Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 317. Kembali Ke Gunung Perak


__ADS_3

Jian Heng berjalan paling depan, di belakangnya diikuti oleh Fang Yin dan Guan Xing. Mereka bertiga berjalan melewati jalan setapak menuju ke sebuah reruntuhan bangunan tempat mereka singgah pada awal kedatangannya di Daratan Utara.


"Ayah Angkat!"


Suara seorang bocah yang sangat mereka kenal menggema di sekeliling tempat itu. Mereka bertiga mencari sumber suara itu tetapi tidak melihat siapa-siapa. Ketiganya kembali melangkah dan berpikir jika mereka sedang berhalusinasi.


Fang Yin tidak tertarik untuk melihatnya dengan mata batinnya. Dia memilih untuk mengabaikannya dan melanjutkan perjalanannya.


Baru sejenak mereka berpisah dengan Acong, tentu hal ini membuatnya terngiang-ngiang suaranya yang begitu menggemaskan.


"Kakak Cantik!"


Suara itu kembali terdengar dengan panggilan yang berbeda.


Mereka bertiga kembali berhenti dan melihat ke sekeliling. Ketiganya saling berpandangan seolah ingin meyakinkan diri mereka masing-masing apakah mereka benar-benar mendengar suara itu atau tidak.


"Apakah aku saja yang terngiang-ngiang suara Acong?" tanya Fang Yin sambil melihat ke arah Jian Heng dan Guan Xing secara bergantian.


"Aku juga mendengarnya," jawab Guan Xing dan Jian Heng bersamaan.


Fang Yin berjalan melewati Jian Heng dan berjalan di depan. Dia melompat ke udara lalu tubuhnya menghilang saat menggunakan teknik teleportasi.


Jian Heng dan Guan Xing menatap udara kosong, tepat di mana Fang Yin terlihat untuk yang terakhir kalinya.


"Hmm. Aku tidak habis pikir dengan mereka berdua." Jian Heng menggelengkan kepalanya lalu kembali melangkah.


Tidak ada gunanya untuk menunggu keduanya bosan bermain. Guan Xing pun tidak ingin berdiam diri di sana, dia berjalan mengikuti Jian Heng menuju ke tempat yang lebih lapang.


Untuk sampai di pemukiman suku gletser masih butuh sekitar empat ribu langkah lagi dari sana. Mereka terus berjalan tanpa menunggu Fang Yin karena keduanya tahu jika dia tidak akan kesulitan untuk mencari keberadaan mereka.


Bugh!


Suara benda jatuh membutat keduanya menoleh. Rupanya itu adalah suara Fang Yin dan Acong yang jatuh dari arah yang tidak mereka ketahui.


"Dasar anak nakal!" Fang Yin meninju bahu Acong pelang.


Keduanya kemudian tertawa bersama dengan kencang.


Jian Heng dan Guan Xing berjalan menghampiri mereka berdua yang masih tidur terlentang di atas rerumputan. Keduanya saling berpandangan tidak mengerti apa yang sedang mereka tertawakan.


"Ayah Angkat!" pekik Acong melompat lalu berdiri dengan tegap di depan Jian Heng.


"Bagaimana kamu bisa datang kemari sementara kami baru saja sampai?" tanya Jian Heng.


Jika ini dilakukan oleh Fang Yin, dia tidak akan merasa heran. Namun, ketika Acong yang melakukannya, dia pun merasa penasaran.


"Kakak cantik sudah mengembalikan kitab iblis padaku. Ini adalah salah satu kemampuan iblis yang baru saja aku pelajari," jelas Acong.


Jian Heng menoleh pada Fang Yin yang tengah terduduk di tanah. Segurat kekhawatiran tampak jelas di wajahnya. Dia takut jika Acong akan berubah menjadi iblis yang kejam setelah menguasai seluruh kitab itu.


"Tidak perlu khawatir. Semua yang dilakukan oleh Acong masih dalam pengawasanku." Fang Yin bangkit dan berdiri di samping Acong.


"Kalian begitu tega meninggalkanku begitu saja," omel Acong merajuk.


Wajahnya cemberut dengan bibirnya yang berubah seperti paruh angsa. Dia memutar tubuhnya ke samping dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Keadaan ini membuatnya terlihat sangat menggemaskan.


"Buka tanganmu!" perintah Jian Heng pada Acong.


Acong pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Jian Heng. Telapak tangan kanannya terbuka di hadapan ayah angkatnya itu.


