang Yin mengajukan syarat.
Huang Ran mengangguk.
****
__ADS_1
Bersambung ....