Kultivasi Dewi

Kultivasi Dewi
Bab 309. Sebuah Siasat


__ADS_3

Fang Yin menghela napas dalam dan mengumpulkan kesabarannya. Ini bukan pertama kalinya Jian Heng bersikap menyebalkan padanya. Sikapnya terkadang sangat aneh ketika Fang Yin melakukan hal yang tidak disukainya.


"Syaratnya, beri pakaian yang pantas untuknya karena dia akan terus mengalami pertumbuhan yang cepat," ucap Fang Yin dengan suara pelan.


Acong yang tidak mengerti dengan urusan orang dewasa hanya diam dan menuruti apa kata mereka. Dia percaya apapun yang mereka lakukan adalah demi kebaikannya.


Rombongan Qin Yushang dan yang lainnya telah jauh berada di depan. Melihat hal itu, Fang Yin, Jian Heng dan Acong segera menyusul mereka sebelum mereka semua menyadarinya.


Di kediaman Qin Yushang,


Mereka duduk bersama dan membicarakan rencana ke depannya. Para iblis itu berjanji tidak akan membuat keributan di sana selama tinggal. Namun, mereka meminta tempat tinggal dan makanan yang layak seperti yang mereka makan.


Qin Yushang dan yang lainnya menyanggupinya. Mereka segera menyiapkan sebuah villa kosong milik salah satu tetua yang gugur dalam pertarungan melawan Qin Gongni. Untuk makanan mereka akan dikirimkan setiap waktu makan.


Para iblis api itu menyetujuinya. Mereka akan tinggal di tempat itu dan melakukan aktifitas mereka di sana. Jika diperlukan mereka akan melakukan hal ringan yang bisa mereka lakukan seperti masyarakat kebanyakan.


Fang Yin melarang mereka melakukan aktifitas itu dan meminta mereka untuk tetap tinggal di dalam villa. Dia memberikan alasan bahwa tidak semua orang memiliki keberanian. Melihat wajah dan penampilan mereka yang aneh, penduduk bukit Giok Hitam pasti akan merasa takut.


Jika Fang Yin sudah berbicara, maka tidak ada satupun dari iblis api itu yang berani menentangnya. Mereka akan melakukan apa yang diperintahkan dan melakukan aktifitas di tempat tinggal mereka saja.


Pembicaraan itu selesai. Qin Yushang dan Guan Xing mengantarkan para iblis itu ke villa yang disediakan. Para tetua juga mengikuti mereka di belakang.


Fang Yin pergi ke kamarnya sementara Jian Heng masih mengurus Acong. Dia bertindak sebagai orang tua untuknya sementara waktu.


Diam-diam Fang Yin mengintip apa yang dilakukan oleh Jian Heng. Dia terlihat begitu sabar mengurus anak itu seperti keluarganya sendiri.


'Sepertinya di masa mendatang Kak Heng akan menjadi ayah yang baik.' Fang Yin bergumam dalam hati.


Fang Yin melamun sambil tersenyum hingga dia tidak menyadari kehadiran Qin Yu Zhu di belakangnya. Dia terkejut ketika dia menyentuh bahunya.


"Maaf mengejutkanmu, Nona Yin. Ayah menyuruhku untuk memanggil Anda ke ruang perjamuan," ucapnya sopan.


"Terimakasih." Fang Yin membalas penghormatan Qin Yu Zhu.


Wanita itu kemudian berjalan ke arah Jian Heng dan Acong. Fang Yin mengikutinya di belakang. Dia tidak ingin memberikan kesempatan pada wanita itu untuk mengobrol dan berbincang lama dengannya.


"Tuan Heng, ayah meminta Anda dan Acong untuk pergi ke ruang perjamuan," ucap Qin Yu Zhu sambil melirik ke arah Fang Yin dengan perasaan canggung.


Tatapan Fang Yin membuatnya merasa segan. Mengingat akan kehebatannya, siapapun pasti akan berpikir seribu kali untuk menyinggungnya.


Sejak mengetahui jika putri pemimpin bukit Giok Hitam itu menaruh hati pada Jian Heng, Fang Yin selalu mengawasinya tanpa sepengetahuannya.