Sebuah giok berwarna hijau kebiruan keluar dari telapak tangan Jian Heng. Giok yang sama yang diberikan kepada Fang Yin ketika mereka akan berpisah di Sekte Sembilan Bintang.


"Wah, indah sekali! Ini terlihat sebuah liontin, Ayah Angkat." Acong meneliti giok ditangannya dan terus memandanginya.

__ADS_1


"Benar. Kamu bisa memakainya, maka siapapun akan mengenalimu sebagai keluargaku."


Acong semakin senang mendengarnya, dia mencari-cari sesuatu untuk mengikat liontin itu menjadi kalung. Saat wajahnya mulai frustasi ketika tidak menemukan ide, Fang Yin maju dan memberikan sebuah tali dari benang yang dipilin menyerupai dadung kecil.


"Wah, terimakasih, Kakak Cantik. Kalian berdua memang orang tua keduaku yang paling pengertian." Acong segera memakai kalung benang berliontin giok dari Jian Heng dan Fang Yin.


"Keluargamu akan cemas saat menyadari kehilanganmu. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Ingat, jangan nakal. Kalau kamu menjadi iblis jahat, akulah orang pertama yang akan membunuhmu," ancam Fang Yin.


"Mana aku berani, Kakak Cantik. Aku berhutang nyawa padamu, seumur hidupku aku akan mematuhimu." Acong berkata dengan yakin.


"Bagus. Kami pergi dulu. Sampai ketemu di lain waktu!" Fang Yin menepuk bahu Acong lembut.


Di luar dugaan semua orang, Acong memeluknya dengan erat lalu menangis tersedu-sedu. Fang Yin membalas pelukannya dan mengusap punggungnya dengan lembut. Jian Heng mengeratkan gigi-giginya, dia tidak rela melihat keduanya berpelukan.


"Berikan pelukan untuk ayah juga." Jian Heng merentangkan kedua tangannya agar Acong segera melepaskan Fang Yin.


Timbul ide jahil di pikiran Acong. Dia ingin membuat ayahnya itu menjadi kesal.


"Kakak cantik, bolehkah aku memanggilmu 'ibu'. Semua orang bilang kamu sangat mirip dengan ibuku, walaupun rambut ibuku tidak sebagus rambutmu." Acong mengelus rambut panjang Fang Yin tanpa melepaskan pelukannya.


"Terserah kamu saja. Asal kamu tidak menuntutku untuk menjadi ibu sungguhan."


Jawaban dari Fang Yin membuat Jian Heng tersenyum senang.


Merasa gagal dengan misinya, Acong pun beralih memeluk Jian Heng. Ayah angkatnya itu tidak terpancing emosi meskipun dia merasa kesal saat dia menggoda Fang Yin.


"Jaga dirimu baik-baik. Pesanku sama dengan pesan ibu angkatmu. Jaga nama baik kami dan berpikirlah sebelum melakukan sesuatu." Jian Heng menasehati Acong.


Acong mengangguk. Mulutnya terasa sulit untuk terbuka karena terbungkam oleh kesedihan. Dia juga memeluk Guan Xing dan berpamitan padanya.


Tanpa banyak bicara lagi, Acong pun pergi melintasi ruang dan waktu dengan cepat. Untuk sejenak mereka bertiga tertegun melihat tempat terakhir bayangan Acong terlihat lalu kembali berjalan untuk melanjutkan perjalanannya.


Hanya Fang Yin yang bisa merasakan jika Acong belum pergi dari sana. Dia menatap mereka bertiga dari tempat yang tidak terjangkau oleh mata.


Fang Yin meminta Guan Xing untuk memimpin di depan. Tujuan perjalanan mereka setelah ini adalah tempat yang sangat dikenal oleh Guan Xing. Sudah cukup lama dia tinggal di Daratan Utara bersama suku gletser.


Mereka melangkah dengan ringan tanpa beban. Tidak banyak waktu yang mereka habiskan untuk mencapai tempat itu. Rumah-rumah penduduk sudah terlihat dan beberapa orang juga terlihat sedang melakukan aktifitasnya.


Seseorang mengenali Guan Xing dan berteriak untuk memanggil seluruh warga untuk datang. Satu demi satu mereka berdatangan dan berdiri menyambut kedatangan mereka bertiga.


Mereka terlihat antusias saat melihat kedatangan pemimpin mereka. Seluruh anggota suku gletser memberi hormat secara serempak pada ketuanya.


