
Fang Yin mencoba untuk melanjutkan pencarian Kitab Sembilan Naga bintang sembilan di tempat tinggal ibunya. Namun, dia merasakan tubuhnya terasa seperti terhimpit oleh dua buah batu besar. Dadanya terasa sesak dan sangat sulit untuk bernapas.
Waktu yang dia miliki di dalam diagram pembebas jiwa sangat terbatas. Apa yang dia alami saat ini menandakan dia harus mengakhiri pencariannya.
Perlahan Fang Yin menarik jiwanya kembali. Tubuhnya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Diagram ini memiliki batasan yang tidak bisa dilanggar atau semuanya akan menjadi sia-sia.
Suasana di sekeliling Fang Yin berubah ketika dia telah berhasil keluar dari diagram pembebas jiwa. Cahaya energi yang terpancar di depannya semakin pudar dan menghilang.
Dia merasa tubuhnya sangat lelah seperti baru selesai melakukan latihan berat. Kakinya gemetar dan tangannya seakan mati rasa.
"Apakah Anda baik-baik saja, Yang Mulia?" tanya Kakek Tse. Dia segera menghampiri Fang Yin dan membantunya berjalan keluar dari ruangan itu.
"Terimakasih, Kek." Wajah Fang Yin terlihat sangat lelah.
Sesampainya diluar ruangan, dia terkejut saat melihat hari telah pagi. Mereka berhenti sejenak saat Kakek Tse kembali memasang mantra pelindung pada ruangan yang menyimpan diagram pembebas jiwa.
Fang Yin masih berdiri dengan keheranannya. Dia berjalan pelan meninggalkan Kakek Tse dan melihat suasana di luar ruangan. Ternyata hari memang sudah pagi.
"Kek, berapa lama aku berada di dalam diagram itu?" tanya Fang Yin masih kurang yakin dengan apa yang dilihatnya.
Kakek Tse tahu apa yang dipikirkan oleh Fang Yin. Dia pasti merasa bingung dengan perbedaan waktu yang mencolok saat di dalam dan di luar diagram pembebas jiwa.
"Anda pasti merasa hanya sebentar saja saat berada di dalam diagram itu, pada kenyataannya Anda telah berdiri sangat lama. Memang begitulah kenyataannya, antara dimensi ruang dan dimensi jiwa memiliki perbedaan. Satu hari pada dimensi kita saat ini hanya sepenggal waktu saja di sana. Anda pasti merasa waktu Anda hanya sebentar saja," jelas Kakek Tse.
Fang Yin mengangguk. Kini dia tahu alasan dari aturan ketat yang dijelaskan oleh Kakek Tse padanya. Memang sangat membahayakan jika seseorang sampai tersesat dari tujuannya yang sebenarnya. Mungkin dia akan kembali dalam keadaan terluka parah.
Kakek Tse meminta Fang Yin untuk beristirahat di kamar tamu. Kondisi tubuhnya perlu dipulihkan setelah energinya terkuras.
Kamar sederhana yang jauh dari kata mewah. Namun, suasana di sekitarnya membuat Fang Yin merasa sangat nyaman.
Fang Yin menelan sebuah pil pemulih tenaga lalu berkultivasi di atas ranjang sederhana itu. Esensi energi di sekitar tempat itu cukup kuat. Saat ini dia membutuhkan energi yang besar untuk menggantikan energinya yang telah hilang.
Rasa yang berbeda dia rasakan dalam tubuhnya, setelah menyerap pembuka formasi sembilan matahari, dia berkultivasi dengan sangat cepat. Tubuhnya seperti sebuah penghisap yang mampu menyerap energi dengan cepat.
Dalam waktu yang sangat singkat, pundi-pundi energi Fang Yin telah kembali penuh. Sebuah peningkatan yang cukup signifikan.
Hari masih sangat pagi, tetapi mata Fang Yin yang tidak tidur semalaman merasa sangat mengantuk. Posisinya masih dalam keadaan terduduk ketika matanya terpejam. Tubuhnya bergerak secara perlahan dan tumbang di atas tempat tidurnya.
Tanpa mantra pelindung, keadaan di sekelilingnya sangat aman. Hanya ada Kakek Tse dan binatang roh yang tidak akan muncul di hadapannya di sana.