'Aku tidak ingin wanita manapun mendekati Kak Heng. Lebih baik mereka patah hati sekarang daripada terus bermimpi. Tidak masalah jika aku dianggap sebagai wanita yang posesif. Di kehidupan sebelumnya aku melajang dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pria yang kucintai. Di masa sekarang aku akan memperjuangkan cintaku.' Fang Yin bermonolog dalam hati sambil terus menatap dingin ke arah Qin Yu Zhu.


Jian Heng mengerti akan tatapan mengancam di mata Fang Yin. Senyumnya terbit ketika melihat ekspresi wajah wanita cantik itu. Dia semakin yakin jika Fang Yin tidak suka Qin Yu Zhu mendekatinya.


"Mari kita berangkat ke ruang perjamuan," ajak Jian Heng.


Dia meletakkan tangan kanannya di pundak Acong dan membawanya berjalan ke ruang perjamuan.


Fang Yin dan Qin Yu Zhu berjalan di belakangnya tanpa suara. Mereka tidak ingin mencoba akrab. Dari awal pertemuan, Fang Yin sudah tidak menyukai Qin Yu Zhu.


Di ruang perjamuan sudah ramai. Kelima iblis api juga berada di sana. Mereka diundang oleh Qin Yushang untuk makan bersama. Tidak ada yang berani untuk mengantarkan makanan ke villa yang mereka tinggali.


Mereka tidak banyak bersuara selama perjamuan. Hanya suara alat makan saja yang sesekali berbunyi dalam keheningan.


"Aku pikir iblis api sangat menakutkan. Ternyata mereka memiliki wajah yang tampan," bisik Nyonya Qin pada Qin Yu Zhu.


"Memangnya ibu mau bermenatukan iblis?" sungut Qin Yu Zhu.


Ungkapan ibunya itu seolah-olah mendorongnya untuk mengagumi iblis api. Sebenarnya Qin Yu Zhu juga mengakui jika para pria iblis itu memang tampan tetapi dia lebih tertarik pada Jian Heng.


Nyonya Qin tidak menjawab ucapan Qin Yu Zhu. Dalam urusan pasangan hidup, dia tidak bisa memberikan usulan. Di dalam aturan keluarga mereka, tidak ada paksaan dalam mencari pasangan.


Xin Nian datang bersama beberapa orang gadis yang membawa kotak berisi kue. Mereka sengaja membuatnya untuk Jian Heng, Fang Yin dan Guan Xing sebagai ucapan terimakasih. Masing-masing mendapatkan satu kotak dari mereka.


Beberapa gadis di belakang Xin Nian membawa buah di dalam keranjang. Mereka meletakkannya di meja sebagai hidangan pencuci mulut.


Fang Yin berjalan mendekati para pria iblis yang berkumpul di sudut ruangan. Mereka mengambil tempat terpisah dari para manusia.


"Ini untuk kalian." Fang Yin memberikan kotak berisi aneka kue miliknya untuk para iblis itu.


"Kamu begitu murah hati, Nona. Kamu merelakan tanda penghormatan ini untuk kami," ucap salah satu iblis menerima pemberian Fang Yin dengan sopan.


"Ini bukan sebuah hal yang besar. Makanlah!" Fang Yin berbalik meninggalkan mereka.


"Terimakasih, Nona."


Fang Yin berhenti sejenak lalu mengangguk tanpa menoleh ke belakang. Dia kembali ke sisi Jian Heng dan Guan Xing.


Jian Heng membuka kotak makanan itu dan membaginya dengan Fang Yin dan Acong. Sementara itu, Guan Xing membagi pengamannya dengan keluarga Qin.


Xin Nian dan para gadis itu merasa senang ketika kue buatan mereka disukai oleh orang-orang yang ada di sana. Mereka juga mengagumi para iblis tampan itu dan diam-diam memperhatikan mereka.


Meskipun iblis api memiliki wajah yang tampan, tetapi mereka tidak memiliki perasaan hangat dan hati yang lembut seperti manusia. Mereka juga kurang tertarik pada wanita yang lemah dan banyak tingkah. Di ruangan itu hanya Fang Yin yang menarik perhatian mereka.


"Yin'er!" panggil Jian Heng lembut.


"Hmm." Mulut Fang Yin masih penuh dengan kue yang lezat.


"Apakah seorang iblis juga memiliki perasaan cinta?"