Guan Xing memperkenalkan Fang Yin dan Jian Heng sebagai anggota suku es. Di luar wilayah Gunung Perak, identitas mereka masih perlu untuk dirahasiakan.


Penduduk suku gletser terlihat gelisah ketika mendengar nama suku es. Mereka tahu jika sebelumnya Guan Xing pergi untuk mengambil wilayah yang didiami oleh suku yang serumpun dengan mereka itu. Dengan kata lain, hubungan mereka seharusnya tidak baik-baik saja saat ini.


Sebelum mereka semakin salah paham, Guan Xing akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya menyampaikan cerita singkatnya saja. Hari ini juga mereka sudah harus meninggalkan tempat ini untuk kembali ke Gunung Perak.


Para penduduk suku gletser diminta untuk mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk berangkat. Guan Xing, Jian Heng dan Fang Yin menunggu mereka di perbatasan desa.


"Apakah ini tidak terlalu buru-buru, Kakek lesung pipi?" tanya Fang Yin.


Mereka bertiga sedang duduk di sebuah tempat peristirahatan yang berada di samping gerbang desa.


"Aku rasa tidak. Setelah ini kita masih banyak urusan yang harus dikerjakan. Agenda penyerangan ke wilayah Kekaisaran Benua Timur semakin dekat dan perlu kita persiapkan dengan matang," jelas Guan Xing.


"Aku merasa tersanjung atas dukungan darimu, Kakek lesung pipi. Apa yang kamu katakan memang benar. Aku harus menghimpun pasukan sebanyak mungkin dan memastikan mereka tidak saling berseteru satu sama lain. Kurasa ini sedikit sulit mengingat aku tidak pandai untuk membentuk sebuah organisasi."


Fang Yin terlihat murung. Wajahnya tertekuk dan menjadi tidak bersemangat mengingat jalannya yang begitu berat. Sebuah jalan yang belum terlihat memang menguji keyakinan seseorang untuk melangkah.


Sesungguhnya semua jalan memang tidak mudah, seperti ketika dia baru memulai untuk mencari Kitab Sembilan Naga.


"Aku akan membantumu untuk mengatur strategi, Yin'er. Jangan cemas. Kita akan melakukannya bersama-sama." Jian Heng mencoba untuk menenangkan Fang Yin.

__ADS_1


Fang Yin menatapnya dalam lalu mengangguk pelan. Saat ini dia tengah berada di tengah-tengah orang-orang yang menyayanginya dan membuatnya tidak merasa berjuang sendiri.


Penduduk suku gletser siap untuk berangkat menuju ke Gunung Perak. Mereka akan melakukan perjalanan melalui jalur darat. Butuh waktu sekitar dua hari untuk sampai tujuan.


Fang Yin melompat ke arah gerobak barang yang ditarik oleh seekor kuda. Ada beberapa kereta yang membawa anak-anak dan lansia. Selain itu, mereka berjalan kaki beriring-iringan.


Sebagian besar penduduk suku gletser telah berada di Gunung Perak. Rombongan mereka kali ini didominasi oleh para wanita, anak-anak dan lansia. Hanya sedikit pria kuat yang bertugas untuk menjaga mereka selama Guan Xing dan pasukannya tidak berada di tempat.


Jumlah mereka keseluruhan kurang dari lima puluh orang sehingga iring-iringan rombongan itu tidak begitu panjang. Mereka melewati jalur yang biasa dilalui oleh para pedagang.


Setelah keluar dari wilayah Daratan Utara, mereka memasuki jalan bebatuan yang melintasi tebing yang curam. Mereka berjalan hati-hati mengingat dalamnya jurang di satu sisi mereka.


Tanpa sepengetahuan mereka, Fang Yin memasang pelindung untuk berjaga jika ada yang lengah saat melangkah. Jalanan menurun untuk menuju ke hutan juga cukup berbahaya, salah sedikit mereka bisa celaka.


Guan Xing memimpin di depan, sedangkan Jian Heng mengawasi keadaan dengan melayang di udara. Fang Yin berada di gerobak yang berada paling belakang sekaligus memastikan keamanan para penduduk yang berjalan di depannya.


Panasnya matahari yang terik segera berganti dengan kesejukan ketika mereka melintasi sebuah hutan. Menurut cerita Guan Xing, setelah keluar dari hutan mereka akan bertemu dengan wilayah pedesaan yang merupakan bagian dari Kekaisaran Benua Timur juga.