Kakek Tse datang untuk mengantarkan makanan untuk Fang Yin. Melihatnya sedang tidur pulas, dia meletakkannya di atas sebuah meja yang ada tidak jauh dari tempat tidurnya.
Baru beberapa langkah Kakek Tse meninggalkan meja itu, Fang Yin terbangun karena mencium aroma masakan yang sangat wangi. Dia langsung terduduk dan mendapati kakek Tse telah berjalan menjauh.
"Kakek, tunggu!" seru Fang Yin sambil menahan rasa kantuknya.
Belum lama dia tertidur dan rasa lapar membuatnya tidak tahan saat mencium aroma masakan yang lezat. Sepertinya kakek Tse juga belum sarapan karena di atas nampan yang dia bawa ada dua buah mangkuk.
Mendengar panggilan Fang Yin, Kakek Tse menghentikan langkahnya. Dia berbalik menghampiri meja tempat dia menaruh makanannya.
Mereka berdua memakan makanan itu bersama-sama. Masakan kakek Tse sangat lezat dan membuat Fang Yin yang kelaparan memakannya dengan sangat lahap.
"Seharusnya aku yang memasak untuk kakek. Sayangnya aku tidak pandai memasak," sesal Fang Yin.
"Jangan terlalu pikirkan! Anda adalah seorang putri yang terbiasa dilayani, bukan hal yang aneh jika Anda tidak bisa memasak." Kakek Tse tidak keberatan memasak karena setiap hari dia juga memasak untuk dirinya sendiri.
"Aku pernah tinggal di hutan dalam waktu yang cukup lama. Sering kali aku berburu binatang untuk kupanggang. Tidak jarang pula aku memasak jamur dan membuat sup tanpa bumbu apapun." Fang Yin menceritakan pengalamannya.
"Itu adalah sebuah hal yang membanggakan, Yang Mulia. Anda juga memiliki welas asih di balik sifat Anda yang ambisius dan emosional."
"Kakek terlalu berlebihan memujiku. Aku merasa kepalaku semakin berat karena membesar."
Mereka tertawa bersama. Kakek Tse merasa terhibur dengan kehadiran Fang Yin yang berbicara apa adanya. Semua yang dia katakan terdengar sangat lucu dengan gaya bahasanya yang kocak.
Hari itu, Fang Yin ingin mendengar banyak hal tentang ayahnya lagi. Meskipun cerita itu terus diulang-ulang, dia tidak pernah merasa bosan. Kakek Tse terlihat sangat rindu pada Kaisar Gu.
Mata Fang Yin kembali mengantuk. Kakek Tse berpamitan dan membiarkannya beristirahat. Kondisi tubuhnya memang membutuhkan istirahat setelah semalaman tidak tidur.
Hari itu, tidak ada yang dilakukan olehnya selain tidur. Kakek Tse pergi ke ruangan terpisah dan melakukan latihan pernapasan. Usianya sudah sangat tua tetapi tubuhnya masih terlihat bugar dan terlihat lebih muda dari usianya.
Perasaannya menjadi sangat tenang ketika bisa menyelaraskan tubuhnya dengan alam. Dia bisa mendengar desiran angin lembut yang berhembus di sekelilingnya. Merasakan aliran air sungai yang berada di kejauhan, serta hal-hal yang terhubung dengan alam fisik.
Fang Yin tertidur hingga menjelang sore hari. Tempat tinggal Kakek Tse sangat nyaman dan membuatnya tertidur dengan sangat pulas. Tidak ada yang mengusiknya ketika sedang beristirahat.
Kakek Tse sedang duduk di gazebo ketika Fang Yin keluar dari dalam kamarnya. Kelihatannya tempat itu merupakan tempat favoritnya sehari-hari.
Pemandangan indah sore hari menambah kesan asri tempat itu.
__ADS_1
"Pemandangan di sini sangat indah, Kek. Pantas kakek sangat betah tinggal di sini. Lain kali aku pasti akan berkunjung kemari." Fang Yin berbicara tulus.
"Jangan menjanjikan sesuatu yang sulit untuk Anda penuhi. Melihat Anda berhasil sudah menjadi hal yang sangat membahagiakan untuk kakek. Kakek tidak bisa menahan Anda tinggal lebih lama di sini, tetapi kakek ingin mengajarkan sebuah teknik rahasia sebelum Anda pergi dari sini."