Fang Yin menghentikan kunyahan di mulutnya. Dia menatap Jian Heng dengan tatapan aneh. 'Pertanyaan macam apa ini? Apakah Jian Heng cemburu pada iblis-iblis itu? Hmmh!'


"Mana saya tahu. Saya tidak tahu dengan kehidupan mereka." Fang Yin memberi jawaban yang tidak pasti.


Jian Heng terdiam. Dia menatap tajam ke arah iblis yang sedang menatap Fang Yin sehingga membuat mereka segan.


Qin Yushang datang menghampiri Fang Yin dan Jian Heng.


"Nona Yin, maaf merepotkanmu. Apakah Anda bersedia untuk mengajarkan beberapa teknik pengobatan pada kami?" Qin Yushang menyatukan tangannya memberi hormat ketika bicara.


Fang Yin tampak berpikir. Tidak semua orang memiliki bakat dalam bidang pengobatan. Meskipun dia hebat dalam ilmu beladiri, belum tentu dia akan memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang tabib atau ahli alkimia.


"Aku hanya bisa mengajarkan ilmu pengobatan pada orang yang mengerti tentangnya. Selain itu aku tidak bisa. Aku tidak memiliki kesabaran untuk mengajarkan semuanya dari awal," tegas Fang Yin.


Qin Yushang mengangguk.

__ADS_1


Di wilayah ini hanya ada sebuah keluarga yang secara turun temurun memiliki kemampuan untuk meramu obat. Selama ini mereka adalah orang yang bertugas untuk membuat pil kabut embun. Qin Yushang menceritakan tentang keluarga Yu pada Fang Yin.


Fang Yin menyetujuinya. Mulai besok dia akan memberikan pelatihan untuk mereka.


Xin Nian dan teman-temannya berjalan menghampiri pemimpin Qin Yushang yang sedang berbincang bersama Fang Yin. Dia berpamitan untuk pulang.


"Tunggu!" seru Fang Yin.


Mereka terkejut ketika mendengar Fang Yin tiba-tiba menghentikan mereka. Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benak mereka.


Fang Yin berjalan maju mendekati mereka. Pandangannya kini tertuju ke arah lain. Dia menatap Qin Yu Zhu dan ibunya.


"Nona Qin! Kemarilah!" panggil Fang Yin.


Beberapa buah pakaian dan hiasan rambut keluar di telapak tangannya. Baju-baju itu sangat indah, tetapi Fang Yin tidak menyukainya. Barang-barang itu dia dapatkan sebagai hadiah.


"Kalian ambil masing-masing satu buah. Ini bukan barang bekas. Semuanya masih baru dan sekalipun aku belum pernah memakainya." Fang Yin memberikan barang-barang itu pada Xin Nian dan menyerahkan pembagian ini padanya.


Para gadis itu terlihat sangat senang. Mereka berebut barang yang mereka inginkan. Semuanya kebagian, meskipun terkadang masih ada rasa iri karena melihat benda yang berbeda dan menurutnya lebih indah.


Jian Heng dan Qin Yushang menatap Fang Yin tidak percaya. Dibalik sikapnya yang tegas dan terlihat acuh, rupanya memiliki sisi kepedulian yang tinggi


Para gadis di desa ini berpenampilan sangat sederhana. Mereka tidak memiliki banyak pakaian. Model yang mereka miliki pun sama seperti yang dikenakan oleh wanita yang lebih tua. Fang Yin merasa iba dan memberikan baju-bajunya yang tidak terpakai untuk mereka.


Para iblis api datang mendekat.


"Apakah Anda juga memiliki pakaian pria untuk dibagikan?" tanyanya.


Fang Yin mengamati pakaian mereka yang terlihat lusuh. Sayangnya dia tidak memiliki pakaian pria untuk mereka.


"Aku ada beberapa." Jian Heng berjalan ke depan dan berdiri di samping Fang Yin.


Tangannya membuka ke atas dan muncullah lima pasang pakaian untuk mereka. Baju-baju itu juga masih baru. Sebagai seorang pangeran, Jian Heng memiliki selera yang bagus dalam hal memilih pakaian.


"Ambillah!" perintah Jian Heng.


"Terimakasih, Tuan."


Para pria dari ras iblis api itu terlihat senang. Mereka mengambil pakaian yang mereka suka dan mencobanya. Pakaian-pakaian itu membuat mereka terlihat seperti seorang bangsawan.