Desa yang cukup luas dan padat penduduk. Untuk sampai di Gunung Perak, masih ada tiga desa lagi yang harus mereka lewati.


Rombongan itu tidak berhenti di desa yang pertama mengingat hari yang masih terang. Mereka memilih untuk bermalam di desa yang kedua.


Alam merestui perjalanan mereka sehingga menjadi lancar tanpa halangan. Sesuai perkiraan mereka, rombongan itu sampai di desa yang kedua ketika senja mulai turun.


Guan Xing meminta semua orang menunggu di luar gerbang desa. Sopan santunnya sangat tinggi, dia pergi menemui kepala desa tersebut untuk meminta ijin sebelum dia membawa rombongannya masuk.


Tidak lama kemudian Guan Xing sudah kembali untuk menyusul rombongannya dan membawa mereka masuk ke desa. Kepala desa meminjamkan ruang pertemuan untuk mereka beristirahat.


Mereka tidak banyak membawa perbekalan sehingga makanan yang mereka bawa tidak mencukupi untuk dibagikan. Melihat akan hal ini, Jian Heng merasa berempati dan pergi keluar untuk mencari makanan untuk mereka semua.


Fang Yin pun tidak tinggal diam. Dia pergi untuk mengikuti Jian Heng.


"Kak Heng! Aku ikut!" panggil Fang Yin sambil berlari-lari kecil menghampiri Jian Heng.


Para wanita saling berbisik untuk menggunjing keduanya. Meskipun sudah ada perdamaian, tetapi mereka tidak bisa langsung menyukai orang-orang dari suku es. Dengungan mereka terdengar hingga ke telinga Guan Xing, dia segera menghampiri mereka dengan wajah yang sulit dimengerti.


"Apa yang kalian bicarakan? Siap-siap saja kalian kelaparan jika membuat mereka tersinggung," ancam Guan Xing.


Mereka tidak mengerti dengan maksud dari perkataannya. Namun, mereka tidak yakin jika Jian Heng dan Fang Yin akan peduli pada nasib mereka yang sedang dilanda kelaparan. Menilik dari penampilan mereka berdua, terlihat mereka adalah seorang rakyat biasa yang tidak memiliki banyak uang.


Para penduduk itu terdiam. Meskipun mereka tidak percaya, tetapi mereka tidak berani untuk menentang Guan Xing. Mereka memilih untuk beristirahat tanpa banyak bicara lagi sambil menahan lapar.


Perut yang lapar membuat sebagian penduduk merasa gelisah. Mereka mengalah untuk anak-anak dan memberikan bagian untuk mereka. Guan Xing duduk bersandar sambil memperhatikan pintu menunggu kedatangan Fang Yin dan Jian Heng.


Orang yang mereka tunggu pun datang. Guan Xing segera berdiri dan menyambut kedatangan mereka. Para penduduk terlihat kecewa saat melihat keduanya datang dengan tangan kosong. Mereka semakin yakin jika pemimpin mereka hanya menutupi keburukan mereka dengan pujian.


"Apakah mereka sudah makan?" tanya Jian Heng.


"Sebagian belum, Tuan Heng," jawab Guan Xing.


Jian Heng mengangguk. Dia meminta Guan Xing untuk membentangkan kain yang bersih, lalu beberapa saat kemudian banyak sekali makanan keluar dari cincin penyimpanannya.


Para penduduk pun merasa heran, pasalnya hanya para bangsawan yang memiliki cincin semacam itu. Mereka pun akhirnya mengerti mengapa Guan Xing begitu menghormati mereka berdua.


Jian Heng dan Fang Yin membagi makanan-makanan itu untuk para penduduk suku es. Mereka sangat berterimakasih kepada mereka berdua.


Bisik-bisik masih terus terdengar, tetapi mereka tidak lagi membicarakan keburukan keduanya. Beberapa orang gadis mendapat pelototan dari Fang Yin saat mereka mencoba untuk mendekati Jian Heng. Mereka berpikir jika wajah Fang Yin yang tertutup itu sangatlah buruk.


"Kak Heng, bisakah kamu tidak menarik perhatian para wanita sehari saja?" bisik Fang Yin sambil menyikut lengan Jian Heng.


Jian Heng tersenyum tanpa dosa sambil melirik ke arah Fang Yin dan mengerlingkan sebelah matanya.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2