Fang Yin merasa sangat gembira dengan apa yang dijanjikan oleh Kakek Tse. Sifatnya yang tidak sabaran membuatnya ingin segera mendapatkan teknik itu.
"Kalau boleh tahu, teknik rahasia seperti apakah itu, Kek?" tanyanya penasaran.
Sebuah gulungan muncul di tangan Kakek Tse. Dia memberikan gulungan itu pada Fang Yin. Tanpa malu-malu, dia mengambil gulungan itu dan segera membukanya.
"Anda pelajari terlebih dahulu. Aku akan segera kembali," ucap Kakek Tse sambil beranjak dari duduknya dan berdiri.
"Terimakasih, Kek!" seru Fang Yin berdiri dan menyatukan kedua tangannya memberi penghormatan.
"Ini bukan hal yang besar, Yang Mulia." Kakek Tse membalas penghormatan itu lalu pergi dari sana.
Fang Yin melanjutkan untuk membuka gulungan itu dan memeriksa isinya. Teknik rahasia yang dikatakan oleh Kakek Tse merupakan teknik untuk mengendalikan jiwa dan menyelaraskan dengan keseluruhan alam.
Selain membaca isi seluruh gulungan itu dengan khidmat, Fang Yin perlu untuk mengatur pernapasannya. Cara ini juga akan mempermudah dirinya dalam penguasaan teknik pengendalian jiwa dan penyelarasan dengan alam.
Seseorang yang menguasai teknik ini dengan baik bisa pulih dengan cepat dan berkultivasi sambil bertarung. Dia bisa menggunakan energi tanpa jeda dalam waktu yang cukup lama.
Fang Yin terus membaca gulungan itu penuh minat. Teknik ini sangat berguna untuknya ke depannya. Dalam pertarungan jarak dekat dan perang Qi, teknik ini akan membuat pemiliknya meraih kemenangan.
Tidak banyak orang tahu tentang teknik rahasia ini. Fang Yin juga baru mendengar dan melihatnya sekarang. Untuk mendalaminya lebih lanjut, dia akan menunggu arahan dari Kakek Tse.
Fang Yin memilih untuk mengulangi membaca isi gulungan itu. Pemahamannya akan semakin terang dengan membaca hingga beberapa kali. Saat dibaca teknik ini terlihat mudah, tetapi untuk penerapannya sepertinya lumayan sulit.
Kakek Tse datang membawakan makan malam untuk Fang Yin. Mereka berencana makan di gazebo sambil menikmati suasana malam di luar villa. Meskipun tidak begitu lapar, aroma masakan Kakek Tse selalu saja menggoda. Dia tidak sabar untuk segera menikmatinya.
"Maaf aku merepotkanmu, Kek. Jika kakek mau, aku akan memasak untukmu juga," ucap Fang Yin merasa tidak enak.
"Suatu kehormatan jika Anda mau memasak untukku, tetapi saya adalah tuan rumah, jadi sudah kewajiban saya untuk melayani Anda dengan sebaik-baiknya." Kakek Tse menolak secara halus apa yang ingin dilakukan olehnya.
Keduanya pun segera memakan masakan Kakek Tse selagi hangat. Fang Yin terlihat sangat lahap seperti seorang tuna wisma yang tidak makan selama seminggu.
Seluruh makanan yang berada dihadapan mereka telah habis. Kakek Tse menjelaskan bahan-bahan yang herbal yang ditambahkan dalam masakannya dan manfaatnya bagi tubuh.
Fang Yin mengangguk senang. Pantas saja tubuhnya terasa berbeda setelah memakan masakan Kakek Tse. Sebelum ini dia menambahkan ramuan pemulih tenaga yang mampu menjaga kualitas tidur seseorang, sedangkan untuk saat ini, Kakek Tse menambahkan ramuan penambah stamina.
Kakek Tse dengan sabar membimbing Fang Yin untuk melakukan tahap demi tahap olah pernafasan dan konsentrasi, sebelum memulai pada inti teknik pengendalian jiwa penyelarasan alam.