Keseruan di siang itu telah berakhir. Semua orang kembali ke tempatnya masing-masing. Jian Heng membawa Acong pergi ke kamarnya. Selama menjadi tanggung jawabnya, dia merawatnya dengan baik.


Jian Heng memberikan tempat tidurnya untuk Acong, sementara itu dia berkultivasi di sampingnya. Semua yang terjadi hari ini menjadi pengalaman baru baginya dan berharap kaum iblis itu akan berpihak pada Fang Yin.


'Seandainya pasukan iblis api tunduk pada kekuasaan Fang Yin, maka ini akan memberinya sokongan besar untuk melawan Kaisar Ning. Mereka sangat kuat dan akan sulit diatasi oleh prajurit biasa.' Jian Heng berangan-angan.


Meskipun hatinya cemburu saat melihat tatapan kekaguman dari para iblis itu, tetapi Jian Heng masih berpikir rasional. Dia tetap mengutamakan kepentingan Fang Yin di atas perasaan pribadinya.




Tempat tinggal iblis api berada di seberang villa milik Qin Yushang. Mereka mematuhi perintah Fang Yin dan tidak keluar dari villa tanpa seijinnya.




Qin Yu Zhu mengendap-endap dan berdiri mematung di samping jendela kamar Jian Heng. Tempat itu sangat tersembunyi karena berada di luar villa dan dikelilingi oleh tanaman hias. Wanita itu merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Jian Heng di siang hari.



Tidak terdengar suara dengkuran dan percakapan. Suasana di kamar Jian Heng begitu hening. Penasaran dengan apa yang terjadi di kamar. Qin Yu Zhu mencari lubang di dinding dan mengintipnya ke dalam.



Matanya terbelalak saat melihat Jian Heng sedang diselimuti oleh aura energi yang menerangi seluruh ruangannya. Acong terlihat sedang terlelap di hadapannya tanpa terganggu sedikitpun.



'Kamu begitu hebat, Tuan Heng. Aku harus mendapatkanmu. Aku tidak peduli meskipun aku hanya akan menjadi selirmu.' Qin Yu Zhu tersenyum.



Di kejauhan terdengar Nyonya Qin memanggilnya. Qin Yu Zhu segera beranjak dari tempatnya dan berjalan berjingkat.



Ketika dirinya berjalan tergesa meninggalkan kamar Jian Heng, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Orang itu mungkin berpikir jika Qin Yu Zhu adalah penyusup karena mengenakan pakaian tertutup yang tidak memperlihatkan wajahnya.



Orang itu pun terkejut saat melihat wajah Qin Yu Zhu.



"Nona! Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Wong Li.



Qin Yu Zhu terlihat salah tingkah. Dia berpikir untuk mencari alasan yang tepat. Matanya menangkap sebuah tanaman herbal yang biasa digunakan untuk campuran memasak.



"Ah, itu, aku sedang mencari daun lima jari. Aku lupa di mana tanaman itu tumbuh," ucap Qin Yu Zhu gugup.



Dalam hati dia berharap Wong Li akan mempercayainya. Hanya itu satu-satunya alasan yang terpikirkan olehnya dan sedikit masuk akal.



Wong Li mengangguk. Dia percaya dengan ucapan Qin Yu Zhu.



Suara Nyonya Qin kembali terdengar. Ini menjadi kesempatan bagi Qin Yu Zhu untuk pergi dari sana. Dia tidak perlu lagi beralasan pada Wong Li.

__ADS_1



"Wong Li, aku pergi dulu. Ibuku telah memanggilku." Qin Yu Zhu berbalik lalu meninggalkan Wong Li tanpa menunggunya membalas ucapannya.



Wong Li hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan aneh.



'Ada apa dengan Nona Qin Yu Zhu? Dia terlihat ketakutan. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.' Wong Li bermonolog dalam hati dan menduga-duga.



Wong Li merupakan orang kepercayaan Tetua Jung. Dia bertugas untuk melakukan patroli di wilayah bukit Giok Hitam dan memastikan keadaan aman. Dalam menjalankan tugasnya, dia seringkali melakukannya dengan diam-diam.