Teknik pernapasan Fang Yin sudah bagus karena sebelumnya dia juga sering berlatih untuk itu. Selama ini dia juga sering melakukan teknik ini di sela-sela latihannya. Dalam sekali coba, Kakek Tse sudah memintanya untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya.
Mereka berlatih hingga hampir tengah malam. Fang Yin berhasil menyelesaikan teknik yang ada di dalam gulungan dengan baik dalam sekali latihan. Kakek Tse terpukau dengan kejeniusannya, berada di tengah rasa antara kagum dan merasa ngeri.
Menurutnya Fang Yin tidak seperti manusia pada umumnya. Jiwanya seperti telah menyatu dengan iblis. Kakek Tse tidak tahu jika jiwa iblis yang dia maksud adalah jiwa Agata Moen dari dunia modern yang sangat cerdas dan berpengetahuan luas, hanya saja dia sedikit konyol dan sering terbawa oleh suasana hati.
Esok hari, Fang Yin ingin kembali melanjutkan perjalanannya untuk mencari di mana letak Sekte Seruling Maut. Dia tidak ingin menunda waktu untuk mencapai tujuannya. Dendamnya harus terbalas dan keadilan harus ditegakkan. Kesewenang-wenangan Kaisar Ning dan pemerintahannya yang arogan membuatnya menjadi muak.
Setelah kepergian Kakek Tse, Fang Yin tidak langsung tertidur. Dia mengulang kembali teknik yang baru saja dia pelajari. Semangatnya kembali terbakar ketika dia mengingat akan tujuannya.
Waktu tidurnya yang singkat tetap membuatnya terbangun di waktu yang sama pada setiap harinya. Tempat tinggal Kakek Tse memiliki energi yang luar biasa. Pagi ini dia ingin mempraktekkan teknik ini di halaman depan.
Tidak ada lawan untuk bertarung, jadi dia melakukan latihan yang menguras tenaga sambil berkultivasi. Inti dari teknik pengendalian jiwa penyelarasan alam adalah mengeluarkan energi dan menyerap energi di saat yang bersamaan.
Saat pelatihan Fang Yin mengeluarkan teknik teleportasi di mana teknik ini akan mengeluarkan energi yang sangat besar. Dia menghilang dan muncul di tempat yang berbeda dalam tempo yang singkat. Dalam latihannya dia tidak berani mengeluarkan energi api dan perusak lainnya. Salah-salah Kakek Tse akan marah jika dia membuat tempat tinggalnya menjadi kacau.
Energinya mulai berkurang saat Fang Yin menggunakan teknik ini secara terus menerus. Setelah merasa membutuhkan untuk menambah energinya, Fang Yin segera meluncurkan teknik pengendalian jiwa penyelarasan alam.
Perasaan luar biasa membuatnya tertawa senang. Dia terus berteriak sambil terus bergerak lincah menggabungkan kedua teknik itu dalam satu waktu.
Di kejauhan Kakek Tse tersenyum bangga pada putri dari muridnya itu. Dia berharap tujuannya akan segera tercapai dan Benua Timur akan menjadi negara yang sejahtera ditangannya.
"Ming Hao! Jika kamu melihat ini, kamu pasti pingsan karena saking bahagianya," bisik Kakek Tse seolah-olah Kaisar Gu sedang berada di sampingnya.
Kakek Tse merasa bangga pada murid kecilnya yang kini telah menjelma seperti seorang dewi. Meskipun baru mendekati tingkat dewi tetapi kemampuannya sudah sangat luar biasa.
Merasa cukup dengan latihannya, Fang Yin datang untuk mendekati Kakek Tse yang sedang melamun. Pria tua itu tersenyum dalam lamunannya sampai-sampai tidak menyadari jika Fang Yin telah berdiri di hadapannya saat ini.
"Kek!" panggil Fang Yin.
Suara pelan Fang Yin membuatnya tersentak. Kakek Tse memegangi dadanya yang berdebar-debar karena terkejut.
"Maafkan aku, Kek. Aku tidak bermaksud untuk mengejutkanmu." Fang Yin meringis sambil menggaruk tengkuknya.
Kakek Tse mengembuskan napas kasar setelah ketegangannya mengendur. Apa yang terjadi bukan kesalahannya Fang Yin, dia sendiri yang terbengong.
__ADS_1
"Anda tidak bersalah, Yang Mulia. Aku yang melamun." Kakek Tse terlihat malu.
"Aku harus pergi, Kek. Sebenarnya aku sangat betah tinggal di sini, tetapi kenyamanan yang kudapatkan akan membuatku semakin jauh dari tujuanku." Sorot mata penuh penyesalan terlihat jelas di matanya.
"Apapun keputusan Anda, kakek selalu mendukungnya. Kalau boleh tahu, ke mana Anda akan pergi setelah ini?" tanya Kakek Tse.
Fang Yin terlihat sangat senang seperti menemukan sesuatu yang sangat berharga. Setelah keluar dari diagram pembebas jiwa dia melupakan hal ini.
"Oh, iya aku sampai lupa menanyakannya pada kakek. Apakah kakek tahu tentang Sekte Seruling Maut? Aku akan pergi ke sana untuk mengambil Kitab Sembilan Naga bintang delapan." Fang Yin berbicara seolah-olah dia bisa mengambil kitab itu dengan mudah.
Hal itu bukanlah sebuah kesombongan, tetapi kepercayaan diri. Sesulit apapun jalan yang akan dia lalui, Fang Yin mencoba untuk tetap berpikir positif dan membuang jauh-jauh rasa takutnya.
Kakek Tse tertegun memandang Fang Yin. Berpikir untuk memulai cerita dari mana. Sekte Seruling Maut adalah sekte aliran hitam yang cukup diperhitungkan dalam dunia kultivasi.
Mereka memang tidak suka mengacau dan memerangi sekte lain, tetapi mereka memiliki idealisme yang kuat yang sangat sulit untuk di tembus. Sekte ini seakan menutup diri dari dunia luar. Mereka memuja dewa iblis yang membuat mereka tidak segan memakan manusia untuk meningkatkan kekuatannya.
Sangat jarang yang mengusik sekte ini dan pergi ke wilayah mereka. Selama ini belum ada kabar yang mengatakan jika ada seorang kultivator yang berhasil selamat saat berusaha untuk masuk dan mengacau di sana.
Sekte Seruling Maut berdiri di sebuah dataran rendah yang disebut Lembah Maut. Lembah itu terletak diantara dua gunung yaitu, Gunung Lonjie dan Gunung Shuyin. Dua gunung itu dipercaya sebagai sepasang gunung yang menjadi sumber kekuatan dari Sekte Seruling Maut.
Setiap hari mereka memberikan persembahan pada kedua gunung itu dan melakukan ritual pemujaan. Pada waktu-waktu tertentu mereka mengorbankan jiwa manusia sebagai bukti kesetiaan mereka pada Dewa Iblis yang menguasai kedua gunung itu.
Demi sebuah kekuatan dan kemudahan dalam hidup mereka rela menjadi budak Iblis Yao Dong atau yang lebih dikenal dengan sebutan Iblis Seruling Maut. Nama sekte itu di ambil dari julukkannya yang selalu muncul dengan suara serulingnya.
Gunung Lonjie dan Gunung Shuyin terletak di wilayah Benua Selatan. Wilayah itu berada di sisi bagian utara tetapi tidak berbatasan langsung dengan Benua Tengah.
Bulu kuduk Fang Yin meremang setelah mendengar cerita dari Kakek Tse. Meskipun semua terdengar menakutkan, tetapi dia tidak akan menyerah. Sebelum dia datang sendiri ke sana dan melihat secara langsung seperti apa sekte itu, dia tidak akan tahu kenyataannya.
"Aku tetap akan ke sana, Kek. Seberapa kuat Yao Dong, aku tidak akan gentar. Aku akan berusaha untuk mendapatkan Kitab Sembilan Naga bintang delapan bagaimanapun caranya."
Kakek Tse mengangguk dengan ekspresi wajah yang membingungkan. Di satu sisi dia merasa bangga tetapi di sisi lain dia juga mencemaskan Fang Yin.
"Aku kagum akan keberanianmu, Yang Mulia. Kakek tua ini hanya berpesan, jangan gegabah dalam bertindak. Kamu hanya sendirian pergi ke sana. Tempat itu sangat berbahaya dan mungkin Anda tidak akan bisa menghindari sebuah pertarungan." Kakek Tse berbicara dengan wajah yang serius.