Fang Yin merasakan hawa kehadiran Wong Li dan Qin Yu Zhu di sekitarnya, tetapi dia mengabaikannya. Keadaan di sekitarnya tidak menunjukkan sesuatu yang membahayakan. Dia kemudian merasakan aura iblis api di kejauhan. Mereka juga tidak menunjukkan sinyal perlawanan. Energi yang terlihat tidak mengisyaratkan aura yang kuat.



Setelah selesai berkultivasi, Fang Yin meninggalkan alam sadarnya menuju ke dimensi miliknya. Berlatih di malam hari saja akan memakan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan Kitab Sembilan Naga bintang sembilan.



Di alam dimensinya, Fang Yin bisa melakukan latihan yang memerlukan ruang. Dia membawa serta fisiknya dan melakukan latihan secara sadar. Seseorang tidak akan bisa menemukannya sampai dia kembali ke dunia sesuai dengan keinginannya.



Fang Yin melakukan pelatihan tahap kedua dengan yang berhubungan dengan pengendalian Qi dan Jurus Napas Naga tingkat tinggi. Latihan kali ini tidak memerlukan ketelitian dan kecepatan gerakan seperti latihan pedang pada tahapan sebelumnya. Namun, pelatihan ini juga tidak bisa dibilang mudah.



Ada beberapa teknik yang perlu disempurnakan di mana Fang Yin harus bisa mengendalikan Qi dengan cepat untuk menghilangkan jejak energi yang tersebar setelah pertarungan. Selain menghapus jejak energi dan hawa kehadirannya, jurus ini juga bisa menyerap energi dan esensi kultivasi lawan dalam jarak dekat. Dengan kata lain, teknik penarikan dan pelepasan Qi harus dilakukan secara tepat.



Saat berlatih, Fang Yin memadukan jurus ini dengan teknik teleportasi lintas ruang. Lawannya tidak akan menyadari kehadirannya dengan Jurus Napas Naga yang telah sempurna.



'Latihan ini cukup rumit juga. Huft! Tapi aku tidak boleh menyerah.' Fang Yin beberapa kali gagal melakukan penyatuan jurus itu, tetapi dia tidak menyerah



Dia melompat ke udara, melintasi ruang dan dimensi secara bergantian. Setelah dia bisa melakukannya dengan baik, Fang Yin mencoba untuk menerapkan Jurus Napas Naga di sela-sela melakukan teknik teleportasi lintas ruang.



'Aku harus melakukan penghitungan waktu dalam melakukan teknik ini. Jika aku melakukannya secara acak maka aku tidak bisa mengontrol gerakanku dengan pasti dan terarah.' Fang Yin berpikir untuk menganalisa kekurangan dalam perpaduan jurus yang dilakukannya.



Hampir seharian Fang Yin berlatih hingga tidak menyadari jika hari telah malam.



Jian Heng mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. Namun, Fang Yin tidak juga memberikan jawaban.



"Acong, kemana dia?" tanya Jian Heng sambil menatap ke arah Acong.



Acong mengangkat bahunya sebagai isyarat jika dia tidak tahu. Tanpa meminta pendapat Jian Heng, dia mendorong pintu kamar Fang Yin dengan Qi dari tubuhnya.



Pintu kamar Fang Yin terbuka tetapi tidak ada siapapun di dalam kamarnya.



Jian Heng menyalakan lentera yang ada di kamar Fang Yin. Acong mengikutinya di belakang. Mereka saling berpandangan saat tidak merasakan hawa kehadiran manusia di dalamnya.



"Kemana nona cantik pergi? Apakah dia meninggalkan kita di sini?" Acong terlihat sedih.



Belum sempat Jian Heng menjawab pertanyaan Acong, Fang Yin muncul tiba-tiba di hadapan mereka dari tempat yang tidak diketahui.



"Aku di sini," ucap Fang Yin.



Acong terkejut lalu melompat dengan cepat memeluk Jian Heng. Dia berpikir jika wanita di hadapannya itu bukan Fang Yin yang dia kenal.



Di ruang perjamuan, Qin Yu Zhu melakukan siasat. Dia ingin merencanakan sesuatu untuk menjebak Jian Heng.



'Aku harus mencari kesempatan untuk menuangkan ramuan ini.' Qin Yu Zhu mengusap lengan bajunya, tempat di mana dia menyimpan sebuah botol kecil.



\*\*\*\*



Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2