"Aku mengerti, Kek. Semoga aku tidak melupakan pesan-pesan dari kakek."
Mereka pun akhirnya berpisah hari itu. Kakek Tse mengantar Fang Yin keluar dari dimensinya menuju ke hutan tempat di mana mereka pertama kali bertemu.
Wajah Kakek Tse terlihat sedih, tetapi tergambar jelas sebuah harapan di sana. Segala usaha pasti menemukan kesulitan, dia berharap jika Fang Yin mampu mengatasi segala kesulitannya itu. Langkahnya sudah terlalu jauh, sangat disayangkan jika dia tiba-tiba berhenti dan menyerah.
Kakek Tse berhenti di depan gerbang dimensinya, sementara Fang Yin terus berjalan. Kini dia kembali sampai di bawah pohon yang melemparkannya ketika dia menaiki dahannya.
Saat Fang Yin berada tepat di bawahnya, pohon itu menggoyangkan tubuhnya sehingga embun yang menempel di daun dan dedaunan kering miliknya berjatuhan menimpa kepala Fang Yin.
Fang Yin melirik kesal pada pohon itu. Sepertinya dia sengaja memancing kemarahannya. Namun, mengingat apa yang dikatakan oleh Kakek Tse, dia tidak akan terpancing dan mengacuhkannya.
Pohon itu memberi kehidupan pada makhluk lain di sekitarnya, tetapi sikap jahilnya membuat Fang Yin kesal. Dia berpikir untuk memberinya pelajaran.
Sreeetttt!
Fang Yin melemparkan sebuah jarum yang telah dia beri racun yang memiliki efek untuk membatasi gerak pohon itu hingga beberapa waktu. Meskipun efeknya tidak lama, tetapi cukup untuk membuat pohon itu tersiksa.
"Itu balasan untukmu, pohon nakal. Untung kamu berguna, kalau tidak aku sudah membakarmu hidup-hidup dan menjadikan akarmu sebagai hiasan rumah," omel Fang Yin sambil meninggalkan tempat itu.
Fang Yin berjalan cepat meninggalkan hutan itu menuju ke wilayah Benua Selatan. Dia memotong jalur dan mencari rute terdekat untuk sampai di sana. Butuh waktu sekitar tiga hari untuk mencapai Lembah Maut
Rute yang paling dekat membuatnya harus melewati dua kota dan hamparan hutan yang luas diantara dua kota tersebut.
"Aku belum melihat kota itu, sepertinya aku membutuhkan tenaga ekstra untuk mempercepat langkahku." Fang Yin mengalirkan Qi pada alat gerak bawahnya. Langkahnya menjadi sangat cepat dan hanya terlihat seperti sebuah bayangan saja.
Di dalam perjalanannya, beberapa kali dia berpapasan dengan para pedagang dan pejalan kaki yang sedang bepergian. Namun, mereka tidak bisa melihatnya. Gerakannya yang sangat cepat membuatnya terlihat seperti angin.
Di tengah perjalanannya dia mendengar suara teriakan seorang wanita. Fang Yin menghentikan langkahnya dan mencari dari mana sumber suara itu berasal.
"Aku seperti mendengar suara orang yang sedang minta tolong." Fang Yin melompat turun ke dalam hutan yang berada dalam ketinggian yang lebih rendah.
Dengan hawa kehadirannya yang tersembunyi, maka tidak akan ada yang menyadari kedatangannya. Dia melihat sekelompok pria sedang mengejar seorang wanita yang membawa seorang bayi.
Wanita itu berlari dengan sangat cepat dan berusaha untuk menghindari kejaran mereka. Namun nahas, wanita itu terjatuh. Beruntung bayi yang berada di dalam gendongannya masih aman.
Fang Yin menutup mulutnya saat melihat kejadian itu. Dia ingin tahu permasalahannya terlebih dahulu sebelum ikut campur. Tidak boleh sembarangan bertindak dan masuk dalam masalah orang yang tidak dia kenal.
"Tolong lepaskan kami. Jangan bunuh anakku! Aku janji tidak akan muncul di kota ini lagi," ucap wanita yang menggendong bayi itu sambil menangis ketakutan.
****
Bersambung ....
__ADS_1